Dari Gambut ke Meja Makan, Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan
![]() |
| Sorgum sebagai salah satu opsi pangan lokal sumber karbohidrat | Foto: Dokpri - Efa Butar butar |
Dua Versi Berbeda Soal Makan
Dulu kami sering dihadapkan pada versi membingungkan soal urusan makan. Kata Nenek, "Jangan nasi terus, sesekali, gantilah dengan singkong ini." Sedang Ibu, sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya, ia penganut prinsip "Tidak makan jika tanpa nasi." Maka pada masa itu, jadilah kami tim bingung dari kedua opsi ini.
Tentu, sebagai anak yang baik, kami berpihak pada Ibu. Jika ibu sedang tidak di rumah, sesekali kami patuh juga dengan petuah nenek. Bagaimanapun, rasanya tidak elok selalu menolak anjurannya.
Sejujurnya, bahkan di masa kecilpun saya bisa rasakan sendiri bahwa mengonsumsi singkong rebus sebetulnya bikin kenyang. Apalagi kalau dimakan bersama dengan lauk yang beragam.
Saya kira dulu nenek begitu pelit membagi nasi untuk kami konsumsi sehari-hari makanya kerap mengarahkan kami makan singkong sesekali. Tapi saya pikir-pikir lagi, buat apa pelit-in nasi sih? Toh, per empat bulan juga panen beras lagi. Belakangan saya ketahui, sejak dahulupun, mestinya kami mengikuti versi nenek.
77 Sumber Karbohidrat, Indonesia Malah Fokus pada Beras
Kapan terakhir kamu makan besar dengan ubi, singkong, jagung atau sumber karbohidrat lainnya tanpa nasi? Jika belum pernah, atau bahkan baru tahu soal informasi ini, maka, mari telaah lebih dalam lagi.
Sebagai negara agraris dengan kondisi geografis yang berbeda di setiap wilayahnya, Indonesia kaya akan berbagai jenis tanaman lokal.
Kompas bilang, Indonesia memiliki 2.564 spesies tanaman pangan lokal. Dari angka sebanyak ini, Badan Pangan Nasional mencatat, sedikitnya ada 77 jenis pangan sumber karbohidrat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti; sagu, singkong, sorgum, sukun, dan berbagai jenis umbi-umbian.
Anehnya, Data Badan Pusat Statistik justru menunjukkan konsumsi beras di Indonesia masih tinggi, yakni mencapai 90,6 Kg per kapita per tahun. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan Malaysia (78,2Kg), Jepang (50,8Kg), maupun Korea Selatan (53,5Kg). Sebaliknya, konsumsi umbi-umbian yang kaya karbohidrat justru masih sangat rendah, hanya 3,26Kg per kapita per tahun berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional 2022.
Lalu pertanyaannya adalah, jika ada 77 tanaman pangan lokal yang kaya akan karbohidrat, kenapa hanya beras yang melalanglangbuana dan jadi konsumsi pangan utama di negeri ini?
Baca juga: "MENYULAP" TANAMAN LOKAL JADI PRODUK EKSKLUSIF DI SEKOLAH SENIMAN PANGAN
Berasisasi; Perjalanan Downgrade Pangan Indonesia Dari Beragam ke Seragam, Impor Pula!
![]() |
| Zoom Eco Blogger Squad membahas Dari Gambut ke Meja Makan, Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan | Foto: Screenshoot zoom - Blogger Perempuan |
Menjawab pertanyaan di atas, mari kembali ke puluhan tahun lalu.
Percaya atau tidak, beras bukanlah makanan asli Indonesia. Prof. Nadirma Haska, selaku Peneliti Sagu Indonesia menyebutkan sagu telah ada dan menjadi makanan pokok penduduk nusantara jauh sebelum beras masuk ke Indonesia saat dibawa oleh orang India beberapa abad silam.
Bukti kuatnya dapat dilihat di relief di Candi Borobudur - sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Budha di Indonesia - tentang palma kehidupan yakni adanya nyiur (kelapa), lontar, aren dan sagu.
Hal ini juga sejalan dengan apa yang dipaparkan oleh Ahmad Arif, seorang jurnalis Kompas sekaligus salah satu Founder Nusantara Food Biodiversity dalam kegiatan webinar Eco Blogger Squad yang mengusung tema "Dari Gambut ke Meja Makan; Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan" yang diselenggarakan pada (16/10).
