Pentingnya Literasi Emosi Sejak Dini untuk Keluarga yang Lebih Baik Lagi

Ilustrasi anak yang sedang marah | Sumber foto: Freepik

Masih jelas dalam ingatan bagaimana saat kecil dulu bila aku menangis, ya dibiarkan begitu saja bahkan kadang dimarahin balik dan dipaksa diam. Belum lagi, saat emosi dan marah, rasanya seperti dipaksa untuk memendam rasa itu karena orang tua kadang menunjukkan reaksi yang jauh lebih emosi. Mau ngga mau, anak akan diam dan merasa ketakutan, padahal emosinya belum diselesaikan. 

Pada akhirnya, aku sebagai anak terbiasa memendam emosi hanya untuk menjaga perasaan orangtua dan tidak memancing keributan yang lebih besar yang datang dari emosi mereka. 

Kukira dulu hal itu sudah termasuk baik, memendam perasaan marah agar orang tua bisa tenang, ternyata keputusan itu adalah hal yang salah. Dilansir dari alodokter.com, memendam emosi berpotensi membuat tubuh memproduksi hormon stress yang tinggi, meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, bahkan membuat anak tidak memahami bagaimana mengontrol emosi dengan baik. 

Bila teman-teman di luar sana juga mengalami hal yang sama, tenang, kita ngga sendiri atau hanya berdua, menurut buku Literasi Emosi yang ditelurkan oleh Dandi Birdy dan Diah Mahmudah, 75-80% orang tua mengaku tidak mendapatkan literasi emosi, baik di rumah maupun di sekolah di masa kecil mereka (Survey Dandiah Care, 2021)

Coba flashback kembali ke masa-masa sekolah, aku ngga tahu dengan sekolahmu, tapi sejak SD hingga SMA bahkan kuliah, di sekolahku, pelajar hanya dikenalkan dengan bimbingan konseling, bukan bagaimana mengelola emosi dengan benar agar anak atau pelajar bisa menyalurkan emosinya dengan tepat. 

Dampaknya, emosi-emosi yang tak terlampiaskan di masa kecil kadang masih terbawa hingga dewasa dan menyebabkan kurangnya kedamaian dalam diri sendiri. 

Mengenal literasi emosi

Menurut Steiner, 1997 yang dirangkum dalam buku Literasi Emosi milik Dandi Birdy dan Diah Mahmudah, literasi emosi adalah kemampuan untuk memahami emosi diri sendiri, kemampuan untuk mendengarkan orang lain dan berempati dengan emosi-emosi mereka, serta kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara adaptif. 

Begitu pentingnya literasi emosi, Dandi Birdy dan Diah Mahmudah menghadirkan buku Literasi Emosi untuk memberikan sejumlah solusi sekaligus referensi bagi orangtua juga pendidik dalam memberikan literasi emosi pada anak-anaknya saat ini. 

Rujukan utama buku ini mengacu pada konsep emotional literacy dari Claude Steiner, PhD, yang disesuaikan dengan bahasa psikologi yang praktis dan mudah dicerna. Kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Dandi Birdy dan Diah Mahmudah dari pengalaman profesional mereka sebagai psikolog, psikoterapis, dan konselor keluarga. 

Review Buku Literasi Emosi Dandi Birdy dan Diah Mahmudah

Buku Literasi Emosi | Foto: Dok. pribadi

Kata orangtua bijak, yang baik dicontoh yang buruk ditinggalkan. 

Mungkin kita bisa mulai menerapkan kalimat bijak ini secara khusus dalam urusan emosi. Bila kita sejak dini tak mendapatkan edukasinya, setidaknya, anak kita memahaminya sampai mereka benar-benar bisa mengenal emosinya. 

Nah, salah satu media belajar yang bisa kita manfaatkan adalah buku Literasi Emosi karya Dandi Birdy dan Diah Mahmudah ini nih. 

Buku ini cukup memberikan panduan sedari dasar, termasuk perbedaan rasa dan emosi. Kedua diksi ini sering dimaknai sama bahkan digunakan saling menggantikan, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Keduanya saling terkait namun memiliki makna yang berbeda, hanya saja sama-sama saling mengacu pada keadaan psikologis internal yang dialami seseorang. Kenalan dulu, yuk, sama rasa dan emosi. 

Sebetulnya ada beberapa pengertian, tapi izinkan aku angkat satu agar kita sama-sama memiliki bayangan. 

Rasa atau feeling merupakan pengalaman fenomenal mandiri dan bersifat subjektif. Perasaan sering kali dievaluasi sebagai menyenangkan atau tidak menyenangkan, tetapi mereka bisa juga memiliki kualitas intrapsikis yang lebih spesifik. Sensasi terancam berbeda dengan sensasi tersakiti. 

Sedangkan emosi adalah keadaan psikologis yang kompleks yang melibatkan tiga komponen berbeda: pengalaman subjektif, respon fisiologis dan respons perilaku (ekspresif) yang akan mengarahkan seseorang berperilaku tertentu. 

Nantinya, emosi ini kemudian dibagi menjadi dua jenis yakni emosi konstruktif dan desruktif. Anak yang telah diberi edukasi untuk mengenal rasa dan emosi akan lebih mudah diarahkan untuk mengelola emosinya dengan baik tanpa memendam sedikitpun. 

Setelah dapat membedakan rasa dan emosi, menempatkan emosi sesuai kategorinya, orangtua juga akan dipandu untuk melanjutkan olah emosi ke tahap berikutnya mulai dari pengenalan empati dalam diri anak, memaafkan, integrasi lalu menilai literasi emosi itu sendiri. 

Meski sudah dewasa, buku ini juga cukup membantu untuk memahami hal-hal seputar emosi yang dulu tak pernah kuterima. Jadi bagi kamu yang kelak juga ingin membaca buku ini, jangan heran bila dalam tiap lembarannya, kepalamu mungkin akan kerap mengangguk-angguk tanda setuju. 

Cara mendapatkan buku Literasi Emosi

Memiliki sejumlah manfaat bagi anak termasuk orang dewasa itu sendiri, menurutku buku ini sangat bisa direkomendasikan untuk dibaca lintas umur. 

Bagi kamu yang tertarik, kamu bisa mendapatkan buku ini dengan menghubungi langsung Dandiah Care di

Alamat: Kota Harapan Indah 2, Cluster Taman Puspa Blok HO 6 No. 43, Bekasi - Jawa Barat. 

Telp: (021) 88866849

Comments