Inventaris Tepat untuk Bisnis jaga-jaga di Tengah Ancaman PHK


Bulan Maret mendatang, tanggal 21, jika pandemi belum berakhir, tepat satu tahun penuh aku bekerja dari rumah.

Sebelum COVID-19, aku sering berpikir, akan menyenangkan jika pekerjaan bisa diselesaikan di rumah. Wajar, tiap kali berangkat ke kantor, tantangannya banyak. Commuter Line sebagai moda transportasi nyaman dan murah untuk menjelajah JaBoDeTaBek, nyatanya tak begitu saat jam-jam sibuk.

Saling dorong, padat, berkeringat dan kesulitan bergerak menjadi pemandangan lumrah saat berada di dalamnya. Kalau ke kantorku, dari stasiun terdekat, masih harus nyambung lagi dengan kendaraan berbeda untuk tiba di sana. Biasanya, aku memanfaatkan Transjakarta atau ojek daring. Ini menjadi tantangan lain di jalan raya. Jakarta dengan padat dan macetnya bukan lagi rahasia.

Tiba di kantor, badan sudah lelah, pusing, kesal mendengar klakson kendaraan yang tak ada habis-habisnya. Sederet alasan ini yang membuatku selalu berpikir bahwa bekerja dari rumah mungkin adalah solusi terbaik dari keluhan-keluhan ini.

Bekerja dari rumah saat pandemi, nyatanya tak sebahagia yang dipikirkan

Mungkin ini yang disebut hati-hati dengan pikiran dan lisan. Pikiran itu kini jadi kenyataan. Semua pekerjaan diselesaikan dari rumah atau istilah bekennya Work from Home (WFH) secara resmi sejak Maret tahun lalu. WFH nyatanya, tak seindah yang ada dalam bayangan. Koordinasi dengan rekan kerja tak lagi semudah datang ke meja kerjanya lalu berdiskusi di waktu yang sama.

Belum lagi zoom meeting yang tak habis-habis, waktu kerja terasa lebih panjang dan yang paling berat adalah, fakta bahwa semua orang kini dibatasi untuk bepergian. Jadi ya, hari-hari sepenuhnya berada di rumah dan itu cukup menguras pikiran karena minimnya hiburan. Jika saja warga masih bebas bepergian karena ketidakadaan pandemi, mungkin cerita WFH akan berbeda.

Bisnis jaga-jaga di tengah ancaman PHK

Sabtu dan Minggu, saat off kerja, biasanya kegiatan hanya olahraga pagi sekitar 30 menit, lalu dilanjutkan bebersih rumah. Selanjutnya hari-hari habis begitu saja dengan scroll sosial media, atau menonton berbagai film di Netflix. Hidup yang seperti ini berlangsung kurang lebih tiga bulan sejak pengumuman WFH dari kantor.

Sampai satu ketika, beberapa rekan kerja kena PHK. Ada perasaan was-was “Habis ini siapa? Kalau gue gimana?” dan seketika, timbul keinginan mencoba hal-hal yang bisa dilakukan untuk menambah penghasilan sekaligus bisa dijadikan sebagai bisnis jaga-jaga.

Dari berbagai pilihan, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi member Oriflame karena beberapa alasan:

  • Oriflame tergabung menjadi anggota Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) yang merefleksikan komitmen akan praktik bisnis beretika tinggi
  • Produk yang ditawarkan digunakan sehari-hari
  • Mendapatkan keuntungan langsung sebanyak 23% dari tiap produk
  • Adanya jenjang karir menarik bagi mereka yang memutuskan untuk menjadi pebisnis
  • Banyaknya hadiah bulanan yang menarik dari tiap point yang terkumpul
  • Gajian di awal bulan
  • Menjadi jalan bagi orang lain untuk sama-sama memperbaiki hidup jika benar-benar ditekuni
  • Tidak butuh modal

Coba saja dulu, toh tak butuh modal. Toh ngerjainnya dari rumah saja. Begitu pikirku kala itu.

Tadinya, aku juga memiliki pikiran yang sama dengan orang-orang di luar sana “ngapain sih gabung sama bisnis MLM yang banyak digunjing ini?” Namun, aku memutuskan untuk mengenal bisnis ini terlebih dahulu secara mendalam sebelum menelan bulat-bulat gunjingan orang.

