Lebih Dekat dengan Mangrove bersama Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

 

Perwakilan BCC dan Team Mangrove Jakarta | Foto: Dokumentasi Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Usai puncak acara #BloggerDay, yakni perayaan hari ulang tahun Blogger Crony yang ke-7, ada satu kegiatan lain dilakukan komunitas yang diinisiasi Mba Wawa dan Mas Satto Raji ini.

Terkesan sangat fun, tapi kegiatan ini sebetulnya membawa dampak yang sangat baik untuk lingkungan, yakni ecotourim with Bloggers.

Tidak bisa bergerak sendiri, Komunitas yang juga dikenal dengan nama BCC ini menggandeng Mangrovejakarta.id untuk membantu jalannya acara.

Mengenal Mangrove

Pak Paundra, Founder MJID memberi arahan sebelum penanaman | Foto: Dokumentasi Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Mendengar kata mangrove, pikiran biasanya akan diarahkan pada bakau dan pohon. Dibilang salah, ya ngga juga. Dibilang benar juga kurang spesifik.

Nah, biar lebih detail mengenal, Bayu Pamungkas, Co-Founder Yayasan Mangrove Indonesia Lestari menyampaikan, bahwa hutan mangrove adalah sebutan untuk kelompok tumbuhan yang tumbuh di air asin. Ada 49 jenis tumbuhan itu di Indonesia. Mangrove merupakan nama sekelompok tumbuhan yang hidup di sekitar garis pantai, dan bakau adalah salah satu jenisnya.

Manfaat hutan mangrove

Ada yang suka dengan ikan kakap?

Ikan kakap dipercaya menjadi salah satu ikan dengan rasa paling enak.

Selain rasanya yang sangat sedap, berdasarkan data Kemenkes RI (TKPI), setiap 100Gr ikan kakap segar mengandung 20.0Gr protein. Berdasarkan data kemkes.go.id, rata-rata laki-laki dewasa perlu mengonsumsi 55Gr Protein dan perempuan 45Gr protein setiap hari.

Kandungan Protein yang terdapat pada Ikan Kakap cukup tinggi untuk memenuhi asupan protein keluarga. Harganya pun tak begitu mahal.

Namun, bila tiba-tiba ikan kakap yang kamu cintai itu sirna dari muka bumi, kira-kira apa yang mungkin akan kamu lakukan?

Mencari? Mencari kemana kalau rumahnya saja hilang?

Tapi tenang, ketakutan kehilangan ikan kakap bisa kita abaikan bila “rumahnya” terus kita jaga. Gimana caranya? Salah satunya dengan terus memberi perhatian pada hutan mangrove ini.

Lewat kegiatan ecotourism ini, aku dan peserta terpilih lainnya juga mendapatkan wawasan lain seputar hutan mangrove, termasuk manfaatnya:

1. Menjadi rumah bagi sejumlah flora dan fauna endemik

Mangrove menjadi rumah bagi sejumlah flora dan fauna endemik mangrove.

Monyet ekor panjang atau Macaca Fascicularis, misalnya. Hewan ini merupakan salah satu hewan endemik mangrove. Ketika hutan mangrove itu sendiri hilang, ikan, burung, reptil, serangga, ular termasuk monyet ekor panjang pun turut hilang.

Sayang banget lho kalau hilang. Setiap tanggal 16 Maret sejak tahun 2016, dunia secara rutin memperingati Hari Macaca Internasional atau Macaque International Day. Peringatan ini dilakukan sebagai upaya untuk pelestarian Macaca di seluruh dunia.

Ketika di berbagai dunia, hewan ini termasuk langka, dan Indonesia memilikinya, masak iya kita lepas dan biarkan hilang begitu aja? Untuk itu penting sekali menjaga hutan mangrove ini.

2. Menjaga ketersediaan ikan laut

Aku juga ingin mengajak para pecinta ikan, terutama ikan kakap yang enaknya sering bikin terbayang-bayang itu, untuk sama-sama berkontribusi menjaga kelestarian hutan mangrove.

Tahu ngga sih, mangrove memiliki peran penting untuk menjaga ketersediaan air laut. Katakan saja ikan kakap, bandeng, paname, jenis-jenis ikan ini mencari mangrove sebagai tempatnya untuk berkembang biak.

Tau kan apa yang akan terjadi kalau mangrove ngga ada? Ya ekosistem ikan ini juga akan serta merta turun.

3. Mencegah abrasi

Akar mangrove yang kompleks dapat memecah energi laut. Belum lagi, hutan ini berfungsi pula untuk mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga dapat mencegah terjadi instrusi air laut ke daratan.

4. Menawarkan manfaat dari sisi sosial ekonomi

Dari sisi sosial ekonomi, mangrove juga memberikan sejumlah manfaat bagi masyarakat sekitar. Masyarakat pesisir dapat memanfaatkan mangrove sebagai ekowisata dengan menghadirkan tiket, membangun toilet, home stay untuk pengunjung, guide, hingga kuliner yang dapat akhirnya akan membantu mengangkat finansial masyarakat setempat.

