"Menyulap" Tanaman Lokal jadi Produk Eksklusif di Sekolah Seniman Pangan

 

Di salah satu gugusan tanaman lokal di kebun percontohan Sekolah Seniman Pangan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Dilansir dari Kompas.com, Indonesia memiliki 2.564 spesies tanaman pangan lokal, sayangnya baru sebagian kecil yang dimanfaatkan secara optimal sehingga ketergantungan pada komoditas pangan tertentu masih tinggi. 

Beras sebagai salah satu bahan makanan untuk pemenuhan kebutuhan karbohidrat misalnya. Hingga saat ini, merujuk data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), China tercatat sebagai negara dengan total konsumsi beras tertinggi diikuti India, Bangladesh, dan Indonesia dengan proyeksi konsumsi sebesar 36,6 juta ton. 

Sepintas terlihat sekadar data yang tidak menimbulkan masalah, tapi sebetulnya dalam jangka panjang, untuk konteks ketahanan pangan, ketergantungan pada komoditas pangan tertentu akan memaksa sebuah negara untuk terus memastikan cukupnya stok beras demi pemenuhan kebutuhan populasi besar. 

Oleh sebab itu, mengenalkan tanaman pangan lokal sekaligus produk olahannya memiliki peran yang penting, baik masyarakat yang tinggal di kota atau di desa, untuk setidaknya mengetahui bahwa di negeri ini, ada banyak sekali pilihan pangan sumber karbohidrat, sebut saja jagung, kimpul, sorgum, kacang-kacangan, hingga labu terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat harian. 

Selain itu, mengonsumsi pangan lokal yang beragam juga akan membantu kita lebih mengenali rasa makanan berikut dengan kandungan nutrisi yang lebih beragam dan tidak mudah bosan dengan rasa yang sama dari komoditas tertentu yang dikonsumsi setiap harinya. 

Langkah ini juga sekaligus menjadi upaya kita bersama untuk menjaga eksistensi dan keberlanjutan kekayaan warisan pangan nusantara hingga ke anak cucu kelak. Lebih jauh lagi, pemenuhan asupan pangan dengan tanaman dan olahan produk lokal akan membantu ekonomi petani Indonesia. 

Artinya, konsumsi bahkan budidaya pangan lokal di rumah tidak sesederhana kelihatannya. Dari langkah kecil ini, kita sudah berkontribusi menjaga dan melestarikan pengetahuan tradisional serta warisan budaya IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities) atau Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal sekaligus meningkatkan sektor ekonomi mereka dengan keuntungan kekayaan nutrisi harian yang masuk ke tubuh keluarga lewat asupan pangan. 

Kebetulan masih dalam momennya yang kita peringati setiap tanggal 9 Agustus setiap tahunnya, selamat merayakan Hari Masyarakat Adat Sedunia (International Day of the World's Indigenous Peoples). 

Seniman pangan, seni menyulap pangan lokal jadi produk internasional

Sirup Pala Kayu Manis sebagai salah satu produk olahan berbahan pangan lokal dari Sekolah Seniman Pangan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar - diolah dengan Inshot Photo

Tanaman lokal identik dengan citra "makanan desa" atau "makanan kampung." Entah berkaitan atau tidak, nama makanan ini juga sepertinya menjadi salah satu faktor yang membuat beberapa orang memandang sebelah mata dan cenderung memilih makanan luar yang lebih "keren,"  "kekinian" dan lebih "gaya" untuk dipamerkan di sosial media. 

Anehnya, ketika nama olahan pangan lokal tersebut diubah ke Bahasa Inggris dan disajikan di sebuah restoran mewah atau cafe kekinian dengan tampilan berbeda, tingkat penerimaannya jauh lebih tinggi meski harus membayar dengan harga yang lebih mahal pula. 

Berangkat dari sini, bisa dibilang salah satu kendala dalam penerimaan pangan lokal adalah pengolahannya yang kurang inovatif dan "jadul" sehingga membuat orang malas untuk coba-coba. 

Di sinilah dibutuhkan elaborasi peran dari ilmu pengetahuan untuk menyulap makanan lokal menjadi produk berskala internasional dan ilmu marketing untuk membuat makanan dan kegiatan makan jadi terasa mengenyangkan dan menyenangkan. 

Kedua tugas ini berjalan dengan baik di tangan Sekolah Seniman Pangan yang dihadirkan oleh Javara Indonesia. 

Sekolah Seniman Pangan sendiri merupakan sebuah ruang belajar yang dibentuk oleh Javara Indonesia yang menyasar petani, perempuan, kalangan muda, masyarakat suku dan masyarakat adat Indonesia untuk "menyulap" si "makanan kampungan" jadi produk baru yang menyasar pasar dunia. 

