Tentang Destinasi Wisata Hijau Papua yang Jadi Google Doodle Itu

Taman Nasional Lorentz jadi Google Doodle | Sumber foto: Liputan6

Dulu, bagiku hutan itu adalah tempat bermain. Aku malah memiliki cerita masa kecil yang menyenangkan terkait hutan. Bersama almarhum Nenekku di dalamnya.

Selain memiliki beragam fungsi, seiring dengan pengenalan dunia televisi, dalam film dan sinetron hutan sering diidentikkan dengan tempat seram yang menakutkan.

Keseringan nonton yang seperti ini, pada akhirnya otak juga ternyata ikut kedoktrin bahwa hutan itu suatu waktu adalah tempat yang menyeramkan. 

Sampai akhirnya, awal bulan Maret 2020 ini, aku berkesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang hutan lewat kerjasama Blogger Perempuan dengan salah satu organisasi lingkungan hidup independen non profit.

Seru sekali. Banyak bayangan-bayangan tentang hutan yang dulu terpikirkan dan tidak terpikirkan akhirnya diluruskan. 

Banyak pemahaman baru, termasuk bagaimana hutan memiliki peran penting untuk menjaga kelestarian masyarakat adat. 

Usai dengan organisasi tersebut, kini Blogger Perempuan bekerja sama dengan EcoNusa untuk berbicara tentang rimba khususnya Papua dan ekowisata di dalamnya.

Bicara tentang hutan, Papua adalah salah satu wilayah di Indonesia yang masih kaya akan hutan. Di sana, setidaknya masih terdapat 25.030.659,04 hektare total luas hutan. Tidak salah jika dikatakan bahwa Papua destinasi wisata hijau

Dengar nama Papua, banyak hal menyenangkan yang dapat dibayangkan. Mulai dari Raja Ampat untuk lokasi wisata, keindahan burung Cenderawasih sebagai fauna sampai hawanya yang masih begitu segar. Wajar aja kalau Nadine Chandrawinata sampai jatuh cinta bahkan bikin hotel di sana.

Tapi sebetulnya, ada hal lain yang tak kalah menarik tentang Papua. Apa itu?

"Cerita Saja Tentang TN Lorentz"
Namanya Susi. Alumni Universitas Negeri Lampung yang kini bertugas di Papua. Sudah cukup lama di sana, beberapa tahun kalau aku tidak salah. Temanku dulu saat sama-sama masih kuliah di Bandar Lampung meski di Universitas yang berbeda.

Sejujurnya, jika ditanya tentang Papua, aku pasti akan bercerita tentang Raja Ampat saja. Maklum, sudah lama ada keinginan untuk ke sana tapi tak kunjung terealisasi juga. Namun aku penasaran, rasanya Raja Ampat terlalu awam dan sering sekali digaungkan.

Aku memutuskan untuk meminta pendapat Susi tentang Papua. Dan katanya, "Cerita saja tentang TN Lorentz, banyak hal yang bisa diambil dari sana."

Ilustrasi: Kompas Travel

Dan aku mulai riset tentang satu nama yang disebutkannya. Lalu perlahan keinginanku bertambah, tak hanya tentang Raja Ampat, kelak jika diberi rejeki, aku berharap bisa berdekatan atau jika memungkinkan melihat langsung bagaimana anggun dan megahnya Taman Nasional Lorentz yang telah dijadikan Google Doodle pada tanggal 4 Desember 2019 lalu ini.

Taman Nasional Lorentz
Sejarah Taman Nasional Lorenzt ternyata cukup panjang, nama ini berasal dari ekspedisi yang dipimpin oleh Dr. H.A Lorentz seorang warga Belanda pada tahun 1909. 10 tahun kemudian TN Lorentz diakui secara resmi dengan ditetapkannya Monumen Alam Lorentz pada masa Hindia Belanda.

