Perantau di Kota Urban

Foto: Dokumen Pribadi

Namaku Efa. Aku datang dari salah satu desa yang bahkan di peta hingga saat inipun tak muncul juga.

Sama dengan masyarakat yang berurbanisasi ke Ibu kota Jakarta, aku pun memiliki tujuan yang sama. Mencari pekerjaan dan ingin mengetahui lebih banyak hal yang tidak pernah bisa kudapatkan di desa.

Oh iya, saat ini aku adalah seorang staff di perusahaan swasta di seputaran Setiabudi, Jakarta Selatan. Aku rasa aku adalah staff paling beruntung karena perusahaan tempatku bekerja bukanlah perusahaan yang mengharuskan karyawannya masuk jam 08.00 pulang jam 17.00 WIB.

Pimpinan mengijinkan karyawannya untuk masuk lewat dari jam 08.00 WIB selama karyawan tersebut bertanggungjawab untuk memenuhi jam kerjanya 8 jam sehari. Sungguh, ini sama sekali tidak masalah bagiku.

Rutinitas
Bicara tentang pekerjaan, ini adalah rutinitas ku.

Berangkat dari Depok menuju Jakarta Selatan setiap hari cukup menguras tenaga sih, tapi mau tidak mau harus tetap dilakoni karena beberapa hal salah satunya terkait dengan penghasilan, salah duanya terkait dengan tanggung jawab baik terhadap perusahaan, terhadap diri sendiri juga terhadap orang tua, dan mungkin salah tiganya adalah upaya untuk tetap bersosialisasi serta terus mengembangkan jaringan pertemanan.

Sekitar jam 8 pagi perjalanan dimulai. Ini cukup membantu karena di jam tersebut pengguna commuter line - satu satunya moda transportasi yang ramah, murah, cepat dan menawarkan kenyamanan – tidak lagi begitu penuh.

Beberapa kali aku pernah mencoba untuk berangkat di bawah jam 8 dan rasanya sangat berat. Penumpang yang begitu penuh membuatku harus berjibaku dan siap untuk saling dorong bersama ratusan penumpang lain di dalam KRL tersebut.

Setiap kali turun dari KRL, badanku rasanya remuk. Itu sebabnya aku memutuskan untuk selalu berangkat di atas jam 8 pagi menuju kantor.

Sadar atau tidak, akhir-akhir ini cuaca sedang sangat tidak bersahabat. Bulan Oktober yang seharusnya sudah mulai masuk musim penghujan justeru sedang terik-teriknya. Hal yang sama terus saja berkelanjutan hingga November ini meski sesekali hujan sudah mulai turun.

Terik matahari yang cukup menyengat sebetulnya sangat membuat tidak nyaman, belum lagi polusi ibu kota yang tak kunjung padam, serta angin yang seperti menghilang. Tidak heran jika tubuh mudah terserang penyakit.

Saat banyak staff yang mengirimkan surat ijin sakit ke perusahaan, aku justeru sibuk dengan segudang pekerjaan yang tidak bisa kuhindari. Syukurlah, aku baik-baik saja dan semoga seterusnya seperti itu.

Berbicara tentang rutinitas, hal yang pertama selalu kulakukan saat tiba di kantor adalah menyeduh minuman Herbadrink Sari Jahe atau Herbadrink Beras Kencur untuk memastikan kondisi tubuh terus fit. Favoriteku adalah menikmati minuman ini saat sedang panas-panasnya bersama dengan asapnya yang mengepul tebal. Rasanya jauh lebih hangat dan nikmat. Belum lagi aroma jahenya yang begitu kuat mampu merelaksasi otak dan memicu semangat untuk beraktivitas

Herbadrink Sari Jahe dan Herbadrink Beras Kencur | Foto: Dokumen Pribadi

Minuman ini bagiku seperti ritual pagi yang tak boleh terlewatkan, seperti ada yang kurang jika tidak dilakukan. Hehhee.

Herbadrink Sari Jahe saat di rumah | Foto: Dokumen Pribadi

Tiba di kantor, ada banyak sekali pekerjaan yang mengantri untuk diselesaikan. Menguras tenaga? Tentu saja? Menguras pikiran? Apalagi!

Berjibaku di depan komputer, mengantarkan beberapa file ke ruangan berbeda, pekerjaan yang terus saja bertambah meski pekerjaan lain belum selesai dibereskan. Banyak sekali tantangan pekerjaan sehari-hari yang harus diselesaikan.

Belum lagi akhir pekan yang biasanya kuhabiskan dengan ragam kegiatan blogging. Berbagai acara di berbagai tempat. Seru saja bisa melakukan banyak hal dengan stamina yang terus menyala.

Mengeluh? Kupikir sudah cukup jika dilakukan di dalam hati saja. Bagaimanapun, ada banyak sekali orang yang mungkin menginginkan menjadi diriku, menikmati apa yang saat ini kunikmati. Lagipula, bukankah ini salah satu tujuan yang membuatku memutuskan menjadi masyarakat urban?

Menjadi seorang masyarakat urban itu tidak mudah, tidak juga sulit jika mau berusaha. 

Komentar