Menelisik Defenisi "Hutan sebagai Sumber Makanan" pada Kopi



Sumber foto: Freepik

Kata orang, hutan sumber makanan. Percayakah kau tentang hal ini? 

Kalau aku sih, 100% percaya. Aku percaya pada versiku sendiri. Hal yang kualami sendiri. 

Tentang Kopi dan Kontribusinya di Berbagai Lokasi
Mr. Kang dalam drama Korea terbaru berjudul "Forest" memutar gelas kopinya tepat di bawah sinar matahari. Kepulan asap terlihat berhambur keluar. Tak lama, dia meneguk gelas tersebut lalu bayangan membawanya pada suasana senyap di hutan. Sebuah ketenangan yang berasal dari bayang-bayang masa lalu.

Di belahan dunia lain, Anne Hathaway menjadi orang paling sibuk saat menghadapi sang bos. Dalam film "The Devil Wears Prada", Anne harus menyisihkan waktunya demi mendapatkan kopi sesuai permintaan sang boss untuk kemudian menyiapkan sederet pekerjaan lain yang tak kalah menguras pikiran dan tenaga.

Di tempat yang berbeda, Luna Maya, Chiko Jericho dan  Rio Dewanto terus mencari kopi terbaik yang dimiliki alam Nusantara, Tanah Toraja. Kemudian menyajikannya pada seluruh pecinta kopi yang berkunjung ke cafenya dalam film Filosofi Kopi.

Berbicara tentang kopi memang tidak ada habisnya. Kopi menjadi salah satu elemen yang paling menarik untuk dibahas baik di dunia perfilman termasuk di dunia nyata. Tidak terbatas pada satu tempat saja, kopi juga menjadi salah satu minuman yang banyak diperbincangkan bahkan dikonsumsi di seluruh dunia. 

Sederet contoh di atas adalah kisah dalam film berbeda dari lokasi yang berbeda pula yang membahas tentang bagaimana kopi memiliki andil terhadap kehidupan banyak orang.

Bagaimana dengan di kehidupan nyata?

Kurang lebih sama.

Kilas Balik Masa Kecil, Tentang Memetik Sampai Seduh Kopi Sendiri.
Aku akan mengajakmu sedikit mundur ke belakang. Sekitar tahun 1998 hingga awal tahun 2000an bisa dikatakan menjadi masa-masa seru sekaligus menyebalkan bagiku.

Saat Oppung boruku (nenekku) panen kopi, kupikir dia mencintai kopi itu lebih dari kami cucu cucunya.

Saat tiba musim memetik, satupun cucunya tidak ada yang bisa tertinggal di kampung. Tak peduli seberapa kencang cucunya merengek menangis minta main saja bersama temannya, semua harus ikut untuk memetik sebanyak mungkin kopi yang telah berwarna merah lalu dikumpulkan dalam karung goni berukuran besar.

Untuk tiba di kebun kopi ini, kami harus melewati hutan yang bisa kukatakan cukup lebat untuk dilewati anak-anak saat itu.

Namun, karena memang mata pencaharian utama di kampung berasal dari sawah dan kebun, sedari kecil, kami sudah diajari untuk sanggup melewati hutan dan belajar untuk melawan rasa takut.

Begitu memang, hari-hari libur kami habiskan dengan banyak hal di hutan itu. Mulai dari belajar memanjat sampai mencuri. Dari nyolong buah hingga kayu bakar. Hehe. Jangan ditiru ya, saat itu kami masih anak-anak yang masih tidak patuh pada peringatan orang tua.

Kembali tentang kopi.

Ya, kopi ini berada di dalam hutan. Atau bisa dikatakan hutan dalam hutan. Karena begitu memasuki area Kopi, tampilannya kurang lebih sama dengan hutan. Bedanya, area Kopi lebih bersih dan terurus.

Dalam perjalanan menuju area kopi, sesekali kami memang akan berpapasan dengan orang lain. Tapi lebih sering diselimuti sepi. Berjalan sendiri, hanya ada pohon-pohon tinggi, rumput liar, semak belukar dan rumput yang sudah mengering karena terlalu banyak diinjak orang. Dipaksa menjadi jalan. Tapi sepanjang jalan itu, sejuk dan teduh rasanya. 

Di dalam kebun kopi, akan lebih sepi. Karena semua akan berpencar untuk mengisi ember kopinya masing-masing.

Bukan hal mudah untuk memetik kopi ini. Seharian memetik kopi merah di kebun kopi, akan meninggalkan bercak kuning di kuku ibu jari yang kugunakan untuk melepas kopi dari pohonnya dan bercak kuning ini akan sulit dihilangkan.

Masalah lainnya adalah, kebun kopi yang sebegitu luasnya menyulitkan untuk koordinasi. Bahkan kadang, aku harus berteriak untuk mengetahui posisi Oppung dan saudara-saudaraku.

