Tips Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi

Pembicara webinar Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi

Terbatas karena pandemi Covid-19

Seisi dunia mungkin sepakat bahwa dua tahun "dihajar" Covid-19 mengajarkan kita banyak hal. Untuk bisa menyelamatkan diri dan keluarga dari wabah ini, masyarakat juga melakukan berbagai pembatasan dengan dunia luar. 

Membatasi mobilitas keluar, membatasi aktivitas di luar, membatasi sosialisasi secara langsung dengan orang-orang yang sudah lama dalam lingkup pertemanan, serta tak juga mendapatkan tambahan teman selama periode hantaman pandemi. Batasan-batasan ini terjadi pada semua orang. Tua, muda termasuk anak-anak. 

Padahal, pembatasan fisik dan sosial akibat pandemi menyebabkan masalah kesehatan yang mempengaruhi emosional, mental dan perkembangan sosial terutama pada anak.

Anak-anak usia dini kehilangan tingkat interaksi yang merupakan tonggak penting bagi perkembangan sosial emosionalnya yang sebetulnya sudah ada sejak bayi dilahirkan, yakni anger (marah), senang (joy) dan takut (fear).

Kini, kondisi dunia kian membaik. Mobilitas perlahan-lahan kembali berjalan normal di berbagai aspek kehidupan. 

Sayangnya, batasan-batasan yang perlahan hilang menjadi sebuah tantangan baru bagi orang tua sebab anak mungkin akan mengalami kesulitan dan tidak bisa beradaptasi dengan dengan baik dan optimal di masa transisi ini. 

Kesulitan ini dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai masalah sosial emosional pada anak-anak itu sendiri. Untuk itu, dibutuhkan sejumlah kiat bagaimana agar keluarga Indonesia dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak di masa transisi.

Anak membutuhkan pengasuhan yang optimal di masa transisi

Menjawab kebutuhan tersebut, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia berkolaborasi dengan komunitas @seplaydate mengadakan program Bicara Gizi dengan mengangkat tema "Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi" sebagai program edukasi kesehatan dan gizi. Edukasi ini sekaligus dilaksanakan dalam rangka perayaan Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap tanggal 29 Juni. 

Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communications Director Danone Indonesia sepakat dengan hal tersebut. "Dua tahun terakhir, bagi anak-anak balita, di masa pandemi lebih sering bersama keluarga di rumah. Kemudian dengan makanan yang disediakan keluarga, dengan wajah-wajah yang juga dikenali di keluarga sendiri. Dalam masa transisi tentu banyak yang berubah."  Ujarnya dalam webinar tersebut. 

"Pada dasarnya, kita semua tahu anak usia dini rentan karena mereka tergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan paling dasarnya. Kami memahami anak membutuhkan keluarga sebagai lingkungan terdekat yang mampu memberikan rasa aman dan memiliki akses pengajaran serta pembentukan pribadi anak. Anak juga membutuhkan pengasuhan yang suportif untuk dapat mendukung tumbuh kembangnya, termasuk dalam memastikan kebutuhan nutrisi yang optimal pada anak-anak" lanjut Pak Arif. 

Untuk itu, dibutuhkan peran dari orangtua untuk memastikan kesiapan anak dalam beradaptasi di masa transisi ini agar tidak terganggu dari berbagai sisi terutama perkembangan sosial emosionalnya. Dengan begitu diharapkan anak dapat bertumbuh menjadi anak hebat. 

Danone SN Indonesia terus berupaya menjadi perusahaan yang family friendly dan mendukung orangtua untuk membantu tumbuh kembang si kecil agar lebih optimal dengan berbagai program seperti kebijakan cuti enam bulan bagi ibu atau karyawati Danone, dan 10 hari bagi Ayah, ada juga fasilitas forum untuk bertukar pikiran dan edukasi seperti Bicara Gizi bagi seluruh orangtua di Indonesia.  

Akses program-program edukasi ini terbuka lebar bagi orangtua Indonesia lewat media sosial dan YouTube Nutrisi Bangsa. Harapannya, dengan adanya forum terbuka yang diberikan Danone, orangtua juga dapat menyadari betapa pentingnya kolaborasi orangtua untuk memberikan stimulus yang tepat agar mencapai keberhasilan dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak. 

"Berencana itu, keren!" - BKKBN

Untuk memastikan tumbuh kembang anak sesuai dengan milesstone yang ada, tentu disesuaikan dengan prinsip siklus keluarga itu sendiri. 

