Kenalan dengan Biofuel, Yuk!

Kenalan dengan biofuel, yuk 

Nama biodiesel, biofuel belakangan sering kedengeran. Tapi kalau mau jujur-jujuran, sebenernya pada ngerti ngga sih makna dari kata tersebut? Hehhe.

Apa sih biodiesel dan biofuel itu?

Kenapa sih namanya kayak nama artis yang lagi naik daun sampai sering banget diperdengarkan? Apa juga kepentingannya untuk kelangsungan hidup kita? Dimana kita bisa mendapatkannya?

Ada sederet pertanyaan panjang tentang nama ini yang harus dijawab. Apalagi kalau yang taunya hanya sepintas dan orangnya kepooo alias pingin tau banget, pasti nih pinginnnn banget dapet jawaban selengkap mungkin agar rasa penasaran dalam hati dan benaknya bisa terselesaikan.

Nah, kalau-kalau kamu belum kenal atau bahkan belum pernah dengar nama ini, jangan khawatir. Yuk, kita kenalan dulu dengan Biofuel.

Isi gelas lagi bareng EBS

Ngga henti-henti berbangga hati karena terpilih menjadi salah satu peserta dalam komunitas EBS. Dan ngga bosan-bosannya juga mau ngenalin komunitas ini, siapa tau di luar sana banyak yang bergerak lewat tulisan untuk isu-isu lingkungan tapi ngga tau mau mulai dari mana?

Coba pantau-pantau blog aku terus, siapa tau, lho, Blogger Perempuan Network membuka kembali pendaftaran Eco Blogger Squad tahun depan, dan siapa tau juga, kehadiran kami bisa menjadi wadah yang tepat untuk kamu bergabung dan menyalurkan kegundahan hati kamu tentang isu lingkungan yang sedang kamu soroti. Doakan saja. Semoga yaaa.

EBS atau Eco Blogger Squad adalah komunitas yang beranggotakan para Blogger yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup terutama perubahan iklim dan perlindungan hutan dan di komunitas ini, para Blogger bisa saling belajar tentang isu lingkungan hidup, meningkatkan berbagai keterampilan, berjejaring dengan Blogger lainnya dan tentu saja bersenang-senang.

EBS ini dibentuk oleh Blogger Perempuan Network dan tiap bulannya memang disiapkan topik-topik khusus. Sebagaimana namanya, topik yang disediakan juga ngga asal, tapi lebih fokus membahas tentang perubahan iklim, hutan dan topik-topik lain yang masih relevan dengan lingkungan.

Nah, tanggal 12 November lalu, topik yang diangkat adalah tentang si biofuel ini. Dan pemateri juga berasal dari lingkungan yang memang berkompeten untuk membahasnya.

Biar ngga lama-lama, sebelum kenalan sama biofuelnya, kuy kenalan dulu sama pematerinya.

Pembicara:

  1. Ricky Amukti selaku Engagement Manager Traction Energy Asia
  2. Kukuh Sembodho selaku Program Asisten Biofuel Yayasan Madani Berkelanjutan

Traction Energy Asia adalah lembaga self independent yang berfokus pada isu transisi menuju energi bersih dan terbarukan yang berbasis di Indonesia dengan fokus regional di seluruh Asia. Sedangkan Yayasan Madani (Manusia dan alam untuk Indonesia Berkelanjutan, adalah lembaga nirlaba yang berupaya menjembatani hubungan antar pemangku kepentingan yakni Pemerintah, Sektor swasta dan masyarakat sipil untuk mencapai solusi inovatif terkait tata kelola hutan dan lahan.

Kenalan dengan biofuel

Biofuel atau Bahan Bakar Nabati (BBN) adalah bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan nabati dan/atau dihasilkan dari bahan-bahan organik lain, yang ditataniagakan sebagai Bahan Bakar lain (Permen ESDM 25 tahun 2013). Namun kalau versinya Aman Kotahari & Sarbjeet Singh Gujral 2013, BBN ini dihasilkan dari fiksasi karbon biologis.

Sederhananya, BBN ini adalah sebuah konsep yang dihadirkan untuk mendekarbonisasi bahan bakar dengan cara mengurangi ketergantungan dari bahan bakar minyak yang tidak dapat diperbaharui. Konsep ini diterapkan untuk menggeser penggunaan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui menjadi bahan bakar yang dapat diperbarui.

