Transisi Energi Sebagai Upaya Kurangi Selimut Polusi

Transisi Energi | Foto:  Koaksi 

KRL tak "sebersih" yang kita kira

KRL Dulu dan sekarang | Foto: detik

Anker atau anak kereta tentu sepakat bahwa, dibandingkan dulu, penggunaan commuter line (KRL) saat ini memang jauh lebih nyaman, lebih bersih, lebih murah, lebih tertib dan lebih aman dibandingkan penggunaan kereta konvensional di zaman dahulu.

Kita tak bisa pungkiri, berada di dalam KRL memang tetap berjubel, saling dorong, penuh sesak. Namun tetap, dibandingkan dulu, tak peduli seberjubel apapun penumpang yang mengisi KRL saat ini, tetap layak disematkan kata aman karena tak ada lagi penumpang yang bergantung di sana sini moda transportasi tersebut.

Bila dulu kereta menggunakan tenaga diesel, maka kini KRL bersih karena penggeraknya go green dan memanfaatkan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang tentu menghentikan pula emisi karbon dibandingkan penggunaan diesel sebelumnya. 

Namun, benarkah krl sebersih yang kita?

Dalam Online gathering bersama rekan-rekan Eco Blogger Squad (EBS) pekan lalu, Fariz Panghegar selaku Manager Riset Traction Energy Asia menjawab pertanyaan di atas. 

Faktanya, KRL tak sebersih yang kita kira. Buktinya saja, penggunaan AC di tiap gerbongnya masih mengeluarkan gas freon. Belum lagi, untuk penerangan di tiap stasiunnya yang masih memanfaatkan energi fosil. 

Sama halnya dengan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Katanya sih, kendaraan ini lebih ramah lingkungan. Tapiii, untuk isi ulang dayanya saja masih menggunakan pembangkit listrik yang menggunakan batu bara. 

Bisa disimpulkan, sejmlah transportasi ini, di hilirnya memang tampak bersih, namun di hulu masih menyumbang emisi karbon yang memperparah efek gas rumah kaca. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan? 

Transisi energi!

Mengenal transisi energi

Perubahan iklim terjadi sebagai dampak banyaknya polusi yang diproduksi di bumi ini. 

Polusi adalah pengotoran atau pencemaran. Bentuk polusi cukup beragam saat ini mulai dari polusi udara, polusi air, polusi tanah, hingga polusi suara. Semua polusi membawa dampak yang kurang baik, terutama untuk kesehatan.

Agar dampak-dampak tak baik dari polusi ini tak terus dirasakan oleh manusia, dibutuhkan transisi energi. 

Transisi energi sendiri merupakan upaya mengurangi penggunaan energi fosil dengan energi non fosil yang rendah polusi dan emisi gas rumah kaca (GRK).

Misalnya bahan bakar kendaraan dari energi fosil perlahan diubah menjadi bahan bakar kendaraan dari energi "sebagian fosil". Atau Listrik yang semula memanfaatkan energi fosil perlahan diubah dengan memanfaatkan listrik dari energi non fosil seperti PLTS Atap yang kini telah digunakan Danone -AQUA di lima pabriknya atau PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) Sidrap (Sidenreng Rappang) di Sulawesi Selatan yang menjadi pembangkit listrik energi bayu/angin pertama di Indonesia sekaligus terbesar di Asia Tenggara.

Langkah ini penting kita lakukan karena GRK menyebabkan:

  • Naiknya kumpulan polusi yang menyelimuti atmosfer bumi
  • Perlahan meningkatkan suhu permukaan bumi (global warming) dan menyebabkan perubahan cuaca secara luas dalam jangka waktu yang panjang (perubahan iklim)
  • Perubahan iklim menyebabkan terjadinya sejumlah bencana lingkungan yang kini sudah kita rasakan. Sebut saja curah hujan yang tinggi hingga menyebabkan sejumlah bencana, di titik berbeda, ada pula yang mengalami kekeringan, bertambahnya volume air laut dan lain-lain. Efek jangka panjang dari berbagai bencana ini, manusia akan kekurangan tempat tinggal yang aman dari bencana lingkungan, berkurangnya sumber air, berkurang pula sumber pangan hingga kenaikan harga pangan dan potensi kelaparan. 

Menurut BNPB, bencana terkait efek GRK adalah bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. 

Untuk itu, kita perlu segera melakukan transisi energi untuk mengikis selimut polusi (efek GRK) yang menyelimuti atmosfer bumi untuk mencegah timbulnya bencana lingkungan ini. 

