Festival Isi Piringku sebagai Edukasi Gizi Anak Sejak Dini

Foto: Piring bergambar program "Isi Piringku"

Masalah gizi di Indonesia masih terus menjadi perhatian. Jika tak lekas diselesaikan, akan banyak dampak negatif yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, termasuk masalah stunting di kemudian hari.

Namun, menyelesaikan permasalahan gizi  bukanlah hal yang mudah. Tak hanya jadi PR pemerintah, masalah gizi juga memerlukan perhatian dari berbagai pihak.

Tanggal 26 Februari lalu, dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional, Danone bersama IPB sebagai mitra Pemerintah menghadirkan webinar tentang edukasi Isi Piringku dengan mengangkat topik “Festival Isi Piringku Anak Usia 4-6 Tahun” .

Webinar ini diperuntukkan pada setiap orang yang tertarik dengan tema yang diangkat. Mengingat masih banyaknya masyarakat yang belum memberi perhatian penuh terkait masalah gizi, Danone Indonesia juga menggandeng Blogger untuk bekerjasama mengajak masyarakat untuk mengikuti webinar yang diselenggarakan sehingga informasi yang disampaikan pada webinar dapat tersebar pada lebih banyak orang.

Tangkap layar webinar

Webinar tersebut dilakukan dengan mengundang beberapa pembicara profesional, yakni:

  • Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA selaku Diretur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan
  • Prof. Dr Ir. Sri Anna Marliyati, Msi selaku Ahli Gizi dan Ketua Tim Ahli Pengembangan Modul “Isi Piringku”
  • Ir. Harris Iskandar, Ph.D. selaku Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
  • Karyanto Wibowo selaku Direktur Sustainable Development Danone Indonesia
  • Vera Sugijanto selaku VP General Secretary Danone Indonesia, dan
  • Liswanti, S.Pd yang merupakan seorang guru PAUD.

Permasalahan gizi di Indonesia dan penyebabnya

Berdasarkan JME UNICEF World Bank 2020, Riskesdas 2007-2018, SSGBI 2019, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mengalami tiga permasalahan gizi sekaligus:

Data stunting di Indonesia | Sumber: Tangkap layar materi webinar

  • Stunting sebanyak 6,6 jt
  • Wasting sebanyak 2,4jt
  • Overweight sebanyak 1,9jt

Meski demikian, secara data Indonesia menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam perbaikan masalah gizi karena angka stunting, wasting dan overweight telah mengalami penurunan yang cukup baik.

Meski secara data tiga permasalahan gizi tersebut telah mengalami penurunan, namun jika didasarkan pada jumlah, masih terlalu banyak anak yang mengalami masalah gizi baik masalah gizi kurang maupun masalah gizi berlebih.

Anak adalah investasi  sumber daya manusia yang memerlukan perhatian khusus untuk kecukupan gizinya sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan. Apabila kecukupan gizinya tidak terpenuhi, setidaknya akan timbul 5 dampak langsung masalah gizi:

  • Imunitas rendah
  • Meningkatkan risiko penyakit-penyakit infeksi dan penyakit kronik
  • Pertumbuhan dan perkembangan tidak optimal
  • Daya saing rendah
  • Produktivitas rendah

Jika kelima dampak langsung ini telah terjadi, maka akan timbul dampak lain akibat dari kecukupan gizi yang tak terpenuhi yakni minimnya produktivitas dan daya saing anak-anak bangsa sebagai sumber daya yang diandalkan sehingga berdampak pula terhadap minimnya penghasilan dan perputaran ekonomi di sekitarnya.

Setidaknya, ada 10 provinsi di Indonesia dengan prevalensi stunting tertinggi yang dipilih sebagai fokus percepatan penurunan stunting. Hal ini pulalah yang menjadi salah satu alasan mengapa edukasi Isi Piringku penting untuk terus disosialisasikan pada berbagai pihak.

Stunting dan masalah gizi yang terjadi pada balita tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal-hal tersebut terjadi, seperti:

  • 1-4 ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari empat kali
  • 1-3 dari 10 bayi di Indonesia tidak mendapatkan ASI ekslusif
  • Hampir 50% bayi di Indonesia tidak mendapatkan imunisasi lengkap
  • Sebanyak setengah dari seluruh balita di Indonesia, tidak dipantau perkembangannya secara rutin
  • Asupan makanan balita berusia 6-23 bulan tidak terpenuhi dengan baik, terutama protein.

4 pilar gizi seimbang

Selain menerapkan 3M, penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki kontribusi untuk tetap mempertahankan imun tubuh selama menghadapi pandemi. Jika dilakukan sejak dini di dalam sebuah keluarga, penerapan gizi seimbang tentu sangat membantu kecukupan gizi anak di masa mendatang.

Untuk mencukupi gizi seimbang, setidaknya ada empat pilar yang harus diketahui:

  • Mengonsumsi pangan beraneka ragam namun pastikan pangan tersebut mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral
  • Membiasakan perilaku hidup sehat
  • Melakukan aktivitas fisik, serta
  • Mempertahankan dan memantau berat badan normal.

Panduan gizi seimbang anak dalam pencegahan dan penanggulangan stunting di Indonesia sangat penting dilakukan karena:

  • Akan meningkatkan status gizi siswa PAUD
  • Menjadi siswa SD, dan remaja yang sehat dengan status gizi yang baik
  • Akan menjadi calon pengantin yang sehat dengan status gizi yang baik
  • Akan menjadi calon ibu yang sehat dengan status gizi baik
  • Melahirkan anak-anak sehat dengan status gizi yang baik pula.

Cara mudah bagi orang tua dan guru PAUD agar anak dapat membiasakan gizi seimbang secara menyenangkan

Bukan hal yang mudah untuk menyampaikan program isi piringku pada anak usia 4-6 tahun, oleh karena itu, Danone bekerja sama dengan IPB mengembangkan modul dan flip chart dengan tokoh anak yang menarik, dan lagu Isi Piringku dengan tujuan agar anak lebih tertarik dan lebih mudah untuk menangkap pesan dalam program Isi Piringku, disedikan pula media permainan anak seperti puzzle.

Berikut adalah rangkuman tips mudah bagi orang tua dan guru PAUD agar anak dapat membiasakan gizi seimbang secara menyenangkan

  • Menggunakan alat permainan Isi Piringku sebagai media pembelajaran
  • Mengimplementasikan pedoman Isi Piringku dalam keseharian siswa secara terus menerus
  • Menerapkan PHBS di PAUD dan di rumah
  • Melakukan olahraga yang menyengkan di PAUD dan di rumah
  • Melakukan penimbangan berat badan rutin di PAUD sebulan sekali

Comments