Butuh persiapan sejak remaja dari sisi kesehatan biologis sebab prevalensi anemia di tengah-tengah remaja masih cukup tinggi. Fase selanjutnya adalah program penyiapan kehidupan berkeluarga. 

"Kalau di BKKBN, kita menyebutnya sebagai trias, salam GenRe (Generasi Berencana). Salam GenRe ini adalah salam sebagai salah satu semangat dari generasi-generasi berencana untuk tidak free sex, tidak menikah dini dan menjauhi NAPZA"  Ucap dr. Irma Ardiana, MAPS selaku Bina Keluarga Balita dan Anak, BKKBN. 

Untuk mengoptimalkan gerakan ajakan ini, dibutuhkan peran keluarga dan pola komunikasi antara remaja dan orangtuanya. 

Selanjutnya ada pula program catin (Calon Pengantin). Dalam program ini, remaja akan dibekali lebih intens untuk mempersiapkan diri menjadi keluarga termasuk merencanakan kehidupan berkeluarga seperti kapan akan memiliki anak pertama, apakah ingin memiliki anak kedua, dan berapa lama jarak kelahiran. 

Ada pula konsep 8 fungsi keluarga yang disematkan di berbagai program. "Program itu mulai dari remaja ada, lalu program untuk balita ada, dan program untuk lansia juga ada. Karena kami sangat meyakini bahwa keluarga adalah tempat utama dan pertama dalam hal termasuk pendidikan untuk anak dan untuk pengasuhan." Lanjut dr. Irma. 

Pelaksanaan program-program ini juga yang membuat BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) mengusung tagline "Berencana itu, keren!"

Contoh pola pengasuhan kolaboratif keluarga untuk tumbuh kembang anak yang lebih optimal

Untuk aspek keluarga, BKKBN sendiri memiliki indeks yang diberi nama IBangga atau Indeks pembangunan keluarga yang terdiri dari 3 dimensi dan 17 variabel seperti yang bisa kamu perhatikan berikut ini. 

Dimensi dan variabel IBangga | Foto: Tangkap layar YouTube Nutrisi Bangsa

Tahun 2021, saat kondisi sedang ketat-ketatnya dalam rangka pencegahan penularan pandemi Covid-19, BKKBN memperoleh data sebesar 54,01 dengan target 55 dari 100. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang hanya 53,93.

Berdasarkan data tersebut artinya, aspek ekonomi memang sangat berimbas. Namun dari aspek kebahagiaan, aspek ketahanan keluarga selama pandemi, sebetulnya tidak terlalu berpengaruh di dalam keluarga Indonesia dan masih bisa dijaga, termasuk isu pengasuhan yang dilakukan antara ayah dan ibu.

Penting juga membangun jalur komunikasi antara anak dan orangtua atau pengasuh. Orangtua dan pengasuh juga diharapkan dapat beradaptasi dengan situasi sosial dan budaya anak yang tidak lahir di jaman yang sama dengan orangtua atau pengasuh. 

"Karena mereka itu tidak lahir di jamannya kita. Jadi kita harus juga menyesuaikan pola asuh itu sesuai dengan jamannya." Kata dr. Irma.

Lalu kolaborasi keluarga lainnya menurut dr. Irma adalah ketika orangtua melakukan pengasuhan 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) khusus untuk memantau perkembangan anak usia hingga 6 tahun dengan memanfaatkan Kartu Kembang Anak. 

Mengontrol Kartu Kembang Anak secara berkala bermanfaat pula untuk mencegah anak dari stunting yang juga menjadi perhatian yang dirangkum dalam tema Harganas (Hari Keluarga Nasional 2022) yakni "Ayo Cegah Stunting, Agar Keluarga Bebas Stunting"

Alih-alih Ayah fokus pada mencari nafkah utama, bisa juga diimbangi dengan berperan aktif dengan praktik mengukur perkembangan anak atau datang ke Posyandu bersama dengan Ibu. 

"Pembagian peran mengasuh, menurut kami, bisa digalakkan kembali. Bagaimana si ayah juga bisa aktif mengasuh si anak baik itu untuk aspek pertumbuhannya dan aspek perkembangannya dengan menggunakan tools yang ada" Tutup dr. Irma.

Peran keluarga dalam stimulasi sosial emosional anak

Ada setidaknya tiga faktor yang memengaruhi perkembangan anak, yakni faktor genetik, nutrisi dan lingkungan.