Selain itu, kita butuh transisi energi mengingat emisi dari energi (kendaraan dan pembangkit listrik dari bahan bakar fosil) adalah dua besar sumber emisi GRK terbesar bersama dengan penebangan hutan. 

Belum lagi penambangan energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara juga mensyaratkan penebangan hutan. Pun pengurangan penggunaan energi fosil tidak hanya menurunkan emisi GRK di sektor energi saja, tapi juga akan membantu mengurangi emisi dari sektor kehutanan. 

Tantangan transisi energi

Meski transisi energi ini terus digaungkan, faktanya masih ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan, terutama di sektor transportasi dan kelistrikan. 

Tantangan transisi energi sektor kelistrikan | Foto: Tangkap layar materi mas Fariz


Tantangan transisi energi sektor transportasi| Foto: Tangkap layar materi mas Fariz

Bila di sektor industri dan transportasi sudah mulai berbenah, lalu apa yang bisa kita lakukan?

Butuh kerjasama dari semua pihak untuk bisa mencapai target turunnya suhu bumi. Bila sektor industri dan transportasi sudah mulai berbenah, lalu apa yang bisa kita lakukan selaku masyakarat?

Ternyata banyak hal lho, yang bisa kita kontribusikan untuk kepulihan bumi, seperti tidak membuang minyak jelantah dan tidak menggunakannya secara berulang. Sebaliknya, minyak jelantah dikumpulkan lalu diberikan pada pengepul untuk kemudian dimanfaatkan menjadi biofuel atau bahan bakar nabati. 

Kita juga bisa turut menceritakan praktik baik inovasi pemanfaatan energi terbarukan/non-fosil, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghemat penggunaan listrik, serta mengkampanyekan penggunaan produk energi terbarukan. Jangan lupa untuk turut melibatkan anak-anak dalam tiap aksinya agar mereka beradaptasi dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap bumi yang ditinggali. 

Comments

  1. Senang dengan isu lingkungan hidup. BUmi kita sudah sangat rusak. Saatnya bukan sadar tapi harus jadi pelaku perubahan. BEtul sangat penting transisi penggunaan dari batu bara jadi listrik. Kendalanya harga dan infrastruktur yang mahal. Bagi pribadi pasti yang paling simpel jangan buang minyak jelantah, sedang mencari kepada siapa dapat diberikan.

    ReplyDelete
  2. untuk transisi energi ini memang membutuhkan proses ya. Semoga program transisi energi terus digaungkan sehingga kesadaran masyarakat pun terus meningkat. kalo bukan kita yang menjaga alam dan bumi ini, siapa lagi

    ReplyDelete
  3. Memang sangat mengkhawatirkan ya dampak perubahan iklim ini, bisa sampai krisis pangan. Padahal tadinya Indonesia negara yang sangat kaya dengan istilah tanah surga. Sebagai warga negara kita memiliki banyak peran untuk mendorong pencegahan perubahan iklim. Yuk semangat yuk.

    ReplyDelete
  4. Transisi energi tidak semudah itu dilakukan, menurut Saya fokusnya jangan ke KRL yang secara efektif mengangkut jutaan orang setiap harinya dengan cepat dan efisien, tapi kepada pengguna kendaraan pribadi yang lebih banyak menyumbangkan emosi karbon setiap harinya

    ReplyDelete
  5. Jadi merasa bersalah karena sering buang minyak jelantah. Makasih infonya Kak

    ReplyDelete
  6. Emisi karbon juga bisa di kurangi dari rumah dan dari sendiri ya dengan berhemat pemakaian listrik. Hidup dengan prilaku bijak sampah.
    atau pemilik kendaraan pribadi bisa beralih ke transportasi umum.

    ReplyDelete
  7. selalu senang kalau ada yang bahas isu lingkungan seperti ini. Saya sangat setuju sekali penggunaan KRL yang ramah lingkungan perlu digalakkan. saya sudah merasakan enaknya naik KRL dari satu kota ke kota lainnya saat kemarin berkesempatan main ke daerah Jawa Tengah. keren!

    ReplyDelete
  8. Kalo bahas soal energi terbarukan, saya yakin Indonesia bisa sih menerapkan. Cuma butuh waktu dan upaya yg lebih giat supaya bumi kita tetap nyaman untuk dihuni

    ReplyDelete

Post a Comment