Dari Hutan Raja Ampat Hingga Labu Siam dari Liwa, Hutan Dijaga Makanan Terjaga

  

Ilustrasi geplak | Foto: Kompas Yogyakarta

Tantangan Pertama Mahasiswa Teknologi Pangan

Namanya Labu Siam, tanaman ini mudah sekali ditemukan di Liwa, Lampung Barat yang memang merupakan sentra produksi utama tanaman tersebut di Provinsi Lampung. 

Labu Siam merupakan tumbuhan merambat dengan biji tunggal di tengah-tengahnya. Bentuk buahnya mirip buah pir, berwarna hijau muda dengan duri-duri halus di beberapa bagian kulit. Labu Siam kaya akan air dan serat dan rendah kalori. 

Oleh masyarakat di sana, juga di beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, tanaman lokal yang juga disebut Jipang ini kerap diolah sebagai sayuran, entah itu tumisan, dicampur dengan lauk atau seafood atau sekadar lalapan yang dinikmati bersama sambal. 

Dulu, tantangan pertama saya dan kawan sejawat di bangku kuliah sebagai penyandang prodi Teknologi Pangan adalah diversifikasi. 

Kami ditugaskan menuliskan minimal 200 resep makanan, boleh menu baru atau merombak produk yang sudah ada dengan bahan baku baru dari tanaman lokal yang banyak ditemukan di sana. Atau istilahnya diversifikasi pangan. 

Isi list itu beragam - namanya juga 200 menu - ada yang 'normal' seperti mie hijau dari kangkung, atau es lilin buah salak, tapi banyak juga diantaranya yang mungkin terasa anomali saat dibaca; misalnya saja, keripik bayam rasa strawberry atau jus terong rasa jeruk. Nah, lho, gimana tuh ngakalinnya? Jangankan orang lain, saya saja merasa takjub dengan menu-menu yang ada di kepala saya saat itu. 

Tapi di situlah letak uniknya dan proses kreativitas kami diasah. Menghasilkan produk baru dari sesuatu yang rasanya mustahil dilakukan. 

Dari 200 list menu, saya memilih produk yang cukup masuk akal, geplak labu siam. 

Mengenal Geplak, Kudapan dari Kota Budaya

Saya tidak tahu siapa di antara kamu yang belum mengenal geplak. Tapi jika ada yang belum tahu, mari kenalan dulu. 

Geplak adalah jajanan tradisional manis khas Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam dokumentasi Mustikarasa (1967) via Kompas disebut geplak ada beberapa jenis seperti geplak djahe, geplak mrambus, geplak duren, geplak nangka, geplak panili hingga geplak sirsak.

Sejarah menuliskan, kudapan ini telah mengalami beberapa kali transformasi . Tahun 1945, bentuknya silinder dengan diameter sekitar 0,5-0,7Cm dan panjang kurang lebih 2Cm. 

Tahun 1950-1960 geplak berubah bentuk menyerupai lanset dengan dua ujung kecil. Panjangnya sekitar 10Cm dan dicetak dengan cetakan bersalur-salur. Lalu tahun 1970-an, geplak dicetak menggunakan tangan (dikepal) dengan bentuk akhir bundar tak beraturan. Bentuk inilah yang kemudian banyak kita lihat sampai detik ini. 

Geplak memiliki tekstur kasar namun lunak saat digigit dan menawarkan rasa manis karena bahannya yang berasal dari tepung beras, campuran gula dan kelapa parut. 

Dulu warnanya hanya ada dua piliha, yaitu putih jika menggunakan gula tebu dan coklat jika menggunakan gula jawa. 

Seiring berjalannya waktu, warna geplak semakin bervariasi seperti merah, kuning, putih, hijau dan coklat. Tambahan rasanya juga kian variatif mulai dari rasa jahe, strawberry, kacang, durian dan sebagainya. 

Baca juga: "MENYULAP" TANAMAN LOKAL JADI PRODUK EKSKLUSIF DI SEKOLAH SENIMAN PANGAN

Elaborasi Geplak Menu Yogyakarta dengan Labu Siam Tanaman Lokal dari Liwa

Buah labu siam | Foto: Kompas

Oleh masyarakat di sana, zaman dahulu, geplak kerap dikonsumsi sebagai makanan alternatif pengganti saat memasuki musim paceklik

Balik lagi ke tugas pertama saya dulu sebagai mahasiswa Teknologi Pangan yang memilih untuk mengolah Geplak Labu Siam. 

