Ingin Kembali dan Menikmati Mayang yang Tak Kesampaian

Salah satu nelayan dan perahunya | Foto: Dokumen Pribadi
Mengenal Mayang
Pernahkah kamu mendengar istilah mayang?
Mayang adalah suatu kegiatan menangkap ikan dengan menggunakan perahu klasik. Orang orang juga menyebutnya dengan kapal pukat, yakni kapal penangkap ikan yang dirancang untuk mengoperasikan pukat atau jaring penangkap ikan.

Sederhananya, kegiatan ini adalah kegiatan menangkap ikan dengan menggunakan jaring oleh nelayan yang tinggal di sekitar perairan.

Mencari Kedamaian di Pinggir Pantai 
Aku mengetahui istilah mayang ini saat berlibur ke Lampung tahun lalu. Lampung sendiri merupakan daerah yang berbatasan dengan Samudra Hindia di sebelah Barat dan laut Jawa di sebelah Timur sedangkan sebelah Selatannya berbatasan dengan Selat Sunda.

Kondisi Lampung yang dikelilingi oleh perairan membuat daerah ini kaya akan destinasi wisata bahari, sehingga tidak heran jika salah satu pekerjaan masyarakat terutama yang berada di daerah Pesisir adalah nelayan.

Satu sore saat berada di Lampung, aku berinisiatif mengajak beberapa teman untuk minggir sejenak dari riuhnya kota. Mencari kedamaian lewat debur ombak dan senja jingga yang akan bersembunyi menyimpan dirinya. Berganti dengan pekatnya malam. Sejak dulu, aku memang selalu menyukai pemandangan ini. Tenang sekali rasanya.

Gayung bersambut, ajakanku diterima. Sebetulnya tidak jauh-jauh amat dari tempat tinggal, hanya sekitar kurang lebih 1 jam perjalanan dengan roda dua. Kami memutuskan untuk mendekat ke daerah Lempasing. Selain dekat, di perjalanan kami juga melewati tempat pelelangan ikan yang bisa juga dibeli oleh masyarakat. Lumayan untuk dibawa pulang.

Serunya Mayang, Sayang Tak Kesampaian
Kami tiba di sana sampai akhirnya bertemu dengan sekelompok Bapak yang sibuk gotong royong menarik tali ke pinggir pantai.

Sekelompok Bapak yang tengah menarik tali jala | Foto: Dokumen Pribadi

Belakangan aku tahu bahwa benda yang sedang ditariknya adalah jaring atau disebut juga jala namun ukurannnya berkali kali lebih besar.

Bapak tersebut berjumlah empat orang. Mereka bergantian menarik tali hingga ke bibir pantai. Dua orang akan terus menarik hingga titik berkumpulnya tali. Tali tersebut akan digulung, kemudian keduanya maju untuk kembali menarik tali yang sama, begitu seterusnya bergantian sampai jala terlihat.

Proses mayang hingga selesai lumayan lama, sekitar dua tiga jam sudah termasuk menarik jala ke pantai. Menurut bapak-bapak tersebut, aktifitas ini pada umumnya dilakukan sore hari. Saat langit sedang cantik-cantiknya, laut sudah mulai pasang, dan ikan yang tak lagi malu-malu memunculkan diri. Dan ini sangat menggoda untuk dicoba.

Banyak cerita serunya. Bapak yang satu bilang, "Kadang dapet ikannya banyak banget, kadang cuma sedikit. Ya tergantung Mba." Sedangkan bapak yang satu lagi mengatakan "Banyak sedikitnya ya disyukuri Mba. Soalnya pasti habis diborong sama masyarakat sekitar ini. Tuh lihat, udah pada nunggu kan?" Katanya sembari tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke belakang. Tempat di mana masyarakat berkerumun menanti nelayan menyelesaikan tugasnya dan mereka bisa membelinya dengan kondisi ikan yang sangat segar.

"Habis ini mayang lagi, Pak? Saya boleh ikut?"

Permintaanku ditolak begitu halus. Hari sudah mulai gelap. "Kami masih harus sortir, Mba. Nanti deh kalau ada waktu ke sini, main lagi. Jam-jam 3 an ya" katanya menyambut permintaanku lalu mengajakku untuk bergabung menyortir ikan. "Kalau mau yaa, kalau geli atau jijik, ya nda usah" Seloroh si Bapak.

Sortir ikan dan kerumunan masyarakat yang siap untuk membeli | Foto: Dokumen Pribadi

Ingin Kembali, Ikut Mayang yang Belum Kesampaian

Ibu Susi di atas kano | Foto: Merdeka.com
Bicara tentang Lampung, selain rindu, mayang yang belum kesampaian ini menjadi salah satu alasanku ingin kembali. Alasan lain mengapa aku ingin sekali mencoba mayang ini adalah Ibu Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Perikanan dan Kelautan yang terlihat begitu menikmati kopi di atas kano.

Aku begitu tertarik dengan cara sederhana beliau untuk menikmati hidup, aku begitu tertarik pada para nelayan yang menghasilkan ikan-ikan segar dengan view alam yang begitu memukau yang mungkin Bu Susi sudah bolak balik nikmati. Aku juga ingin merasakan kesederhaan yang begitu membahagiakan seperti itu.

Kembali tentang Lampung dan rencana ingin kembali. Walau pernah menghabiskan waktu beberapa tahun di Lampung, setiap kali ke tempat ini, ada saja rasanya hambatan jika berbicara urusan tempat menginap.

Banyak sekali teman-teman yang menawarkan diri untuk aku menginap, namun ada hati orang tuanya yang sekaligus adalah pemilik rumah yang tetap harus kujaga. Pulang tepat waktu sesuai aturan pemilik rumah. Sementara libur bagiku adalah memaksimalkan waktu sebanyak mungkin, sebermanfaat mungkin. Jika tinggal di rumah teman, sama artinya dengan beberapa jam yang tersisa dan hanya digunakan istirahat. Sayang sekali rasanya.

Itu kenapa, saat mengetahui bahwa OYO Hotels Indonesia bagi-bagi diskon menginap di hotel OYO sebesar 70%, aku tak sungkan berbagi cerita. Lagipula, cerita serunya mayang ini rasanya terlalu sayang jika harus kunikmati sendiri.

Dengan ini, mungkin selanjutnya liburanku tak lagi jadi masalah dalam urusan tempat tinggal. Hotel Murah di Bandar Lampung bisa menjadi alterntif tempat penginapan untuk eksekusi harapan mayang dikemudian hari. Semoga saja.

Comments