Pandemi Dan Deforestasi

 

Sumber foto: liputan6.com
Sumber foto: Liputan6

Sebelumnya, selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk kita semua. Bagi kamu yang belum tahu setiap tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Sejarah dibalik hadirnya hari lingkungan hidup sedunia
Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day merupakan salah satu acara tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh PBB untuk membangkitkan kesadaran tentang pentingnya alam dan penghijauan.

Majelis PBB menetapkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tahun 1972, yang merupakan hari pertama konferensi Stockholm tentang lingkungan manusia.

Meski ditetapkan pada tahun 1972, Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebetulnya pertama kali dirayakan pada tahun 1974 dengan mengangkat tema "Hanya Satu Bumi" yang pertama kali dirayakan di Amerika Serikat. Sejak itu, berbagai negara tuan rumah telah merayakannya, dan ide untuk memutar pusat kegiatan ini pun dimulai.

Gagasan utama dibalik perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini adalah untuk menyoroti pentingnya lingkungan dan mengingatkan orang-orang bahwa alam tidak boleh dianggap remeh.

Dengan menghadirkan perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PBB berharap momen ini dapat memberi kesempatan pada orang-orang untuk memperluas dasar bagi opini yang tercerahkan dan perilaku yang bertanggung jawab oleh komunitas, perusahaan, dan individu dalam melestarikan lingkungan.

Kembali tentang perayaan pertama kali Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diadakan di Amerika Serikat. Tahun ini tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah "Restorasi Ekosistem".

Eco Blogger Squad dan perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Sumber foto: http:www.anabutarbutar.com

Bila dunia membuat perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema Restorasi Ekosistem, maka Eco Blogger Squad bersama dengan beberapa organisasi non pemerintah turut merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan mengangkat topik "Cegah Karhutla, Cegah Pandemik."

Siapa saja sih organisasi non pemerintah yang dimaksud?

1. Yayasan Auriga Nusantara
Adalah sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak dalam upaya melestarikan sumber daya alam dan lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Dan demi mencapai tujuannya, Auriga terus melakukan penelitian investigasi, mendorong perubahan kebijakan untuk tata kelola sumber daya alam dan lingkungan yang lebih baik, serta melakukan advokasi melalui mekanisme pupuk.

2. Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI)
ASRI merupakan sebuah organisasi nonprofit yang menggabungkan program kesehatan dan lingkungan sebagai konsep utama dalam pelayanannya kepada masyarakat dalam upaya perlindungan taman Nasional.

Tahun 2007, ASRI membuka klinik untuk memberikan pelayanan berkualitas dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat sehingga masyarakat tidak perlu memilih antara kesehatan atau hutan.

klinik ASRI ini merupakan satu-satunya klinik di Indonesia atau bahkan mungkin di dunia yang menerima pembayaran dengan menggunakan bibit pohon. Keren ngga sih?

3. Blogger Perempuan Network (BPN)
BPN merupakan sebuah platform digital dimana seluruh perempuan di Indonesia bisa saling belajar, menceritakan, dan menginspirasi satu sama lain melalui konten.

Komunitas ini sudah berkembang dengan sangat pesat sejak 2015 dan menjadi komunitas Blogger terbesar di Indonesia.

4. Eco Blogger Squad
Tentu saja kami, yang merupakan sebuah komunitas yang beranggotakan para blogger yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup terutama perubahan iklim dan perlindungan hutan.

Di sini, kami dapat belajar tentang berbagai isu lingkungan, meningkatkan berbagai keterampilan, berjejaring dengan blogger lainnya, dan bersenang-senang.

Cegah Karhutla, Cegah Pandemi
Sebelum jauh membahas tentang kebakaran hutan dan lingkungan serta korelasinya dengan pandemi, aku ingin mengajak teman-teman pembaca untuk memosisikan dan membayangkan diri berada di tengah-tengah sawah kering yang di sekelilingnya terdapat bergunung-gunung tumpukan jerami kering hasil panen. Fyi, jerami kering itu mudah sekali terbakar.

Di perkampungan, di mana mayoritas penduduknya adalah petani padi, seingatku, memiliki kebiasaan untuk membakar jerami bekas hasil panen padinya sebelum kembali bersiap untuk melakukan pembibitan.

Bila kita berada di sekitar pembakaran jerami tersebut, rasa panasnya datang dari berbagai sumber dan itu sangat mengganggu. Panas, bau asap, juga menggangu Oksigen yang kita hirup secara bebas sehingga ngga jarang si pembakar jerami itu ya batuk-batuk sendiri karena ulahnya.

