Skip to main content

WKWKWK Bakery dan JNE, Ketika Hidup Akhirnya Berubah Fase

Produk cookies WKWKWK Bakery produksi paling pertama | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Perjalanan Pengobatan Tumor Bapak

Pendaftaran pengobatan bapak November 2022 | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Keputusan resign empat tahun lalu cukup membuat saya terpuruk. Tabungan habis, cari pekerjaan sulit, rasanya hidup kian terhimpit. Tapi kalau waktu bisa diulang kembali, saya akan tetap mengambil keputusan yang sama, menjadi caregiver bapak yang harus operasi besar akibat tumor ganas di lehernya. 

Proses administrasi rumah sakit yang saat ini hampir seluruhnya bersinggungan dengan digital akan membuat orangtua saya kelimpungan, sehingga memang butuh pendampingan.

Proses pengobatan bapak memang gratis. Semua ditanggung BPJS Kesehatan yang rutin saya bayarkan tiap bulan. Tapi selain itu, semua berbayar. 

Pengobatan berlangsung di salah satu rumah sakit rujukan terbesar di Kota Medan. Untuk kami yang tinggal di Pematangsiantar, ini artinya perjalanan panjang di setiap pengobatan. 

Pengeluaran besar sekali. Mulai dari transportasi, sewa kost di sekitar RS, konsumsi, obat-obatan, hingga berbagai kebutuhan tambahan. 

Butuh waktu 1,5 tahun lebih mulai dari pengecekan pra operasi hingga kontrol pasca operasi. 

Puji Tuhan, bapak dinyatakan bersih dari tumor dan masih sehat sampai saat ini meski taruhannya tabungan habis tak bersisa pekerjaan pun tak lagi ada. 

Di usia yang telah masuk kepala 3, ketika orang lain seusia saya barangkali sedang menikmati hasil kerja kerasnya, menerima gaji puluhan juta, saya harus merangkak dari nol lagi. 

Putus asa soal susahnya cari kerja

Saat memutuskan untuk menjadi caregiver, pikiran saya sederhana "Nyawa bapak cuma satu, pekerjaan bisa dicari sewaktu-waktu."

Saya pikir akan semudah itu, sayangnya, 3 tahun berlalu, mencari pekerjaan yang saya kira bisa dilakukan sewaktu-waktu itu tak kunjung ketemu.

Ratusan lowongan pekerjaan saya lamar, tak ada yang menerima. Boro-boro, panggilan interview saja sedikit sekali. Seolah semua pintu tertutup rapat untuk saya.

Tak serta merta tadi pengangguran memang. Peluang rezeki masih terbuka lewat kemampuan saya menjadi seorang blogger serta posisi partnership di salah satu komunitas blogger.

Hanya saja, honor menghasilkan tulisan tidaklah begitu besar. Pun durasi pembayarannya butuh waktu satu hingga dua bulan. Sementara kehidupan terus berjalan. 

Bukan tidak bersyukur, namun untuk seorang sandwich generation, tentu penghasilan ini kurang. 

Saya hidup dalam survival mode. Setiap Rupiah berharga sekali. Ajakan main saya tolak, terutama yang nongkrong semata. Saya tau, selalu ada tujuan dari setiap pertemuan, salah satunya melepas rindu. Tapi bagi saya, itu tak lagi jadi prioritas sebab sekali bertemu, pasti keluar ratusan ribu dan jarang sekali disertai dengan potensi penghasilan baru. 

Dalam kondisi ini, saya legowo dibilang sombong. Tidak apa-apa, nanti setelah kehidupan sedikit membaik, dengan senang hati saya jelaskan. 

Titik yang bikin saya benar-benar muak dengan hidup adalah ketika Rp3.500 perak untuk bayar Transjakarta saat ingin ke event saja, saya tidak punya. Dari hari ke hari, saya hanya mencoba bertahan hidup. 

Tapi ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi dari kosongnya e-money untuk naik Transjakarta dan dari hidup sekadar bertahan yaitu ketika orang tua benar-benar butuh bantuan keuangan, kau sungguh tidak bisa mengulurkan tangan. 

Kembali ke Diri Sendiri

Kau tahu hal lain yang mengerikan dari hidup yang sekadar bertahan? Kau lupa bahwa dirimu memiliki kemampuan. 