Faktor lingkungan kemudian dibagi kembali dalam tiga kelompok yang berbeda, yakni 

  1. Protektif: Imunisasi, perawatan kesehatan, kemudian
  2. Stimulasi
  3. Pola asuh
Ini penting untuk diketahui agar orangtua tidak menaruh harapan yang terlalu tinggi padahal perkembangan anak belum sampai di posisi yang diharapkan. Orangtua harus tahu bahwa tiap tahapan perkembangan anak harus disesuaikan dengan usianya. 

Bicara soal nutrisi, kita tentu sudah paham betul bahwa bahwa urusan ini memiliki piramida yang mengarah pada prinsip gizi seimbang. Namun, penting juga untuk dipahami bahwa piramida tak hanya bicara soal makanan, ada pula aktivitas olahraga, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan yang beraneka ragam hingga menerapkan pola hidup bersih dan sehat. 

Nutrisi ini menjadi persoalan penting sebab apa yang kita makan, itu juga berpengaruh pada otak. 

Di sinilah peran pertama keluarga dibutuhkan. Pemenuhan nutrisi yang optimal untuk mendapatkan kecerdasan otak yang optimal pula. 

Dokter Bernie juga menjelaskan mengenai fakta bahwa perkembangan emosi dan sosial berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya saling terkait dan berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembang anak agar anak dapat tumbuh menjadi anak hebat

Peran lainnya adalah penerapan pola asuh yang tepat dalam keluarga. 

Ada setidaknya empat jenis pola asuh dalam keluarga yang selama ini bisa kita temukan:
  1. Authoritarian / Otoriter yakni orangtua yang seolah-olah merasa tak pernah salah
  2. Indulgent / Permissive yaitu pola asuh orangtua yang tak peduli pada anak
  3. Democratic / Authoritative, pola asuh ini menjadi pola asuh terbaik yang bisa diterapkan. Yakni ketika orangtua memberikan dorongan dan nasihat pada anak
  4. Uninvolved / Neglect, pola asuh terburuk yakni ketika orangtua asik sendiri tanpa memberi perhatian pada anak. 
Semakin tepat pola asuh yang diterapkan dalam sebuah keluarga maka akan semakin baik pula dampaknya pada stimulasi sosial emosional anak. 

Peran berikutnya dari keluarga adalah pelaksanaan prinsip stimulasi anak, seperti dilakukan sesuai usai dan tahapan perkembangan anak, dilakukan berulang kali, beri anak rewards, dan lain sebagainya. 

"Lalu bagaimana dengan sosial emosional? Jadi kita harus memberikan contoh. Orangtua adalah contoh terdekat pertama yang akan anak pelajari, kemudian mengikutsertakan mereka dalam kegiatan atau diskusi keluarga." Ujar Dr. dr Bernie Endyarni Medise, Sp. A(K), MPH

"Jadi sekali lagi, orangtua harus menjadi role model"

Tips lain dari Cici Desri, founder joyfulparenting101 dalam mendampingi anak menuju masa transisi adalah:
  • Berbagi peran untuk memberikan rasa aman pada si kecil, 
  • Memberikan ruang pada anak bisa berekspresi dan bereksplorasi
  • Mengajarkan anak tentang kerjasama
  • Mengajarkan anak agar bisa menghargai orang lain
"Khususnya pada situasi transisi pandemi saat ini untuk yang mulai sekolah. Sudah full dan tiap hari berangkat sekolah. Ini menjadi tantangan untuk anak-anak." Ucap Cici Desri. 

Proses adaptasi anak memasuki sekolah juga terasa tidak mudah, mulai dari kekagetan bertemu orang baru, berinteraksi lagi dengan orang lain yang membuat anak merasa frustrasi dan minder dalam menghadapi orang lain. 

"Untuk itu saya dan suami mengambil bagian dan memperkuat keterlibatan dengan si kecil terlebih pada fase transisi pandemi seperti saat ini."

Cara lainnya oleh Mba Cici Desri adalah mendorong si kecil untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara verbal agar orangtua dapat mengetahui apa yang anak rasakan secara emosional. 

Komunikasi dua arah ini bermanfaat pula agar anak tidak tantrum dan bisa menyampaikan apa yang dialami dan dirasakan anak. 

Comments

  1. dan setelah menjadi seorang ibu memang banyak sekali yg harus di bekali dengan ilmu. terimakasih telah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Ka. Semoga lebih banyak calon ibu di Indonesia yang diedukasi seputar menjadi orangtua yang baik untuk anak yaa 🙏

      Delete

Post a Comment