Meski begitu, ada yang menyenangkan dari urusan memetik kopi ini;
1. Kisah masa kecil yang menyenangkan
2. Mengenal pertumbuhan kopi
3. Mengetahui bagaimana rasanya kopi asli yang begitu manis. Untuk sekedar kamu ketahui, kopi merah yang baru saja dipetik kemudian dikupas, bagian cairannya rasanya manis tanpa membuat perasaan eneg saat mencicipinya. Kurekomendasikan, jika kamu adalah pecinta kopi sungguhan, kamu juga harus coba.
4. Tempat yang paling seru untuk bermain petak umpet
5. Tempat menikmati ketenangan.

Kopi yang sudah dipetik akan disortir. Kopi dengan kualias rendah dipisah sedang yang berkualitas baik akan disatukan.

Kopi dengan kualitas baik akan direbus lama lalu dibiarkan semalaman. Aku cukup sebal pada proses ini. Selain memakan waktu yang lama, berhubung proses perebusan kopi dilakukan dengan menggunakan kayu bakar, alhasil kuali akan menghitam pekat dan akan menyebalkan sekali saat dibersihkan. Hehhe. 

Aroma kopi yang sudah dibiarkan semalaman byuhhh, bauuuu sekali! Tapi kata oppung, itu aroma terbaik dari kopi yang berkualitas baik.

Kopi tersebut akan ditumbuk dalam sebuah lesung berukuran besar. Kemudian dijemur kembali. Lalu disortir lagi untuk mendapatkan hasil akhir.

Sumber foto: Freepik

Kopi yang sudah terpilih akan disangrai lalu ditumbuk kemudian disaring dan siap disajikan.

Umumnya, hanya sedikit kopi yang diolah untuk disajikan. Sisanya untuk dijual untuk kemudian digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari pakan sampai urusan sekolahan.

Mengenal Kopi
Kopi adalah minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. 

Menurut sejarah, penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh bangsa Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun yang lalu lalu terus berkembang dan sekarang menjadi salah satu minuman yang paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan di Indonesia (Sumber: Wikipedia)

Tempat tumbuhnya kopi berbeda-beda, tergantung varietasnya. Kopi Arabika dapat tumbuh pada ketinggian 600-2000 m di atas permukaan laut, sedangkan kopi Robusta cakupan daerah tumbuhnya jauh lebih luas dibandingkan Arabika. Robusta dapat tumbuh pada ketinggian 800 m di atas permukaan laut. 

Jatuh Cinta Pada Kopi
Aku lupa varietas kopi yang ditanam oleh Oppung, yang jelas, sejak mengenal kopi, aku jatuh cinta pada segala sesuatu yang berhubungan dengan kopi. 

Saat kecil, aku kerap memasukkan beberapa sendok bubuk kopi ke dalam gelas, memasukkan beberapa sendok gula ke dalam gelas yang sama. Lalu campuran tersebut kuaduk untuk kemudian kukunyah. Bukan diseduh lalu disesap penuh nikmat. Masa kecilku punya cara sendiri untuk menikmati kopi. Dan aku menyukai itu dulu. 

Beranjak dewasa, aku tau bahwa kopi menjadi salah satu unsur yang tak bisa ditinggalkan. Bukan hanya aku, tapi hampir seluruh masyarakat di dunia membutuhkan kopi sebelum, saat dan sesudah beraktifitas dengan beragam tampilan dalam gelasnya.

Sumber foto: Freepik

Bukan rahasia lagi bahwa kopi memiliki banyak manfaat, seperti:
  • Memperbaiki mood
  • Mengurangi stress dan depresi
  • Membakar lemak
  • Meningkatkan jumlah antioksidan dalam tubuh 
  • Menekan risiko sakit jantung dan diabetes
  • Bikin melek
Namun perlu diingat, meskipun memiliki banyak sekali manfaat, konsumsi kopi juga harus tetap dibatasi dan jangan sampai berlebih.

Olahan Kopi.
Selain diseduh, kopi juga dapat diolah menjadi berbagai produk:

  • Topping cake
  • Campuran rasa untuk roti dan kue
  • Campuran es krim
  • Parfum
  • Pakan hewan 
  • Bahan untuk kecantikan. Kamu tahu tidak, bubuk kopi dengan tambahan madu adalah racikan alami yang bagus untuk kesehatan wajah. Tinggal ditempel tempel di wajah, jadi deh masker alami. 

Dari olahan-olahan inilah banyak orang di penjuru dunia menghasilkan uang. Dari olahan-olahan ini pulalah tercipta banyak lapangan kerja yang berujung pada penyelamatan ratusan perut yang kelaparan.

Ini maksudku memaknai dengan versi pribadi hutan sebagai sumber makanan. Selain tentu saja mengolah sendiri hasil panen kopi untuk dikonsumsi pribadi.

