Kesetaraan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas

Zoominar KBR dan NLR Indonesia tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas | Sumber foto: Tangkap layar YT KBR

Kasus kekerasan seksual bagi perempuan penyandang disabilitas di Indonesia

Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia menyebutkan, sepanjang tahun 2017-2019, terdapat 132 kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan penyandang disabilitas di 11 provinsi di Indonesia. 

Kasus seperti ini kerap terjadi pada perempuan penyandang disabilitas, khususnya disabilitas intelektual yang merupakan kelompok paling rentan mengalami kekerasan seksual karena keterbatasan intelektual korban. Keterbatasan inilah yang kemudian dimanfaatkan pelaku dan anggapan bahwa pelaku tidak akan bisa melawan atau melapor atas tindakan yang dilakukan terhadapnya. 

KBR Indonesia, Biyung Indonesia dan NLR Indonesia beri edukasi seputar hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi OYPMK dan remaja disabilitas

Tingginya kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan penyandang disabilitas ini terus membuka mata bahwa hak kesehatan seksual dan reproduksi penting untuk diajarkan pada mereka, baik perempuan maupun laki-laki, termasuk OYPMK (Orang yang pernah mengalami kusta). 

Seharusnya, justru kelompok masyarakat rentan inilah yang penting mendapatkan edukasi tersebut bahkan sejak sedini mungkin. 

Pemahaman bahwa remaja disabilitas tidak mungkin akan menikah dan menjalani hubungan jangka panjang dengan lawan jenis, penting untuk dikesampingkan. Edukasi kesehatan seksual dan reproduksi bagi mereka sejatinya bukan hanya untuk pernikahan atau hubungan jangka panjang saja, namun bagaimana agar OYPMK dan remaja disabilitas dapat menghidupi kehidupan pubertas remajanya dengan baik, sehat, bahagia dan bebas rasa takut. 

Selain itu, memberikan pemahaman yang tepat pada remaja disabilitas dan OYPMK juga akan membantu mereka untuk memahami haknya sehingga lebih berani melindungi tubuh dan berani menyampaikan bentuk-bentuk pelecehan yang terjadi pada mereka. 

Topik ini kemudian menjadi perhatian KBR Indonesia, bekerja sama dengan NLR Indonesia dan Biyung Indonesia lalu dalam zoominar memberikan edukasi pada masyarakat lewat siaran KBR Indonesia yang juga bisa ditonton kembali di YouTube mereka, KBR Indonesia.

Pentingnya kesetaraan hak seksual bagi OYPMK dan remaja Disabilitas
"Bicara tentang kesehatan seksual dan reprodusi adalah bicara tentang diri sendiri" begitu kata Nona Yabloy perwakilan dari NRL Indonesia dalam zoominar tersebut. 

Menurutnya, topik ini tidak terlepas dari perkembangan tubuh, dari aspek kehidupan baik sosial, ekonomi dan secara keseluruhan. 

Diskusi seputar topik seksual dan reproduksi masih kerap dianggap tabu. "Dia akan tahu dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Padahal, kita sudah harus mempersiapkan anak dan remaja, terkhususnya remaja dan disabilitas bahwa mereka juga punya hak untuk mengetahui melihat perubahan yang terjadi pada tubuhnya." lanjut Nona.

Dari hal kecil saja, menstruasi untuk anak perempuan dan mimpi basah untuk anak laki-laki sangat penting untuk dijelaskan. 

Penggunaan pembalut pada perempuan yang menstruasi misalnya, saat aliran darah deras, perempuan sebaiknya mengganti pembalut tiap 4-6 jam sekali, namun informasi ini tidak merata sehingga masih banyak perempuan yang menggunakan pembalutnya hingga seharian. 

Edukasi seksual dan reproduksi bagi OYPMK dan disabilitas yang penting disampaikan meliputi:
  • Pubertas
  • Mengajari anak, OYPMK dan remaja disabilitas untuk berani bicara tentang pelecehan seksual yang dialami
  • Relationship
  • Kebersihan diri

Comments