Skip to main content

Jika Bisa Diulang Kembali, Evaluasi Pertama adalah Menghadirkan ASUS ZenBook 14X OLED di Sekitar Kami

 

Olah konten usai temu komunitas | Foto: Andik Hermawan

You will never know ‘till you try

Di dalam mobil hiace yang terus melaju, kami saling oper-operan laptop. Tujuannya satu, meminimalisir kesalahan konten yang akan dikirim, pendamping terus memantau agar tulisan yang kuhasilkan sesuai dengan permintaan.

Yang bikin lebih menyulitkan lagi, berat laptop yang mencapai 2,2Kg ini sedikit merepotkan untuk bolak balik tangan ke tangan. Belum lagi, proses pindah tangan laptop ini memakan waktu yang bila dimanfaatkan dengan tepat, sebetulnya sangat membantu dalam menghemat baterai.

Beberapa hari sebelumnya, aku masih bimbang. Tanganku berada di atas keyboard dengan menatap borang pendaftaran sebuah program menarik yang diinisiasi Generasi Pesona Indonesia (GenPI) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia.  Namanya JALIN Komunitas akronim dari Jalan-jalan di Indonesia Bareng Komunitas.

Di satu sisi, aku tertarik akan program yang menawarkan pertemuan dengan berbagai komunitas daerah di seluruh Pulau Jawa ini. Bagaimana ngga tertarik? Program ini akan membukakan jalan bertemu dengan banyak orang dan memperluas jaringan, belum lagi, Konten Kreator terpilih akan menjelajah seluruh Pulau Jawa dari DKI Jakarta, hingga Banyuwangi sana selama 7 hari via darat.

Di sisi lain, aku seperti bertanya pada diri sendiri, “yakin nih bisa nulis sesuai yang diminta? Tanggungjawabnya gede, lho, kalau kepilih” Tapi sebagian hatiku juga bilang “Daftar dulu aja, belum tentu terpilih juga. Pede amat!”

Aku sempat berdebat hebat. Tapi aku memutuskan untuk laju mendaftar. Hari itu, sebuah quote bijak membantuku memantabkan keputusan “You will never know ‘till you try” – Kamu ngga akan pernah tahu – sebuah hasil – kalau kamu tidak mencobanya. Begitu kurang lebih bila diangkat dalam bahasa Indonesia.

Lagipula kalaupun terpilih, tentu pilihannya masih imbang, kan?

What if i fall?

Oh, but darling, what if you fly?

Memang harus dicoba dulu agar pertanyaan ini bisa kujawab.

Semesta berpihak

Tangkap layar wa pengumuman | Foto: Dokpri

Rupanya pendaftaran untung-untungan yang kulakukan membawaku pada sebuah kesenangan dan pengalaman hebat.

27 Februari lalu, sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi percakapanku. Pesan itu membawa kabar baik yang sebetulnya hanya iseng-iseng saja kudaftar.

“Eh kakk, kabar gembira nih. Kakak lolos penjaringan tim JALIN Komunitas. Kakak bisa ikut trip JALIN Komunitas dari Jakarta – Bwi (Banyuwangi)” Begitu isi pesannya.

Aku senang bukan main, kaget, takut, deg-degan, dan mulai menyalahkan diri. Tuh kan, gimana sekarang? Bisa ngga? Siap ngga?

Sempat keteteran

Sebuah website kesehatan mental di luar negeri pernah menyebut voice in head says bad things. Kadang memang akan menyebutkan hal baik, namun lebih sering juga mengatakan hal buruk dan membuat diri sendiri merasa tak percaya diri. Mungkin ini yang saat itu aku alami.

Sempat kepikiran pula untuk undur diri, tapi urung kulakukan. Lagi-lagi karena memikirkan quote-qoute baik yang kukantungi di atas. Mungkin kesempatan ini juga akan jadi pengalaman dan ajang pembelajaran yang tak akan pernah kulupakan, pikirku kala itu.

Perjalanan pertama dimulai. Cara kerjanya adalah, kami harus menghasilkan karya di setiap titik yang kami kunjungi. Tentu aku ngga sendiri, ada total 7 orang tim. 2 orang pendamping, 1 videografer, 2 fotografer, 1 sosial media, dan 1 lagi aku, penulis konten.

