Traveloka Paylater Dulu, Kondangan Kemudian

Akhinya bisa hadir di pernikahan sahabat | Foto: Dokpri


Hari itu rasanya seperti nano-nano, bapak yang sakit, laptop yang rusak, bos yang marah, kerjaan menumpuk, ngga sengaja dudukin bekas permen karet orang lain, terobati begitu saja ketika ponselku berdering dan nama sahabatku tertera di sana.

“Tanggal 23, gue ngga mau tau, pokoknya lo harus datang. Ajuin cuti dari sekarang!” katanya dari seberang.

Kesalku berangsung-angsur hilang saat pengumuman yang sangat penting itu disampaikan. Sahabatku, yang tahun 2020 lalu harus ikhlas kehilangan calon istrinya hanya berselang beberapa minggu dari tanggal pernikahan mereka, akhirnya kembali menemukan tempat berlabuh. Untuk selamanya.

Menahan air mata, aku mengucapkan selamat. Rasanya ingin memeluk, ikut bahagia dengan kabar baik ini, tapi memang untuk mewujudkannya saja, kami harus terlebih dahulu menyeberangi Selat Sunda.

Kabar baik dan buruk datang berbarengan memang bikin kebingungan

Kurasa kita sepakat kalau kebahagiaan sahabat adalah kebahagiaan kita juga. Bersamaan dengan itu, ada keinginan yang sangat tinggi untuk hadir dan menyaksikan langsung betapa bahagianya pernikahan mereka. Itu juga yang kurasakan.

Masalahnya adalah, kenapa semua datang di waktu yang sama ketika ketiganya sama-sama jadi prioritas?

Sebenarnya, bisa kok diberesin semua. Tapi kalau sudah bicara tentang biaya, ya, bikin pusing dan bingung juga.

Aku masih ingat jelas hari itu, baru pagi aku transfer nominal yang cukup banyak untuk tambahan biaya berobat Bapak. Siangnya aku harus berhadapan dengan laptop yang tak lagi kuasa diajak kerja sama alias memang sudah tua dan sudah semestinya “pensiun” dari tugas-tugasnya. Dan sekarang, pernikahan sahabatku!

Menurutmu, bagian mana dulu yang harus kuselesaikan?

Laptop untuk keberlanjutan karirku tentu saja, tapi pernikahan temanku juga sama pentingnya.

Bagi seorang Content Creator yang juga pekerja kantor, spek laptop tentu jadi salah satu perhatian utama. RAM tinggi, baterai yang tahan lama, berat ringan, dan sederet spesifikasi lain. Sudah jadi rahasia umum pula, semakin tinggi spesifikasi laptop yang sedang diincar, semakin tinggi pula harga yang harus dibayar.

Tapi karena memang perlu, ya mau ngga mau harus dijabanin toh?! Gimana mau kerja kalau laptop aja ngga punya?

Akhirnya, setelah berdiskusi cukup panjang dengan IT kantor, aku memutuskan membeli salah satu laptop yang kupikir cukup untuk menemaniku menyelesaikan tugas-tugas. Harganya jangan ditanya, sekitar Rp 7jt.

Bersisa seminggu dari tanggal pernikahan yang telah ditetapkan, cuti sudah di tangan, namun lagi-lagi otak harus diajak berputar untuk mencukupi biaya ke kondangan.

Pake baju yang mana? Mau ke Lampung pake apa? Mau kasih kado apa? Banyak banget yang harus disiapin, padahal gajian saja masih jauh dari mata.

Terpaksa ngutang

Dari dulu, dari duluuuu banget, salah satu pesan Mama sebelum aku pergi merantau adalah “sedikit cukup, banyak kurang” artinya, bila tidak bisa mengontrol keluar masuknya penghasilan, tak peduli sebesar apapun gaji, bisa saja kurang. Namun kalau bijak menggunakan, punya dana sedikit juga bisa kok dicukup-cukupin.

