Perantau dan Setumpuk Rindu


Kata Nadezhda dalam film Aruna dan Lidahnya "Alasan orang pergi jauh adalah, pulang"

Tentang merantau, rasanya kata ini mudah sekali untuk diucapkan. Tapi faktanya, hanya beberapa orang yang memberi hati untuk menyanggupi sedang sebagian lagi tak tahan dengan urusan perpisahan.

Merantau tak sekedar urusan mimpi yang harus digenapi, merantau juga memiliki defenisi tentang hati yang harus siap tersakiti. Ada rupa yang tak lagi melulu dijumpa, ada suara yang harus menunggu masa untuk didengar, juga ada rindu yang harus dipendam hingga masa yang sudah ditetapkan. 

Bagiku sendiri, masa yang kutetapkan adalah akhir tahun. Libur Natal dan tahun baru. Alasannya hanya dua:
1. Hati orang tua yang sedang menanti
2. Aku tahu rasanya menikmati moment Natal dan tahun baru sendiri, dan itu sungguh tidak enak.

Namun selain dua alasan di atas, aku memiliki setumpuk alasan lain mengapa harus kembali di penghujung tahun. Moment libur Natal dan tahun baru:

1. Menikmati kehangatan keluarga di masa masa Natal dan tahun baru


Meski Natal memang memiliki makna yang mendalam, namun tradisi di tempatku sendiri, tahun baru lebih mendominasi. Perantau pulang justeru selisih 4 atau 5 hari menjelang tahun baru. 

Pada moment tersebut, tepat pukul 00:00 di pergantian tahun, ada satu kebiasaan yang tak pernah lupa untuk dilakukan oleh masyarakat Batak. Kami menyebutnya "Mandok Hata".

Mandok Hata
Mandok bagi masyarakat Batak berarti "menyampaikan" sedangkan Hata berarti "Kata". Secara umum, mandok hata adalah kegiatan menyampaikan uneg-uneg, pendapat, bisa juga masukan yang dirasakan sepanjang tahun berjalan oleh seluruh anggota keluarga.

Mandok hata dimulai dari anggota keluarga paling kecil sampai yang tertua secara bergantian. Acara ini sekaligus menjadi ajang maaf-maafan. Tak jarang juga terjadi pertumpahan air mata karena beberapa hal, seperti grogi bagi anak-anak kecil yang bingung akan kata yang ingin disampaikan, atau air mata haru dan bahagia karena akhirnya bertemu setelah sekian lama memendam rindu. 

Moment ini, meski terasa begitu sederhana sekaligus "berat" di waktu yang bersamaan, sesungguhnya melengkapi kekosongan dalam hati, mengisi kembali hati yang kelu dengan ragam kehangatan yang mungkin lama tak dirasa di kota sana. 

2. Menghapus Rindu
Aku percaya, selain ingin menikmati hangatnya moment Natal dan tahun baru bersama keluarga, rindu adalah adalah alasan lain mengapa pulang itu penting.



Rindu itu berat, kata Dilan kamu tidak akan kuat. Ini sungguh salah! Perantau itu hebat, mereka kuat menahan rindu. Menantang hidup 350 hari, lalu bertemu menghapus rindu hanya 16 hari bagi yang memiliki cuti. Jika tidak beruntung dikelilingi oleh cuti, mungkin semesta hanya merestui 6 hari untuk saling bertemu menghapus rindu.


3. Medengar kembali cerewetnya orang tua
Kamu harus percaya, bahwa cerewetnya orang tua memang terasa memuakkan. Namun pada intinya semua akan bermuara pada kebaikan. 

Dan saat di perantauan, kamu akan memahami, bahwa ocehan yang selama ini kamu benci mulai kamu cari kembali. Dan satu-satunya jalan untuk menikmati adalah kembali.

4. Bernostalgia dengan masa kecil
Aku ingat betul, bagaimana dulu setiap inchi kampung ini menggores cerita di dalam hati. 

Sebagian masih tersimpan manis, sebagian lamat-lamat mulai terkikis, sebagian lagi mungkin sudah lupa tak berbekas.

Aku ingat bagaimana dulu bermain air dengan ban bekas di sungai sampai celana robek dan jadi santapan omelan mamak. Aku ingat betul bagaimana karena mandi di sungai berbeda kakiku terbelah kaca dan lagi-lagi jadi bahan ocehan mamak. Aku juga masih sering tertawa geli saat mengingat kembali bagaimana kami harus naik terlebih dahulu dari sebuah DAM yang kami buat jadi tempat mandi bersama saat pemilik rumah di depan sana buang air besar lalu kotorannya lepas landas di DAM tersebut. LOL! 

Aku ingat betapa banyaknya bakat bernyanyi yang tak terus diasah. Dia dibiarkan terpendam, meredam, lalu redup tak berbekas. Semoga adik yang satu ini bisa terus merekah, terasah lalu kelak bersinar.


Aku ingat dulu sekolah suka berantem, aku ingat dulu aku pernah pura-pura mengantarkan teman satu kelas yang sakit karena males mengikuti mata pelajaran. Aku ingat bagaimana kami berjalan kaki cukup jauh untuk tiba di sekolah. 

Aku ingat bagaimana aku menghabiskan waktu bersama sahabatku yang kini sudah memiliki anak dan belum juga ada kesempatan untuk bertemu kembali. Aku mengingat kembali bagaimana aku menghabiskan waktu di gereja bersama anak-anak yang masih berlumur ingus dan begitu menggemaskan dan kini bertumbuh menjadi muda mudi yang besar dan siap menghadapi dunia. Tanggal 20 Desember lalu, kami duduk bersama dalam rangkulan nama "Naposo Bulung"

Aku juga mengingat kembali bagaimana dulu hatiku belajar sendiri tentang jatuh cinta. 

5. Merangkul asa sebelum kembali ke kota

Kampung ini, di setiap tapakan kaki, dulu aku memiliki cerita yang ingin terus kukenang. Tentang kisah, tentang bahasa, tentang adat, atau budaya.

Baik cerita yang nantinya akan kuceritakan kembali atau untuk sekedar kusimpan sendiri. Namun, aku sampai pada kesimpulan bahwa cerita ini, tak peduli sesederhana apapun, aku ingin mendekapnya erat. Merangkul kembali sebanyak mungkin asa sebelum kembali ke kota. 

Komentar