Kok rasa panasnya datang dari berbagai sumber? Berada di tengah-tengah sawah dengan arah angin yang tidak menentu dan sering berputar-putar memang menyulitkan. Ini jugalah yang membuat si pembakar atau orang yang berada di area pembakaran jerami tersebut serba salah untuk mengambil posisi agar terlindung atau terhindar dari asap pembakaran.

Itu hanya contoh kecil tentang kebakaran yang disengaja dan berada di dalam kontrol kita, dapatkah kamu bayangkan bagaimana bahayanya bila kebakaran yang terjadi itu berkali-kali lipat atau bahkan beratus-ratus kali lipat dari kebakaran jerami tersebut?

Asap yang membumbung tinggi tidak hanya tertuju pada si pembakar, namun bisa jadi meluas menutupi sebuah daerah.

Fakta tentang kebakaran hutan
Kadang, sebagai warga yang tinggal jauh dari hutan, membuat sebagian orang akan bersikap apatis dan tidak peduli dengan kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah berbeda.

Bisa jadi karena merasa bukan bagian dari korban, bisa jadi karena memang sejak awal tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan, bisa jadi juga karena bingung kontribusi apa yang bisa diberikan untuk karhutla yang sedang terjadi dan pada korban-korbannya.

Tak bosan-bosannya mengingatkan kembali bagaimana Pekanbaru berselimut asap akibat kebakaran hutan serta Jambi dengan langitnya yang merah akibat hal yang sama.

Baca juga: Sebuah Catatan Penting untukmu yang Tak Suka dengan Hutan

Tahun 2019, di Pekanbaru, karhutla terjadi sejak awal Januari atau saat musim kemarau. Kemudian memasuki Februari, kebakaran hutan meluas di sejumlah kabupaten sehingga ditetapkan status siaga darurat karhutla terhitung tanggal 19 Februari hingga 31 Oktober 2019.

Puncaknya terjadi di bulan September, selama dua pekan kabut asap paling pekat terjadi di bulan ini dengan maksimal jarak pandang 200-300m doang. Gimana mau berkendara coba? Gimana mau bebas main coba? Gimana mau sekolah? Kasus ini pulalah yang menyebabkan ribuan warga Riau terserang penyakit ISPA, kulit, Pneumonia, sesak napas hingga demam.

Bila kita memang berada di posisi yang jauh dari area hutan dan tidak pernah merasakan menjadi korban karhutla, mungkin kita bisa membayangkan bagaimana bila kita hidup dan tinggal di wilayah yang terkena dampak karhutla. Barangkali dengan begitu akan ada sedikit empati yang hadir di hati kita untuk berbagi atau sekedar mulai peduli. 

Dilansir dari http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran Sumatera Selatan menjadi salah satu provinsi dengan luas kebakaran hutan dan lahan kumulatif serta tahunan yang paling tinggi disusul oleh Kalimantan tengah, Papua, Kalimantan Selatan, Nusa tenggara timur, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan timur, Jambi, Nusa tenggara Barat, Lampung, Maluku, Sulawesi tenggara, Jawa timur, lalu ditutup dengan Sulawesi tengah. Data ini merupakan luas kebakaran kumulatif dan tahunan yang diambil dari data 2015 hingga 2020.

Sumber foto: http:www.anabutarbutar.com

Kasus karhutla tersebut merupakan bagian dari kebakaran baru juga kebakaran berulang. Fakta menarik lainnya tentang karhutla adalah bahwa dari rekapitulasi data sampai dengan Mei 2021 dari sumber yang sama, terjadi cukup banyak karhutla dengan dominasi lahan di Kalimantan Barat disusul Riau dan ditutup oleh Sulawesi Selatan. 2021, lho!

Sumber foto: http:www.anabutarbutar.com


Faktanya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia 2 tahun lalu adalah salah satu hal yang paling mengkhawatirkan selama 2 dekade terakhir. Data pemerintah menunjukkan hutan dan lahan seluas 1,6 hektar hangus dilalap api menjadi kasus terparah sejak bencana asap tahun 2015.

Pemerintah rutin menjadi sorotan akibat kebakaran yang tak berkesudahan. Asap akibat kebakaran hutan kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. See, dampak karhutla bukan hanya urusan sesama negeri, kalau si asapnya udah "nyebrang" negara, yang repot pemerintah kita juga.

Karhutla pula yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Pertanyaannya, "kok bisa??"