Oh iya, biar ngga nambahin PR, wkwkw, dekarbonisasi adalah proses pengurangan emisi karbon ke atmosfer, terutama Karbon Dioksida (CO2). Pelaksanaannya sendiri dilakukan untuk mencapai ekonomi global rendah emisi dan mencapai netralitas iklim melalui transisi energi.

Sudah hadir sejak tahun 80-an

BBN diklasifikasikan dalam tiga generasi

  1. Generasi pertama: BBN yang berasal dari tanaman pangan sebagai turunan pertama seperti sawit dan jagung. Bahan ini kemudian diekstraksi dan disebut sebagai biodiesel
  2. Generasi kedua: BBN juga masih bersumber dari tanaman pangan, namun pemanfaatan dari limbah atau sisa dari generasi pertama seperti bonggol jagung, sekam padi, dan lain-lain. Generasi kedua ini ngga mlulu dari tanaman pangan, bisa juga dihasilkan dari jerami, kayu dan rumput.
  3. Generasi ketiga: Bersumber dari microalgae, rumput laut dan sejenisnya.

Sebetulnya, BBN ini sudah hadir sejak tahun 80-an di, namun di Indonesia sendiri, konsep BBN baru muncul tahun 2006 dengan inisiasi Program BBN lewat KEN (Kebijakan Energi Nasional) yang tercantum dalam Inpres 1/2006 dan Timnas BBN.

Harapannya, dengan dibuatnya konsep BBN ini, kita memiliki tak hanya Bahan Bakar Minyak atau Bahan Bakar Fosil, tapi kita juga memiliki bahan bakar yang bersumber dari Nabati.

Selanjutnya, tahun 2008 dibentuklah roadmap BBN. Di tahap ini, mulailah didiskusikan siapa saja pengguna BBN dan apa saja kewajiban pembauran energi untuk kendaraan dengan klasifikasi tertentu. Di tahun ini juga ditargetkan secara bertahap mencampurkan BBM dengan BBN dari  B1 hingga B100 atau sepenuhnya beralih ke BBN.

Di tahun 2015, ditargetkan B30 tuh lewat Permen ESDM No.12 tahun 2015. Misalnya: dalam 100 L BBM, akan ada 70L BBM dan 30L BBN. Tapi memang untuk mencapai pembauran energi ini, butuh waktu dan penelitian secara detail dan bertahap.

Lalu di tahun 2016, hadirlah Dokumen NDC (Nationally Determined Contributions) Indonesia yang Pertama. Dokumen NDC ini merupakan komitmen iklim yang dideklarasikan secara nasional oleh suatu negara untuk ikut serta dalam penurunan emisi global. Dokumen ini kemudian diupdate di tahun 2021 dan akan terus diupdate setiap 5 tahun sekali.

Kehadian BBN: Keamanan Energi atau Komitmen Iklim?

Kehadiran BBN yang semula tujuannya untuk mengurangi emisi karbon, kini mendapatkan pertanyaan baru. Apa nih tujuan BBN di Indonesia? Untuk mencapai komitmen iklim Indonesiakah ? Atau sebagai komoditas untuk mengamankan energi nasional?

Jawabannya, ya keduanya!

Gini-gini, kebijakan BBN nasional itu selalu mengalami perkembangan sejak awal dibentuk sampai saat ini.

  1. Pada PP No 5 tahun 2006 disebutkan, BBN ini dibentuk untuk memenuhi kebutuhan energi Nasional
  2. Dalam Rencana Umum Energi Nasional disampaikan secara eksplisit bahwa BBN ditujukan untuk mencapai kemandirian energi. Indonesia dulunya dikenal sebagai produsen minyak yang cukup banyak, namun kini terdapat penurunan produksi minyak bumi di Indonesia yang menyebabkan negara kita kini menjadi nett importer atau bisa mengimport lebih dari yang kita bisa kita eksport. Dampaknya adalah munculnya kekhawatiran terjadinya fluktuasi harga minyak yang kemudian berpengaruh terhadap kestabilan harga di dalam negeri. Untuk itu, Menteri ESDM dan Pemerintah saat itu mencanangkan kebijakan BBN ini sebagai alternatif atau sebagai strategi untuk mengamankan energi nasional agar ketika harga minyak dunia naik, negara kita tak terlalu terdampak. Sayang, dalam perkembangannya, terdapat updated NDC dan LTS-LCCR. Perubahan ini membuat BBN yang semula ditujukan untuk keamanan energi, kini berubah menjadi strategi komitmen iklim di Indonesia.

