Bukan Riya atau Pamer, Ini Manfaat dan Tujuan Postingan Di Instagram

Manfaat dan Tujuan Postingan Instagram | Foto: Olah pribadi

Dituduh riya atau pamer

Hampir 3 minggu aku mencoba menganalisa defenisi kata riya. Memahaminya versi diriku sendiri. 

Hampir 3 minggu lalu, aku disebut "jangan suka riya" oleh seseorang yg kukira kedekatan kami cukup untuk dia tau apa yg kulakukan di sosial media. Ternyata tidak demikian. 

Kukira "sukaria" yang kalau di KBBI dimaknai juga riang gembira. Tapi karena dia pun membubuhkan kata "jangan" di sana, jadi kutepis makna ria yg ada di pikiranku. Ternyata maksud yg diucapkannya riya'. Atau pamer. 

Gitu ya, yang ngomongin boro-boro inget atau minta maaf, yg diomongin kepikiran sampe hampir sebulan ๐Ÿ˜…

Yaa, tak semua orang bisa nyaman dengan semua ucapan yang keluar sembarangan dari mulut orang lain. Itu kenapa orang bijak bilang "If you can't say something nice, don't say nothing at all" 

Jadi bila berpikiran tulisan ini dihasilkan dari baper atau bawa perasaan, yaa! Manusia hidup dengan hati dan perasaan. 

Sialnya lagi, kata-kata ini dilemparkan usai aku memberi kata selamat dengan setulus hati atas kelahiran bayinya. 

Jadi balik lagi, kutelesiki makna riya' ini. 

Manfaat dan Tujuan postingan di Instagram

Aku ga tau bagian mana postinganku yang menurutnya riya'. Padahal, sebagai yang ngakunya "sahabat" kukira dia tau, yang kuposting dominan adalah tuntutan kerja. Sisanya, mengikuti ritme postingan agar lebih rapi kalau dilirik client

Padahalnya lagi, dia jg follow influencer kelas kakap bahkan beberapa artis yang bisa dibilang, setiap storynya pasti ada nyempil "riya" dari hasil endorsnya ๐Ÿคฃ

Bicara soal riya', mungkin akan sensitif. Karena aku tidak berada di agama yang sama untuk memahami ini. Itu kenapa aku mencoba mendefinisikannya lewat maknanya garis besarnya saja "pamer"

Ngga diagama yang sama, tapi jadi bahan pikiran ya. Hahahah. 

Tapi izinkan aku cari tahu makna kata ini terlebih dahulu. Lewat Detik.com, Riya berasal dari bahasa Arab ra'a-yara-ruyan-wa ru'yatan yang artinya melihat. Menurut istilah riya adalah memperlihatkan diri kepada orang lain agar keberadaannya baik ucapan, tulisan, sikap, maupun amal perbuatannya diketahui. Makna ini, masih berdasarkan pencarian Google, berpendapat sama, bahwa maknanya adalah pamer. 

Menurut KBBI, pamer adalah menampilkan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri. 

Kata-kata ini jadi bikin aku bolak balik cek postingan dan arsip ๐Ÿ˜…Menimbang-nimbang, kira2 yang mana bagian pamernya. Sungguh, ada perasaan ngga nyaman dengan ucapan tersebut. 

Sejauh aku bolak balik cek, sayangnya aku ga nemu.

Portfolio

Kalau postingan artikel, dominan yang kuposting adalah artikel permintaan client, sisanya sebagai portofolio, yang kalau ada calon client ngelirik akunku, bisalah sambil baca-baca. Hehe. 

Kalaupun itu bukan artikel client, kupikir sangat pantas untuk dibagikan selama memang informasi yang kutuliskan bermanfaat untuk banyak orang, dan ya, nulis 1 artikel itu effortnya lumayan. Jadi memang harus ditunjukkan. Ke siapa? Ke banyak orang ya lewat sosial media itu. 

Dan hampir semua orang yang berurusan dengan tulisan melakukan hal yang sama. Aku perlu jelasin ini biar ngga ada anggapan lagi posting artikel itu bagian dari pamer. 

Pekerjaan

Urusan postingan jalan-jalan atau makan? Yah itu juga dominan kerjaan sih. Puji Tuhan dikasih rezeki berkali-kali ke berbagai destinasi dan dibiayai sponsor. Hehe. 