Misalnya saja daun kemangi. Masyarakat Indonesia mengenal tanaman ini sebagai tanaman lalapan saat mengonsumsi pecel lele dan pecel ayam atau sekadar disambel sebagai sayuran, namun di Sekolah Seniman Pangan, lalapan ini disulap beyond expectation, jadinya Sirup Kemangi di dalam sebuah kemasan botol kaca berikut dengan label berisi exp date, informasi produk serta cara konsumsi yang membuatnya siap tampil di area-area eksekutif. 

Bagian ini tak lepas dari peran Corazon Nikijuluw sebagai seorang Food Technology & Education Manager Seniman Pangan. Yes, orang TePa emang kebagian R&D yang fokusnya "main-main" di formulasi untuk menciptakan produk baru. 

Produk-produk olahan yang sudah dikemas dalam bentuk ekslusif tadi kemudian "dilempar" ke Ibu Johanna Hehakaja selaku Business Director Sekolah Seniman Pangan agar menyebar, dikenal lebih luas, dan sampai ke tangan masyarakat bahkan warga dunia. 

Bu Eet memberikan pengarahan kepada peserta dari Eco Blogger Squad sebelum farmtrip ke kebun percontohan | Foto: Dokpri -  Efa Butar butar

Bagi komunitas lokal, ilmu pengetahuan ini menjadi modal mereka untuk lebih percaya diri dalam memperkenalkan produk olahannya ke mata dunia. Sedangkan bagi kaum muda dan warga kota, pola marketing yang menarik termasuk farmtrip yang saat itu dipandu oleh Mama Etih Suryatin atau yang kerap dipanggil Bu Eet selaku Partnership Director Seniman Pangan serta keterlibatan pengunjung untuk mengolah sendiri hasil kebun jadi produk yang enak dikonsumsi membuat makanan dan kegiatan makan jadi tampak lebih menyenangkan dan berkesan.

Mendapatkan pengalaman mengolah langsung daun kemangi jadi Sirup Kemangi yang dikemas dalam botol dan siap diperjualbelikan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Nah, balik lagi soal olahan kemangi tadi. Kemangi dengan rasa mint segar, sensasi pedas hangat di dalamnya, berpadu dengan rasa manis serta dinginnya es batu yang dicampur setelah diencerkan, membuat minuman ini berhasil mengalahkan terik kota Bekasi yang tidak ada tandingannya.

Apa urusannya sama Bekasi?

Mingintip Miniatur Indonesia di Kebun Percontohan Javara

Salah satu gugusan tanaman pangan lokal, Mint, di kebun percontohan Sekolah Seniman Pangan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Jadi begini, seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa Indonesia memiliki 2.564 spesies tanaman pangan lokal, kira-kira kamu tahu berapa spesies dari keseluruhan jumlah ini?

Jangan-jangan tanamannya selama ini kita lihat sehari-hari tapi diabaikan atau bahkan dibuang karena tidak dikenali? Atau kita salah mengenali spesies tertentu karena belum teredukasi? Karena saya juga merasakan hal yang sama. 

Sebagai individu yang datang dari daerah, saya sendiri memang mengenali beberapa pangan lokal, tapi ternyata lebih banyak lagi yang saya tidak tahu. Fakta ini saya dapati ketika tim Seniman Pangan membawa kami berkeliling ke kebun percontohan mereka yang letaknya di Bekasi. 

Melangkah masuk ke kebun percontohan ini membuat kami rasanya melangkah ke dunia berbeda. 

Bayangkan saja, Bekasi yang selalu diidentikkan dengan cuaca terik, Bantargebang yang sudah sangat penuh, debu yang ukurannya lebih besar dari ukuran debu rata-rata serta kemacetan yang panjang, rupanya memiliki oase di satu titik yang mungkin belum banyak juga orang yang tahu. 

Lokasi Seniman Pangan sendiri berada di ruko alun-alun business park, Padurenan, Mustika Jaya, Kota Bekasi. Cukup jauh dari stasiun LRT atau stasiun KRL, tapi begitu sampai di tempat, kamu akan merasa hijau, tenang, jauh dari kata berisik, bisa nyicipin produk alam nusantara, bahkan bisa mengintip langsung miniatur Indonesia lewat kebun percontohan milik Javara. 

Di atas lahan seluas 3Ha yang belum selesai ditanami, kamu bisa menemukan berbagai tanaman pangan lokal Indonesia dari Aceh hingga Papua. Ngga salah dong kalau bilang miniatur Indonesia?

Bibit-bibit tanaman tersebut, sebagian dibawa langsung dari daerah asalnya oleh Bu Eet yang memang bertugas untuk berkeliling Indonesia demi mengenali lebih luas soal kekayaan gastronomi untuk diadaptasi di Ibukota. 