Satu dari pendamping tersebut, berperan pula memandu seluruh Konten Kreator agar menghasilkan konten sesuai yang dibutuhkan, termasuk artikel.

Adaptasiku membabi buta. Aku yang lebih terbiasa dengan artikel jenis future harus ubah mode jadi artikel berita. To the point, artikel tak sampai 400 kata, dan sebagainya dan sebagainya.

Kuakui, hari pertama perjalanan kami adalah hari terberat. Aku yang terbiasa dengan tulisan di atas 500 kata bahkan kadang sampai 1.000 kata saking serunya menulis, harus keteteran memotong tulisan agar sesuai permintaan dan semua pesan terangkum dengan baik.

Tuh kan, gue bilang juga mundur aja. Begitu isi suara hati di hari pertama.

Tapi suara lainnya bilang Bisa, belajar yuk. Tanya kalau ngga paham, minta pendapat, diskusi. Coba dulu.

Revisi 1, revisi 2, revisi 3 dan revisi revisi berikutnya. Seharian itu, selama di perjalanan, aku kenyang dengan revisi. Rasanya ingin menangis, tapi ini keputusanku untuk ikut. Jadi harus kuselesaikan apa yang telah kumulai. Ngga mau juga bikin tim dan diri sendiri kecewa.

Pendamping yang supportif

Konten Kreator terpilih dan pendaming | Foto: Andik Hermawan

Untungnya, selama perjalanan ini, pendamping kami baik sekali. Beliau sepertinya bisa membaca kekhawatiranku dan sangat supportif untuk membantu. Beliau juga yang membantu mengontrol bagian mana yang harus dibuang, bagian mana yang bisa dikembangkan hingga tulisan bisa dikirim dan ditayangkan.

Ya, lagi, hari pertama itu, jantungku rasanya balapan di sepanjang perjalanan. Dipaksa beradaptasi dengan sangat cepat.

Malamnya, aku yang sudah bisa membaca alur tulisan yang diinginkan, format tulisan yang diharapkan, mulai bisa bernafas lega dan mengikuti skema kerja.

Tak seseram yang kubayangkan

Wawancara untuk kebutuhan artikel | Foto: Miftahudin Mulfi

Begitu beradaptasi, hari-hari berikutnya, tulisan-tulisan yang kuhasilkan mengalir begitu saja. Kadang memang masih ada revisi satu dua, tapi tak lagi separah artikel pertama. Tak hanya artikel, caption-caption juga bisa kuhadirkan dengan lebih leluasa.

Ternyata, setelah beradaptasi dan mengetahui alur kerja dengan tepat, hal yang kutakuti, tak seseram yang kubayangkan. Benar kata website itu, kepala memang kadang mengatakan hal-hal buruk, tapi hal-hal itu belum tentu terjadi. Aku membuktikannya sendiri.

Dan sekarang, aku bisa bilang, aku melewati tantangan ini dengan baik sekali.

Evaluasi jika kembali terjadi

ASUS ZenBook 14X OLED | Foto: https://www.asus.com/id

Apakah hasil kerjaku sesempurna itu sampai aku berani bilang melewati tantangan dengan baik sekali?

Tentu tidak! Bahkan mungkin bisa dibilang jauh dari sempurna, hanya saja, dari sisi keberanian, aku telah melewatinya dengan sangat baik.

Namun, bila hal yang sama kembali terjadi, mungkin aku akan melakukan beberapa evaluasi. Ada beberapa catatan yang kugarisbawahi agar hal-hal kurang maksimal serupa tak terulang lagi. Terutama di bagian peralatan pendukung, laptop.

Pentingnya dukungan laptop dengan spesifikasi mumpuni

Laptop yang kubawa memang sudah cukup berumur, 7 tahun sudah perjalanan kami bersama-sama mengarungi karir menjadi Content Writer sekaligus Blogger. Aku ngga terlalu menuntut banyak kalau laptop ini sekarang sedikit rewel.

Untuk mengoperasikannya saja, harus sembari disambungkan langsung ke listrik. Ini artinya, setiap data yang kudapat tidak bisa langsung kuolah bila tidak ada sumber listrik. Repot memang. Sementara, perjalanan kami terus bersambung.