Sekarang saya percaya, kenapa banyak orang di fase terberat memilih menarik diri, kembali ke diri sendiri, menghadapi dan belajar berdamai meski harus berteman air mata. Dalam kondisi tenang, kamu tahu apa yang bisa kamu lakukan.

Tahun lalu, setelah perjalanan panjang berdiskusi dengan diri sendiri, saya menyadari, roda hidup betul-betul berputar dan semua orang mengalaminya, hanya saja tantangannya berbeda-beda. 

Perjalanan karir yang seluruhnya beririsan dengan dunia kreatif dan kepenulisan serta kondisi hidup yang panik membuat saya sempat lupa dengan kapasitas saya sebagai seorang lulusan Teknologi Pangan. 

Inilah yang saya sepakati dengan diri saya, memanfaatkan kemampuan yang hampir terlupakan, mengolah makanan. 

Dari berbagai opsi makanan yang bisa diproduksi, saya memilih cookies. Produk ini membantu saya mendapatkan nilai A+ di salah satu mata kuliah dulu. 

Menyelami Cerita sebagai R&D Pangan Di Masa Kuliah

Komparasi organoleptik produk cookies WKWKWK Bakery dari eksperimen beberapa bentuk produk | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Untuk mendapatkan resep terbaik yang dulu pernah saya lakukan di Laboratorium Pengolahan Pangan, saya harus menyelam ke cerita kehidupan saya satu dekade silam dan membuka kembali folder-folder tugas saya yang dulu.

Saya pelajari lagi komposisi yang paling tepat dalam satu resep. Saya cek lagi durasi panggang dan suhu terbaik untuk mendapatkan cookies dengan hasil uji organoleptik terbaik kala itu. 

Dari beberapa percobaan, bentuk ini paling sesuai dengan kemasan, ramah digenggam dengan visual akhir yang lebih bertekstur. Foto ini diambil saat proses pemanggangan berlangsung| Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Saya juga bereksperimen dengan ketebalan cookies. Jika berat dan bentuk setiap kepingannya berbeda, hasilnya pun akan berbeda. Bisa jadi tingkat kematangannya tidak merata.

Adonan cookies varian original yang siap dicetak | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Setiap hasil eksperimen saya dokumentasikan sampai saya benar-benar mendapatkan resep hasil organoleptik yang terbaik pula. 

Bicara soal persentase gizinya memang sulit. Bagaimanapun, UMKM perlu biaya yang cukup besar untuk mendapatkannya.

WKWKWK Bakery dan JNE, Akhirnya Hidup Berubah Fase

Cookies WKWKWK Bakery siap dikirim ke wilayah Sumatera Utara dengan menggunakan pengiriman Reguler dari JNE Juanda Depok | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Setelah bulat dengan semua hasil eksperimen dan mendapatkan produk cookies hingga jenis kemasan terbaik, November lalu, berkat bantuan salah seorang sahabat, saya resmi meluncurkan produk cookies yang diberi nama WKWKWK Bakery, sebuah afirmasi semoga setiap kepingannya bisa membuat konsumen bahagia.

Saat pengumuman opening produk diluncurkan di Instagram @wkwkwk_bakery satu per satu pesanan mulai datang. Hari-hari saya yang kosong perlahan mulai sibuk. Rasanya hidup ini kembali menemukan arahnya lagi. 

Permintaan pesanan agar dikemas dalam parcel cukup meningkat, salah satu ide cuan di perayaan Hari Besar Keagamaan | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Sebagai pemain tunggal dari bisnis rumahan ini, saya masih membatasi pesanan yang masuk karena tidak ingin pesanan pertama mereka sampai dalam durasi waktu yang lama.

Pembuatan cookies sebenarnya terbilang mudah; penimbangan bahan, pengadonan, pencetakan, proses panggang, pendinginan dan pengemasan.

Ya, perlu tahapan sepanjang ini untuk menghasilkan satu toples WKWKWK Cookies. Dari serangkaian proses ini, cetak dan panggang adalah bagian terlama.

Demi meminimalisir biaya, saya memutuskan untuk mencetak cookies secara manual. Tanpa biaya, tapi waktu pengerjaannya jadi lama. Proses panggangpun demikian. Setelah trial and error, hasil terbaik keluar dari satu tray dalam setiap pemanggangannya. Kalau menggunakan dua tray sekaligus, hasilnya jauh berbeda. 