Pemanfaatan Tanaman Kopi
Untuk kamu ketahui juga, tanaman kopi ini persis seperti kelapa. Hampir seluruh bagiannya dapat diolah menjadi produk baru sehingga tidak ada yang tersisa atau tertinggal menjadi sampah:

  • Kayunya untuk dijadikan kayu bakar.
  • Daunnya untuk diolah kembali dijadikan pupuk kompos
  • Kopinya untuk diproduksi lalu diolah jadi berbagai produk olahan.
  • Bahkannn, ampas dari sisa seduhan kopipun dapat dimanfaatkan untuk mengharumkan ruangan. Ampas bisa dimasukkan ke dalam pot bunga lalu dibiarkan begitu saja. Selain untuk mengharumkan ruangan, ampas kopi juga berfungsi sebagai pupuk terhadap tanaman.
Kehilangan Hutan dan Jalan Kenangan
Akhir tahun lalu, aku kembali ke kampung halaman. Melepas rindu dan bernostalgia dengan kenangan-kenangan cerita kecil.

Jalanan masih banyak yang sama, meskipun sisi kiri dan kanan serta rumah-rumah warga sudah banyak yang berubah. 

Kukira perubahan ini hanya terjadi pada rumah-rumah yang sudah ada saat aku kecil saja. Ternyata aku salah, di beberapa sudut yang dulunya adalah jalanan menuju hutan, jalan menuju kopi kami, kini sudah berubah. Rumah menjadi penggantinya. 

Tak banyak lagi pepohonan rimbun untuk dipanjati anak-anak kecil, tak ada lagi cerita bersembunyi di balik pohon, tak ada lagi sepi dan suara jangkrik untuk didengar meskipun siang hari. Aku seperti kehilangan jalanku yang penuh cerita. Aku seperti kehilangan hutan yang dulu kubenci kini malah kurindu. 

Saat di sisi lain Indonesia kerusakan hutan terjadi akibat kebakaran, maka di depan wajahku, aku melihat satu per satu tanaman itu bermetamorfosa menjadi perumahan. Bahkan kebun kopi yang dulu tempatku bermain kini lenyap berganti rumah. Hanya tersisa satu buah pohon kemiri di sana bersama aren di sisi lainnya. Gersang rasanya.

Sebanyak total 328.724 ha luas hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2019. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan organisasi-organisasi lingkungan hidup lainnya berupaya untuk mengembalikan lagi kondisi hutan seperti sedia kala.

Jika memang kita tidak bisa berkontribusi untuk menghijaukan kembali hutan, setidaknya tidak ikut untuk merusak karena disadari atau tidak, hutan adalah sumber pangan. Baik dengan olahan langsung ataupun lewat penjualan hasil panennya.

Ayo bantu WALHI untuk #PulihkanIndonesia!

Komentar

  1. Terima kasih hutan sudah menghasilkan kopi yang kini kian merebak (coffe shop yang instagramable banget) :D

    BalasHapus
  2. ada sececap hirup dalam secangkir kopi panas untuk gairah hidup melanjutkan masa depan,,
    Begitu juga dengan hutan yang memberikan hidup untuk makhluk yang mendiaminya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mba Er. Sayang sekarang makin banyak hutan yang menggundul yaa.

      Hapus
  3. Dari sekian jenis kopi di Indonesia, aku paling cocok sama kopi sumatera. Pas asamnya, aman di lambung dan cucok di lidah.

    Btw, aku jadi penasaran sama kopi di hutan mbak Efa. Share pict-nya kalau pulang, ya.... 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah digunduli Mba yu. Hiks. Udah jadi rumah sekarang. Sisa pohon aren doang sama ada pohon kemiri di lokasi yang sama.

      Hapus
  4. Seru banget baca cerita masa kecilnya. Aku pun bisa merasakan kesedihan itu saat jalan cerita masa kecil Efa hanya tinggal kenangan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang seruuuu. Hihihi. Apalagi kalau nginget belajar manjat di hutan. Naik bisa turunnya ketakutan. Hahahaha

      Hapus
  5. Aku penyuka kopi, kalo bener membakar lemak, mau ahh kopi tiap hari lagi lol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berdasarkan referensi yang kubaca begitulah Mba Al. Tapi tetep dalam porsinya dan jangan sampai berlebihan yaaa. Hehe

      Hapus
  6. Waah ternyata banyak yaa film berkaitan dengan kopi. Aku tahunya filosofi kopi aja hehe bangga deh dengan kopi Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan banyak Mba. Hehehe. Film di atas beberapa di antaranya
      Barangkali bisa jadi referensi tontonan juga :)

      Hapus
  7. Dan kopi punya banyak cerita dirumah. Setiap pagi mamak membuat kan bapak kopi untuk mengahantarkan bapak berangkat kerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huuuaaaa. Kopi paling enak itu emang buatan Mak yaaaa. Hehe

      Hapus
  8. Aroma kopi itu sangat menggoda, tp kenapa lambungku gabisa menerimanya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dipaksa konsumsi jika menghirup aroma nya aja udh bikin jiwa sedikit tenang Win 🤗

      Hapus
  9. Kopi itu penolong di kala konsentrasi sedang ambyar. Rasanya sedih kalau keberadaan hutan mulai terkikis.

    BalasHapus

Posting Komentar