Agar kamu ada bayangan, kami melakukan perjalanan dengan mobil hiace dari DKI Jakarta hingga Banyuwangi. Untuk mengejar jadwal, begitu titik kunjung yang satu - katakanlah Kota Tua di Jakarta - selesai kami kunjungi, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Tangerang, Banten, untuk menuju titik kumpul berikutnya. Malamnya, kami akan menginap di kota kunjungan keesokan harinya, yakni Bandung. Begitu terus hingga hari terakhir.

Jadi memang, satu-satunya waktu luang yang kami miliki adalah mengolah data di mobil. Atau, mengolah data di hotel – yang artinya akan mengambil waktu istirahat kami untuk laju keesokan harinya. Mau ngga mau memang harus diberesin di mobil. Sayang juga kalau waktu luang di mobil . terbuang begitu saja

Sayangnya, laptopku tak bersahabat untuk itu. Bisa saja memang menyelesaikan konten lewat ponsel, tapi rasanya, menghasilkan karya, terutama artikel di ponsel, tak seleluasa di laptop. Belum lagi ponsel lebih memaksa mata untuk fokus karena keterbatasan lebar layar. Ini yang mungkin akan menjadi evaluasi pertamaku bila kegiatan yang sama kembali terjadi.

Demi bisa melanjutkan kerja, aku memanfaatkan laptop tim yang bisa digunakan dengan kondisi baterai yang masih bagus.

Kendala lainnya, aku dan pendamping harus oper-operan laptop demi meminimalisir kesalahan artikel sebelum dikirim. Belum lagi beratnya cukup bikin kewalahan untuk berganti dengan satu tangan.

Itu sebabnya, menurutku, dalam perjalanan ini, kami sangat butuh laptop yang mumpuni karena tak hanya akan membantu proses produksi artikel, tapi juga akan sangat mempermudah tim lain – fotografer dan videografer – dalam menghasilkan konten visual yang terbaik.

Akan ada banyak karya yang bisa kami hadirkan dengan keikutsertaan ASUS ZenBook 14X OLED bersama kami.

Jika bisa diulang kembali, akan kuhadirkan ASUS ZenBook 14X OLED di sekitar kami

ASUS ZenBook 14X OLED | Foto: https://www.asus.com/id

Sudah menjadi rahasia umum, videografer dan fotografer membutuhkan ruang yang sangat banyak untuk konten-konten visual yang mereka hasilkan. Jangankan mereka, Content Writer dan Blogger saja butuh banyak space penyimpanan untuk menyimpan foto-foto pendukung artikelnya.

Karena keterbatasan ruang penyimpanan ponsel dan laptop tim, mau tidak mau, seluruh memori disimpan di layanan penyimpanan data. Bermodal pranala saja, semua orang memiliki akses untuk mengambil dan membagikan konten visual itu.

Sebagai Content Writer dan Blogger, bagiku ini yang menjadi perhatian utama, ruang penyimpanan. Meski tugasku sendiri adalah berburu data dan informasi, aku juga mengabadikan beberapa foto yang mungkin kubutuhkan di kemudian hari untuk tulisanku.

Perhatian lainnya tentu daya tahan baterai, berat laptop, performa hingga keramahan laptop saat digunakan sebagia media hiburan.

Dan beruntungnya, seluruh permasalahan ini terselesaikan dalam balutan ASUS ZenBook 14X OLED seri UX5400. Inilah kenapa aku sampaikan di atas, bila kegiatan yang sama terulang kembali, ASUS ZenBook 14X OLED ini mungkin akan jadi barang pertama yang kusiapkan di atas segala barang lainnya.

Kenapa ASUS ZenBook 14X OLED?

Bila dilist satu per satu, aku punya banyak alasan kenapa harus ASUS ZenBook 14X OLED. Agar rasa penasaran lebih tuntas, sebentar, biar aku jabarkan saja.

