Persiapan Memasuki Dunia Pernikahan Dimulai dari Diri Sendiri

Ilustrasi pernikahan | Sumber foto: Freepik

Beberapa bulan terakhir, orang tua kian gencar memintaku agar lekas-lekas menikah. Cara penyampaiannya sebetulnya baik-baik saja, namun tidak bisa dipungkiri, permintaan ini cukup menganggu. Padahal, belum lama juga kusampaikan bahwa hubunganku yang telah berjalan selama 7 tahun baru saja kandas. 

Ada perasaan duka karena tidak bisa segera memberikan apa yang Beliau pinta, pun luka karena aku harus kembali mengingat hubungan yang telah berakhir itu, ditambah pula tekanan sekaligus fakta bahwa aku harus kembali memulai pencarian calon pasangan hidup. Kalau kata Pertamina "Dimulai dari 0, ya"

Memang, di umur yang tak lagi muda-muda amat ini, bukan hal yang mustahil memulai kembali sebuah hubungan, tapi ya, ada semacam trauma dan ketakutan akan bayang-bayang kegagalan yang mungkin terulang di kemudian hari. Meski sebetulnya, persentase gagal dan berhasilnya itu sama 50% - 50%

Males juga saling mengenal lagi dari 0. Beradaptasi kembali dengan orang-orang dan lingkungan baru. Belajar mengenal lagi tentang pribadi si orang baru. Cape aja gitu. Tapi kalau mau bablas nikah tanpa mengenal sedetail-detailnya orang tersebut, lebih repot lagi, karena taruhannya adalah masa depan kita. Bayangin kalau main nikah aja, eh tau-tau setelah menikah jadi korban KDRT? Duhhh, amit-amit!

Tapi kalau balik lagi sama yang lamaaa, hmmm, jangan deh. Karena bila semua ternyata baik-baik saja, tidak akan ada kata berpisah.

Pertanyaan "Kapan Menikah" pada mereka yang sedang dalam penantian, adalah luka

"Kapan nikah?" 

"Kapan nih nyusulin temen-temennya ke pelaminan?"

Pertanyaan-pertanyaan yang senada dengan ini sudah jadi makanan sehari-hari bagi kaum yang lahir di tahun 85-90an. Terlalu sering dilontarkan. 

Saking seringnya, yang tadinya kesel dengernya, kadang justru diketawain saja. Tapi tak bisa dihindari, mood yang sewaktu-waktu berubah seiring dengan aktivitas, ada kalanya terbawa suasana juga. 

Pernah di satu kondisi, suasana hatiku sedang kurang bagus. Dan tiba-tiba, ada chat masuk ke wa yang setelah basa basi pendek, dia menanyakan kapan aku menikah. 

Saat itu, tanpa berpikir panjang aku membalas dengan kalimat "Kayak lo mampu dateng aja kalau gue undang". 

Dan si orang tersebut langsung meminta maaf dan mendoakanku agar selalu sehat. 

Tak lama, setelah hatiku cukup tenang, aku kembali membaca chat tersebut. 

Salah memang, karena aku tahu persis bagaimana kehidupan mereka. Dan kurang elok bila aku menyampaikan hal tersebut pada orang yang secara finansial (maaf) masih jauh dari cukup. 

Tapi dia juga perlu tahu, bahwa hidup ini dua sisi. 

Bila tak ingin mendapatkan perkataan tidak sesuai di hati, sebaiknya dijaga juga ucapan yang ingin disampaikan pada orang lain. 

Dan bila mereka beranggapan pertanyaan ini bertujuan untuk mengingatkan, percayalah heiii, tanpa diingatkanpun, aku tahu persis apa yang harus dilakukan. 

Siapa sih yang ngga mau menikah? Ada mungkin satu dua orang, tapi kebetulan orang tersebut bukan aku. Aku juga punya keinginan untuk menikah, hanya belum dipertemukan dengan orang yang tepat saja. 

Bila pertanyaan kapan menikah itu ditujukan sebagai ajang bercandaan, tolong pastikan kembali sedekat apa kita satu sama lain untuk bercanda sejauh itu. Bila kamu sadar bahwa hubungan pertemanan kita tak cukup dekat, tidak perlu tanyakan. Bagian dari hidupku bukan ajang bercandaan. Cukup doakan. 

Karena sebetulnya, pertanyaan yang kalian lontarkan itu adalah luka bagi kami yang juga dalam penantian. 

Sama seperti mempertanyakan kapan punya anak pada mereka yang sudah menikah bertahun-tahun, sangat berharap untuk memiliki momongan, lalu ditanyakan pertanyaan seperti itu. Atau bertanya kapan kerja pada mereka yang sedang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan sampai nangis diam-diam di setiap doanya. Pertanyaan itu jahat!

Sedih! Luka! Tak perlu tanya, cukup doakan saja. 

Waktu Tuhan, bukan waktu kita

Saat melihat teman-teman seumuran satu per satu telah melangkah dalam dunia baru, dunia perkawinan, memang rasanya campur aduk. 