Dalam paparannya, Mas Aik - begitu ia dikenal - menyebut bahwa sagu merupakan karbohidrat tertua yang bisa ditemukan di Indonesia, yang budidayanya sendiri bisa tumbuh dengan sangat baik di hutan gambut tanpa perlu proses pengeringan terlebih dahulu.
Di zaman kolonial, gengsi politik turut menggelitik. Oleh VOC, Beras dikirim dari Jawa ke Maluku sebagai simbol prestise. Dari sinilah tumbuh bibit-bibit bahwa makan yang "benar" dan "enak" itu adalah makan dengan beras atau nasi.
Dari sini pula narasi-narasi bahwa singkong, jagung, ubi dan berbagai jenis karbohidrat lain yang identik dengan pangan lokal Indonesia, diidentifikasi sebagai makanan orang miskin atau orang kampung yang nihil kandungan gizi.
Padahal, Maluku kaya akan sagu. Tapi politik memaksa jenis makanan sumber karbohidrat dari Sabang sampai Merauke, harus satu.
Proses penyeragaman pangan yang semula beragam hingga jadi hanya beras, disebut berasisasi. Proses pertama yang kita hadapi di atas, datangnya dari VOC.
Di zaman orde lama awal, berasisasi berikutnya justru datang lewat rencana Menteri Pertanian, Kasimo, dengan program intensifikasi padi pertama dengan rencana mencetak sawah seluas 280rb Ha di Sumatera Timur - kini Sumatera Utara.
Apesnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2010 masih melanjutkan berasisasi ini lewat peresmian Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) sebagai lumbung pangan dan lumbung energi dengan slogan "Beri makan Indonesia dan beri makan dunia".
Berkat MIFEE, sekitar 1,2jt Ha tanah dan hutan ulayat Marind-Anim dikapling untuk korporasi.
Apesnya lagi, MIFEE gatot alias gagal total. Lahan suku adat dirampas tanpa persetujuan sampai-sampai Komite PBB Penghapusan Diskriminasi Rasial minta proyek ditangguhkan.
Proyek ini juga mengancam kelangsungan hidup biodiversitas hutan Indonesia.
Masalahnya lagi, pasca kegagalan itu, Presiden Jokowi dan Prabowo ikut meneruskan mimpi lumbung pangan Merauke. Lewat Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2022 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2023 menyebutkan, program food estate menjadi proyek strategis dan Merauke menjadi salah satu lokasinya.
Indonesia memiliki 5,5juta Ha hutan sagu yang merupakan 90-95% dari total sagu dunia. Dari itu 5,2jt Ha hutan sagu tersebut ada di Tanah Papua. Dan yang paling luas, berpusat di Merauke, Asmat dan Mappi.
Sekali lagi, Merauke yang merupakan jantungnya sagu, justru dipaksa menanam padi.
Sejak masa kolonial hingga masa orde baru, pola konsumsi masyarakat mulai mengalami pergeseran. Konsumsi beras kian meningkat sampai akhirnya di tahun 2017, Indonesia mengalami downgrade urusan pangan sebab konsumsi beras mencapai 74,6%, dan gandum 25,4%.
Bukannya bagus ya, kebutuhan berasnya malah turun dari 81% jadi 74%?
Sepintas terlihat iya, namun perhatikan nama makanan baru yang tak muncul di tahun-tahun sebelumnya, gandum.
Kok bisa gandum masuk Indonesia?
Jadi ternyata dulu saat terjadi krisis pangan era Soekarno, Amerika Serikat memberikan bantuan gandum dengan harga yang relatif murah. Lalu orang-orang Jawa disuruh belajar makan roti dan mie.
Kemudian di tahun 1970-an, Liem Sioe Liong, seorang Konglomerat yang dekat dengan Soeharto, diberi monopoli impor gandum dan mengolahnya menjadi terigu. Maka, dibangunlah pabrik tepung raksasa Bogasari di Jakarta dan Surabaya. Sejak itu, terigu murah mudah sekali kita temukan di pasaran.
Pasca kehadiran terigu, mie instan mulai marak di Indonesia dan jadi salah satu makanan alternatif yang masih terus digandrungi hingga kini. Mie instan bahkan jadi salah satu jenis makanan yang banyak dikirimkan ke daerah-daerah korban bencana.
Dari terigu pula, lahirlah jutaan UMKM kuliner yang menghadirkan produk roti dan kue yang diolah dari tepung terigu.