Bermodalkan pesan ini, aku memang lebih memilih menggunakan penghasilan sehati-hati mungkin agar semua tercukupi tanpa perlu ngutang sana sini.

Namun kali ini, karena semua hal datang bertubi-tubi di waktu yang sama dengan biaya yang tak terbilang murah, aku memutuskan membicarakan kekurangan biaya ini ke kakak.

Berdiskusi mencari solusi. Kasarnya sih ngutang. Tapi pas mau minta, bilangnya mau diskusi sebentar. Kuakui, selain saling meminjam pakaian, salah satu keuntungan memiliki kakak adalah bisa ngutang dalam kondisi tertekan.

Sebetulnya, ngutang itu bukan gaya hidupku. Tapi saat itu kondisinya berbeda, sedang kepepet dan benar-benar butuh.

Akhirnya beres juga

Setelah mendapatkan suntikan dana, akhirnya urusan pakaian kondangan beres juga. Tapi belum berhenti sampai di sana. Membandingkan biaya perjalanan adalah pekerjaan rumah berikutnya. Memilih apakah ingin lewat darat atau mau lewat udara jadi pertanyaan yang harus dijawab secepatnya. 

Bila ingin lewat darat, tiket bus saja mencapai Rp 300.000 belum biaya antigennya. Konsekuensinya adalah, kendaraan ini memakan waktu yang lebih lama di perjalanan. Harus juga menyeberangi Selat Sunda. Sementara bila menggunakan pesawat hanya butuh waktu kurang lebih 45 menit dari bandara Internasional Soekarno Hatta menuju bandara Internasional Radin Intan II di Lampung sana dengan harga tiket yang bahkan lebih murah sekitar Rp 20.000an dibandingkan harga tiket bus.

Ya, sebagian orang mungkin akan menyebutnya “hanya Rp 20.000”. Tapi penting jadi catatan bahwa bagi sebagian lagi, urusan 500 perak saja akan jadi perdebatan panjang. Jadilah aku memutuskan untuk mengambil perjalanan jalur udara lewat Traveloka.

Berselancar sebentar di aplikasi Traveloka, ternyata ada pula penawaran bundling tiket pesawat berikut hotel. Tentu, hitung-hitungan kembali berlangsung. Dan ya, setelah melakukan berbagai pertimbangan, aku memutuskan mengambil paket bundling dari Traveloka. 1 tiket pesawat dengan satu malam hotel bintang tiga di seputaran Tanjung Karang, Bandar Lampung.

Kupikir, pilihan ini juga akan memberiku waktu untuk menikmati waktu sendirian, bahasa bekennya sih me time, lewat staycation singkat ini.

Dan setelah melakukan pembayaran, akhirnya semua yang jadi beban pikiran beres juga. Ngutang dulu, kondangan kemudian. Heheh. 

Bertemu opsi pembayaran baru yang #JujurGunaBanget

Traveloka PayLater | Foto: Paylaterin.com

Nih, catatan untuk aku dan kalian apalagi yang udah jarang banget update hal-hal baru seputar perjalanan karena kerjaan. Sering-sering ngintip fitur terbaru deh dari aplikasi Online Travel Agent seperti Traveloka ini. Jadi kalau tiba-tiba dihadapkan pada situasi genting, ngga kudu malu minjem sana sini.

Aku juga mengetahui ini setelah melakukan pembayaran pesanan bundling tiket pesawat dan hotelku dari Traveloka. Coba saja dari dulu sudah tahu, ngga perlu melas-melas cuma buat minjam uang begitu.

Ternyata di Traveloka ada fitur PayLater, lho! Ada dua jenis, Traveloka PayLater dan PayLater Virtual Number. Keduanya sama-sama membayar dengan cicilan, hanya saja PayLater Virtual Number memudahkan pengguna untuk membayar belanjaanya tak terbatas di Traveloka saja, tapi bisa digunakan di berbagai e-commerce.

