Serang Lintas Usia, Kenali Gejala, Pencegahan dan Upaya Penanganan Stroke

Ilustrasi Stroke | Sumber foto: ego_tanfreepix

"10% pasien stroke meninggal dunia, 60% mengalami cacat. Oleh sebab itu, jangan sampai kena stroke!"

Sejarah singkat World Stroke Day

Setiap tanggal 29 Oktober, dunia memperingati World Stroke Day atau Hari Stroke Sedunia. Peringatan ini dimulai pada tahun 2006 yang lalu. Digagas oleh World Stroke Association yang dibentuk pada tahun yang sama setelah World Stroke Foundation (WSF) bergabung dengan International Stroke Society (ISS). 

Perayaan ini diadakan untuk meningkatkan kesadaran betapa seriusnya ancaman stroke dan tingginya angka penderita penyakit  yang juga masuk dalam kategori silent killer ini. 

Sejak itu, WSD diperingati secara rutin dengan mengangkat tema berbeda setiap tahunnya. 

Secara global, perayaan WSD tahun ini mengangkat tema "The Power of Saving Precioustime" dengan tema nasional "Setiap menit berharga, SeGeRa Ke RS".

Bukan tanpa alasan, pemilihan tema tahun ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gejala stroke dan pentingnya bertindak cepat serta bagaimana tindakan itu dapat meningkatkan kualitas hidup penyandang stroke karena saat seseorang terkena stroke, setiap detik yang berlalu menjadi sangat berharga. 

Pentingnya pemerataan edukasi seputar stroke ini, sekaligus menyambut perayaan WSD pada tanggal 29 Oktober 2022 mendatang, Kementerian Kesehatan bersama Bloggercrony Community mengadakan Temu Blogger bertempat di Hotel JS Luwansa dengan mengangkat tajuk "Setiap Menit Berharga, SeGeRa Ke RS" sebagaimana tema nasional WSD tahun ini. 

Menkes saat memaparkan materi seputar stroke | Foto: Properti Kemenkes

Dalam Temu Blogger tersebut, turut hadir pula:

  1. Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI
  2. Pak Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI.
  3. dr. Mursyid Bustami, Sp.S(K), KIC, M.ARS Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON)

Mengenal Stroke dan Bahayanya

Stroke adalah bagian dari penyakit kardioserebrovaskular yang digolongkan ke dalam penyakit katastropik karena mempunya dampak luas secara ekonomi dan sosial. 

Dilansir dari p2ptm.kemkes.go.id, bahaya bila seseorang sudah sempat terkena stroke adalah terjadinya kerusakan jaringan saraf, sulit berbicara dan penglihatanpun kabur. 

Bahaya ini diamini juga oleh Bp. Budi. Menurut Beliau, orang yang terkena stroke 15% meninggal dunia dan 60% mengalami cacat. 

Untuk itu, sejak pemaparan dimulai, pesan pertama yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI saat ini adalah:

"JANGAN SAMPAI KENA STROKE!"

Data-data Stroke di Dunia

Untuk mengetahui betapa gentingnya bahasan ini, mari melihat data-data stroke yang ada di dunia.

1. Data World Stroke Organization (WSO)

  • Data World Stroke Organization (WSO) tahun 2022, menyebutkan 12,2jt orang diperkirakan akan terkena stroke dan 6,5jt diantaranya diperkirakan akan meninggal dunia
  • 1 dari 4 orang berusia ≥ 25 tahun berisiko terkena stroke
  • Insiden stroke tertinggi pada usia 50-69 tahun (44%); disusul oleh usia >70 tahun (40%); namun kejadian stroke pada usia <50 tahun juga cukup tinggi mencapai 16%

2. Data Sample Registration System (SIRS)

Data Sample Registration System (SIRS) Indonesia tahun 2018 menyatakan bahwa kematian akibat penyakit serebrovaskular menempati peringkat pertama sebesar 18,5%

3. Data Global Burden Disease Study

Data Global Burden Disease Study tahun 2019 menyatakan bahwa di Indonesia  2 dari 1.000 orang berisiko terkena STROKE per tahun. 