Masalahnya adalah, jangan lupa, gandum yang merupakan bahan utama pembuatan tepung terigu, bukanlah tanaman asli Indonesia. Tanaman ini justru tidak bisa tumbuh di tanah nusantara.
Untuk kebutuhan yang kian hari kian tinggi, demi bisa terus menyupplai kebutuhan gandum ke negeri kita, Indonesia harus mengimpor kurang lebih 11 juta Ton gandum per tahun.
Tidak ada lagi keberagaman sumber karbohidrat yang bisa kita dapat dari tanaman pangan lokal. Sebaliknya, kita bergantung pada beras, dan gandum impor.
Jadi bicara soal makanan yang tersaji di dalam piring di atas meja makan, itu bukan serta merta keputusan kita, itu adalah bagian dari politik yang patut kita pelajari, pahami dan kalau bisa, dihindari sebagai salah satu upaya pemberontakan kecil yang bisa kita lakukan untuk mendukung keberagaman pangan yang mandiri, bukan yang diseragamkan secara paksa oleh kebijakan mikro.
Baca juga: DARI HUTAN RAJA AMPAT HINGGA LABU SIAM DARI LIWA, HUTAN DIJAGA MAKANAN TERJAGA
Kaitan Gambut dan Isi Piring Kita
Indonesia terdiri dari berbagai adat dan budaya, serta kondisi geografis yang berbeda pula.
Tanah Papua jadi jantung sagu bukan tanpa alasan, salah satu keunggulan di sana adalah 60-70% lahannya tergenang dan tanahnya adalah rawa gambut.
Di lahan ini, sagu bisa tumbuh subur dengan baik tanpa perlu melakukan pengeringan lahan. Dulu, Riau dan Jambi pun demikian. Sayangnya kini tanaman sagu telah berganti jadi sawit.
Berbeda dengan Tanah Papua, masyarakat Batak dan Minang yang tinggal di dataran tinggi, tepat sekali untuk bertanam beras ladang dan jagung serta umbi-umbian dan NTT rumah yang tepat bertanam sorgum. Semua memiliki jenis tanaman yang berbeda yang bisa tumbuh sempurna.
Artinya, variasi geografis tanah yang berbeda-beda di setiap wilayah, tidak bisa dipaksakan untuk menanam jenis tanaman yang sama.
Balik lagi sedikit soal sejarah, tahun 90an, saat Soeharto menjadi presiden, ia juga mencanangkan program bernama Mega Rice Project. Sebuah proyek yang ditujukan untuk mengubah rawa gambut di Kalimantan Tengah menjadi pengembangan produksi beras.
Dalam tulisan Jenny Goldstein berjudul "Carbon Bomb: Indonesia's Failed Mega Rice Project" (2016), sebetulnya para ilmuwan sudah berpikir kalau Mega Rice Project ini akan gagal karena kondisi tanahnya yang asam dan tidak tepat untuk menanam padi. Hanya saja, mereka tidak berdaya menahan ambisi Soeharto di masa tersebut.
Usai pembukaan lahan dan padi ditanam, baru ketahuan kalau tanah gambut terlalu asam dan kekurangan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan padi.
Saya ulangi lagi dari yang di atas, kerugian terjadi di berbagai sektor;
Hutan gambut yang sudah rusak, rentan terbakar terutama di musim kering dan sulit pula untuk kembali ke kondisi semula, selain itu, hutan gambut yang terbakar melepas karbon yang selama ini tersimpan di dalam gambut dan jadi penyumbang emisi penyebab gas rumah kaca yang nantinya akan memicu masifnya perubahan iklim.
Laporan terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), sebuah lembaga think tank dari Helsinki menyebut sekitar 57,8 juta penduduk Indonesia menghirup udara beracun dengan tingkat kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan dan mendorong perkiraan angka kematian hingga mencapai 3.560 kasus pada September 2026 meski Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan butuh penjelasan lebih lanjut atas angka tersebut mengenai metodologi hingga sumber data yang digunakan untuk menghasilkan estimasi angka kematian tersebut.
Soal pembukaan lahan gambut, selain dengan proses pembakaran, ada juga yang melakukan kanalisasi, metode pengeringan dengan memberi saluran air buatan yang digali di lahan rawa gambut untuk mengeringkan lahan, akibatkan lahan jadi kering dan gambut lebih mudah tersulut api.
Artinya, jika ada yang selama ini gembar gembor soal kebakaran hutan dan lahan akibat el-nino, sebetulnya el-nino hanya faktor pendukung saja. Pembakaran dan kanalisi yang dilakukan secara sadarlah biang keladinya.