Elegan dan Stylish

Tampil elegan, stylish dan percaya diri dengan ASUS ZenBook 14 OLED dalam genggaman | Foto: https://www.asus.com/id

Perjalanan kami tak hanya seru karena ragam destinasi, tapi juga karena orang-orang muda yang kami temui. Orang-orang hebat, perintis bisnis, komunitas kreatif hingga Mas Mba Solo yang anggunnya sampai kini masih bikin aku kagum.

Menggandeng ASUS ZenBook 14X OLED di tangan tentu memberikan sensasi dan rasa bangga tersendiri. Kerja di tengah-tengah mereka dengan laptop ini juga akan membuat tampil lebih percaya diri.

ASUS ZenBook 14X OLED terdiri dari dua warna, Pine Gray dan Lilac Mist. Biasanya, dalam urusan fashion dan kebutuhan-kebutuhan lain, aku lebih cenderung memilih warna gelap. Tapi entah kenapa warna Lilac Mist ASUS yang satu ini, terasa lebih menggoda untuk dimiliki.

Tak hanya elegan, Lilac Mist juga tampil cantik dan modern dengan warnanya yang matte dan sentuhan akhir spun-metal ZenBook klasik yang ditonjolkan. Persis seperti tengah menggambarkan wanita mandiri, aktif, tangguh sekaligus elegan di waktu yang bersamaan. Super suka!

Well, keduanya memang tampak anggun dan canggih, perkara warna sebetulnya seturut selera saja.

Desain yang mempermudah pengguna

ASUS ZenBook dengan engsel ErgoLift 180 lay-flatnya | Foto: https://www.asus.com/id

Masih ingat dengan urusan oper-operan laptop di mobil hiace yang kami tumpangi? Padahal, kalau saja saat itu aku membawa serta ASUS ZenBook 14X OLED, mungkin drama laptop pindah tangan bisa dihindari. Semua urusan diskusi konten akan terselesaikan dengan cara yang lebih mudah.

ASUS ZenBook 14X OLED telah dilengkapi dengan engsel ErgoLift 180 lay-flat. Ini artinya, layar laptop bisa dibuka hingga 180⁰ sehingga memudahkan beberapa orang dalam tim di area yang sama dapat menikmati konten di layar yang serupa tanpa perlu oper-operan atau memutar laptop.

Engsel ErgoLift 180 lay-flat memudahkan jalannya diskusi dalam sebuah tim. Kita pun tak perlu kehilangan banyak waktu cuma untuk urusan berkirim laptop untuk saling crosscheck konten.

Meski lay-flat, ASUS ZenBook 14X OLED juga dirancang dengan presisi yang sedikit memiringkan bagian belakang laptop ketika dibuka sehingga menawarkan pengalaman mengetik yang lebih nyaman.

Engsel ErgoLift 180⁰ ini juga memudahkan pengguna untuk membuka laptop cukup dengan satu tangan saja. Selain itu, ketika dalam kondisi terbuka biasa, ErgoLift ini juga membuat laptop bagian bawah lebih terangkat dan air flow juga bisa terus berjalan lebih leluasa karena sasis untuk pendinginan dapat bekerja lebih optimal.

Ada juga sensor fingerprint pada tombol power yang memudahkan pengguna untuk login sekali sentuh dengan menggunakan Windows Hello.

Sensor fingerprint ini tak hanya membantu mempercepat mobilitas pengguna, tapi juga bikin aktivitas memulai kerja jauh lebih gaya serta posisinya yang berada di tombol power tidak akan mengganggu pengguna saat sedang bekerja. Ngga kebayang pedenya kerja pakai laptop ini!

Ukuran yang ramah untuk dibawa-bawa

Ukuran yang ringkas, ringan dan tipis persembahan ASUS ZenBook 14X OLED | Foto: https://www.asus.com/id

Walaupun memiliki bentang layar 14 inci, ASUS ZenBook 14X OLED terasa seperti 13 inci berkat teknologi NanoEdge Display yang membuat bezel layar begitu tipis. Belum lagi ukuran panjang dan lebarnya hanya 31,12 x 22,12 Cm dengan ketebalan cuma 1,69 Cm dan berat 1,4 Kg doang. Bobot yang terbilang sangat enteng di jajaran ultrabook.

Untuk seorang wanita aktif bertubuh pendek seperti aku, udah kebayang banget Lilac Mist dengan ukuran ini bikin laptop dan orangnya akan tampak sama-sama imut saat bersamaan.