Ada beberapa alasan kenapa saya memilih menu ini; 

  1. Yang pertama tentu rasa penasaran dalam memadukan kudapan dari Jawa tapi berbahan baku dari Liwa tanpa mengubah tampilan, tekstur dan rasa si makanan itu sendiri.
  2. Resep ini cukup mungkin direalisasikan untuk saya yang masih minim ilmu pangannya. 
  3. Biaya yang dibutuhkan tidak begitu besar dan proses olahnya juga cukup mudah dilakukan
  4. Meningkatkan kandungan nutrisi pada geplak
  5. Saya berharap implementasi ini bisa menaikkan marwah Jipang yang semula hanya berakhir jadi sayur jadi sesuatu dengan nilai jual yang lebih tinggi yang juga berdampak pada ekonomi petani sayur agar lebih mudah mendistribusikan hasil panen labu siamnya jika kebutuhan labu tersebut dibutuhkan cukup tinggi untuk proses pembuatan geplak
  6. Membuka ruang agar labu siam bisa dikonsumsi anak-anak dengan cara yang berbeda.
  7. Cara konsumsi yang berbeda dengan tampilan yang berbeda, akan memberikan kenaikan harga pada buah labu siam itu pula. 

Setelah melakukan berbagai percobaan, saya berhasil menghasilkan geplak labu siam. Cara konsumsinya jauh lebih nikmat jika dimakan dalam kondisi dingin saat itu. Labu siam yang terkenal dengan aroma langunya bahkan berhasil saya hilangkan. 

Sayangnya, eksperimen ini berhenti di tugas dan praktiknya yang saya bawa ke kampus. Karena memang, kala itu, implementasinya hanya sampai di praktiknya saja lalu hari-hari berlanjut kembali seperti biasa. 

Labu Siam, Tanaman Lokal Fungsi Ganda dari Liwa,  

Banyak dikonsumsi sebagai sayur, labu siam sebetulnya termasuk dalam jenis tanaman fungsi ganda, yaitu ketika sebuah tanaman bisa dimanfaatkan selain buahnya. 

Sebagai tanaman menjalar, banyak yang sengaja menanam Jipang di pekarangan rumahnya. Sebagai tanaman merambat dan berdaun lebat, oleh warga, tanamannya kerap dimanfaatkan sebagai pekarangan rumah. Pekarangan tampak lebih asri dan hijau, hasilnya bisa dikonsumsi pribadi atau dijual pula. 

Bagian ini mungkin belum banyak yang mengetahui, jika dibiarkan menjalar tepat di atas tanah - bukan dililitkan - akarnya yang menjalar juga mampu menutup permukaan tanah sehingga kelembapan tanah lebih terjaga dan pertumbuhan gulma lebih terkontrol secara alami. 

Belum selesai sampai di sana, di beberapa daerah, daun bagian muda labu siam banyak diolah menjadi sayur, sedang bagian batang dan daunnya yang sudah tua diambil untuk kemudian diproses menjadi pakan ternak. 

Bisa dibilang, sepanjang hidupnya, dan setiap bagiannya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. 

Terinspirasi dari Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser

Tangkap layar Pace Wawiyai Steve dalam zoom | Foto: Screenshoot zoom EBS

Labu siam sebagai tanaman fungsi ganda ini terbersit di benak saya begitu mendengar cerita Pace Wawiyai Steve dalam pelaksanaan webinar perdana Komunitas Eco Blogger Squad 2026/2027 berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF) yang mengusung cerita dari Raja Ampat, tepatnya di Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser, tentang bagaimana hutan yang dijaga sama dengan menjaga pangan manusia. 

Barangkali bagi masyarakat di kota, hutan mangrove hanya sekadar lokasi pariwisata yang bisa dikunjungi di musim berlibur, atau sekadar tanaman-tanaman yang bisa menahan pengikisan garis pantai oleh ombak dan air laut - sering disebut abrasi - yang mengakibatkan hilangnya rumah dan tanah, potensi banjir rob yang tinggi, hingga rusaknya ekosistem. 

Namun hutan mangrove beserta tanaman dan segala isinya, lebih dari itu. Bagi masyarakat Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser, juga warga pesisir lainnya di seluruh Indonesia, mangrove merupakan napas kehidupan masyarakat wilayah pesisir itu sendiri. 