Dua sisi mata pisau kehadiran BBN di Indonesia

Tahu ngga sih penyumbang gas rumah kaca (GRK) di Indonesia siapa aja?

Kalau mengambil data dari KLHK, penyumbang GRK di Indonesia dipegang oleh sektor Folu atau lahan. Penyebabnya seperti deforestasi, kebakaran hutan, alih fungsi lahan dan lain-lain. Lalu diikuti sektor energi. Di sinilah BBN berperan sebagai strategi komitmen iklim. BBN ini digunakan untuk mengurangi emisi di sektor transportasi.

Namuuuun, kehadiran BBN seperti dua mata pisau nih di Indonesia.

Di satu sisi, dia berfungsi untuk mengurangi emisi nasional, di sisi berbeda, untuk bisa mencapai penggunaan biofuel B100, tentu dibutuhkan lebih banyak lagi lahan sawit baru untuk memproduksi bahan dasar pembuatannya.

Produsen kelapa sawit tentu mencium kebutuhan ini dan siap-siap untuk memproduksi demi pemenuhan kebutuhan biofuel.

Nah, ini jadi sorotan berbagai pihak juga. Seperti menurut Rahmadi Arie, Aye, Lu, Moore, Graham pada 2013, untuk memenuhi target 5% kontribusi BBN terhadap campuran bauran energi nasional pada tahun 2025, terdapat potensi kebutuhan tambahan lahan seluas 5,15jt Ha Lahan.

Sedangkan menurut LPEM UI, diperlukan sekitar 338rb Ha lahan sawit baru untuk skenario B20 di tahun 2025, dan kebutuhan tersebut akan terus meningkat bagi B30 dan B50 menjadi 5,2jt Ha dan 9,2Jt Ha di tahun yang sama.

Koaksi ikut bersuara dengan menyebutkan seluas 3,78jt Ha lahan sawit baru dengan skenario B100 pada 2025. Sedangkan IESR menyebutkan terdapat kebutuhan lahan sawit baru seluas 20,4-22,8jt ha dengan skenario B30-B50 pada tahun 2024.

Kalau produksi biofuel bisa dengan menggunakan turunan generasi pertama, lho, kenapa harus pake sawit segala?

Dibandingkan dengan solar biasa, biodiesel kelapa sawit dapat memperbaiki emisi HC (Unburned Hydrocarbons) sebesar 20%, Karbon Monoksida (CO) sebesar 25%, dan Particular Matter (PM) sebesar 43% untuk skenario B100.

Namun, biodiesel sawit diperkirakan meningkatkan emisi Nitrogen Oksida sebanyak 0,8% setiap 10% bauran dibandingkan dengan solar biasa, baik pada mesin kendaraan lama maupun baru dan efeknya lebih terasa pada kendaraan baru dan bahan bakar dengan kandungan sulfur rendah (ICCT, 2021).

Karenanya, ditentukanlah kebijakan BBN dan Komitmen Iklim lanjutan. Keselarasan BBN dengan komitmen iklim tidak hanya dilihat dari apakah BBN dalam penggunaannya menghasilkan lebih banyak atau sedikit emisi. Pertimbangan lainnya adalah deforestasi sebagai dampak dari pengembangan BBN juga harus diperhatikan dalam menganalisis apakah kebijakan BBN sejalan dengan komitmen iklim Indonesia.

Uni Eropa bahkan menganggap apabila biodiesel yang terbuat dari kelapa sawit, dalam praktiknya memproduksi tiga kali lipat GRK yang dikarenakan oleh deforestasi dan kerusakan lahan gambut (Keating, 2018). Hmmm, jadi galau yaa.

Eh, belum selesai sampai di sana. PT Pertamina sebagai BUMN pelaksana mandatori biodiesel juga belum mewajibkan pemasoknya memiliki sertifikasi keberlanjutan.

