Apa yang Pandemi Coba Ajarkan Pada Kita Soal Financial?

Ilustrasi: Freepik

Kemarin, beredar postingan Anji Manji yang intinya menyampaikan kalau ada keinginan untuk membeli sesuatu, sebaiknya tabung dulu uangnya lalu beli jika biaya dirasa sudah cukup. 

Ya, cicilan menjadi salah satu hal yang sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Kalau saja semua berjalan dengan baik, mungkin cicilan bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Masalahnya adalah cicilan di tengah pandemi yang notabene saat ini banyak orang yang terkena PHK dan tidak ada pemasukan. 

Kesulitan? Tentu. Wong sekelas Iis Dahlia aja kelimpungan buat bayar cicilan rumah 250jt sebulan. Gimana kita yang pendapatannya UMR? Atau mungkin di bawah UMR? Bingung? Ya pasti.

Tapi, apa sebetulnya yang diajarkan Pandemi pada kita dari sisi financial?
Tahun lalu aku mengikuti Moms Mingle yang diadakan Sun Life dan Kumparan dengan tema "Mom As the Guardian of the Family"

Selengkapnya bisa kamu baca di sini:

Sebuah Catatan untuk Perempuan Sebelum dipanggil Mom

Sebuah topik yang menurutku sangat menarik, karena bukan hanya membahas tentang kehidupan dalam sebuah keluarga, namun bagaimana kiat-kiat bagi perempuan yang notabene adalah "Menteri Keuangan" keluarga untuk menggunakan uang dengan sebaik-baiknya.

Kembali tentang hal-hal yang diajarkan pandemi soal financial. Mari kita ulas satu per satu:

1. Memahami persentase pembagian pendapatan
Ilustrasi: Freepik

Dalam materi Moms mingle yang kuikuti, dijelaskan bagaimana cara bijak untuk membagi pendapatan:
  • 10% sosial
  • 30% hutang produktif
  • 15% investasi
  • 40% living cost, dan
  • 5% asuransi
Kejelasan persentase penggunaan pendapatan seperti ini tentu akan sangat memudahkan kita untuk bijak mengeluarkan uang.

Dengan bijak menggunakan penghasilan, setidaknya setiap orang akan memiliki penghasilan yang diinvestasikan untuk digunakan di masa mendatang.

2. Pentingnya memiliki sumber pendapatan yang lain
Ilustrasi: Freepik

Pandemi juga mengajarkan bahwa memiliki pendapatan sampingan adalah hal yang sangat membantu urusan financial.

Pendapatan sampingan bisa jadi biaya properti yang disewakan, bermain saham. Atau katakan saja menjadi reseller sebuah produk, menjadi seorang tutor, translator, menjadi seorang Blogger atau pengemudi daring.

Semua hal positif ini bisa dikerjakan leluasa tanpa mengganggu pekerjaan utama. Meskipun bayarannya tak sebesar penghasilan utama, setidaknya sumber pendapatan keduamu bisa mengurangi penggunaan penghasil utama.

Banyak kok yang bisa dikerjakan. Saat ini orang berlomba-lomba mengasah kreatifitas dan terus menghasilkan berbagai konten bermanfaat. Jika kamu pintar mencari celah, hal ini juga bisa kamu manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

3. Paham betul perbedaan keinginan dan kebutuhan
Ilustrasi: Freepik
Selama pemberlakuan PSBB, di lingkungan rumahku, hampir tiap sore abang-abang ekspedisi teriak "paket" ke beberapa rumah.

Kamu tahu apa yang paling berbahaya bagi masyarakat urban di tengah-tengah PSBB ini?

Perpaduan ecommerce dan ibanking atau mbanking. Wah, udah deh, flash sale teros. Belanja teros.

Ya ngga apa-apa sih, bukan uang ku ini yang kepake. Heheh.

Tapi sadar ngga sih apa yang bikin kita bentar-bentar checkout di ecommerce?

Keinginan dan sulitnya menahan nafsu. Istilahnya lapar mata.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang memutuskan untuk berbelanja di toko online:
  • Merasa belanja hanya sesekali saja
  • Merasa butuh
  • Mumpung flash sale
  • Takut kehabisan
  • Baru gajian
  • Janji besok ngga belanja lagi, tapi khilaf lagi. 
Padahal, ngga jarang ketika barang yang kita pesan tiba, kita bertanya-tanya kembali dalam hati sambil gigit jari. "Kemarin kenapa beli ini ya? Padahal ngga perlu-perlu amat." Dan kemudian menyesal. 

