Tips Aman Menumpang Kapal Kayu

Ilustrasi kapal kayu di Pelabuhan Angke | Foto: Dokpri

Di era yang semakin modern dan kian maraknya traveller, beruntungnya manusia kini tak lagi harus berjalan kaki atau memanfaatkan tenaga kuda saat ingin berpindah tempat dengan jarak yang jauh. Memilih dua pilihan ini tentu sangat tidak efisien sebab butuh waktu berhari-hari untuk tiba. 

Manusia butuh moda transportasi saat berkeinginan untuk menuju suatu tempat dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Bisa motor, mobil, sepeda, kereta, pesawat, kapal atau campuran dari beberapa moda transportasi tersebut. 

Tinggal disesuaikan saja dengan kebutuhan. Biasanya pemilihan transportasi ini didasarkan pada jarak tempuh, kondisi jalanan di lapangan hingga jumlah orang. Transportasi mana yang memungkinkan membuat perjalanan lebih cepat dan dapat melewati perjalanan dengan mudah, sudah pasti itulah yang akan dipilih.

Hal yang sama juga tentu berlaku saat tujuan kita berada di pulau yang berbeda dengan dibatasi perairan. Butuh kapal untuk melintasinya. 

Pengalaman menyeramkan saat asap mengepul dari celah kapal kayu yang ditumpangi

Belum lama ini, aku dan sejumlah teman melakukan perjalanan ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. 

Masih masuk dalam provinsi DKI Jakarta, hanya saja di tempat ini, dunia Jakarta itu terasa sangat jauh berbeda, dalam makna yang baik tentu saja. 

Di Pulau Seribu kondisi jauh lebih tenang, udara jauh lebih bersih, hati lega dan pantai menjadi salah satu dari berbagai keseruan lain yang paling menyenangkan. 

Ngga heran kalau Pulau Seribu banyak dipilih jadi tempat liburan murah meriah, dekat dan cukup memuaskan oleh warga Jabodetabek. Cara menuju ke sana akan aku ceritakan dalam artikel berbeda, ya. 

Baca juga: Cara Menuju Pulau Tidung Tanpa Bantuan Travel Agent

Seperti namanya, di Pulau Seribu, terdapat pulau-pulau kecil lain yang bisa dikunjungi, ada pulau Harapan, pulau Pari, Pulai Semak Daun, pulau Pramuka, Pulau Tidung, pulau yang menjadi tujuan kami hari itu dan pulau-pulau kecil lainnya. 

Untuk menuju ke Pulau Tidung, kamu butuh menyeberang dengan kapal yang berangkat dari pelabuhan Angke. 

Mostly kapal buat nyeberang di sana ya kapal kayu. Tapi tenang, kapal ini sangat aman untuk melakukan penyeberangan kurang lebih 3,5 jam. Ukurannya cukup besar, bisa kali nampung 50 an penumpang. 

Cuma, perlu ada catatan penting seputar keamanan di kapal ini, yakni larangan merokok. 

Satu jam setelah perjalanan pulang dari Pulau Tidung ke Pelabuhan Angke, seorang ibu yang juga sedang memeluk anak tiba-tiba berteriak APIII! APIII!

Teriakan ini cukup menggelegar, dan sontak membuat para penumpang yang sudah terlelap langsung bangun dan mengarahkan perhatian penuh pada arah api yang ditunjuk. 

Betul saja, kepulan asap tebal sudah terlihat dari celah dua papan kayu yang sekaligus berfungsi pula sebagai dinding kapal. Ngga terlalu besar tapi cukup membahayakan seandainya saja tidak ada yang menyadari.

Sebagian langsung gesit mengambil air mineral dan menyiramkannya ke arah api, sebagian lagi tergopoh-gopoh rebutan pelampung dan sebagian lagi masih terus berupaya menyadarkan diri usai "dipaksa" bangun dari tidurnya. 

Sambil menggunakan pelampung, pikiran udah jelek duluan. Hiks. Khawatir bila kondisi makin api makin parah. 

Beruntung, api yang belum sempat mengamuk itu lekas berhasil dipadamkan. 

Usut punya usut, ternyata di tengah-tengah perjalanan menyeberangi lautan itu, ada penumpang yang merokok. Bara api yang sangat sangat kecil bahkan bisa jadi sesuatu yang menyeramkan dalam kondisi ini sebab angin laut berhembus sangat kencang dan siap memperbesar ukuran api kapan saja. 