Pada tahun 1978, pemerintah menetapkan TN Lorenzt sebagai cagar alam. Pada tahun 1999, TN Lorentz didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia dan pada tahun 2003 menjadi Taman Warisan ASEAN melalui ASEAN Declaration on Heritage Parks.

Lalu, kok bisa sih jadi Google Doodle?

Mari kita kulik satu per satu:
1. Hari jadi TN Lorentz 4 Desember
Selain karena keindahannya, TN Lorentz dijadikan sebagai Google Doodle berketepatan dengan hari jadinya.

2. Banyak hal yang dapat dinikmati
TN Lorentz memang terkenal sebagai rumah dari beragam masyarakat adat, flora dan fauna. Itu sebabnya, berada di sini memberikan kesempatan untuk pengunjung menikmati pertunjukan kehidupan liar, pendakian puncak Jaya Wijaya serta atraksi budaya.

Aku cukup penasaran dengan pertunjukan kehidupan liar. Maksudku, rasanya di kota ini mudah sekali untuk membuang makanan jika tidak habis, aku ingin tahu bagaiamana masyarakat adat berbaur dengan alam untuk mempertahankan kehidupan. Bagaimana mereka bertahan hidup dengan kehidupan liar itu? Apakah mereka juga semudah itu untuk membuang makanan?

Kental dengan budaya membuat sudut pandang terhadap sahabat-sahabat Papua kadang berbeda. Sorot mata yang tajam, badan kekar dan tinggi, percaya diri saat melangkah meski sendiri. Aku pribadi nihhh, tanpa bermaksud rasis, kadang suka takut jika bertemu dengan teman-teman.

Untuk itu, aku ingin meluruskan benakku yang salah ini dengan mata kepalaku sendiri. Meski kental dengan budaya dan kehidupan liar, sahabat-sahabat dari Papua juga memiliki sisi manis sama seperti masyarakat pada umumnya. Papua itu Indonesia. Sama dengan diriku, kamu, kita semua. Aku hanya ingin meluruskan ini. Maaf bila kata-kataku salah.
.
3. Rumah bagi  berbagai suku dan beragam flora dan fauna
Kawasan TN Lorentz merupakan rumah bagi berbagai suku seperti Suku Nduga, Suku Dani, Suku Amungme, Suku Sempan dan Suku Asmat.

Di sini juga terdapat 1.200 tumbuhan berbunga, 123 spesies mamalia, 411 spesies burung, 150 spesies reptil dan amfibi, terdapat juga 45 spesies burung sebaran terbatas dan 9 spesies burung endemik.

Masa sih ada orang yang ngga penasaran dengan kekayaan ini?

4. Taman nasional terluas di Asia Tenggara
Memiliki luas 2,4 juta hektare atau setara dengan 37 kali ukuran Jakarta membuat TN Lorentz belum semua wilayahnya dijelajahi oleh wisatawan.

Kalau berkunjung ke sini, aku punya bayangan sendiri sih. Antara takjub, takut, penasaran dan terhibur. Terhibur karena pasti akan menemukan beragam hal baru di sana. Takjub karena akan menjadi perjalanan pertama di hutan yang semegah ini, dan penasaran dengan isi hutannya.

5. Mencakup puncak Jaya Wijaya 
Terakhir, kawasan TN Lorentz mencakup gunung dengan puncak tertinggi di Asia tenggara dan paling terkenal di dunia, yakni Puncak Jaya Wijaya yang keindahannya tak kalah dengan Swiss di drama Korea Crash Landing On You.

Ilustrasi: Liputan6


Comments

  1. Bumi papua terlihat indah banget ya. Pengen deh punya kesempatan bisa menjelajah papua

    ReplyDelete
  2. Dan suatu saat kelak aku akan kesana bersama orang terkasih.

    ReplyDelete
  3. Gak nyangka deh kalau ternyata di Papua ada salju juga. Menarik sekali

    ReplyDelete

Post a Comment