Penyebab dan Dampak Karhutla
Kemarau panjang atau yang sering kita sebut dengan El Nino selalu dituding sebagai pemicu kebakaran, namun faktanya kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Itu sebabnya, faktor lain lebih tepat dianggap sebagai penyebabnya adalah ulah manusia

Untuk mempermudah pemahaman awam tentang karhutla dan dampaknya, maka penyebab karhutla dibagi dalam dua kategori:

1. Faktor alami seperti petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. El Nino bisa menjadi salah satunya juga.

2. Manusia mencakup praktek pembukaan lahan dengan membakar, perburuan, penggembalaan, konflik lahan, serta berbagai aktivitas lain.

Yang ini yang bikin repot. Istilahnya deforestasi, yakni kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nir-hutan, yakni pertanian, peternakan, atau kawasan perkotaan. Biasanya sih deforetastasi itu berjalan beriringan dengan karhutla. Entah karhutla terjadi terlebih dahulu lalu disusul deforestasi atau sebaliknya. 

2 tahun lalu, sebelum pandemi, sempat main ke salah satu pulau di Lampung. Salah satu area yang tadinya gunung, sekarang udah jadi penginapan epic, Instagramable, dan affordable karena tren travel dan staycation yang kian marak. Itu baru sedikit lahan yang dikeruk untuk dialihgunakan, kalau sedikit-sedikit tapi dilakukan di berbagai wilayah, ya habis juga ya. Hehehe.

Bila kita telah mengetahui penyebab terjadinya karhutla, yuk cari tahu apa sih dampak yang ditimbulkan oleh karhutla tersebut.

1. Biodiversitas, yakni hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar.
Pernah lihat enggak sih video satwa liar yang lalu-lalang di jalanan yang semestinya dijalani oleh manusia? Seram kan? Gimana mau lewat kalau di tengah-tengah jalan beraspal ada harimau lagi duduk wuenak? Heheh. Yang ada, pada sibuk kali bikin konten Tiktok "panik ga? Panik ga? Panik lah masa engga?!" Yang gitu tuhh. Heheh.

Kalau tempat tinggal satwa liar habis, itu artinya siap atau tidak, manusia akan hidup berdampingan dengan mereka. Mungkin satwa liar bisa dengan cepat beradaptasi ya atau bahkan mungkin mereka punya pemikiran "wah gua punya banyak makanan nih!" Hehehe. Tapi bagaimana dengan manusianya? Kita siap tidak?

Kalau kamu ngeh dengan poin ini, kamu akan bisa menarik benang merah urusan deforestasi dengan pandemi.

2. Kesehatan, pendidikan, dan transportasi
Sebut saja ISPA, pneumonia dan sederet penyakit lain akibat asap. Jarak pandang yang terbatas juga akan membahayakan bila seseorang memaksakan diri berkendara di tengah tumpukan asap.

3. Pemanasan global dan perubahan iklim
Logikanya, bila bakar sisaan jerami saja udah kepanasan, gimana kalau yang terbakar berhektare-hektare?

4. Kerugian Indonesia dampak kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2019 mencapai US Dollar 5,2 miliar atau setara dengan Rp 72,95 Triliun

Laluuu, apa yang bisa kita lakukan?

Bicara tentang kontribusi, Pemerintah sih banyak PR, beberapa diantaranya:
1. Memperluas moratorium hutan dan gambut
2. Meningkatkan penegakan hukum
3. Restorasi hutan dan gambut terdegradasi
4. Mendukung komunitas pemadan kebakaran dan kapabilitas pemantauan
5. Membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini
6. Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar

Terus, terus, kita yang awam, bisa bantu apa nih?

Teman-teman, bila selama ini kita berbelanja, produk apapun itu, tanpa melihat label pada kemasan, mulai sekarang, kita ubah pelan-pelan, yuk. Kita cek label kemasan yang akan kita beli sebelum memasukkan produk tersebut ke keranjang belanjaan kita.

Pastikan kamu menemukan ECO LABEL atau GREEN LABEL pada produk yang akan kamu beli. Dengan memiliki label tersebut, artinya, produk yang akan kamu bawa pulang, merupakan produk ramah lingkungan yang diharapkan dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan.

Kamu juga bisa tolak keras untuk membeli atau mengonsumsi produk yang jelas-jelas diproduksi dengan terlebih dahulu membakar hutan.

Sesederhana itu yang bisa kita lakukan. Kita harus bisa menyampaikan meski secara tidak langsung, pada produsen tersebut bahwa kita adalah konsumen cerdas yang cinta lingkungan.