Traveloka PayLater adalah fitur yang disediakan oleh Traveloka bekerja sama dengan mitra penyedia pinjaman kepada pemilik akun Traveloka untuk pembelian produk mulai dari tiket pesawat, hotel, tiket bioskop, tiket atraksi, spa dan kecantikan atau merchant lain tertentu yang ditentukan oleh Traveloka secara angsuran lewat situs atau aplikasi Traveloka dengan bunga berkisar antara 2.25% - 4.80%

Sebagian orang mungkin akan beranggapan, wah ada bunganya nih. Ngga deh.

Tapi gini, dalam kondisi terdesak, dan butuh buru-buru, jujur guna banget pakai PayLater. Kenapa?

Seperti namanya bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia, ya bayarnya kemudian. Kamu bisa memenuhi kebutuhanmu meski dalam keterbatasan dana sekalipun lewat fitur PayLater ini.

Lho, kan, artinya ya sama-sama ngutang, tho?

Begini, dalam keadaan darurat, saat meminjam dana pada orang lain, mungkin kamu akan menerima penolakan, harus menahan malu, belum lagi hutang budi yang tak akan pernah habis. Iya bila pada akhirnya dikasih? Kalau sudah dipermalukan tapi tidak dikasih, bagaimana lagi?

Apakah ini berarti Traveloka menerima semua penggunanya saat mengajukan Traveloka PayLater?

Tentu tidak, ada sederet ketentuan juga yang harus kamu penuhi agar pengajuanmu diterima. Seperti:

  • Setidaknya kamu berumur 21 tahun hingga 70 tahun,
  • Memberikan data yang benar, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
  • Kamu juga harus terdaftar jadi pengguna di aplikasi Traveloka
  • Memiliki email dan nomor telepon yang masih aktif dan masih bisa dihubungi
  • Kamu juga adalah warga negara Indonesia yang dapat kamu buktikan dengan KTP
  • Menyiapkan dokumen seperti SIM, KK, kartu BPJS dan NPWP.

Kamu bisa menyiapkan data-data di atas terlebih dahulu bila ingin mengajukan Traveloka PayLater. Inget, bila data yang diminta tidak tersedia, atau berbeda-beda, bisa jadi pengajuan kamu ditolak. Jadi bila kamu sungguh-sungguh butuh, kamu juga harus membantu pihak Traveloka agar pengajuanmu lebih cepat diterima dengan menyediakan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dengan benar.

Selain ada saat dibutuhkan, ada sederet keunggulan lain dari Traveloka PayLater, yakni:

  • Proses pengajuan yang sangat mudah, cukup satu jam proses verifikasi saja
  • Limit besar dengan waktu pembayaran yang panjang yakni berkisar Rp 1 jt – 50 jt.
  • Bebas biaya admin
  • Tersedia pula PayLater Virtual Number untuk membayar kebutuhan kamu di luar Traveloka
  • Bunga yang cukup rendah
  • Terdapat berbagai diskon esktra PayLater
  • Memiliki fitur pengingat
  • Fitur ini tentu aman dan terpercaya untuk digunakan.

Catatan lainnya adalah, hindari menjadi pribadi yang kalap atau tidak bisa mengontrol diri setelah memiliki PayLater ini. Kamu bisa membatasi diri dengan beberapa cara seperti bayar tepat waktu, kamu juga perlu tahu bahwa Traveloka PayLater memiliki biaya keterlambatan saat tagihan tidak dibayarkan sesuai tanggal yang telah ditetapkan. Akibatnya ya tentu biaya pembayaran lebih tinggi.

Jujur guna banget pakai PayLater, sayangnya, banyak pengguna yang kurang bijak dalam pemanfaatannya sehingga pada akhirnya menjerumuskan dirinya sendiri soal pembayaran. Inilah yang menuntun pemikiran orang lain bahwa PayLater berbahaya. Yang bahaya bukan PayLaternya, tapi ketidakbijaksanaan si pengguna dalam mengelola dana.

Well, setelah tahu fitur ini, besok-besok ada acara apapun, pokoknya PayLater dulu, kondangan kemudian. PayLater dulu, healing kemudian.

Comments