Adonan cookies ditimbang lalu dicetak per keping agar ketebalan, berat dan hasil pemanggangan merata | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Untuk efisiensi waktu, saat proses panggang adonan cookies lain, pesanan yang sudah dingin mulai saya susun di dalam toples. Tidak ada waktu kosong di tengah produksi, saya terus bergerak memaksimalkan waktu.

Saya terbilang beruntung karena proses pengiriman ke ekspedisi sangat membantu. Di dekat rumah, ada JNE Juanda Depok yang berjarak 1,5Km saja. Sebelum bisnis diluncurkan, saya memang sudah melakukan riset soal ini. 

"Minimal 5 paket Ka, kalau mau dipickup. Usahakan paket sudah ready sebelum jam 14.00 WIB agar bisa dirouting di hari yang sama." Begitu jawaban admin #JNE ketika saya tanya soal penjemputan paket UMKM. 

Niat baik disambut baik pula oleh semesta. Tadinya saya pikir saya benar-benar bergerak sendiri, ternyata tidak. Satu per satu pelanggan berdatangan, soal pengiriman terbantu pula dari #JNE35BergerakBersama dengan fasilitas penjemputannya.

Selain dekat rumah, alasan lain saya memilih ekspedisi ini adalah kepedulian mereka terhadap paket itu sendiri. "Sudah dibubblewrap?" adalah pertanyaan yang sering saya dapat sebelum bertransaksi. 

Sederhana, tapi bagi saya ini adalah bentuk tanggungjawab dan edukasi dari petugas untuk pelaku UMKM, khususnya produk kue kering, agar lebih aware dengan paketnya. Pengingat ini juga sekaligus jadi kolaborasi antara JNE dan pelaku usaha dalam menjaga produk.

Pelaku usaha melindungi produk dengan double packing, JNE melindungi produk lewat perlakuan yang baik di setiap tahapan pengirimannya. Ini terbukti dari testimoni pelanggan saya yang mengatakan cookies tiba dalam kondisi baik tanpa ada yang remuk. 

"Selamat siang, Mas. Saya ada 6 paket hari ini, alamat seperti biasa. Minta tolong dijemput, ya. Terima kasih." Saya kirim pesan setelah 6 orderan saya bungkus bubblewrap dan ditempeli alamat penerima di hari kesekian usaha saya berjalan. 

Cookies varian coklat dan original. 4 toples untuk Ibu hamil, 2 toples untuk ibu yang sedang merayakan ulang tahunnya | Foto: Dokpri - Efa Butar butar

Sekitar 1,5 jam setelahnya, tim JNE yang bergerak, tiba di rumah dan mengambil keenam pesanan yang siap terbang ke berbagai kota di Indonesia dengan seluruhnya menggunakan pilihan pengiriman Reguler. 6 paket diangkut tanpa saya harus meninggalkan adonan dan panggangan.

Soal pilihan pengiriman, untungnya pelanggan saya tidak begitu muluk-muluk. Meski JNE masih ada opsi YES (Yakin Esok Sampai), tapi penggunaan Reguler ternyata cukup, harganya juga lebih bersahabat. 

Pesanan memang tak melulu banyak, tapi selalu ada. Saya yang terbiasa melihat kondisi rekening yang naas 3 tahun belakangan, mulai bisa bernapas lega dengan jumlahnya yang terus bertambah. Hari demi hari. 

Cerita di balik pesanan juga selalu membuat hati saya bahagia. Pekan lalu misalnya, 4 toples pesanan ke daerah Sumatera Utara untuk seorang Ibu hamil dan 2 toples sebagai hadiah dari seorang anak untuk ibunya yang berulangtahun. 

Selama proses pengolahan, saya terus berdoa agar makanan ini jadi kesehatan untuk sang ibu hamil dan janinnya, serta jadi sumber kebahagiaan untuk ibu yang bertambah usianya. 

Untuk kedua pesanan ini, selain karena jumlahnya kurang, saya memang sudah niatkan mengantarnya langsung ke JNE #ConnectingHappiness. Saya senang, WKWKWK Bakery dipercaya menjadi bagian dari cerita kebahagiaan mereka. 

Dihitung-hitung, jaraknya yang hanya 1,5Km membantu saya melangkah total 3Km, cara tepat berbisnis yang sehat. Badan bergerak, cuannya juga dapat. Heheh. 

Perjalanan ini saya sertakan dalam #JNEContentCompetition2026 dengan doa semoga jadi secercah harapan bagi kamu yang hari ini barangkali sedang menghadapi keterpurukan.