Stroke termasuk penyakit katastropik ke-3 dengan pembiayaan tertinggi, menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun 2021 Stroke menghabiskan biaya pelayanan kesehatan sebesar 1,91 Trilyun.

4. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS tahun 2018) 

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS tahun 2018) menunjukkan, karakteristik Kasus stroke di Indonesia adalah sebagai berikut: 

Kasus Stroke tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Timur (1,47 %), terendah di Provinsi Papua (0,41 %)

Prevalensi kejadian stroke pada laki-laki (11,0 permil) hampir sama dengan kejadian stroke pada perempuan (10,9 permil)

Prevalensi kejadian stroke pada penduduk yang tinggal perkotaan (12,6 permil) lebih tinggi dibandingkan penduduk yang tinggal perdesaan (8,8 permil) 

Sejumlah upaya Pemerintah selamatkan warga dari stroke

Tingginya biaya yang dihabiskan oleh negara untuk menangani pasien stroke membuat kita harus aware dan lebih peduli dengan kesehatan pribadi.

Agar seluruh lapisan masyarakat juga melakukan hal yang sama, tentu ini jadi PR Pemerintah yang tak lepas dari kerjasama lintas sektor termasuk dari masyarakat itu sendiri. 

Hingga saat ini, ada sejumlah upaya yang telah dilakukan Pemerintah untuk memberikan edukasi seputar stroke kepada masyarakat. Upaya tersebut antara lain:

Upaya promotif

Lewat upaya promotif, Pemerintah mengkampanyekan perilaku CERDIK yang merupakan akronim dari:

(C) - Cek kesehatan secara berkala

(E) - Enyahkan asap rokok,

(R) - Rajin beraktivitas fisik

(D) - Diet sehat dengan kalori seimbang

(I) - Istirahat cukup

(K) - Kelola stres

"5 kali seminggu minimal 30 menit per hari" Ujar MenKes, Budi saat memberikan penjelasan tenatng rajin beraktivitas fisik seperti yang terdapat pada poin R. 

Lewat akronim yang familiar di tengah-tengah masyarakat ini, juga berdasarkan maknanya, Pemerintah berharap, masyarakat lebih mudah mengingat perilaku CERDIK tersebut dan mau melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya edukasi

Kenali gejala stroke | Ilustrasi: p2ptm.kemkes.go.id

Lewat upaya edukasi, Pemerintah mengajak masyarakat untuk mengenali tanda dan gejala dini serangan stroke yang diberi jargon "SeGeRaKeRS" yang menjadi representasi dua makna. 

Makna yang pertama sebagai anjuran dan perintah agar membawa pasien stroke ke rumah sakit segera. 

Makna yang kedua, jargon ini juga merupakan sebuah akronim yang memudahkan masyarakat untuk mengenali gejala stroke:

(Se) Senyum tidak simetris

(Ge) Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba

(Ra) bicaRa pelo

(Ke) Kebas atau baal separuh tubuh

(R) Rabun/pandangan mata kabur tiba-tiba

(S) Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba. 

Dalam Temu Blogger tersebut, disampaikan pula, bila mendapati salah satu saja gejala di atas baik pada diri sendiri, ataupun pada orang-orang terdekat, agar tidak bersifat abai. Sebaliknya, segera periksakan kondisi ke RS terdekat. 

Sebagai pengingat kembali, 10% pasien stroke meninggal dunia sedangkan 60% mengalami cacat. Untuk itu, Pemerintah mengajak masyarakat untuk lebih peka dan peduli dengan kondisi kesehatan pribadi. 

Upaya preventif

Upaya ini dilakukan dengan mendorong masyarakat untuk melakukan deteksi dini  melalui pemantauan IMT (tinggi badan, berat badan), pengukuran tekanan darah dan gula darah minimal 1 kali dalam setahun bagi yang belum mempunyai faktor risiko PTM. 

Bagi masyarakat yang sudah mempunyai faktor risiko PTM diharapkan dapat melakukan perubahan gaya hidup

Penderita Hipertensi dan Diabetes Militus harus memeriksakan kesehatan 1 bulan sekali dan melakukan pemeriksaan profil lemak dalam darah dan EKG sebagai upaya skrining penyakit Kardiovaskular dan Stroke minimal 1 tahun sekali. 

