Cara Sederhana Menjaga Gizi Seimbang Anak Selama di Rumah Aja

 


Sumber foto: Danone

Sabtu lalu, seorang anak kecil menangis merengek-rengek di depan gerbang rumahnya. Pasalnya, sang ayah akan berangkat ke suatu tempat dan anak tersebut tidak ikut serta. Tentu banyak hal yang menjadi pertimbangan ayahnya, salah satu adalah demi kesehatan dan keselamatan anaknya mengingat saat ini kondisi bumi masih sedang tidak baik.

“Papa boleh pergi, kok Nabil ngga?” Begitu salah satu teriakan yang kudengar di sela-sela tangisannya. Mirip sebuah protes karena sudah terlalu lama di rumah saja, ngga kemana-mana, sementara saat sang ayah boleh keluar, anak tersebut masih harus tetap di rumah. Sebuah perasaan tidak adil ala anak kecil yang belum terlalu paham dengan apa yang sedang terjadi di luar sana saat ini.

Pandemic dan Tantangannya

7 bulan lebih, usai pemerintah Indonesia mengumumkan secara resmi bahwa ada warga yang positif terkena Covid-19, rasanya semua berjalan begitu cepat sekaligus membosankan. Apalagi dengan dikumandangkannya lockdown yang membuat kita menyelamatkan diri sendiri dan keluarga dengan tetap berada di rumah aja.

Untuk kita yang sudah dewasa, mungkin hal ini bisa dipahami dan diterima. Tapi untuk anak-anak, dan orang dewasa yang sudah memiliki anak, ada tantangan baru yang harus diselesaikan.

Merindukan bermain bersama teman-temannya baik di lingkungan sekitar, maupun di sekolah. Bosan dengan makanan serupa sementara tidak ada lagi acara makan bersama di luar seperti biasanya, bosan dengan rutinitas yang itu lagi itu lagi setidaknya menjadi tantangan baru yang harus dihadapi anak yang imbasnya bikin anak kadang rewel, uring-uringan atau bahkan melakukan gerakan tutup mulut (GTM).

Selain harus menghadapi anak yang rewel dan uring-uringan selama di rumah aja, orang tua juga dihadapkan dengan WFH yang tak juga mudah untuk diselesaikan. Belum lagi jika anak sudah sekolah, orang tua dibebani pula dengan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan sekolah.

Mau ngga mau, stress hadir di tengah-tengah keluarga. Baik pada orang tua, begitupun pada anak.

Danone dan edukasi virtual pemenuhan gizi seimbang

Sebagai informasi, stres yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menurunkan nafsu makan anak, yang dapat memengaruhi asupan nutrisi yang dikonsumsi anak. Padahal, untuk memastikan tumbuh kembangnya tetap terjaga, anak memerlukan asupan nutrisi bergizi seimbang dan kondisi psikis yang baik.

Sayangnya, belum banyak orang tua yang paham tentang hal ini.

Untuk itu, Danone memberikan edukasi secara virtual kepada orang tua tentang pemenuhan gizi seimbang anak. Acara ini juga dihadiri oleh:

Sumber foto: Danone

  1. dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, - spesialis gizi Klinis
  2. Putu P.D Andani, M.Psi dan – Psikolog Anak @Tiga Generasi
  3. Soraya Larasati – Ibu dengan gaya hidup sehat

Menerapkan gizi seimbang pada anak selama di rumah aja

1. Menu sesuai “isi piringku”

Sebagai sosok yang memiliki peranan paling penting terkait urusan makanan keluarga, Ibu dihimbau untuk menyiapkan menu sesuai “isi piringku”.

Selain itu, menurut dr. Juwalita, agar anak mendapatkan gizi seimbang, kebutuhan akan nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) harus dipenuhi.

2. Variasi makanan agar anak tak bosan

Agar anak tak bosan dengan menu yang sama setiap harinya dan menolak untuk makan, ibu bisa berkreasi menghasilkan menu baru atau menyajikan makanan dengan beragam bentuk lucu yang menarik perhatian anak.

Ibu juga bisa memanfaatkan olahan protein nabati dari kacang-kacangan seperti olahan soya untuk dijadikan alternatif variasi dalam menu gizi seimbang.

3. Mengajak anak terlibat dalam proses menyiapkan makanan

Alih-alih memaksa anak yang melakukan aksi GTM, lalu memaksanya untuk makan, ibu bisa mengajak anak agar terlibat langsung di dapur. Penyampaian pesan secara tidak langsung bahwa segala hal yang terkait dengan makanan tersebut menarik.

4. Gaya hidup sehat

Agar tak kejadian seperti anak tetanggaku yang bosan di rumah aja, Ibu sebaiknya memilih beberapa kegiatan seru untuk dilakukan bersama di rumah atau pekarang rumah. Ajak anak bercocok tanam, misalnya.

Atau ibu juga bisa memanfaatkan point ke tiga, yaitu mengajak anak terlibat dalam proses menyiapkan makanan.

Selain untuk seru-seruan, kegiatan ini bisa menjadi keterampilan dan pengalaman baru pada anak. Menurut Putu Andani, M.Psi, Psikolog Anak dari Tiga Generasi, apabila dilakukan bersama-sama dan tanpa distraksi dapat mengasah perkembangan kemampuan kognitif, fisik, sosial dan emosional anak serta meningkatkan bonding antara ibu dan si Kecil.

Comments