Dan ya, here it is, bisnis jaga-jagaku di tengah ancaman PHK yang kini malah bikin ketagihan.

Inventaris yang diperlukan untuk mendukung berjalannya bisnis

Seperti yang aku jelasin, menjadi pebisnis di Oriflame memang tak butuh modal, hanya kemauan dan pengulangan. Meski memang sangat membingungkan di awal, itupun komunitas menyediakan berbagai kelas untuk mengasah skill berjualan lewat menawarkan langsung maupun bercerita. Tapi sebetulnya yang paling sulit adalah melawan gengsi.

Pernah, saat mencoba menawarkan ke teman-teman, beberapa gunjingan langsung datang bersahutan. Ada yang menertawakan, ada yang mengabaikan, bahkan ada yang bertanya “butuh uang berapa, lo? Gue pinjemin aja sini”. Huaaa. Berat deh pokoknya. Buat yang baru terjun, mentalnya memang harus dikencengin biar ngga baper.

Namunnnnn, begitu berhasil mendapatkan pembeli pertama, huh, rasanya lega, bahagia, sekaligus bangga. Ini lho, aku berhasil jual produk.

Bisnis coba-coba itu kini jadi penghasilan sampingan yang bikin gaji bulanan dari kantor tak tersentuh. Jikapun seandainya (amit-amit) ada “pengumuman buruk” dari kantor untukku, rasanya aku sudah cukup siap meski mungkin masih kecewa.

Karena sudah mengetahui banyak peluang penghasilan di Oriflame, aku memutuskan untuk totalitas di luar jam kerja kantor dan benar-benar membagi waktu dengan sangat baik.

Totalitas tak hanya urusan memberi waktu, tapi juga inventaris untuk mendukung berjalannya bisnis. HP, laptop, kamera, jaringan internet, lakban, gunting, bubble wrap, kertas termasuk printer sudah seperti sahabat di jam-jam urusan bisnis ini.

Aku butuh HP, laptop, kamera dan jaringan internet untuk menyebarkan produk secara online dan branding diri sebagai pebisnis Oriflame. Lakban, gunting, bubble wrap, kertas dan printer untuk kebutuhan packaging produk yang akan dikirimkan ke pembeli.

Di awal bisnis berjalan, aku sempat dapat sindiran dari teman karena data pengirim dan penerima kutuliskan dengan tangan di atas post it berukuran sedang. Katanya, masa ditulis tangan sih? Kurirnya bingung tau, soalnya tulisan kamu tuh kayak angka 6. Sementara nomor rumah seharusnya nomor 8. Mungkin ada beberapa faktor yang jadi penyebabnya, tulisan yang kurang jelas, tinta pulpen yang mungkin macet juga saat itu.

Tak ingin mendapatkan complaint yang sama, aku coba mencari rekomendasi printer awet untuk kantor usai gajian dari Oriflame. Bagaimanapun, rumah ini kini telah jadi mini office untukku dan bisnisku. Aku ngga mau pekerjaanku mendapatkan nada miring dari pelanggan hanya karena hal yang dianggap sepele namun sebetulnya sangat perlu.

Mengenal HP DeskJet Ink Advantage 2335 All-in-One Printer

Sumber foto: https://www.erasupplies.com/

Dua kali berpindah kantor, HP adalah printer yang paling sering kutemukan. Jadi kuputuskan mencari merek yang sama sejak awal pencarian. Dan aku memilih HP DeskJet Ink Advantage 2335 All-in-One Printer.

Printer multifungsi ini sudah mendukung pencetakan, scan dan fotocopy. Bagi seseorang yang tak memiliki basic di bidang teknologi sepertiku, pengaturannya juga cukup mudah dan sederhana untuk dijalankan sehingga memudahkan saat pertama kali dihubungkan ke laptop.

Belum wireless printer memang, namun untuk mendukung bisnis online yang sedang kutekuni dengan harga di bawah Rp 700.000 menurutku ini sudah sangat mumpuni.

Memiliki tinta yang lebih banyak dan cartridges yang lebih baik sehingga hasil cetak jauh lebih memuaskan. Garansi satu tahun, pula. Lumayan kan? Bisnis onlinepun berjalan tanpa keluhan dari pelanggan. 

Comments