Dalam berbelanja, ada yang disebut keinginan ada yang disebut kebutuhan. Bagi orang bijak, berbelanja itu sesuai kebutuhan. Bagi orang yang kurang bijak, berbelanja itu seturut keinginan. 

Apa bedanya?

Keinginan
Keinginan itu sama seperti setelah kamu menerima barang belanjaanmu dari ekspedisi kemudian menyesalinya. "Untuk apa ini? Dipake buat apa yang nanti?". 

Kamu ngga benar-benar membutuhkan barang tersebut, kamu hanya menginginkannya tergoda karena beberapa faktor di atas tanpa mempertimbangkan manfaat produk tersebut ke depannya. Biasanya jika barang dari keinginan ini tidak dipenuhi, kamu masih bisa melanjutkan hidup tanpa kekurangan apa-apa.

Contoh keinginan: Kamu punya Hp android, begitu lihat rekan kerja di kantor pakai Iphone 11, kamu bela-belain ambil produk yang sama meskipun nyicil. Yang penting gaya dulu! Cicilan mah nanti saja. 

Begitu pandemi dan kena PHK, tidur ngga nyenyak, makan ngga selera, hidup ngga tenang. Pikiranmu dibayang-bayangi cicilan yang harus kamu lunasi sementara tabungan ngga punya dan pendapatan kini ngga ada. 

Coba kalau pakai android saja, bisa beli lunas dan kamu ngga punya beban cicilan. Pandemi datang, pikiran bisa fokus pada makanan sehari-hari tanpa perlu memikirkan cicilan Iphone 11 yang kehadirannya hanya bertujuan agar kamu sama dengan rekan kerjamu. 

Sialnya lagi, tanpa kamu ketahui rekan kerjamu membelinya lunas karena memiliki orang tua yang kaya atau tabungan dari penghasilannya yang lain. Ha, kena kan Kau. 

Selain urusan Hp, biasanya keinginan juga berputar di pakaian, sepatu, tas, aksesoris dan benda-benda lain yang sebetulnya jika tidak adapun tidak menganggu kehidupan. 

Well, aku pernah denger sih beberapa artis dan sosialita Indonesia di TV bilang bahwa tas bermerek dan asli merupakan salah satu cara berinvestasi yang bagus. Tapi kan kamu bukan artis, bukan sosialita yang punya uang bertumpah ruah. Heheheh

Kebutuhan
Kebutuhan adalah produk-produk yang kamu butuhkan. Benar-benar dibutuhkan, bukan untuk sekali pakai lalu kemudian dilupakan. Barang yang bila tidak ada akan mengganggu aktivitas sehari-harimu. Kalau urusannya butuh, bagaimanapun caranya, kamu akan putar otak untuk melengkapinya. 

Nah, kalau yang ini, wajib banget buat kamu penuhi tanpa tapi. Rumah misalnya.

4. Investasi, asuransi, tabungan dan biaya darurat adalah keharusan
Ilustrasi: Freepik

Mari sedikit balik lagi tentang Iphone 11 contoh di atas. Jika uang yang digunakan untuk cicilan Iphone 11 itu digunakan untuk investasi, mungkin setahun dua tahun ke depan kamu sudah memiliki tabungan investasi meski ngga banyak-banyak amat.

Banyak hal yang kusyukuri telah kulakukan di belakang-belakang hari. Asuransi misalnya.

Berat sih harus bayar-bayar asuransi tiap bulan padahal ngga pernah sakit, tapi sekalinya sakit di tengah-tengah pandemi seperti ini, jika - amit amit - terjadi sesuatu yang tak diinginkan, aku tak perlu khawatir tentang biaya berobat karena aku tahu betul kesehatanku sudah diproteksi dari jauh-jauh hari.

Begitu juga dengan tabungan. Biasanya sih kalau aku, sekian persen dari penghasilan selalu kutabung duluan. Jadi ngga nunggu sisa. Kalau nunggu sisa bulanan kayaknya ngga bakal sisa. Hahah.

Dengan memiliki tabungan di tengah pandemi ini, setidaknya aku tenang menghadapi hari-hari. Aku tau kalau aku bisa bertahan dan melewati ini dengan tabungan yang kumiliki dan kendali diri atas nafsu belanja atau lapar mata.