Pra syarat bila ingin BBN menjadi bagian dari strategi komitmen iklim di Indonesia

1. Diversifikasi feedstock

Diversifikasi atau penganekaragaman produk dengan unsur yang mirip, diharapkan mampu menekan demand terhadap kelapa sawit. Dengan begitu, skenario pembukaan lahan untuk pemenuhan bahan baku biodiesel dari kelapa sawit dapat diminimalisir.

Diversifikasi ini juga penting, sebab bila Indonesia dapat mengoptimalkan penggunaan feedstock non pangan, kita juga dapat meminimalisir dilema food vs fuel. Biar ngga bingung, sederhananya, kelapa sawit tuh mau kita pake buat minyak goreng apa  bahan bakar nih? Hehhe

2. Peningkatan produktivitas feedstock

Kelapa Sawit memang komoditas yang paling masuk akan untuk dijadikan feedstock karena jumlahnya yang banyak dan sangat mudah untuk didapatkan. Sayangnya, produktivitas lahannya masih sangat rendah.

Jadi daripada membuka lahan baru, dibutuhkan inovasi gimana caranya meningkatkan produktivitas feedstock lewat transfer informasi, pengetahuan, dan teknologi untuk memenuhi permintaan kelapa sawit,

3. Peningkatan ketelusuran feedstock

Kita perlu memastikan bahan baku yang didapatkan tidak menimbulkan emisi lebih besar daripada yang bisa kita hemat dari melakukan pembakaran.

Apa yang bisa kita lakukan?

Dalam Permen ESDM Nomor 12 tahun 2015 sudah ditetapkan Pentahapan Kewajiban Minimal Pemanfaatan Biodiesel (B100) Sebagai Campuran Bahan Bakar Minyak seperti tabel di bawah ini:

Pentahapan Kewajiban Minimal Pemanfaatan Biodiesel (B100) Sebagai Campuran Bahan Bakar Minyak

Untuk mencapai penggunaan biofuel sebagai komitmen iklim sekaligus menjaga keamanan energi, langkah paling pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melibatkan Pekebun Sawit Mandiri dalam rantai pasok biodiesel.

1. Petani sawit mandiri dalam rantai pasok biodiesel

Sebelum membahas solusi lain lebih jauh, yuk, ketahui dulu rantai pasok Tandan Buah Segar (TBS) dari Petani ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Menurut data dari BPDPKS & P2EB UGM, kondisi rantai pasok TBS dari petani ke PKS saat ini sangat bervariasi dan panjang hingga akhirnya mengurangi keuntungan petani swadaya. Untuk itu, upaya perbaikan dalam rantai pasok ini, memang sangat diperlukan.

Rantai pasok TBS dari petani ke PKS 

Dengan begitu pekebun sawit mandiri bisa menjadi bagian dari rantai pasok diesel. Untuk apa? Ada beberapa keuntungan bila pekebun sawit mandiri menjadi bagian dari rantai pasok diesel, yakni:

  1. Pekebun sawit mandiri menguasai 40% dari total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
  2. Memasukkan pekebun sawit mandiri dalam rantai pasok produksi biodiesel akan membantu meningkatkan kesejahteraan dan memberantas kemiskinan
  3. Langkah ini juga dapat mengurangi risiko deforestasi dan menjaga hutan alam yang tersisa
  4. Menggunakan TBS kelapa sawit yan dihasilkan dari lahan pekebun sawit mandiri dapat mengurangi emisi dari keseluruhan daur produksi biodiesel.

 2. Penggunaan minyak goreng dan minyak jelantah untuk biodiesel

Mau tau funfact yang mencengangkan ngga? Ciaa, sengaja, biar ngga tegang!

Berdasarkan data konsumsi minyak goreng di Indonesia tahun 2019, ada sebanyak 13jt ton atau 16,2jt kilo liter minyak goreng. Dari angka ini, berpotensi menghasilkan biodiesel sebanyak 3,24jt kilo liter dengan konversi 5 liter minyak jelantah menjadi 1 liter biodiesel.

Nah, masih di tahun yang sama, dari angka sebanyak yang telah disebutkan di atas, hanya 3jt kilo liter minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan di Indonesia dengan 1,6jt kilo liternya berasal dari rumah tangga perkotaan besar.