Dari sedikit review ini saja, rasanya ada beberapa permasalahan yang sudah tertangani dengan baik. Bobot yang ringan, tampilan yang stylish, engsel ErgoLift yang sangat mempermudah diskusi di satu meja.

Cuma itu aja kah kemampuan ASUS ZenBook 14X OLED ini?

Tentu tidak. Ada sejumlah keunggulan lain yang bikin produk ini sangat layak untuk dimiliki.

Layar yang telah menggunakan panel OLED

Panel OLED pada ASUS ZenBook 14X OLED | Foto: https://www.asus.com/id

Seperti namanya, laptop ini telah difasilitasi pula dengan panel OLED (Organic Light-Emitting Diode) yang telah terkenal dengan sejumlah keunggulannya.

Panel OLED menawarkan gamut warna 100% PCI-P3 setingkat bioskop dan telah tervalidasi PANTONE® untuk warna yang sangat jelas dan sangat akurat. Teknologi OLED ini telah mengantongi sertifikasi low blue-light dan anti-flicker dari TÜV Rheinland. Artinya, layar ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) tidak hanya lebih aman untuk kesehatan penggunanya, tetapi juga lebih nyaman saat digunakan. Berkat fitur tersebut, pengguna Zenbook 14X OLED (UX5400) dapat bekerja lebih lama tanpa membuat mata mudah lelah

20 artikel selama kurun waktu 8 hari dan masih akan terus bertambah, dengan proses produksi dan revisi yang cukup panjang, semestinya tak akan jadi masalah selama menggunakan ASUS ZenBook 14X OLED. Tak akan jadi masalah saat pengerjaan, tak jadi masalah pula dalam urusan kesehatan khususnya mata.

Lebih serunya lagi, aktivitas menulis akan jauh lebih menyenangkan karena fitur touchscreenya. Belum lagi laptop ini mengusung rasio layar 16:10 dengan resolusi 2.8K (2880X1800) yang bikin ruang kerja terasa jauh lebih luas. Bandingin ngetik pakai ASUS ZenBook 14X OLED dengan hp. Duh, betapa leganya ngetik di laptop ini.

Oh iya, kamu juga akan menemukan ScreenPad™ 2.0 di produk ini, layar tambahan gitu, tapi posisinya ada di bagian touchpad laptop. Fitur ini yang bikin ASUS ZenBook 14X OLED berbeda dengan sebagian besar laptop premium lainnya.

Fungsinya sih lebih mempermudah kamu untuk mengakses berbagai shortcut secara lebih cepat tanpa harus menghafal kombinasi tombol di keyboard. Berfungsi juga sebagai touchpad yang bisa dikontrol dengan menyentuh mode mode switch.

Ekstra layar ini juga akan sangat membantu karena adanya ruang esktra untuk dimanfaatkan tanpa mengganggu pekerjaan di layar utama. Jadi sangat mendukung produktivitas yang multitasking.

Konektivitas yang lebih lengkap

Sepertinya semua akan sepakat begitu mendengar port pada sebuah laptop adalah pertimbangan lain yang tak kalah penting saat ingin memiliki sebuah laptop baru.

Port akan membantu berbagai perangkat tambahan dapat dihubungkan dengan mudah dan membantu kita jauh lebih produktiv.

Aku lagi-lagi membayangkan diriku mengirimkan file-file audio hasil rekaman wawancara dengan narasumber dan teman-teman komunitas ke dalam laptop ASUS ZenBook 14X OLED, merapikannya dalam satu folder dengan space penyimpanan yang luas, sembari memproses hasil rekaman dalam bentuk tulisan. Aaahhh, menarik sekali. Membayangkan saja, rasanya bikin kerjaan lebih cepat selesai.

ASUS ZenBook 14X OLED hadir dengan port HDMI 2.0, USB 3.2 gen2 Type-A, hingga MicroSD dan 3.5mm combo audio jack. Ada juga 2 port USB Type-C Thunderbolt™ 4 yang hadir dengan kecepatakan transfer data yang tinggi, yaitu 40Gbps. Port ini juga bisa digunakan untuk menghubungkan monitor tambahan dengan dukungan resolusi hingga 8K. Yang paling penting, di port ini juga bisa mengisi daya baterai melalui adapter charger atau power bank.