Selamat menikmati kebersamaan dengan keluarga selama PSBB. Lihat hal positif yang bisa kita dapatkan dari pandemi ini. Kelak nanti, jika dia sudah pergi, mungkin kita bisa mengubah cara hidup yang kita jalani selama ini.

Pandemi memang jahat, tapi dia memberi kita banyak sekali pelajaran. 

Comments

  1. Disadari atau tidak, pandemi ini memang banyak membuka mata kita soal keuangan, berusaha untuk lebih hemat aja ya mom karena ga tau kapan pandemi ini akan berlalu

    ReplyDelete
  2. Saat pandemi seperti ini memang keuangan yang perhatian paling utama ya. Untuk yang freelancer memang harus pintar-pintar untuk mengatur keuangan. Setidaknya memang kita itu harus memiliki dana darurat, jadi bisa digunakan seperti sekarang ini.

    ReplyDelete
  3. Tabungan ada, investasi sudah. Nah asuransi ini yang nggak punya lagi setelah suami resign. :D

    ReplyDelete
  4. Pandemi ini mengajarkan kita agar lebih cermat atur keuangan ya..
    Juga perubahan positif lainnya

    ReplyDelete
  5. Bener banget, aku pun belajar banyak tentang financial dari pandemi ini.
    Bahwa uang darurat yang selama ini selalu disuarakan oleh Financial Planner ternyata sepenting itu

    ReplyDelete
  6. Lebih hemat n bijak dlm belanja harusnya tp susah jg ya. G ada perubahan ini kak. Mungkin hrs bikin planning kali y

    ReplyDelete
  7. Pandemi corona mengajarkan kita untuk Merubah stikma bahwa Kerja harus di kantoran akan tetapi Kerja juga bisa di lakukan dari rumah

    ReplyDelete
  8. Bener banget soal kebutuhan dan keinginan harus dicermati banget ya Kak. Btw soal investasi aku masih mendalami nih hehe semakin sadar itu penting banget.

    ReplyDelete
  9. Iya nih, aku setuju banget sama pendapatmu kak. Selama Pandemik kelihat banget kita baik atau tidak selama ini dalam mengelola keuangan. Sedih aja, baru sadar dan mulai diatur dengan baik selama Pandemik.

    ReplyDelete
  10. Aku gagal fokus sama cicilan rumahnya Isda yang sebulan itu 250jt ((ampuuun))

    Ketika pandemi ini kita, khususnya aku baru sadar banget apa manfaat dari menabung kak, makanya aku sekarang lagi berusaha untuk sedikit menyisihkan hasil job aku untuk menabung

    ReplyDelete
  11. Ya,
    Pandemi ini mengajarkan banyak hal. Terutama kebersihan yaa..
    Mengubah segala pandangan hidup.
    Semoga indahnya dunia bisa kita rasakan kembali.

    ReplyDelete
  12. Waaaa makasih banget mbaa inputnyaa,financial saat pandemi ini emang membuat banyaak orang kusut jadi memang harus pinter2 ngatur financial y

    ReplyDelete
  13. Banyak dampak dari pandemic ini yang jadi persoalan. Untuk ini memang side job sangat di butuhkan.

    ReplyDelete
  14. Kalau freelancer sebisa mungkin harus memiliki sumber lain juga biar punya tabungan ya kan, dan tahan-tahan juga buat beli barang cuma karena ingin bukan karena butuh atau lagi diskon 😂

    ReplyDelete
  15. pentingnya dana darurat, tabungan dan asuransi itu yang aku rasakan dalam bidang financial pada saat pandemic begini

    ReplyDelete
  16. Mbak, ini bener banget. Sayangnya banyak banget masyarakat kita yang begitu. Nyicil ini itu dan belanja belanja gak jelas... Mumpung ada flash sale, kilahnya...

    Semoga segera membaik ya kondisi negara kita ini

    ReplyDelete
  17. Pentingnya dana darurat atau tabungan kayak seperti skg pas pandemi ini, kalo ga ada bisa2 pinjem duit sana sini

    ReplyDelete
  18. Sebenernya kalau udah terbiasa merencanakan keuangan, mau ada pandemi gini ga terlalu banyak ngaruh sih. Paling untuk investasi misalnya, shifting atau adjusment aja

    ReplyDelete
  19. Pandemi ini mengajarkan kita pun wajib mempunyai tabungan ya slain banyak hikmah nya dari pandemi ini ya mba..smoga slalu di berikan kesehatan dan happy terus ya mba

    ReplyDelete

Post a Comment