![]() |
| Ki-ka: Offie, Valencia, dan Lala | Foto: Dokpri - Efa Butar butar |
Tanggal 8 Maret setiap tahunnya, International Women's Day dirayakan secara global untuk mempromosikan kesetaraaan gender dan merayakan pencapaian perempuan. Dilansir dari pluxee.in, hanya 32% perempuan yang bekerja sebagai manajer secara global dan hanya sekitar 8% yang mencapai posisi CEO, sementara kesenjangan upah gender global terus mendekati 20%.
Dalam perayaan tahun ini, dunia mengangkat tajuk "Give to Gain" sebagai pengingat bahwa ketika seseorang, organisasi dan komunitas bergerak memberi dengan murah hati, peluang bagi perempuanpun bertambah. Topik ini diangkat untuk mengingatkan kembali bahwa memberi bukanlah mengurangi, melainkan perkalian yang disengaja untuk menciptakan perkembangan setiap perempuan.
Sejalan dengan perayaan tersebut, Arichsan turut serta ambil langkah, berkontribusi 'berbagi' pada sejumlah perempuan lain lewat penyelenggaraan 'Ngabuburich', forum perdana yang dihadirkan sebagai ruang aman, reflektif serta edukasi yang membahas berbagai hal seputar Women, Money and Meaning bertempat di Selibar Cafe, Cipete pada (8/3).
Arichsan sendiri merupakan sebuah komunitas kecil yang digagas oleh Adani Ladita atau yang sering disebut Lala Adani, finalis Putri Indonesia yang melaju mewakili Provinsi Kalimantan Utara pada Grand Final Puteri Indonesia 2019 silam.
Kegiatan ini menghadirkan:
- Offie Dwi Natalia, M. Psi., Psikolog., CGA Psgycgologist
- Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP seorang Financial Planner
- Dan dipandu langsung oleh Lala
Perempuan dan peran yang terus bergeser
Sadar tidak, setiap tahapan kehidupan, perempuan selalu mengalami pergeseran peran. Saat kecil jadi anak, menikah berganti jadi istrinya suami, setelah punya anak, jadi ibunya anak. Jarang sekali perempuan memperkenalkan diri sebagai dirinya sendiri tanpa membawa embel-embel nama suami dan anak.
Di Inggris misalnya, praktik perempuan menggunakan nama suami masih banyak kita dapati. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 1994 menunjukkan 94% perempuan di Inggris mengganti nama belakang mereka dengan nama suami setelah menikah. Nama tersebut bahkan digunakan untuk membuat paspor dan kartu kredit hingga sosial media.
Namun jumlah ini terus mengalami penurunan terutama bagi perempuan yang telah berpendidikan tinggi.
Padahal sejumlah feminis dilansir dari BBC News mengatakan bahwa perempuan mengalami kerugian serius dengan karir mereka jika mengganti nama. Perubahan nama ini menjadi sinyal bagi mereka untuk tenggelam perlahan-lahan dan memperkuat ide terhadap anak-anak mereka bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Selena Gomez misalnya. Pasca berkarir sejak usianya baru menginjak 10 tahun hingga saat ini, ia memutuskan tidak akan mengganti nama belakangnya dengan nama suaminya sebab nama Gomez sendiri sudah hadir sejak dia mulai tampil di Barney & Friends lebih dari 20 tahun yang lalu dan terus ada hingga hadirnya Rare Beauty yang kini digandrungi pengguna produk kecantikan saat ini.
Hingga saat ini, mengadopsi nama suami pada perempuan masih kerap kita temukan. Menurut Offie, perubahan peran yang dilakoni perempuan ini, jika semakin berat tentu akan membebani perempuan itu sendiri termasuk membuat stress.
"Beban secara kognitif dan beban juga secara afektif yaitu secara perasaan." Ujarnya.
Perubahan memberikan ruang gerak yang lebih terbatas pada perempuan. Yang dulu bisa melakukan apa saja, kini harus bertanggungjawab pada beban yang lebih serius. Belum lagi sisi afeksi perempuan juga jarang sekali dikonfirmasi yang membuat tidak adanya sikronisasi antara kognitif dan afektif.
Offie yang saat itu juga hadir dengan buah hati yang masih menyusui menyebutkan, sebelum seorang perempuan berpindah untuk naik level (peran) sebaiknya harus bisa menguasai level di mana ia sedang berada untuk mendapatkan kestabilan emosi hingga finansial.