Kembali soal kanalisasi. Dalam kondisi kering, mineral pirit yang ada di tanah gambut akan mengalami oksidasi, sebuah kerusakan yang terjadi saat sesuatu - dalam hal ini mineral pirit - bereaksi dengan Oksigen.
Oksidasi ini akan menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida yang membuat kondisi tanah menjadi sangat asam (pH 2-3). Tanah asam kemudian ikut terlarut ke kanal dan sungai-sungai yang dialirinya. Jika ini terjadi, lalu ekosistem air termasuk ikan mengonsumsi mineral pirit tersebut, maka potensi keracunan, sangat mungkin terjadi.
Jika ekosistem air turut terancam akibat pengeringan lahan gambut, maka, berkurang pula pilihan sajian makanan dari air yang bisa tersaji di atas piring kita. Gimana mau makan ikan kalau ikannya sudah keracunan?
Fakta pertama yang menunjukkan bahwa gambut memiliki kaitan yang sangat erat dengan sajian pangan di piring kita.
Semakin tinggi jumlah hutan dan lahan gambut yang terbakar atau rusak, semakin tinggi pula jumlah lahan yang hilang untuk pertumbuhan tanaman sagu sebagai sumber karbohidrat yang bisa dimanfaatkan oleh warga di sekitar lahan tersebut.
Fakta kedua yang menjadi bukti kuat bahwa kebakaran hutan dan lahan berkaitan erat dengan sajian makanan di atas piring kita.
Petuah Nenek dan Korelasinya dengan Berkurangnya Biodiversitas akibat karhutla
Lalu apa korelasi antara petuah nenek dengan berkurangnya biodiversitas akibat karhutla ini?
Hutan dan lahan merupakan rumah biodiversitas yang menjadi ruang keanekaragaman pangan yang memastikan manusia memiliki berbagai pilihan makanan untuk mencukupi kebutuhan karbohidrat, vitamin, mineral, protein hingga serat.
Semakin variatif makanan yang tersaji di atas piring, semakin kaya pula asupan mikronutrien esensial yang diterima oleh tubuh.
Misalnya saja dilansir dari artikel pada portal IPB DIGITANI, dalam 100Gr pati sagu terkandung 357 kalori, hampir setara dengan beras yang jumlahnya 366 kalori dan lebih tinggi dari jagung yaitu 349 kalori.
Selain itu, per 100Gr sagu terdapat pula 94Gr karbohidrat, 0,2Gr protein, 0,5Gr serat, 10Mg kalsium dan 1,2Mg zat besi. Sebetulnya ada juga kandungan lemak, karoten, dan asam askorbat, hanya saja jumlahnya sangat sedikit sehingga sering kali diabaikan.
Meski diabaikan, bukan berarti kandungannya tidak ada ya, nah itu yang disebut kandungan mikronutrien. Jumlahnya kecil-kecil tapi ada.
Artinya, dengan berbagai kandungan nutrisi di dalamnya, sagu sangat layak dikonsumsi sebagai pengganti pilihan karbohidrat pengganti nasi.
Sama dengan sagu, singkong pun demikian. Jika nasi putih memiliki indeks glikemik (IG) yang tinggi, singkong memiliki IG yang rendah.
Sederhananya, indeks glikemik itu begini, kamu makan nasi, gula darah cepat naik, tapi lebih cepat juga merasa lapar. Agar kamu segera merasa kenyang kembali, kamu mengonsumsi lagi makanan yang sama. Repeat.
Kalau kamu minus gerakan, tidak juga olahraga, tapi banyak makan dan konsumsi pangan instans secara berlebihan, ya repot. Potensi kolesterol hingga diabetes rentan terjadi.
Ini juga yang kini dihadapi oleh negara kita, triple burden malnutrition atau tiga beban nutrisi yaitu:
- Kekurangan gizi (undernutrition): Stunting, wasting, kurang berat
- Kelebihan gizi (overnutrition): obesitas, overweight
- Kekurangan mikronutrien (hidden hunger): Kurang vitamin dan mineral (zat besi, vitamin A, zinc yodium).
Memang, paling benar ikut petuah nenek. Katanya, "Sesekali, kau makan saja ini singkong, jangan nasi terus." Benar, IG singkong yang rendah membantu konsumen kenyang lebih lama. Dipikir-pikir, zaman dulu saat pendidikan tak semasif sekarang, para orang tua bahkan sudah tahu duluan soal keragaman pangan.