Keterpurukan bukan aib, kok. Ketika nanti hidup kembali membaik, kamu akan menyadari ternyata kamu setangguh itu melewati jalan terjal yang berbatu. Kamu hanya perlu berdamai dulu dengan semua yang terjadi. 

Saya beruntung, cerita perjalanan saya melewati terjalnya salah satu fase kehidupan terbantu lewat JNE. Berkat WKWKWK Bakery dan JNE, akhirnya hidup ini kembali berubah fase. Yang lebih baik, yang lebih bijaksana dan lebih memahami arti syukur. 

From the deepest of my heart, terima kasih #JNEBeragamCerita telah jadi bagian perjalanan pulihnya kehidupan saya.

Comments

Popular posts from this blog

KiriminAja VS Komship, pilih mana untuk dukung usaha?

  Pesanan pembeli yang siap dikirim | Foto: Dokpri - Efa Butar butar Usaha yang lahir dari pandemi Covid-19 Sejak pandemi Covid-19 melanda, banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk sekedar menjaga kewarasan hingga bertahan hidup. Ada yang berolahraga dari rumah, ada yang fokus membangun konten, ada juga yang perlahan-lahan belajar mengelola sebuah bisnis entah itu berjualan produk pribadi atau sekedar menjadi reseller produk orang lain.  Masyarakat tersebut termasuk saya di dalamnya. Saya yang berolahraga dari rumah, saya yang bekerja dari rumah, saya yang juga turut belajar menjadi reseller produk kosmetik, produk perawatan tubuh, produk perawatan kulit hingga parfum dari salah satu brand yang berasal dari Swedia.  Sebenarnya semua bermula dari keinginan untuk merawat kulit saja. Mumpung banyak waktu di rumah. Saat itu meski produk kosmetik lokal sudah merebak, saya masih tetap terbayang-bayang aroma salah satu produk perfumed body cream dari brand tersebut yan...

Bikin SKCK Online, 15 Menit Beres, Tapi...

  Tangkap layar tampilan SKCK | Foto: Dokpri - Efa Butar butar - Diolah dengan Canva Sejak diluncurkan tahun 2022 silam, kehadiran aplikasi PRESISI terbilang cukup memudahkan; meski banyak yang mesti harus di upgrade lagi. B agi yang belum tahu, PRESISI Polri menawarkan sistem yang menyatukan seluruh layanan data, memberikan kemudahan dalam membuat/membangun sebuah layanan baru, mengintegrasikan layanan yang telah ada dan membuat sebuah standarisasi layanan dari hulu hingga ke hilir. Seluruh tawaran ini dikemas dalam sebuah aplikasi yang diberi nama PRESISI. Jika ingin bicara makna harfiah, PRESISI juga menjadi slogan Polri di era Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang merupakan akronim dari prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan.  Layanan yang diberikan  Layanan yang tersaji pada aplikasi ini cukup beragam mulai dari layanan SIM, STNK, Tilang, SKCK hingga Izin Keramaian.   Bukan hanya itu, di aplikasi ini juga tersedia informasi kantor polisi ...

Pengalaman Mencoba DNA Salmon Meso Injection di ZAP Clinic Travoy Hub

Pengalaman Mencoba DNA Salmon Meso Injection di ZAP Clinic Travoy Hub | Foto: Dokpri - Efa Butar butar Defenisi cantik; luas tapi menawarkan pilihan "Mukanya bersih banget, Faaa! Cerahan lagi" Aku dapet pujian itu sekitar akhir bulan Januari kemarin dari seorang teman.  Well , ngga munafik, pujian yang kita terima baik karena sebuah prestasi di bidang apapun, sekedar tampil well dress hingga wajah dan rambut yang terlihat lebih baik dari kemarin tentu akan meningkatkan rasa percaya diri dan jadi moodbooster dalam menjalani hari. Dan kurasa semua orang menyukai itu, pria dan wanita.  Disclaimer dulu, sebelum pada salah paham. Aku percaya, makna cantik itu sangat luas. Ada yang mendefenisikan cantik itu berasal dari hati. Ada juga yang berpendapatan bahwa cantik itu terpancar dari aura. Ada juga yang bilang cantik itu cerdas, mandiri, dan berani. Semua benar. Aku sangat setuju dengan pendapat-pendapat di atas. Meski defenisi cantik memang luas, tapi selalu ada pilihan makna ...