"Kebingungan peran itu normal dan wajar, tapi bagaimana kita sebagai perempuan-perempuan bisa jauh mengenal diri kita lebih dalam." Katanya.
Perempuan, uang dan value diri
Bicara soal perempuan, kita juga bicara soal kapasitas mengelola keuangan. Urusan ini sebaiknya memang semua harus bisa; perempuan single ataupun menikah.
Dicantut dari BBC Indonesia berdasarkan temuan lembaga riset Australia Indonesia Partnership for Economic Governance (AIPEG), tahun 2016, kira-kira 1,7 juta dari 11 juta perempuan usia 20-24 tahun keluar dari angkatan kerja karena alasan pernikahan dan punya anak. Sebuah situasi dilematis yang mengharuskan perempuan memilih antara rumah tangga atau karir. Dan kebanyakan perempuan menikah dan punya anak akan memilih opsi pertama.
Lembaga tersebut juga menemukan bahwa perempuan yang keluar dari pekerjaan karena menikah dan punya anak baru akan kembali lagi bekerja tetap di usia sekitar 40 tahun setelah anak mereka cukup besar
Keputusan mundur dari dunia pekerjaan demi mengurus anak dan rumah tangga ini, jika ditotal secara ekonomi mencapai US$123 Miliar atau setara dengan Rp1600 triliun. Artinya, ekonomi Indonesia bisa lebih makmur jika para ibu tidak berhenti bekerja.
Jika kamu adalah seorang perempuan, sebaiknya memang bekali diri dengan literasi digital. Salah satunya yang dibahas oleh Valen dalam paparannya adalah persiapan dana darurat.
Dana darurat adalah sejumlah uang yang memang disisihkan khusus dalam tabungan atau investasi likuid atau mudah dicairkan untuk menutupi pengeluaran tak terduga, mendesak dan penting untuk diselesaikan.
Dana darurat menjadi persiapan untuk melindungi stabilitas finansial, mencegah utang dan menjaga agar tabungan utama tidak terpakai saat krisis seperti PHK, biaya medis hingga perbaikan kendaraan.
Persiapan ini biasanya sejumlah 6 kali pengeluaran per bulan untuk single dan 6-12 kali pengeluaran per bulan untuk yang sudah memiliki rumah tangga.
Bagaimana cara mengetahui jumlah pengeluaran per bulan? Catatan pengeluaran.
Remeh ya? Terdengar ribet pula. Setiap pengeluaran dicatat dengan detail. Mulai dari transportasi, uang makan, biaya parkir, rekreasi, hiburan, pakaian, belanja bulanan, termasuk jajan di minimarket atau cafe terdekat untuk membuang rasa bosan. Catat semua.
Di akhir bulan, catatan ini kemudian ditotal untuk mengeahui jumlah akhir pengeluaran bulanan kamu, lalu kalikan 6 untuk persiapan dana darurat bagi yang masih single atau 12 bulan untuk yang sudah berkeluarga.
Tapi rasanya sulit yang mencukupi dana darurat 6-12 kali pengeluaran jika gaji UMR yang begitu pas-pasan?
Tenang, girls! Banyak orang yang merasakan hal yang sama kok. Untuk itu, kamu wajib banget mengenali value diri. Selain pekerjaan utama tersebut, apa value diri kamu yang kira-kira bisa menghasilkan?
Value diri itu bisa memasak yang hasilnya nanti untuk dijual, atau bisa menjahit pakaian mungkin? Kamu juga bisa menawarkan jasa private learning untuk bahasa asing yang mungkin kamu kuasai. Atau menawarkan sklils lain seperti menulis dan menghasilkan konten untuk mengisi waktu kosongmu sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan. Value ini bisa kamu maksimalkan untuk menutupi kebutuhan dana darurat atau kebutuhan lain dalam finansial kamu.
Ngomongin soal finansial, sebagai individu yang tidak bisa berdiri sendiri, kita juga akan kerap terlibat dengan kebutuhan orang lain, entah itu keluarga atau orang tua. Membantu itu sah-sah saja, tapi kamu juga harus tahu bahwa dirimu berharga. Kamu juga penting untuk melakukan proteksi terhadap kebutuhanmu di masa mendatang.
Untuk itu, jika kamu berniat membantu, bantulah seiklhasnya tanpa mengorbankan keuangan dan kebutuhanmu di masa mendatang.
Sumber:
https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/11/141102_majalah_nama
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42428508

Comments
Post a Comment