Bukankah baterai adalah salah satu tenaga bagi pemburu konten? Satu masalah lagi terselesaikan dengan mudah. Dan baterai juga salah satu tantangan terbesar kami selama perjalanan. Tentu ini sangat dibutuhkan ya, mengingat batasan untuk mengisi ulang daya baterai gadget di mobil sangat terbatas.

Di samping itu, ASUS ZenBook 14X OLED juga mengandalkan WiFi 6 yang tertanam di dalamnya yang memberikan kecepatan transfer data yang lebih tinggi dan stabil dan bikin pengguna selalu terkoneksi ke internet dengan mudah dan nyaman.

Hardware tangguh dan mumpuni

Laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xᵉ graphics, kunci performa laptop yang umumnya langsung memberi pengaruh terhadap produktivitas laptop.

Ditenagai oleh 11th Gen Intel® Core™ processors, bikin Zenbook 14X
OLED (UX5400) lebih andal untuk kebutuhan komputasi sehari-hari dan powerfull untuk multitasking.

Tak hanya itu, chip Intel® Iris® Xᵉ graphics yang terdapat di dalamnya bersama NVIDIA® GeForce® MX450 membuat ASUS ZenBook 14X OLED mampu memproses grafis ekstra yang dibutuhkan konten kreator.

Semestinya, poin ini akan jadi pendukung yang paling mumpuni untuk menghasilkan karya visual bagi tim fotografer dan videografer. Kan? Ngga heran lagi kan kenapa aku ingin banget bawa ASUS ZenBook 14X OLED ini bila hal yang sama keulang lagi.

Tak berhenti sampai di sana, ASUS ZenBook 14X OLED dilengkapi memori berkapasitas 16GB dan penyimpanan berupa PCIe SSD yang memiliki performa tinggi serta kapasitas ekstra lega hingga 1TB yang bikin pengguna tak perlu khawatir dengan kapasitas dan performa penyimpanan di laptop ini.

Alih-alih menyimpan semua konten baik visual di layanan penyimpanan yang akan butuh banyak sekali kuota internet, menyimpan data-data tersebut di ASUS ZenBook 14X OLED akan sangat mempermudah pekerjaan semua tim dan menghemat kuota tentunya.

ASUS ZenBook 14X OLED menghadirkan baterai berkapasitas lebih besar, yakni 63 Whr dengan daya tahan baterai yang lebih panjang. Dilengkapi pula dengan kemampuan fast charging dengan kemampuan pengisian baterai hingga 50% dalam 30 menit yang tentunya bikin proses pemenuhan daya baterai jadi jauh lebih cepat.

Kesimpulan

ASUS ZenBook 14X OLED memberikan banyak sekali kesempatan untuk berkarya, menyelesaikan banyak tanggungjawab yang saling berkesinambungan andai saja dibawa saat perjalanan JALIN Komunitas – Java Series.

  • Menyelesaikan artikel,
  • Menyimpan data-data baik konten visual, copy termasuk file audio,
  • Media editing konten visual yang mumpuni,
  • Jadi wadah penambah daya ponsel dengan kapasitas baterainya yang besar
  • Bikin tim terlihat lebih gaya dan stylish
  • Membantu proses produksi konten jadi jauh lebih menarik dan mudah
  • Menjadi wadah hiburan di sepanjang perjalanan dengan tawaran suaranya yang jernih dan powerful
Dan tentu, dari sederet pekerjaan yang bisa diselesaikan ini, termasuk menyelesaikan 20 artikel selama 7 hari nonstop, kesehatan mata adalah garis besar utama yang ditawarkan ASUS ZenBook 14X OLED bagi penggunanya. 

Sekalipun harganya dibanderol Rp 23.999.000, rasanya sangat worth it untuk memiliki. Bukankah salah satu aset berharga adalah kesehatan? Maka bila kamu termasuk seseorang yang menghasilkan dari depan layar, ASUS ZenBook 14X OLED adalah pilihan yang tepat untuk hidup produktif dengan tetap mengedepankan kesehatan mata. 