Nah, karena perjalanan, akomodasi dan makan dibiayain sponsor, salah satu tugasku adalah posting di sosial media. 

Promosi 

Bukan untuk riya', tujuannya untuk memberitahu betapa cantiknya tempat-tempat yang kukunjungi jauh lebih luas lagi. Gimana caranya? Ya lewat sosial media. 

Tujuan lainnya, barangkali postingan tersebut akan menjadi referensi destinasi orang lain di kemudian hari. Tujuan jangka panjangnya adalah meningkatkan jumlah kunjungan ke tempat tersebut yang harapannya bisa meningkatkan perekonomian warga lokal di destinasi yang aku "pamerkan" 

Kenangan

Beberapa destinasi memang ada yang kujabanin sendiri, tanpa sponsor. Tapi ya, tujuannya sama seperti di atas. Tujuan lainnya, sebagai portofolio pribadi dan kenangan kalau aku pernah menginjakkan kaki di tempat tersebut. 

Penghasilan tambahan

Kenapa harus diposting? Ya harus. Namanya juga memanfaatkan teknologi. Kalau perjalanan justeru bisa menambah penghasilan, kenapa harus disembunyikan? 

Bukannya itu juga yang dilakukan travel influencer di luar sana? 

Bukan hanya aku, banyak artis bahkan yang memutuskan untuk lalu lalang di dunia konten karena dunia ini memang memberikan potensi yang tinggi untuk penghasilan. 

Deddy Corbuzier bahkan bilang "ngga ngonten ngga makan" dan ya, aku sepakat dengan itu karena aku juga terjun di dalam dunia yang sama. Bagi pegiat konten, salah satu cara kami agar dapur tetap ngebul ya dengan ngonten. 

Jadi sampai saat ini, aku juga belum menemukan riya' yang dikatakan itu. Otakku sampe terganggu 3 minggu karena kata-kata itu! Sampe puasa bikin konten karena kata itu ๐Ÿ˜…

Yang bikin aku bingung, bila dia menilai itu riya' atau pamer, kenapa harus minta diajarin? Oh iya, orang ini pernah memintaku untuk mengajarinya agar bisa merasakan apa yang kudapatkan di sosial media. Katanya riya', tapi mau pelajarin? Gimana ya? Bingung aku juga. Hehe

Aku jadi ngerasa kasian, takutnya tiap kali ngeliat postingan orang lain, orang-orang seperti ini jadi stress dan terbebani. Itu kenapa aku buat tulisan ini, untuk menjelaskan secara detail  bahwa bukan riya atau pamer, postingan di Instagram itu banyak manfaat dan tujuannya. 

Informasi dan motivasi

Sebetulnya, bila saja pandangannya dibelok sedikit, mungkin saja postingan-postingan artikelku bahkan jadi motivasi baginya. Atau sekedar memberinya keinginan untuk belajar menulis dan mengembangkan diri di bidang tersebut. 

Bukankah itu pula yang jadi alasannya memintaku mengajarinya? ๐Ÿ˜…

Bukan bicara pamer, ini bicara hati

Lalu, aku tiba di satu kesimpulan. Mungkin banyak orang di luar sana yang berpikiran sama dengan orang ini. Sebetulnya, postinganku biasa saja di mata orang lain. Bila itu riya' di matamu, mungkin mata dan hatimu yang bermasalah. 

Gitu yaaa, jadi bukan sat set sat set pamer doang. Semua buat kerjaan dan (semoga jadi) penghasilan.  

Feel free to unfollow

Terakhir, bila ternyata postinganku di sosial media ini bikin darahmu mendidih panas, monggo di unfollow. Silakan. 

Akun ini kuhadirkan untuk kesenangan semata, untuk dijadikan kenang-kenangan, sampai jalan mencari cuan. Bukan untuk menambah lawan atau bikin hati dan kepala orang tidur ngga tenang karena kecemburuan.

Satu lagi, bicara tentang riya, banyak pasangan suami istri di luar sana yang sudah menikah bertahan-tahun tapi belum dikaruniai anak. Lalu setelah anakmu lahir, sepertinya konten media sosialmu pun tak jauh dari postingan tentang anak, kira-kira ini termasuk riya juga ngga ya?

Comments