Mengenali Makna Kemerdekaan Bagi OYPMK

Bicara kemerdekaan bagi OYPMK | Foto: Tangkap layar YouTube Berita KBR

Tantangan OYMPK dan penyandang disabilitas dalam lingkup sosial

Hingga kini, Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) dan penyandang disabilitas lainnya masih terus terjebak dalam lingkaran diskriminasi. 

Contohnya saja, OYPMK, meski telah dinyatakan sembuh dan dianggap telah menyelesaikan segala rangkaian pengobatan, namun status penyandang kusta akan tetap ada pada dirinya seumur hidup. 

Hal ini menjadi dasar permasalahan psikologis yang terjadi pada OYPMK.

Ya, selain harus menghadapi gangguan kesehatan, OYPMK juga mengalami gangguan kesejahteraan psikologis, masalah dengan lingkungan sosial dan lingkungan sekitar sehingga membuatnya sulit untuk kembali ke masyarakat. 

Tak jarang pula OYPMK mengalami kesulitan karena terbatasnya dukungan dan penerimaan dari masyarakat sekitar. 

Hal ini menandakan betapa sulitnya kebebasan dan kemerdekaan bagi penyandang disabilitas dan OYPMk dalam pemenuhan hak hidup. 

Lantas, bagaimana OYPMK dan penyandang disabilitas memaknai kemerdekaan, dan kebebasan dalam berkarya, kesejahteraan mental dan bersosialisasi di masyarakat tanpa adanya hambatan dan stigma kusta baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan?

Apa pula peran masyarakat terutama orang-orang terdekat dalam upaya mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas dan OYPMK?

Berita KBR dan NLR Indonesia, beri wadah edukasi dan bertukar pikiran seputar Kusta

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Berita KBR bekerja sama dengan NLR Indonesia menghadirkan wadah bertukar pikiran sekaligus memberikan edukasi kepada khalayak seputar penyakit kusta dan OYPMK dengan mengangkat tema Makna Kemerdekaan Bagi OYPMK, Seperti Apa?

Bagi yang belum mengetahui NLR merupakan sebuah organisasi non-pemerintah yang didirikan di Belanda pada 1967 untuk menanggulangi kusta dan konsekwensinya di seluruh dunia dengan menggunakan pendekatan tiga zero, yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi).

Di Indonesia, NLR mulai bekerja di tahun 1975 bersama Pemerintah Indonesia. Pada 2018, NLR bertransformasi menjadi entitas nasional dengan maksud untuk membuat kerja-kerja  organisasi menjadi lebih efektif dan efisien menuju Indonesia bebas dari kusta. Sama seperti aliansi NLR Internasional, NLR Indonesia memiliki slogan: Hingga kita bebas dari kusta.

Edukasi dan diskusi ini disiarkan secara langsung di YouTube Berita KBR dan dapat pula didengarkan di 105 jaringan radio KBR di seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua. Secara khusus bagi pendengar yang berada di Jakarta, bisa pula mendengarkan siaran ini di jaringan 104.2 FM. 

Talkshow ini menghadirkan Marsinah Dhede selaku OYPMK dan aktivis difabel dan perempuan, serta Dr. Mimi Mariani Lusli selaku Direktur Mimi Institute, dengan dipandu oleh Rizal Wijaya. 

Bicara makna kemerdekaan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas

Menurut Dr. Mimi Mariani Lusli, hal pertama yang dirasakan oleh penyandang disabilitas dan OYPMK adalah shock. Seolah dunia akan berakhir. 

"Seperti saya sendiripun, ketika saya tahu mengalami kebutaan, langsung shock. Wah ini ngga ada masa depan ini. Jadi, stigmatisasi terhadap diri sendiri spontan muncul." ujar Dr. Mimi ketika menceritakan perihal dirinya didiagnosa mengalami kebutaan di usia 17 tahun. 

Pikiran-pikiran ini kemudian akan mengarah ke pikiran-pikiran yang lebih buruk seperti menilai diri sendiri tidak berguna, seolah tidak memiliki masa depan, hingga merasa akan menjadi pribadi yang merepotkan orang lain. Hal-hal inilah yang kemudian mengganggu psikis dari penyandang disabilitas dan OYPMK. 

Kondisi psikis penyandang disabilitas dan OYPMK biasanya akan lebih parah lagi bila stigma sudah mulai muncul dari keluarga, lingkungan sekitar, lingkungan pertemanan hingga masyarakat. 

Belum lagi kurangnya edukasi dan pemahaman di tengah-tengah masyarakat seputar penerimaan penyandang difabel seperti masyarakat pada umumnya. 

Hampir serupa dengan Dr. Mimi, Marsinah Dhede harus berlapang dada dengan diagnosa kusta yang diterimanya di usia 8 tahun.

Masalah baru kemudian timbul ketika untuk mendapatkan pengobatan sajapun, Dhede, harus menempuh jarak 2,5 Km terlebih dahulu. 

Di usia yang masih sangat belia, Dhede harus berhadapan dengan diskriminasi dan kurangnya pemahaman seputar kusta di lingkungan sekitarnya.  

Tak berhenti sampai di sana, penyakit ini pernah membuat dirinya diusir dari kelas oleh sang guru. 

Apa yang harus dilakukan menghadapi OYPMK dan penyandang disabilitas?

Kedua kasus ini kemudian membawa kita pada pertanyaan, apa seharusnya yang bisa dilakukan untuk menghadapi OYPMK dan penyandang disabilitas?

Sama seperti manusia pada umumnya, OYMPK dan penyandang disabilitas juga memiliki keinginan untuk diterima, berbaur dan berkarya seperti biasa tanpa adanya diskriminasi. 

Namun ini akan sulit direalisasikan saat masyarakat saja masih minim edukasi. 

Berikut adalah hal yang bisa kita lakukan untuk memberikan kemerdekaan pada OYPMK dan penyandang disabilitas:

  • Memberi dukungan dan rangkulan penuh terhadap OYPMK dan penyandang disabilitas
  • Membantu penyandang disabilitas dan OYPMK mendapatkan kembali rasa percaya dirinya untuk bisa menjalani kehidupan normal
  • Berani memberikan edukasi, seperti kusta tidak menular hanya dengan berlalu atau papasan saja, kusta juga bisa pulih bila penderitanya menjalani pengobatan secara rutin dan teratur hingga obat kusta bisa didapat secara cuma-cuma di puskesmas terdekat
  • Berani merangkul OYPMK saat mereka menarik diri
  • Pemerintah juga diharapkan berkontribusi untuk melakukan sosialisasi seputar kusta lewat berbagai media termasuk iklan layanan masyarakat 
  • Melibatkan OYPMK dan kegiatan sehari-hari tanpa menghubung-hubungkan kusta di dalamnya. 


Comments