Skip to main content

Featured

IMPLORA Cleansing Face & Body Bar, Jagonya Melembapkan Kulit Keringmu

Implora Cleansing Face and Body Bar Sea Butter | Foto: Efa Butar butar Mengenal kulit kering dan dampaknya Kulit kering merupakan kondisi yang ditandai oleh sensasi kulit tertarik di seluruh wajah dan badan akibat kurang terbentuknya pelindung alami kulit. Bila diperhatikan secara detail, kulit kering menunjukkan ciri tampak kusam, bertekstur kasar, bersisik, memberikan kesan tua, kurang lembap dan berminyak. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor, bisa karena udara yang terlampau dingin sehingga mengurangi kelembapan kulit atau karena gaya hidup yang tidak memperhatikan kelembapan kulit, bisa juga terjadi saat seseorang mengalami dehidrasi.   Baca juga:  CEK KESEHATAN DENGAN KONSEP HOSPITALITY TERBAIK ALA ZAP HEALTH Sebetulnya, kondisi ini bukanlah sebuah kondisi kesehatan yang berbahaya, namun bila tak segera ditangani, kulit yang kering berpotensi menjadi eksim sampai mudah terinfeksi (Sumber: Halodoc) Dampak lainnya adalah kurangnya rasa percaya diri terutama bila kulit kering

Menuju Indonesia 0 Kasus Kematian, Kementerian Kesehatan Berkolaborasi Dengan Takeda Luncurkan Kampanye #Ayo3MPlusVaksinDBD

Penandatanganan perjanjian kerjasama Kemeterian Kesehatan RI dan PT Takeda Innovative Medicines | Foto: Dokpr

Kasus DBD di Indonesia hingga minggu ke-33 di Indonesia

Ada kabar baik yang dibawa oleh Kementerian Kesehatan lewat update terbarunya di p2pm.kemkes.go.id seputar kasus demam berdarah minggu ke-33 tahun 2023 di Indonesia. 

Dalam informasi tersebut disampaikan bahwa kasus Dengue dan kasus kematian tampak menurun cukup drastis. 

Baca juga: MAKSIMALKAN MEDIA DALAM UPAYA SUARAKAN ISU KUSTA

Tahun 2022 tercatat kasus Dengue mencapai 143.266 kasus dengan jumlah kematian mencapai 1.237. Sedangkan hingga minggu ke-33 2023, kasus yang tercatat hanya 57.884 dengan jumlah kematian sebanyak 422. 

5 Kasus Kota dan Kabupaten dengan kasus DBD Tertinggi di Indonesia tahun 2022 | Foto: Dokpri

Kita tentu berharap agar jumlah ini tak lagi naik hingga menutup tahun 2023 dan seterusnya. Pun bila harus naik, kenaikan yang terjadi harapannya tidak signifikan. 

Masih berdasarkan data yang sama, tahun 2022, tercatat ada 5 kabupaten/kota dengan kasus DBD tertinggi yaitu Kota Depok, Kota Medan, Kota Bekasi, Bandung dan Kota Bandung. 

Baca juga: PENTINGNYA RUTIN SCALLING UNTUK ESTETIKA HINGGA KESEHATAN GIGI

Tahun ini, jumlah kasus DBD tertinggi justeru ada di Kota Bandung dengan jumlah 1.281 kasus, Kota Denpasar, Kota Bekasi, Badung dan Bogor dengan jumlah 888 kasus. 

Namun, untuk mewujudkan hal ini, tentu dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk dari masyarakat itu sendiri, untuk dapat bekerjasama menuju Indonesia 0 kasus kematian pada tahun 2030 mendatang. 

Mengenal DBD dan bahayanya untuk semua orang

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk bernama Aedes aegypti. 

Penyakit ini bisa menularkan siapapun baik yang tinggal di desa maupun di kota, baik anak-anak atau dewasa, yang miskin atau yang kaya. DBD merupakan salah satu jenis penyakit yang kehadirannya bisa terjadi pada siapa saja. Tanpa pandang bulu. 

Hingga saat ini DBD masih terus menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia termasuk yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara. 

Saat seseorang kena gigitan nyamuk Aedes aegypti, maka akan muncul sejumlah gejala DBD seperti demam mendadak dengan suhu mencapai 39 derajat Celcius yang berlangsung 2-7 hari lalu suhu tersebut kemudian turun secara mendadak. 

Gejala lainnya yang bisa dilihat dari DBD adalah nyeri kepala, mengigil, lemas, nyeri di belakang mata, otot dan tulang, ruam kulit kemerahan, kesulitan menelan makanan dan minuman, mual, muntah, gusi berdarah, mimisan, timbul bintik-bintik merah pada kulit, muntah darah, dan buang air besar berwarna hitam. 