Pertanyaannya, bila hanya kurang dari 18.5% sisa konsumsi minyak goreng yang dapat dikumpulkan sebagai bahan minyak jelantah, kemana 81,5% lainnyaaa?

Sayangnya lagi, berdasarkan data yang diolah dari TNP2K. Traction Enery Asia, 3jt KL minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan tersebut juga masih dipecah lagi penggunaannya dengan data sebagai berikut:

  • 148,38 rb ton atau setara 184,09rb KL untuk diekspor (Sumber data BPS, 2019)
  • 1,95jt ton atau 2,43jt KL digunakan sebagai Proxy data GIMNI 15-20% dari total market share minyak goreng
  • Dan hanya kurang lebih 570rb KL yang digunakan sebagai biodiesel dan pemanfaatan lainnya

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai biodiesel menawarkan harga yang kompetitif dibandingkan penggunaan kelapa sawit. Selain itu, kita juga telah berhasil menghindari pembukaan lahan sekitar 939-1,5jt Ha. Artinya, bila hal ini dimaksimlkan, kita tak hanya berhasil mengurangi emisi dari sektor transportasinya tapi juga dari sektor pertaniannya. 

Potensi penurunan Emisi GRK Biodiesel vs target fuel switching dalam NDC

Pemanfaatan ini juga tentu menjadi lebih maksimal karena sudah terlebih dahulu menyelesaikan “tugasnya” sebagai bahan pangan yakni sebagai minyak goreng, lalu kemudian diolah menjadi bahan baku pembuatan biodiesel. Menarik bukan?

Tentu yang jadi pertanyaan seperti biasa adalah, kita sebagai orang awam, kontribusi apa nih yang bisa kita lakukan untuk membantu supply minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel?

Langkah paling sederhana bisa kita lakukan dengan tidak membuang minyak jelantah. Lalu bicara tentang pemanfaatan sosial media, bisa deh main-main ke IG dan cari #minyakjelantah. Di hastag tersebut, ada sekitar 14rb postingan yang memberikan edukasi pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk baru termasuk pembuatan biodiesel di dalamnya, juga jual beli minyak jelantah di berbagai kota-kota besar di Indonesia. 

Bila di kotamu belum ada, mungkin kamu bisa jadi penggerak jual beli minyak jelantah sebagai bahan biodiesel ini ya. Bukan untuk minyak goreng daur ulang, lho! Hehhe. 

Comments

  1. Gegara Mbak Efa bicara tentang minyak jelantah di Instastory beberapa hari yang lalu, aku jadi curhat di Story-ku sendiri bahwa aku juga kepingin menyumbangkan minyak jelantah.

    Eh eh, kemudian teman-temanku mengaku via japri bahwa mereka selama ini udah berusaha menyumbangkan minyak jelantah ke pengepul di kota mereka (banyak ya ternyata?). Sayangnya produksi masing-masing rumah tangga temenku ini baru sedikit, paling banter ya 2 liter per 4 bulan. Padahal para pengepul itu minta donatur menyumbangkan minimal 5 liter untuk bisa diambil.

    Aku rasa populasi yang baru bisa signifikan untuk menyumbangkan minyak jelantah ini adalah pengusaha makanan yang memang lini bisnisnya adalah jualan goreng-gorengan. Kalau rumah tangga, mungkin donasinya akan lambat.

    Tapi sangat menyenangkan bisa menyadari bahwa rumah tangga bisa berkontribusi untuk menghasilkan biofuel meskipun baru bisa sedikit-sedikit. :)

    ReplyDelete
  2. Wah saya baru tahu nih kalo blogger perempuan punya komunitas Eco Blogger Squad. Menarik juga ya. Dan ngomongin soal minyak jelantah saya bersyukur udah menemukan salah satu organisasi yang menerima sisa minyak jelantah untuk didaur ulang. menjadi produk baru seperti sabun atau bahan baku biodiesel.