Oh iya, kamu juga bisa follow lho, organisasi-organisasi non pemerintah ini untuk mendapatkan berbagai informasi tentang hutan dan lingkungan. Lumayan, sedikit banyak akan membuka pemahaman dan sudut pandang baru bagi kita akan lingkungan.

@Auriga_id
@alamsehatlestari

Korelasi deforestasi dengan pandemi
Pandemi menjadi salah satu yang membuat jutaan warga di dunia sadar betapa kesehatan dan lingkungan memiliki kaitan yang sangat erat. Karena awal hadirnya pandemi juga berawal dari penularan hewan. Jenis penyakit yang bisa ditularkan ini, oleh pakar kesehatan disebut sebagai penyakit zoonosis.

Pandemi Covid-19 yang masih terus ditangani hingga saat ini merupakan sebuah virus yang dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia.

Seperti yang kita semua sering dengar, Covid-19 berawal dari kelelawar lalu ditularkan ke hewan lain yaitu Trenggiling, kemudian ditularkan ke manusia.

Sumber foto: http:www.anabutarbutar.com


Kok bisa? Gimana caranya virus dari hewan ditularkan ke manusia?

Setiap spesies umumnya memiliki virus atau bakteri sendiri di dalam tubuhnya. Namun, ada satu kejadian yang disebut spill over, yakni perpindahan penyakit dari hewan ke manusia.

Dalam suatu organisme, biasanya mereka memiliki kunci untuk masuk ke dalam sel dan menginfeksi individu lain. Kunci tersebut  berupaya protein atau komponen lain yang terdapat pada tubuh. Akibat satu kejadian, virus tersebut bisa masuk ke tubuh manusia. Semakin manusia sering terpapar oleh hewan liar, maka semakin tinggi juga paparan virus yang bisa masuk ke tubuh. Dari sanalah timbul wabah.

Bila wabah sudah terjadi, dengan populasi yang tinggi dan mobilitas manusia yang tiada henti seperti perjalanan ke kantor, atau bahkan antar negara, maka wabah akan lebih cepat menyebar sehingga timbullah pandemi.

Apa sih pandemi?
Kata "pan" berasal dari bahasa Yunani yang berarti semua, dan "demos" yang berarti orang.

Dari dua kata ini, ditarik defenisi bahwa pandemi adalah sebuah penyakit yang ada pada semua orang di seluruh dunia.

12.000 tahun yang lalu, manusia mulai hidup berdampingan dengan hewan yang didomestikasi.

Di zaman tersebut, kedekatan hewan dengan manusia dan perubahan lingkungan menyebabkan penyakit zoonosis. Lalu, timbullah berbagai penyakit seperti campak, cacar yang paling parah di zaman dahulu, Tuberculosis, dan berbagai penyakit lainnya yang berawal dari hewan.

Kalau sekarang, penyakit-penyakit zoonosis ini meliputi:
1. HIV
2. Ebola
3. Salmonellosis
4. Covid-19

Pencegahan dan kontrol penyakit zoonosis:
1. Melaksanakan pedoman yang aman dan sesuai dalam perawatan hewan di sektor agrikultur untuk menurunkan potensi foodborne zoonosis
2. Sosialisasi pentingnya mencuci tangan yang benar untuk mencegah penularan di masyarakat bila wabah sudah terjadi. Karena kebanyakan virus ditularkan lewat tangan
3. Menjaga hutan dan lingkungan

2 hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pandemi:
1. Mencegah wabah dengan tetap menempatkan virus tersebut di tempat yang semestinya yakni alam liar. Hal ini bisa dilakukan dengan tidak menghilangkan habitat hewan liar lewat karhutla atau deforestasi. 
2. Mencegah pandemi, yakni dengan wabah yang sudah ada pada manusia, tidak menyebar ke seluruh dunia. 

Sejujurnya, pemahaman-pemahaman ini benar-benar baru buat aku, membuka wawasan lagi, dan membuka diri untuk lebih mengenal dan peduli dengan lingkungan. Bersyukur banget sih bisa tergabung di Eco Blogger Squad yang juga membuka jalan buat aku untuk mengetahui masih ada buanyak banget orang di luar sana yang peduli sama lingkungan dengan berbagai cara.

Dan ternyata, lewat Eco Blogger Squad, aku mendapat kesempatan untuk mengenal dan tau pemahaman-pemahaman baru itu. Itu juga yang menjadi alasan, sebisa mungkin aku sampaikan secara detail semua isi webinar kami ke teman-teman pembaca lewat tulisan. Semoga bermanfaat yaaa :)

Sekali lagi, selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Comments