Spekulasinya, penumpang ini merokok, lalu kemungkinan bara api yang kecil terbawa angin dan menyangkut di celah dua papan dinding kapal sehingga terus menggigit papan dengan bantuan angin lalu mengepulkan asap yang lebih besar.

Tips aman menumpang kapal kayu

Menumpangi kapal kayu dari dan ke Pulau Seribu memang menyenangkan, hanya saja, belajar dari kejadian tersebut, demi keamanan bersama ada sejumlah hal yang patut jadi perhatian kedua belah pihak, yakni petugas kapal dan penumpang. 

Pentingnya himbauan larangan merokok saat di kapal

Himbauan larangan merokok saat di kapal sangat penting dilakukan. Hal ini karena Kapal kayu dan angin laut yang kencang merupakan dua media yang sangat cocok sebagai pengantar api. Sedikit saja tersulut api, semua memungkinkan jadi bara. 

Himbauan bisa disampaikan baik lewat sticker yang ditempel diberbagai titik yang mudah dilihat oleh penumpang, serta melalui pengumuman lewat pengeras suara sebelum keberangkatan. 

Kewajiban menggunakan pelampung

Saat kepulan asap terlihat, beberapa dari penumpang, termasuk kami di dalamnya kalang kabut berebut pelampung. 

Cukup tau diri dengan kemampuan berenang yang sama sekali tidak ada ini. Seadainya hal buruk terjadi, mungkin keselamatan kami benar-benar bergantung pada pelampung tersebut. 

Penggunaan pelampung sebelum perjalanan dimulai menurutku menjadi kewajiban yang patut diutamakan agar petugas kapal tahu bahwa seluruh penumpang sudah kebagian. Seadainya hal buruk terjadi di tengah lautan dan ternyata kebutuhan pelampung sangat kurang, malah akan jadi merepotkan. 

Saling memperhatikan dan mengingatkan antar sesama penumpang

Sebetulnya, dalam perjalanan menuju ke kapal, ngga ada penumpang yang merokok. Kejadian ini kayaknya lebih ke petugas yang kecolongan. 

Penting juga kerjasama petugas dan penumpang, termasuk sesama penumpang untuk terus saling memperhatikan dan berani mengingatkan penumpang lain bila mulai melakukan hal-hal yang membahayakan. Kita ngga bisa berharap petugas akan mengontrol selama perjalanan, karena mereka juga ada kerjaan. 

Bila teguran dari penumpang diabaikan, penumpang yang melihat kejadian tersebut bisa saja melaporkannya pada petugas agar petugas yang menyelesaikan sisanya. 

Tidur bergantian

3,5 jam di perjalanan laut mungkin banyak yang bisa dilakukan. Tapi bersenang-senang di Pulau Tidung bikin penumpang lebih banyak memilih istirahat sembari mendengarkan musik ditemanin angin laut yang lembut lewat celah dinding papan kapal. 

Ngga salah juga, namun akan lebih baik bila kamu dan temanmu tidur bergantian. Saat temanmu istirahat, kamu mungkin bisa memantau keadaan sekitar. Begitupun sebaliknya. 

Dengan begitu, kamu dan temanmu bisa melakukan tindakan antisipasi untuk tim kalian bila terjadi hal yang tidak diinginkan. 

Ketersediaan APAR

Alat Pemadan Api Ringan (APAR) juga menjadi benda yang wajib ada dalam sebuah alat transportasi. Fungsinya untuk memadamkan api atau mengendalikan kebakaran kecil yang mungkin terjadi. 

Alih-alih kerepotan mencari handuk basah atau air untuk menyiram, kehadiran APAR akan sangat membantu menangani api kecil. 

Tetap tenang

Tips lainnya adalah, tetap tenang. Waspada boleh, tapi sebaiknya tidak melakukan tindakan yang malah bikin orang lain ikut makin panik seperti berteriak tanpa kendali. 

Bila dibutuhkan, kamu bisa membantu dengan mencari alat pemadan dan menyerahkannya pada petugas bila kamu tak bisa mengoperasikan. 

Namun bila bantuanmu tidak begitu dibutuhkan karena orang lain telah berusaha memadamkan, menjauhlah dari titik API agar memberi ruang pada penanggungjawab, dan tidak berpotensi menambah korban. 

Ikuti arahan yang diberi petugas dan tidak bertindak sendiri. 

Comments