Jika Anda mengalami gejala seperti demam selama 3 hari dan gangguan aktivitas, disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan diri ke dokter dan segera lakukan pemeriksaan darah. 

Yang perlu diperhatikan dari gejala ini adalah suhu yang naik turun secara mendadak. Perlu diketahui, saat suhu tubuh pasien turun dan terasa dingin, justeru saat inilah pasien memasuki fase kritis karena pasien dan pendamping merasa seperti sudah sembuh. Namun, pada fase ini, perlu waspada karena dapat terjadi sindrom syok dengue yang dapat mengancam jiwa. 

Sayangnya, demam yang terjadi pada penderita DBD kerap disamakan dengan demam biasa yang membuat sejumlah pasien dan pendamping "kecolongan". 

Memang, untuk mengetahui apakah seseorang terkena DBD, dibutuhkan diagnosis yang melibatkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium darah. 

Dari pemeriksaan fisik sendiri, Anda bisa mengetahui lewat gejala-gejala seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya serta perhatikan pula ada tidaknya tanda kebocoran plasma. 

Tes tourniquet juga dapat dilakukan untuk melihat adanya petechiae (bintik-bintik merah kecil) di bagian dalam lengan. Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat jumlah sel darah putih dan sel darah merah serta untuk mendeteksi antigen virus Dengue dan antibodi. 

Upaya pencegahan DBD

Sejak dulu, kita sudah familiar dengan istilah 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air dan mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk jadi wadah berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. 

Nyatanya, 3M saja tidak cukup. Banyak tambahan lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya DBD pada seseorang. 

Sebut saja menjaga kebersihan rumah, menggunakan lotion atau obat nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, tidak menggantung pakaian sembarangan, tidak membiarkan pakaian menumpuk, menggunakan kawat nyamuk pada ventilasi rumah hingga mengenakan pakaian tertutup serta pakaian berwarna terang, termasuk melakukan vaksinasi Dengue  untuk keluarga sebagai upaya melengkapi perlindungan dengan vaksinasi DBD. 

Menuju Indonesia 0 kasus kematian, Kementerian Kesehatan berkolaborasi dengan Takeda luncurkan kampanye #Ayo3MPlusVaksinDBD

Para pembicara di peluncuran kampanya #Ayo3MPlusVaksinDBD | Foto: Dokpri

Vaksinasi DBD bisa menjadi salah satu alternatif untuk terbebas dari kasus kematian akibat DBD karena manfaatnya yang bisa memberikan perlindungan yang cukup baik kepada siapapun baik yang sudah maupun belum terkena DBD. 

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama dengan Takeda telah membangun kerja sama publik dan privat yang kuat serta meluncurkan kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD pada 27/9 lalu bertempat di Raffles Hotel, Jakarta. 

Ruang lingkup kerja sama tersebut, meliputi peningkatan peran serta masyarakat atau pemberdayaan masyarakat; peningkatan kapasitas tenaga kesehatan; penyusunan dan pelaksanaan terkait program koalisi bersama masyarakat menuju nol kematian akibat dengue (zero dengue death 2030); pendekatan terpadu untuk pencegahan dan pengendalian dengue; sinkronisasi data (bridging) dengan SIARVI (Sistem Informasi Arbovirosis); peningkatan peran dan kerja sama penentu kebijakan di pusat dan daerah

Kerjasama ini tentu disambut baik oleh sejumlah pihak, termasuk Tika Bisono selaku Pemerhati Dengue yang pernah kehilangan putri tercintanya, Janika Ramadhanti Putri Argeswara, karena infeksi dengue tahun 2007 silam. 

Ia yang turut hadir pada peluncuran kerjasama ini merasa bersyukur karena penantian 16 tahun akhirnya terwujud juga. 

"Kami amat bersyukur dengan telah hadirnya pencegahanan inovatif dengan vaksinasi yang telah direkomendasikan oleh asosiasi medis dan pemerintah sebagai pilihan mandiri. Hadirnya vaksinasi ini akan dapat membantu menurunkan angka keparahan dan kematian akibat infeksi dengue. Karenanya kami ingin senantiasa mengajak masyarakat untuk dapat memanfaatkan akses vaksinasi ini agar mendapatkan perlindungan yang komprehensif, yang tentunya dilakukan melalui konsultasi langsung ke dokter atau ahli medis." Ujarnya. 

Iapun berharap agar masyarakat Indonesia dapat memaksimalkan kesempatan ini untuk mendukung Indonesia mencapai tujuan 0 kematian akibat DBD baik anak-anak ataupun dewasa lewat #Ayo3MPlusVaksinDBD


Referensi tulisan:

https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/ntd--malaria/demam-berdarah-dengue

Comments