5. Lokasi ibadah

Yang satu ini memang masih jarang dibahas. Bagi saudara-saudara yang beragama Hindu, salah satu ajarannya adalah berdoa di alam yang tempatnya biasanya dilakukan di mangrove. Praktik ibadah ini memang jarang ditemukan di Jakarta tapi bisa ditemukan dengan mudah di pusat Hindu tepatnya di Bali.

6. Menyerap gas Karbondioksida

Riset menunjukkan, 1 pohon mangrove bisa menyerap 4-5 kali gas Karbondioksida (CO2). Ini artinya, hutan mangrove juga memegang peranan penting untuk menekan perubahan iklim.

Dan kabar baiknya, Indonesia menjadi salah satu lokasi strategis untuk konservasi mangrove demi mencegah perubahan iklim yang terus terjadi ini.

Fakta-fakta menarik tentang mangrove

Peserta terpilih dari BCC | Foto: Dokumentasi Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Memiliki sejumlah manfaat untuk berbagai aspek kehidupan manusia membuat mangrove semestinya harus terus diperhatikan.

Lewat ecotourism ini juga kami mendapatkan fakta-fakta menarik yang cukup menggugah hati.

1. Sampah merupakan pembunuh mangrove

Persoalan sampah memang masih terus jadi perhatian ya. Tahu ngga sih, sampah dan mangrove itu seperti dua benda yang harus dipisahkan, tak bisa bersama atau salah satunya akan sirna.

Yang jelas, yang sirna ya mangrove ini sih.

Sampah yang ada di darat sangat berpengaruh untuk mangrove. Saat seseorang membuang sampah ke kali, sampah tersebut akan masuk ke sungai lalu bermuara ke laut. Padahal, di area pesisir sana, air laut itu masih dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk sejumlah hal.

Penelitian bahkan menunjukkan, sampah menjadi salah satu pembunuh mangrove secara perlahan.

2. Tak semua bibit yang ditanam akan tumbuh besar dan tinggi

Bibit mangrove usia 4 bulan yang siap ditanam | Foto: Dokumentasi Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Saat pelaksanaan ecotourism pada tanggal 19 Maret lalu, kami – peserta terpilih – dan tim Mangrovejakarta.id menanam 1.000 pohon.

Yeayyy, keren yaaa! Perdana aku nanam pohon sebanyak ini!

Nah, yang sangat disayangkan, ternyata dari 100% pohon yang kita tanam, kemungkinan tumbuh besar hanya 5% doang.

Faktor penyebabnya ya itu tadi,salah satunya sampah, ada juga lokasi dan media penanaman yang kurang tepat, ombak juga termasuk salah satu penyebab.

Kasian juga ya, udah nanam 1.000, tapi yang tumbuh cuma 5%.

3. Mangrove butuh media khusus untuk bisa tumbuh subur

Bicara tentang lokasi dan media tanam pohon mangrove nih, mangrove yang ditanam di alam terbuka, tantangan untuk tumbuhnya jauh lebih besar karena banyak faktor penyebab seperti yang disebutkan di atas tadi.

Selain itu, butuh media yang tepat pula agar mangrove bisa tumbuh subur. Cara mengetahui bagus tidaknya media tanam untuk pertumbuhan magrove adalah dengan penelitian khusus di laboratorium dan secara visual.

Cara visual tergolong sangat mudah, media berlumpur sangat bagus untuk pertumbuhan mangrove sedangkan media pasir kurang.

4. Luas mangrove terus hilang

Indonesia memiliki hutan mangrove seluas 3.31jt Ha sayangnya, angka ini terus berkurang dalam kurun waktu 4-5 tahun atau sekitar 3.11% setiap tahunnya. Yah, kalau ditransisikan sekitar 749 Km2 deh atau setara luas provinsi Jakarta.

Kehilangan ini tak lepas dar penebangan hutan di sekitar pantai dan kurangnya edukasi masyarakat terkait mangrove. Itu sebabnya, restorasi hutan mangrove penting untuk terus dikumandangkan.

Kamu juga bisa berkontribusi

Dekade ini adalah kesempatan terakhir kita untuk menanggulangi perubahan iklim, sudah waktunya untuk saling bergandeng tangan untuk iklim dan bumi yang lebih baik.

Kamu juga bisa ikut berkontribusi untuk selamatkan bumi, salah satu caranya adalah dengan ikut aksi-aksi penanaman hutan mangrove seperti yang kami lakukan. Cukup mudah, gerakkan teman, geng, keluarga, sahabat, teman kantor, atau siapapun orang-orang terdekat kamu.

Kamu juga bisa gandeng Mangrovejakarta.id untuk pelaksanaan aksi ini. Atau kamu juga bisa kunjungi website mereka di https://www.jakartamangrove.id/

Selain itu, follow juga Instagramnya untuk mengetahui aksi-aksi kecil yang bisa kamu lakukan untuk bumi. Salah satu contohnya adalah dengan ikut gerakan mematikan listrik pada earth hour 26 Maret lalu yang juga turut disuarakan oleh Mangrove Jakarta.

Langkah-langkah kecil, tapi bila dilakukan secara bersama-sama dan konsisten juga akan membawa dampak yang baik untuk bumi tercinta.