Bukan hanya tanaman, kamu juga  bisa menemukan kandang ayam, serta kolam ikan. Baik tanaman, kandang ayam maupun kolam ikan dibuat dalam ukuran kecil, setiap spesies tanaman ditanam dalam gugusan terpisah menurut kelompoknya masing-masing. 

Kandang kecil untuk pelihara ayam, juga sebagai percontohan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada pengunjung bahwa di lahan kecil sekalipun, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menghadirkan tanaman pangan lokal di area perumahannya masing-masing. 

Dari tanaman pandan, daun kari, talas bogor, ceremai, peppermint, mangkokan, sereh, daun mint, lengkuas, temukunci, oxalis, kenikir, kumis kucing yang sudah lama sekali tak terlihat, talas ketan, ginseng (tahu ngga Indonesia juga punya ginseng?), bayam air, sampai tanaman Jali-jali yang saya kira selama ini hama yang buahnya cuma dipakai buat aksesoris ternyata adalah makanan. 

Ada juga jambu air yang buahnya keciiiil sekali, kopi, sampai Tebu Papua bisa kamu temukan di lahan ini. Bayangi, bisa metik kopi robusta di Bekasi. Apalagi tuh namanya kalau bukan oase?

Ada satu lagi yang tidak boleh ketinggalan, bunga Baby Rose. Sebagai pecinta Bunga Mawar, saya memutuskan untuk membawa pulang batang tanaman ini untuk saya budidayakan di rumah. 

Baby rose dan daun singkong yang baru dipetik dari kebun percontohan Sekolah Seniman Pangan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Seperti namanya, tanaman ini, mau sebesar apapun ia nantinya, bunganya mentok seukuran kuku kelingking perempuan dewasa, kecil sekali. Dan masih banyak tanaman lainnya. 

Berapa banyak yang saya kenali?

Cukup banyak. 

Berapa banyak yang saya tidak kenali?

Banyak sekali! Jauh lebih banyak dari yang saya kenal. 

Mencicipi Ragam Kuliner Daerah Berkat Eco Blogger Squad

Ragam kuliner daerah yang kami nikmati dalam Kick off Eco Blogger Squad 2026 yang disajikan oleh tim Sekolah Seniman Pangan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Farmtrip dan pengalaman mengolah Sirup Kemangi ini berlangsung berkat kerjasama Eco Blogger Squad dengan Sekolah Seniman Pangan sekaligus menandai dimulainya perjalanan Eco Blogger Squad di tahun 2026, sebuah komunitas di mana setiap membernya memiliki visi misi yang sama, yakni menulis dan menyuarakan seputar isu lingkungan termasuk lewat konten visual. 

Berkat perjalanan singkat ini, kami tidak hanya belajar mengenali ragam tanaman pangan lokal nusantara, kami juga merasakan betapa makanan bisa membuat kenangan yang menyenangkan lewat proses pengolahan, serta berkesempatan pula mencicipi langsung berbagai variasi makanan daerah termasuk condiments dan desserts seperti:

  1. Sayur Sambal Tumpang
  2. Inter Singkong dari Bogor
  3. Nasi Subut dari Kalimantan
  4. Ayam Tangkap dari Aceh
  5. Ikan Goreng 
  6. Tahu Tempe Bacem
  7. Sate daun Singkong dengan sambal kacang 
  8. Mollo dari NTT
  9. Perkedel Jagung juga dari NTT
  10. Sambal Beberok dari NTB
  11. Sambal Terong Belanda dari Sumatera Selatan
  12. Kerupuk, 
  13. Emping
  14. Rujak Aceh
  15. Sagu Sep Pisang dengan Gelato dari Papua. 

Kira-kira menu mana yang pernah kamu cicipi?

By the way, unik banget ngga tuh, sayur daun singkong dibentuk jadi sate? Coba, gimana ngga makin seru urusan makannya?

Percaya ngga sih, pengalaman makan langsung dari alam itu menyenangkan dan selalu berhasil menarik pengunjung untuk mencoba. Kalau kamu tinggal di daerah yang kaya akan hasil alam, barangkali kamu bisa belajar juga ke Sekolah Seniman Pangan untuk bisa menduplikasikan caranya di daerah tempat tinggalmu. 

Sebab di sini, kamu ngga hanya diajari cara mengolah produk olahan pangan, tapi juga dipandu dan dilatih untuk menjadi lebih percaya diri dalam memperkenalkan produk olahan dari pangan lokal daerah untuk tamu-tamu VIP serta kuat mental untuk memperkenalkan produk-produk tersebut di mata dunia dan siap menyambut tamu-tamu kenegaraan yang ingin berkunjung ke daerahmu untuk merasakan langsung pengalaman menikmati makanan tersebut. 


Referensi tulisan:

https://www.kompas.id/artikel/peta-konsumsi-beras-dunia-dan-momen-indonesia-berpaling-dari-ketergantungan

Comments

Popular Posts