Sementara kita yang sudah hidup di era ilmu pengetahuan, justru dikelabui lewat iklan dan menomorduakan keragaman makanan.
Sederhana saja sajiannya, singkong dikupas lalu dibersihkan menyeluruh. Kemudian direbus atau dikukus hingga benar-benar lembut dan disajikan bersama lauk dan sayuran pada umumnya.
Di masa itu, singkong rebus dimakan bersamaan ikan emas goreng atau bakar, tumis daun pepaya, dilengkapi dengan tomat segar dan pisang barangan, jadi salah satu menu lengkap favorit di rumah.
Selain perpaduan rasa dan nutrisinya yang kaya, seluruh panganan ini juga bisa diambil secara cuma-cuma dari pekarangan rumah dan ikan dari kolam. Enak, bergizi, gratis pula.
Singkong merupakan salah satu tanaman yang ramah tumbuh di sekitar tempat tinggal kami. Tidak banyak perawatan yang dibutuhkan, cara tanamnya juga tidak merepotkan. Hanya sesekali saja harus disiangi agar pohonnya bersih dari hama dan rumput liar.
Saking suburnya, kalau kata Koes Plus, "Tongkat kayu, dan batu jadi tanaman."
Di masa itu, budaya masyarakat setempat yang menunjukkan penerimaan yang tinggi akan singkong, membuat batang singkong jadi sesuatu yang mahal di sana. Seseorang bisa saja tiba-tiba datang ke rumah hanya untuk menitipkan sebilah batang tanaman singkong untuk ditanam di kebunnya. Di waktu berbeda, para ibu juga kadang asik duduk di teras rumah dengan sajian singkong di depan mereka.
Untuk itu, jika hingga detik ini kamu masih mendengar olok-olok tentang singkong sebagai makanan orang kampung atau orang miskin, pikirkan kembali. Tidak tunduk pada beras dan berani bereksplorasi dengan ragam makanan di sekitar adalah salah satu pemberontakan kecil yang bisa kita lakukan untuk mendukung keberagaman pangan.
Keberagaman pangan ini penting karena biasanya varietas pangannya memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk menghadapi krisis iklim. Penjagaan yang ketat akan keberagaman sumber pangan juga akan membuka ruang gerak konsumsi yang luas bagi kita jika sewaktu-waktu ada masalah dengan distribusi beras di Indonesia.
Sumber
https://www.kompas.com/food/read/2026/08/31/113527075/indonesia-punya-77-sumber-karbohidrat-kenapa-masih-bergantung-pada-beras?page=all
https://pustaka.badanpangan.go.id/publikasi/74db120f0a8e5646ef5a30154e9f6deb
https://eppid.perhutani.co.id/bukan-beras-makanan-asli-ri-sejak-zaman-kerajaan/
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20261030163432-20-1421538/bnpb-respons-laporan-3560-orang-meninggal-akibat-asap-karhutla
https://digitani.ipb.ac.id/cari-tahu-tentang-sagu-si-pengganti-beras-yang-kaya-gizi/

.png)

Nah, petuah nenek terkait makan dengan singkong sering aku dapatkan dari Bapakku Fa. Beliau selalu bilang ke kami untuk terbiasa makan tanpa nasi dan mengganti nasi dengan: singkong, kentang, ubi, talas. Sedangkan Mama beda pemikiran. Begitulah hehee, tapi karena dibiasakan makan karbohidrat selain nasi, aku sih jujur nyaman aja makan yang lain nggak ada istilah belum makan kalau nggak kena nasi.
ReplyDeleteTernyata, memang semestinya kita terbiasa dengan isi piring yang beragam ya. Jangan bergantung sama nasi saja. Karhutla ini sangat bikin sedih. Akan tetapi kembali mengingatkan kita semua untuk mengenali pangan lokal dan membiasakan diri makan dengan isi piring beragam supaya kebutuhan nutrisi terjaga, dan pangan lokal termasuk singkong ini mudah ditanam dan tumbuh subur pada berbagai medan lahan. Bisa dibilang gagal panen tuh hampir tak ada, beda sama beras nih.
Makasih juga sudah kasih info sejarah terkait nasi dan gandum. Memang kita semua mesti diingatkan terus menerus buat kenalin dan konsumsi 77 jenis Karbo pangan lokal.