Sekilas tentang Mangrove Jakarta.

Terbilang masih dini, namun Yayasan Mangrove Indonesia Lestari di usianya yang baru beranjak dua tahun ini telah berhasil menyabet gelar Community of the Year 2021 dari Indonesia Prestige Awards dan dinobatkan pula sebagai The Best Campaigner 2021 dari KitaBisa Hero.

Langkah ini berawal dari sebuah komunitas bernama Mangrove Jakarta yang diinisiasi Paundra Hanutama selaku Founder dengan mengusung visi untuk menjadi platform yang memberi info teraktual seputar mangrove khususnya di Jakarta, tapi tidak menutup kemungkinan bergeser keluar Jakarta.

Pak Paundra dan timlah yang sejak awal perjalanan terus mendampingi kami dan memberikan penjelasan seputar Mangrove ini.

Cara penjelasannya pun terbilang sangat ringan dan mudah dipahami, anak kecil yang saat itu dengerin penjelasannya aja bisa dengan mudah mengerti.

Selain itu, kegiatan ekowisata ini dibungkus dengan sangat menarik sehingga tidak ada batasan pertemanan antara panitia dan peserta.

Ada beberapa lokasi binaan Mangrovejakarta.id ini, yakni Pulau Pari, Pulau Tidung, Pulau Harapan, Tanjung burung dan PIK.

Kebetulan ekowisata kami kemarin diarahkan di Pulau Tidung. Pulau Tidung ini juga terbagi lagi menjadi dua bagian, Tidung Besar dan Tidung Kecil. Di Pulau Tidung besarlah penanaman 1.000 pohon ini berlangsung.

Oh ya, sebelum penanaman, kamu juga akan melihat dan merasakan sendiri bagaimana sampah-sampah banyak bertebaran di area pesisir. Ini salah satu yang kami lakukan juga, dan rasanya memang menyebalkan ya, ngambilin sampah yang sama lagi dan lagi. Sampah plastik sih yang mendominasi, terutama sedotan. 

Merasakan dan melihat sendiri begitu banyaknya sampah, akan terus menempel diingatan kamu. Sampai-sampai, tiap kali makan dan disuguhin sedotan, kamu akan merasa bersalah lalu nolak dan memilih minum langsung dari gelas. Hahha. 

Didukung oleh BEM FT UI, KAPA UI, dan Pusat Budidaya dan Konservasi Laut (BPKL) – Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta, penanaman berlangsung dengan cepat mudah.

Kalau kamu bayangin penanaman 1.000 pohon itu memakan waktu yang lama, salah sekali! Hal ini karena proses penanaman yang dipandu Bp Fazhur R Launauru dan Pak Ubay dari PBKL dilakukan dengan menerapkan teknik rumpun berjarak.

Senengnya terlibat dalam 1.000 penanaman pohon mangrove | Foto: Dokumentasi Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Teknik rumpun berjarak merupakan penanaman 300 bibit di dalam polybag berumur 4 bulan di dalam satu lubang kemudian melakukan hal yang sama di lubang berbeda dengan jarak 1 meter. Pilihan teknik ini juga dilakukan dengan menyesuaikan media tanam yang didominasi pasir.

Proses penanaman pohon | Foto: Dokumentasi Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Agak kaget juga begitu bibit disebut sudah selesai tanam, padahal tenaga masih dalam kondisi di puncak. Kurang deh pokoknya kalau cuma nanam 1.000 pohon mah. Hehhe. 

Setelah kegiatan penanaman selesai, kamu bisa melanjutkan berbagai kegiatan di Pulau Tidung dengan leluasa. 

Baca juga: Satu Hari Di Pulau Tidung, Dapat Apa?

Yuk, ikutan rasakan keseruan ekowisata mangrove ini bareng Yayasan Mangrove Indonesia Lestari  

Comments

  1. Waaah iya sih, sayang banget kalo dari 1000 tanamannya, hanya 5% yg berhasil tumbuh :(.

    Aku pernah baca kalo mangrove memang bagus buat menjaga ekosistem dan mencegah abrasi juga lainnya. Ga kepengin pastinya lingkungan semakin rusak Krn sampah . Banjir masih jadi masalah yg utama tiap musim hujan. Semoga aja lokasi2 binaa mangrove di JKT ga semakin berkurang. Aku kepengin sebenernya melihat mangrove yg di PIK mba. Agak lumayan jauh memang dari rumah. Ntr kapan2 pengen ajakin anak2 kesana, supaya mereka juga ngerti pentingnya mangrove bagi kelangsungan lingkungan

    ReplyDelete
  2. Ya ampun aku tuh baru tau kalau menanam mangrove itu susah lho Kak. Kirain nanam mangrove itu tinggal ditancapkan aja kayak nanam pohon singkong.

    Habis baca artikel ini, melihat susahnya pohon mangrove itu hidup dan tumbuh besar, jadi semakin care sama keadaan pantai saat ini. Udah saatnya kita sama-sama menjaga pantai dari sampah ya Kak karena sampah bisa bikin magrovenya rusak dan akhirnya terjadi abrasi pantai.

    ReplyDelete

Post a Comment