Pemeriksaan ini penting dilakukan sebab mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Kabar baiknya, deteksi dini stroke mulai tahun depan akan ditanggung BPJS. 

Upaya kuratif

Dilakukan melalui penguatan pelayanan kesehatan dengan mengembangkan jejaring pengampuan Rumah sakit layanan stroke. 

Ke 9 RS Paripurna akan memberikan bimbingan atau pengampuan sehingga pada akhir tahun 2024 diharapkan setiap Provinsi akan memiliki paling sedikit 1 buah RS Utama dan setengah dari Kab/kotanya mempunyai RS Madya yang akan menjadi rujukan regional bagi kab/kota disekitarnya.

Upaya rehabilitatif

Dilakukan pada fase akut (selama di rumah sakit) dan fase kronis untuk mencegah disabilitas atau serangan ulang. 

Untuk pelayanan rehabilitasi di masyarakat akan dilakukan dalam bentuk homecare dan rehabilitasi bersumberdaya masyarakat yang akan dilakukan oleh para kader terlatih, serta edukasi kepada keluarga dan caregiver bagaimana cara melatih penderita.

Memperkuat layanan kesehatan

Selain upaya edukasi, preventif, kuratif dan rehabilitatif, Pemerintah juga tak lupa memperkuat layanan kesehatan untuk penyakit stroke. 

Menurut MenKes, saat ini jumlah fasiltias pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan spesialis bedah, jumlah belum memadai. 

Baru 20 provinsi dari 34 provinsi yang bisa melakukan tindakan pakai cathlab sementara 14 provinsi lainnya belum mampu menyediakan pelayanan stroke. 

Hingga kini, Menkes masih terus berproses memenuhi kebutuhan tersebut. Dana sudah dialokasikan untuk kanker, stroke, jantung dan ginjal sekitar 30 trilian hingga tahun 2027 sehingga seluruh provinsi dan 514 Kabupaten/kota akan memiliki alat intervensi non-bedah.

Pemenuhan tenaga kesehatan tak luput pula dari pantauan MesKes. Menurutnya, jumlah dokter spesialis bedah saat ini masih sangat minim, persebarannya pun belum merata karena masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Pulau Jawa. 

Membuka kesempatan belajar dengan fokus topik seputar stroke bagi para dokter dan calon dokter

Selaras dengan kurang meratanyapersebaran  jumlah dokter spesialis bedah, Kemenkes RI membuka kesempatan beasiswa atau bantuan pendidikan bagi dokter yang ingin mengambil jenjang spesialis dan subspesialis diutamakan untuk spesialis jantung, stroke, kanker dan urologi. 

Beasiswa tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan pada pelaksanaan transformasi SDM kesehatan untuk mencapai pemenuhan dan pemerataan SDM Kesehatan.

Stroke serang lintas usia, tetap waspada!

Menkes bersama para bloggers | Foto: Properti Kemenkes

Masih dalam kesempatan yang sama, dr. Mursyid menyebutkan bahwa RS PON pernah menangani anak usia 9 tahun yang terkena penyakit stroke. 

Mengingat stroke bisa datang ke semua lintas usia, maka seluruh lapisan masyarakat diimbau agar terus waspada. 

Bila terkena satupun gejala, SeGeRaKeRS dan lakukan pemeriksaan. Berbeda dengan penyakit lainnya yang bisa diberi penanganan pertama, pada pasien stroke, penanganan pertama untuk menyelamatkan nyawa pasien hanya bisa SESEGERA MUNGKIN membawa pasien ke RS terdekat. 


Sumber-sumber tambahan:

http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stroke/apa-saja-bahaya-stroke-yuk-simak-bag2

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20221011/4641254/tingkatan-kualitas-dan-layanan-stroke-lewat-transformasi-kesehatan/

https://www.kompas.com/tren/read/2022/06/11/183000465/kemenkes-buka-beasiswa-dokter-spesialis-dan-subspesialis-apa-saja-syaratnya?page=all

Comments