    ReplyDelete
  3. Halo kak,
    Menarik banget nih pembahasannya meski banyak istilah yang bikin aku serasa balik lagi ke bangku kuliah, hehehe. Semacam recall memori karena dulu aku pernah belajar tekhnik lingkungan dan soal energi terbarukan juga pernah belajar. Yang paling bikin concern aku sih soal kelapa sawit yang jadi alternatif, meski segalanya mudah tapi hutan kelapa sawit ini menyebabkan struktur tanah berubah dan kalau ditanam dalam jangka waktu lama sulit untuk ditanami tanaman lain. Belum termasuk perkara alih fungsi lahan untuk kelas sawit kan, biodiversity hutan udah pasti hilang. Jadi bener kata kakak, ibarat pisau bermata dua. Dicari alternatif lain mungkin ya yang lebih aman seperti minyak jelantah. Aku baru denger loh inovasi ini dan ini bagus banget. Kalau informasi terkait hal ini menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, dengan berbagai macam metode agar masyarakat mau menyumbang minyak jelantah, maka bukan hanya perkara energi yang terbarukan bisa dicicil terselesaikan tapi juga kesehatan masyarakat. Makanan yang digoreng pakai minyak jelantah apalagi yang entah keberapa belas kali dipakai kan gak sehat banget, hehe

    ReplyDelete
  4. wow interesting banget untuk urusan ecology ini. Apalagi yang namanya minyak jelantah alias minyak bekas, aku belum punya metode yang tepat. Setiap kali hanya buang. Pengin belajar untuk jadikan sesuatu yang berguna. Boleh tolong share kalo ada yang bisa saya lakukan.

    ReplyDelete
  5. duh pingin ikut gabung Eco Blogger Squad

    BBN sebagai EBT emang maju kena mundur kena

    karena pemilihan BBN akan menyebabkan alih fungsi lahan

    sementara manusia butuh lahan untuk pangan, papan dan pastinya lingkungan nyang berkelanjutan

    ReplyDelete
  6. Wahh ternyata biofuel ini sudah lama ada ya mbak
    harusnya sudah makin banyak digunakan ya mbak
    biar lebih ramah lingkungan

    ReplyDelete
  7. Biofuel nih ramah lingkungan ya ternyata bisa donk jadi pengganti bensin ya..harusnya sih disosialisasikan dan diperbanyak ya biofuel nya

    ReplyDelete
  8. Waduh, kalau butuh lahan sawit seluas itu, ya ngeri juga ya. Meanwhile sekarang aja udah banyak banget alih fungsi lahan hutan jadi perkebunan sawit. Efeknya daerah hulu kurang bisa menyerap hujan. Apalagi kalau sampai makin banyak hutan ditebang nih.

    ReplyDelete
  9. Biofuel ini udah sering ku denger juga, cuma masih butuh terus edukasi ke masyarkat agar megingatkan kembali, seperti halnya mulai dari kecil aja di rumah penggunaan minyak jelantah tadi. MAsih sering abai dan dibuang (akuu) ternyata memang ada manfaatnya sebagai salah satu bahan baku biodesel. Mau kepoin ah hesteknya, biar biasdisalurkan kemana gituu...

    ReplyDelete
  10. wow, ternyata sawit ini mengancam juga ya, memang semua ekosistem di bumi ini harus seimbang biar hidup lebih aman :) semoga biofuel benar-benar bisa dikembangkan maksimal ya

    ReplyDelete
  11. Keren nih para squad lingkungan hidup ini. Moga dg banyaknya pasukan bisa berkontribusi positif untuk mmencegah kerusakan lingkungan. Yuk mari kita manfaatkan biofuel

    ReplyDelete
  12. Wah teryata penyumbang GRK di Indonesia itu ya deforestasi, kebakaran hutan, alih fungsi lahan dan lain-lain ya mba. Aku baru tahu. Harus banyak pelajari informasi seperti ini :)
    Makasih informasinya

    ReplyDelete
  13. Mba jujur aku baru tahu tentang Biofuel ini loh. Apalagi sekarang ada EBS ya, makin banyak ilmu soal lingkungan juga ya.

    ReplyDelete
  14. Sejalan juga, Fa, di tempat daku minyak jelantah tidak dibuang, dikumpulkan yang nantinya akan diolah. Yuk semangat jaga lingkungan

    ReplyDelete
  15. Bari tau ada eco blogger squad di blogger perempuan. Asyik nih kayaknya ikutan gabung.

    Btw soal minyak jelantah selama ini aku buang aja, ternyata bisa dimanfaatkan juga ya. Makasih infonya mba, nanti aku cari info di kotaku yang bisa menampung minyak jelantah dan mengolahnya kembali.

    ReplyDelete

Post a Comment