Lagi, bila mungkin perjalanan yang sama dengan series berbeda diadakan kembali, sekali lagi aku sampaikan, aku akan menyiapkan benda ini lebih dahulu di atas segala benda lain yang kubutuhkan di perjalanan.

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Writing Competition bersama bairuindra.com

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Cerita 4 Hari 3 Malam di Hotel Aryaduta Tugu Tani.

Masih berbicara tentang Vlog dan Blog Competition yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Januari 2020 lalu. Puncak acara ini adalah BI Netifest 2020 yang diadakan di museum Bank Indonesia sekaligus pengumuman pemenang dari seluruh kategori. Cerita selengkapnya tentang keseruan keberlangsungan acara tersebut bisa kamu baca di sini:  5 Alasan Penting Mengapa Harus Ikutan Vlog dan BlogCompetition Bank Indonesia. Jika tahun 2019 lalu tempat yang disediakan oleh Bank Indonesia bagi seluruh finalis terpilihnya adalah Hotel Grand Mercure Gajah Mada, maka tahun ini Bank   Indonesia memfasilitasi Hotel Aryaduta Tugu Tani untuk tempat penginapan selama acara, salah satu hotel berbintang 5 di Jakarta. Selama 4 hari 3 malam berada di hotel ini, masing-masing punya cerita sendiri. Termasuk aku.Masing-masing punya cerita mulai dari teman baru, view kamar, pengalaman yang di dapat, fasilitas yang ditawarkan oleh hotel, hingga hal-hal menarik apa saja yang dapat dilakukan di

Serunya Mengikuti Test CPNS di Kementerian Pertanian

Di ruang tunggu sebelum memasuki area registrasi | Foto: Efa Butar butar Yuhuuu, mana nih suaranya para pejuang CPNS? Tetap semangat, terus belajar jangan lupa berdoa dan minta restu orang tua sebelum test CPNS nya ya. Kebetulan, dari sekian ratus ribu peminat CPNS, aku salah satu di dalamnya. Heheh. Aku ambil Kementerian Pertanian dengan jabatan sesuai bidang yang dulu kuambil saat kuliah. Dan sesuai dengan jadwal yang telah dikeluarkan oleh Kementan dalam websitenya, untuk wilayah DKI Jakarta, ujian dilaksanakan di gedung Auditorium Kementerian Pertanian tanggal 11-14 Februari 2020 menyusul lokasi lain yang sudah lebih dahulu melaksanakan ujian. Dan hari ini, Rabu 12 Februari 2020 adalah jadwalku dan ratusan peserta lainnya untuk ujian. Tulisan ini kubuat setelah mengambil tas dan keluar dari ruangan ujian. Dan sebagai peserta yang telah menyelesaikan tanggungjawabnya, lega ya tentu saja. Aku sudah melaksanakan tanggung jawabku untuk melakukan yang terbaik dala

Tak Perlu Dibedah, Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur Tawarkan Cara Singkat untuk Penanganan Penyakit Kardiovaskular

Dokter pemateri dan MC | Foto: Dokumen Pribadi Petang tadi, usai menghadiri sebuah acara dibilangan Alam Sutera, tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang Bapak paruh baya. Wajahnya sangat pucat dengan pergerakan sangat lambat. Saat itu kami sedang berada di kereta Commuter Line ke arah stasiun tanah abang. Bedanya, Beliau duduk, sementara saya dan penumpang lain berdiri. Sesaat sebelum turun, seorang Ibu yang berada persis di sisinya menuntun Beliau berdiri. “Tolong dikasih jalan ya Mas, Mba. Maaf, sakit jantung soalnya.” Tanpa perlu diminta, penumpang yang berdiri membentuk lorong kecil untuk Beliau berjalan tanpa halangan. Mungkin Beliau baru mendapatkan perawatan atau mungkin pasang ring jantung. Memang, tiap kali dihadapkan dengan penyakit yang terdengar sangat berbahaya ini, panik, hati-hati, ketakutan, cemas adalah sederet perasaan yang tak bisa dipisahkan. Dan itu wajar karena penderita penyakit jantung konon kapan saja bisa “lewat”. Tidak ada hati yang siap unt