Bahagia, pun bertanya-tanya, "Tuhan, aku kapan, ya?" Atau "Apakah nanti orang-orang akan sebahagia ini saat di pernikahan ku nanti?"

Bagi kamu yang punya pertanyaan yang sama pada Tuhan atau Allahmu, yuk belajar percaya, bahwa rencanaNya jauh lebih indah dari apa yang kita minta. Dan jauh lebih menakjubkan dari apa yang pernah kita pikirkan. 

Perlu diingat juga, Tuhan punya waktunya sendiri untuk setiap ciptaanNya. Waktu untuk "datang", "pulang", rejeki yang manis, cobaan terburuk, sampai jodoh yang memang telah ditakdirkan untuk kita, tugas kita hanya meminta, berusaha lalu menunggu sembari memantaskan diri. 

Persiapan pernikahan dan evaluasi diri

Buat temen-temen yang dalam penantian seperti aku, pernah ngga sih terlintas dalam benak, kok gue belum dikasih jodoh ya? 

Pertanyaan ini bolak balik muncul dalam hatiku, sampai aku ada di satu kondisi, semacam mode silent ya, dan bicara dengan diri sendiri, mencari jawaban dari hati.

Ketemunya begini, 

Ada masa-masa aku marah di kondisi tertentu, ada masa aku juga tak peduli dengan situasi tertentu yang sebetulnya penting banget, ada masa aku geleng-geleng ngeliat anak kecil yang jejingkrakan karena orang tuanya tidak memberi apa yang dia mau. Pernah juga aku bertanya pada diri sendiri, bila ternyata setelah menikah suami tidak memberi izin untuk bekerja, bagaimana? Dan jujurly ya aku ngga siap sih kalau jadi ibu rumah tangga aja. Belum lagi kalau ngeliat satu keluarga yang sering cekcok. 

Banyak titik temu yang akhirnya aku dipertemukan dengan jawaban oh, ya kayaknya emang gue belum siap nih mau nikah. Mungkin titik-titik ini dulu yang harus gue lengkapin, gue tarik jadi garis lurus satu per satu. Gue benahi diri gue, gue lengkapin baik fisik, mental, finansial gue. 

Mungkin nanti, bila aku sudah sungguh-sungguh siap, Tuhan akan pertemukan dengan sosok laki-laki yang saat ini, mungkin juga sedang mempersiapkan diri untuk Tuhan pertemukan denganku. 

Orang bilang, ya jangan menunggu siap baru nikah. Ngga akan siap-siap. Nikah aja dulu, jalanin aja dulu, lalu beradaptasi. 

Memang, masing-masing orang punya prinsip dan ketentuan untuk dijalani. Ucapan mereka itu ngga salah, tapi bila pemikiranku bertolak belakang dengan ucapan tersebut juga ya, sah-sah saja. 

Bagiku, kesehatan fisik, mental, finansial, serta beberapa pengetahuan umum perlu dipersiapkan sebelum memasuki dunia pernikahan karena yang terlibat tak hanya dua orang yang akan menikah, tapi seluruh keluarga besar yang mungkin bila dihitung jari tidak akan cukup. 

Sebagai contoh, girls, tahukah kamu kalau seorang ibu hamil perokok pasif karena memiliki suami atau keluarga perokok aktif berpotensi melahirkan bayi dengan penyakit kelainan jantung bawaan? Atau setidaknya mengenal tentang istilah stunting yang bisa terjadi pada seorang bayi?

Menurutku hal seperti ini penting untuk diketahui di awal-awal pernikahan, dengan begitu, kita sebagai pasangan baru, bisa membuat persiapan sedini mungkin dan memberi perhatian yang terbaik untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan pada calon sibuah hati. 

Kalau menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, ada setidaknya 10 dimensi kesiapan berkeluarga untuk calon pasangan pengantin:

  1. Kesiapan usia
  2. Kesiapan fisik
  3. Kesiapan mental
  4. Kesiapan finansial
  5. Kesiapan emosi
  6. Kesiapan sosial
  7. Kesiapan moral
  8. Kesiapan interpersonal
  9. Keterampilan hidup, dan
  10. Kesiapan intelektual.
Dan setelah dipikir-pikir, dari 10 dimensi kesiapan berkeluarga ini, masih banyak banget yang harus kubenahi. Wwkwkw. 

Calon pasangan pengantin juga dipermudah untuk mengecek kembali kesiapan memasuki dunia pernikahan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan menghadirkan https://siapnikah.org/ yang bisa diakses untuk mengetahui sejauh apa calon pengantin siap untuk membangun rumah tangga baru. 

Menurutku, link ini juga cukup membantu kita ngelist hal-hal apa yang perlu banget kita perbaiki, atau sesuaikan dengan calon pasangan agar kelak tercipta keluarga baru yang harmonis dan siap mengarungi berbagai rintangan rumah tangga baik suka maupun dukanya. 

Dan terakhir, pastikan menikah setelah memiliki kesiapan dari dalam diri, bukan karena paksaan dari berbagai pihak dari luar sana, termasuk orang tua. Karena pada akhirnya, yang menjalani pernikahan itu adalah kita sendiri. 

Comments