Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2019

Perantau dan Setumpuk Rindu

Kata Nadezhda dalam film Aruna dan Lidahnya "Alasan orang pergi jauh adalah, pulang" Tentang merantau, rasanya kata ini mudah sekali untuk diucapkan. Tapi faktanya, hanya beberapa orang yang memberi hati untuk menyanggupi sedang sebagian lagi tak tahan dengan urusan perpisahan. Merantau tak sekedar urusan mimpi yang harus digenapi, merantau juga memiliki defenisi tentang hati yang harus siap tersakiti. Ada rupa yang tak lagi melulu dijumpa, ada suara yang harus menunggu masa untuk didengar, juga ada rindu yang harus dipendam hingga masa yang sudah ditetapkan.  Bagiku sendiri, masa yang kutetapkan adalah akhir tahun. Libur Natal dan tahun baru. Alasannya hanya dua: 1. Hati orang tua yang sedang menanti 2. Aku tahu rasanya menikmati moment Natal dan tahun baru sendiri, dan itu sungguh tidak enak. Namun selain dua alasan di atas, aku memiliki setumpuk alasan lain mengapa harus kembali di penghujung tahun. Moment libur Natal dan tahun baru: 1.  Menikmati

Meski Dilarang Mandi, Ini Beberapa Hal yang Dapat Dilakukan di Pantai Parangtritis

Bermain di bibir pantai Parang Tritis | Foto: Dokumen Pribadi Bicara tentang Jogjakarta. Pantai Parang Tritis itu memang cantik sekali. Aku bahkan sampai bingung mendeskripsikannya. Heheh. Sedikit mirip dengan pantai pantai di Bali, biru cerah dengan ombaknya yang besar. Bedanya adalah, saat turis-turis mancanegara malah mengejar ombak di Bali untuk kebutuhan surfing, maka wisatawan di Parang Tritis tidak diijinkan untuk mandi. Sebabnya sederhana, saat masuk gapuranya saja, petugas sudah memberikan warning . Tidak diijinkan mandi. Pengumuman serupa pun dapat ditemukan tepat di depan gapura. Tulisannya gede gede. Pengunjung dilarang mandi. Bisa jadi ombak yang kuat kurang bersahabat dan dikhawatirkan wisatawan tidak sanggup untuk menantangnya lalu tenggelam di sana. Bisa jadi lhoo yaa. Yang jelas larangan tersebut ditujukan untuk faktor keamanan semua pihak. Harga tiket masuk ke tempat ini cukup terjangkau, hanya Rp  30.000  saja untuk 3 orang. Tidak ada bat

Akhirnya Jadi Ke Bali

Akirnya jadi ke Bali | Foto: Dokumen Pribadi Tahun lalu, meski tak begitu mewah, aku ingin sampaikan betapa aku  bahagia bersama AirAsia . Pasalnya, impian kedua orangtuaku yang ingin sekali menjejakkan kaki di Pulau Dewata, Agustus 2018 lalu akhirnya lunas terpenuhi berkat maskapai AirAsia yang menawarkan harga super terjangkau ke destinasi tersebut. Tumbuh bersama geliat pariwisata yang kian meningkat dan istilah travelling yang makin ngetren bukanlah hal yang mudah. Seru sekali memang menjelajah tempat-tempat baru yang sebelumnya tak pernah dikunjungi, banyak pemahaman baru yang didapat dan semakin terbuka pula wawasan. Meski travelling adalah hal yang begitu menyenangkan untuk dilakukan, tetap saja ada tantangannya, yakni restu orang tua untuk menikmati suasana berbeda dan mengeluarkan biaya yang mereka anggap terbuang sia-sia. Hal inilah yang mendasari betapa aku ingin sekali membawa kedua orang tuaku merasakan apa yang sudah berkali-kali kurasakan. Travelling!

Menuju Hari Ibu, Tahukah Kamu Bahwa Ibu Menantimu Bercerita?

Selamat menyambut hari Ibu, udah bahagiain Ibumu hari ini? Delapan hari menuju hari Ibu, di hari-hari seperti ini, biasanya lini masa media social ramai dengan foto pengguna berdua atau beramai ramai dengan ibunya disertai ucapan yang begitu manis, haru, dan menggemaskan. Banyak orang yang memberikan kejutan, hadiah atau buket bunga dan cara-cara manis lain untuk menyenangkan hati sang ibu. Hal ini juga terjadi antara suami terhadap istrinya. Tentang Hari Ibu Di Indonesia, hari Ibu sendiri diperingati setiap tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No 316 tahun 1959 pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal ini dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Meski kini makna hari Ibu telah banyak berubah, perayaan tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu (Sumber: Wikipedia) .

Ingin Kembali dan Menikmati Mayang yang Tak Kesampaian

Salah satu nelayan dan perahunya | Foto: Dokumen Pribadi Mengenal Mayang Pernahkah kamu mendengar istilah mayang? Mayang adalah suatu kegiatan menangkap ikan dengan menggunakan perahu klasik. Orang orang juga menyebutnya dengan kapal pukat, yakni kapal penangkap ikan yang dirancang untuk mengoperasikan pukat atau jaring penangkap ikan. Sederhananya, kegiatan ini adalah kegiatan menangkap ikan dengan menggunakan jaring oleh nelayan yang tinggal di sekitar perairan. Mencari Kedamaian di Pinggir Pantai  Aku mengetahui istilah mayang ini saat berlibur ke Lampung tahun lalu. Lampung sendiri merupakan daerah yang berbatasan dengan Samudra Hindia di sebelah Barat dan laut Jawa di sebelah Timur sedangkan sebelah Selatannya berbatasan dengan Selat Sunda. Kondisi Lampung yang dikelilingi oleh perairan membuat daerah ini kaya akan destinasi wisata bahari, sehingga tidak heran jika salah satu pekerjaan masyarakat terutama yang berada di daerah Pesisir adalah nelayan. Satu s