Peluang Mengembangkan Bisnis Di Stellar Women Entrepreneurship Academy

Ilustrasi catcalling | Sumber foto: LokadataID

Perempuan dan tantangan patriarkisme

Menjadi perempuan ituuuu, gampang-gampang susah yaa. Lawannya patriarkisme.

Sopan-sopan berpakaian, lewat dari kerumunan laki-laki, eh malah mendapatkan perlakuan catcalling. Kalau kita ngga suka dengan perlakuan tersebut lalu melakukan perlawanan dengan menatap atau membentak, kadang yang disalahin justeru perempuannya. Diabaikan gitu aja, kadang pelaku catcallingnya makin menjadi sih.

Ya salah lu, udah tau di situ cowo-cowo pada ngumpul, ngapain lu lewat situ? Padahal itu satu-satunya jalan untuk menuju tujuan. Kalau ngga ngelewatin itu? Terus dari mana? Terbang?! Mohon maaf, Sis. Gue ngga punya sayap!

Kalau ngelawan, biasanya sih laki-lakinya akan beralibi kalau itu adalah sebuah candaan.

Padahal, tau ngga sih, catcalling menurut Komisioner Komnas Perempuan, Rainy Hutabarat, merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual dalam bentuk kekerasan verbal atau kekerasan psikis yang dilakukan di jalanan atau di fasilitas umum lainnya. Biasanya pelakunya beramai-ramai.

Terdapat nuansa seksual dalam ucapan, siulan, komentar, atau pujian, kadang-kadang disertai dengan kedipan mata. Hal-hal seperti ini kadang dianggap iseng, nyatanya sudah menimbulkan trauma pada korban. Seperti mengurangi mobilitas bila tidak ditemani.

Sebetulnya pelakunya tak terbatas pada laki-laki saja, ada juga perempuan. Akan tetapi, masih kata Rainy, korban terbanyak adalah perempuan (Sumber: Kompas)

Itu satu tentang catcalling yang kadang malah salahin si perempuannya.

Kalau di dunia kerja, beda lagi tantangan patriarkismenya.

Pernahkah kamu menonton film North Country? Film ini berdasarkan kisah nyata kasus Jenson v. Eveleth Taconite Co. Dan terinspirasi dari buku Class Action karangan Clara Bingham dan Laura Leedy Gansler dengan mengambil latar di Minnesota bagian Utara, Minneapolis dan New Mexico.

Dalam film ini diceritakan tentang Josey seorang orang tua tunggal dari dua orang anak. Dia kembali ke Minnesota untuk bekerja di pertambangan demi menghidupi anaknya. Sayangnya di tempat kerja, banyak perlakuan tidak mengenakkan yang diterima dari pekerja laki-laki, bukan hanya dia tapi hampir seluruh pekerja perempuan lainnya.

Dan pekerja perempuan ini tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak adanya perlindungan hukum. Josey memutuskan untuk mengundurkan diri lalu menuntut perusahaannya ditemani seorang pengacara.

Meski awalnya tak mendapatkan dukungan dari sesama pekerja perempuan, beruntung sebuah fakta yang terkuak di pengadilan membuatnya mendapatkan dukungan dari teman-temannya hingga akhirnya Josey dan teman-temannya pekerja perempuan menang. Mereka berhasil mendapatkan sejumlah uang ganti rugi, dan sebuah kebijakan yang melindungi para pekerja perempuan.

Lalu urusan kepemimpinan, coba saja ada satu pimpinan perempuan. Bicara dikit memberikan penjelasan atau menanyakan detail sebuah pekerjaan, pasti dicap cerewet. Ehh, kalau laki-laki yang seperti itu, disebutnya tegas dan berwibawa.  

Banyak hal-hal yang sebetulnya bisa diselesaikan perempuan, tapi malah dipertanyakan. Belum lagi adanya stereotype terhadap pemimpin perempuan dalam bisnis menyebabkan perempuan tidak cukup memiliki keberanian menjadi pemimpin dalam bisnis dan melakukan perubahan. Padahal, data menunjukkan keberagaman dalam kepemimpinan terbukti dapat membawa dampak positif bagi bisnis.

Danone x Stellar Women, dari meningkatkan percaya diri sampai membangun bisnis lebih tinggi

Stellar Women Entrepreneurship Academy | Sumber: Danone

Masih dalam rangka perayaan hari perempuan sedunia, Danone Indonesia bekerja sama dengan Stellar Women mengadakan Stellar Women entrepreneurship academy.

Stellar women sendiri merupakan sebuah platform online dan komunitas yang menerima perempuan dan membantunya untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri dengan fokus pada bisnis berkelanjutan.

Dalam akademi ini, peserta akan mendapatkan berbagai benefit seperti:

  • 4 minggu tahapan pembelajaran
  • Kelas mingguan
  • Sesi mentoring dalam group
  • Sesi mentoring bertatapan

Peserta juga akan difasilitasi dengan komunitas

  • Group WhatsApp untuk berdiskusi
  • Kesempatan untuk membangun jaringan
  • Sesi diskusi mingguan

Akademi ini menghadirkan pembicara:

  • Pimpinan-pimpinan perempuan yang berbagi wawasan dari pelajaran dan perjalanan mereka, seperti Najwa Shihab , Helga Angelina dan lain-lain
  • Fasilitas diskusi mingguan untuk pengalaman belajar yang lebih maksimal

Adapun tujuan diberlakukannya akademi yang didukung oleh Danone Indonesia ini adalah untuk menghubungkan komunitas wanita dengan semangat entrepreneur untuk pemberdayaan perempuan serta berbagi pembelajaran dan pengalaman.

Akademi ini tidak terbatas pada perempuan pelaku usaha, pintu juga terbuka lebar bagi kamu perempuan yang memiliki ide usaha namun memerlukan bantuan untuk memotivasi diri, mendapatkan rasa percaya diri yang tinggi untuk membangun bisnisnya.

Kamu yang tertarik, bisa segera melakukan pendaftaran sebelum tanggal 19 Maret yaa. Perlu dicatat bahwa akademi ini terbatas hanya 50 partisipan saja. Dan 5 orang yang beruntung akan mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp 20jt per orang.

Tunggu apa lagi? Daftarkan dirimu sekarang!

Comments