Sejumlah tanaman mangrove dapat diolah jadi sesuatu yang lebih berharga, mulai dari perkakas rumah tangga hingga pangan keluarga. 

Untuk urusan perkakas rumah tangga, sebut saja daun nipah dianyam jadi tikar atau atap dan rotan yang dianyam jadi keranjang. Sedangkan dari sisi pangannya, ada buah pedada, buah lindur, buah tanjang, hingga buah bakau. 

Tanaman-tanaman inilah yang kemudian diproduksi jadi tepung yang nantinya kemudian digunakan sebagai bahan pangan alternatif untuk kue, roti dan cookies. Selain itu ada pula yang diolah jadi keripik mangrove, sirup mangrove, selai mangrove hingga acar. 

Ekosistem yang terjaga ini tak berhenti sampai di sana. 

Selain melengkapi kebutuhan rumah tangga, pangan yang diolah dari hasil hutan ini merupakan jadi salah satu cara menaikkan nilai tanaman mangrove yang tadinya sekadar tanaman, jadi produk bernilai tinggi yang bisa dipasarkan lintas negeri. Hasil akhirnya adalah naiknya perekonomian warga pesisir. 

Begitu pentingnya hutan mangrove bagi warga pesisir, tak heran jika keinginan menjaga mangrove begitu tinggi. 

Pelaksanaan Bangkok Climate Action Week 2026

Tak lama lagi, Bangkok Climate Action Week 2026 akan diselenggarakan, tepatnya dimulai tanggal 3 - 11 Oktober mendatang. Kegiatan ini merupakan sebuah festival iklim, sebuah panggung yang terbuka untuk siapa saja yang memberikan kepedulian terhadap iklim. 

Tujuan utamanya adalah membuat aksi iklim jadi relevan untuk orang biasa, menyambungkan solusi lokal dengan kebijakan dan fokus pada keadilan transisi energi. 

Kaitannya adalah, tanaman lokal yang diversifikasi atau tanaman lokal yang memiliki fungsi ganda yang kita bahas tadi, bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sama seperti yang telah dilakukan oleh teman-teman masyarakatan pesisir Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser. 

Ada begitu banyak tanaman lokal dengan fungsi ganda di Indonesia, begitu pula resep-resep olahan yang memanfaatkan tanaman lokal jadi produk bernilai ekonomi tinggi. Harapannya, setiap detail kekayaan lokal ini masuk dalam kebijakan yang tak hanya bagian dari menjaga alam namun juga memberi manfaat bagi masyarakat itu sendiri. 

Bagaimana di daerahmu? Ada tanaman fungsi ganda juga? Share di kolom komen ya!

Sumber:

https://yogyakarta.kompas.com/read/2023/07/28/150730178/geplak-dari-bantul-sejarah-ciri-khas-dan-cara-membuat?page=all#page2

Comments

  1. Nggak pernah terpikir geplak dari labu siam. Ini out of the box sih, dan nggak terpikir pula Jipan (begitu daerah saya menyebutnya) bisa punya fungsi ganda. Sejauh ini cuma aku tumis, aku santen sama ikan panggang aja. Sepertinya masyarakat Indo butuh lebih banyak info soal literasi pangan deh biar bisa meningkatkan fungsi tanaman di sekitar sekaligus meningkatkan ekonomi lokal 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm, bikin blog baru khusus pangan apa ya? Hahaha

      Delete
  2. Inovasi yang Efa buat geplak berbahan dasar labu Siam ini beneran sangat menarik banget. Jujur aku harus akui pemikiran mu kala itu sangat keren. Labu Siam sendiri memang termasuk tanaman fungsi ganda yang beneran bikin salut. Mulai dari tanaman merambat bisa jadi pagar, batang dan pucuk daun muda bisa di tumis, buah bisa dimasak bahkan di kreasikan jadi berbagai olahan menarik termasuk geplak.

    Acara yang diadakan Eco Blogger Squad ini sangat insightful. Kembali mengingatkan kita penting menjaga hutan karena dari sanalah sumber makanan berlimpah.

    Pun dengan hutan mangrove dengan ragam manfaatnya. Membuka mata kita semua untuk bergerak dan beraksi menjaga hutan demi keberlangsungan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng banget jadi bagian Eco Blogger Squad La. Banyak edukasi baru juga yang aku dapat

      Delete

Post a Comment

Popular Posts