Pengalaman Travelling yang Buruk dan Pentingnya Vaksin Sebelum Bepergian

Salah satu foto liburan saat berada di Lampung beberapa tahun lalu | Foto: Dokumen Pribadi

Libur Lebaran tahun lalu sepatutnya adalah hal yang menyenangkan bagiku. Ada banyak hal yang sudah direncanakan untuk dilakukan bersama dengan sahabat-sahabatku. 

Tak perlu jauh-jauh, sudah seperti rumah kedua, Lampung yang merupakan tempat di mana aku mengenyam pendidikan tinggi merupakan tujuan berlibur yang murah meriah. Makan, minum, tidur, tawa, ada semua. Modal teman. Hehhe

Alam dan Perjalanan
Aku sudah menanti cukup lama hari terakhir bekerja sebelum akhirnya berlibur, dan aku cukup bersemangat akan hal tersebut. Seperti biasa, aku selalu memilih perjalanan lewat darat karena ada kalanya perjalanan darat lebih terasa menyenangkan, banyak hal yang bisa dinikmati, sekaligus lebih bersahabat dalam urusan dompet. 

Sore itu sudah mendung. Rencanaku begitu sederhana, aku akan naik ojek online dari kantor menuju terminal kampung rambutan lalu naik bus dari sana menuju pelabuhan Merak. Aku memang bisa menentukan rencana begitu sederhana, tapi selebihnya Tuhan yang menentukan mulus tidaknya rencana tersebut dalam realisasinya.

Dalam perjalanan menuju terminal, jarak 10 menit lagi sebelum tiba di sana, hujan mengguyur begitu derasnya. Persiapanku jauh dari kedatangan hujan. Baju plastik yang biasanya kubawa dalam kondisi apapun hari itu justru kutinggal. Dan saat itu pula aku membutuhkannya. Satu bukti bahwa hal yang berkaitan dengan kesehatan selama bepergian tidak seharusnya dianggap tidak perlu. 

Aku memang akhirnya tiba di terminal, dengan kondisi basah. Tidak kuyup, namun mampu menghabisi badanku jika harus menahannya dari Jakarta hingga pelabuhan Merak.

Aku berencana untuk mengganti pakaianku, tapi hujan masih terus mengguyur. Dan aku tidak punya persiapan jika bajuku harus basah lagi. Mau tidak mau ini harus kembali terjadi karena dari terminal menuju bus juga membutuhkan waktu untuk berjalan dan meski hanya 1 atau 2 menit berjalan, derasnya air hujan sudah cukup untuk kembali membasahi lagi. 

Aku memutuskan untuk tidak mengganti pakaianku dengan harapan di dalam bus ada toilet dan aku akan menggantinya di sana.

Sialnya, harapanku tidak terjadi. Tidak ada toilet yang berarti tidak ada ganti baju dan aku harus membiarkan badaku terbalut pakaian basah hingga Merak.

Lampung dan Liburan yang Gantung
Pakaianku akhirnya bisa kuganti setiba di Merak. Sialnya, ini bukan kabar baik. Kepalaku mulai pusing, badanku meriang dan aku bersin-bersin. Wajar, kurang lebih 3 jam terbalut pakaian basah bukan hal yang baik untuk kesehatan tubuh. 

Kupikir apa yang kurasa akan segera membaik setibanya di Lampung. Sial tak dapat ditolak, dari petang hingga malam hari, badanku malah menggigil parah meski telah dibungkus oleh beberapa selimut termasuk dipeluk oleh sahabat-sahabatku. Semua seperti tidak ada guna. Dingin terus menusuk.

Saat dibawa ke klinik, Dokter bilang harus segera dibawa ke IGD untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan yaa, itu adalah akhir dari libur Lebaran tahun lalu. Berakhir di Rumah Sakit karena terkena tipus. Dan ini bukan hal yang kuinginkan setelah sekian lama bekerja tak henti-henti.

Fakta Seputar Travelling
Sejujurnya, sakit setiba di lokasi tujuan bukan baru ini saja kurasakan. Pernah juga saat libur Natal aku harus ke Medan. Menghabiskan waktu di sana bersama kedua orang tua dan seluruh keluarga untuk menikmati hangatnya Natal. Aku memang bekerja hingga siang sebelum berangkat ke bandara untuk melakukan perjalanan malam ke sana. Dan ya, tubuh yang terlalu porsir sebelum liburan justeru ikut menjadi boomerang dan memiliki andil membuat daya tahan tubuh melemah. Malam itu juga, setiba di rumah, aku demam.

Meski liburan atau bahasa kerennya travelling adalah hal yang begitu menyenangkan, ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum eksekusi rencana perjalanan.

7 dari 10 teman yang iseng kutanyai persiapan liburan setidaknya ada beberapa hal berikut yang mereka siapkan:
1. Kesehatan pribadi
2. Mengatur kembali pola tidur yang sudah sempat berantakan
3. Menjaga pola makan termasuk menjaga berat badan
4. Keperluan umum selama di lokasi wisata, seperti pakaian, sepatu, tas, obat-obatan pribadi
5. Mencari informasi aktual dan akurat terkait lokasi yang akan dituju.
6. Uang tunai bagi yang akan travelling keluar negeri.

Padahal, ada satu hal yang paling penting yang seharusnya tak luput dari perhatian traveler lho, yaitu vaksin.

Kok vaksin?

Dalam acara "Bebas Flu Saat Travelling" | Foto: Dokumen Pribadi

Sebetulnya, aku juga baru mengetahui perihal ini. Tepat tanggal 24 November lalu, atas adanya sebuah undangan dari Sanofi Pasteur Indonesia bekerja sama dengan Worldwide Communications, aku menghadiri salah satu acara yang menurutku sangat mengedukasi, yakni pentingnya melakukan vaksinasi bagi traveller sebelum bepergian.

Mengetahui Pentingnya Vaksin Bagi Traveller
Vaksinasi adalah memasukkan sedikit partikel virus ke dalam tubuh lewat suntikan dalam porsi tertentu sehingga saat tekena virus tersebut, tubuh telah kebal. Virus yang dimaksud bermacam-macam, namun salah satu virus yang paling beragam dan berbeda di berbagai wilayah adalah virus inflenza.

Faktanya, traveller memiliki potensi yang cukup tinggi untuk menularkan ataupun menerima virus dari dan ke lokasi wisata. Fakta lainnya adalah, penularan virus tergolong mudah. Selain lewat udara, seseorang yang sedang flu kemudian bersin dengan menggunakan telapak tangan lalu membersihkan telapak tangan ke permukaan suatu benda dan seseorang menyentuh benda yang sama, maka orang tersebut akan beresiko tertular pula.

Penularan virus influenza ini juga semakin tinggi saat penderita berada di sebuah moda transportasi umum, seperti pesawat. Sirkulasi udara di dalam pesawat membuat virus flu mudah menyebar di dalam pesawat. Selain itu, awak kapal juga berpotensi menularkan virus flu sebanyak 4.6x di setiap penerbangan.

Bisa dibayangkan, begitu turun dari pesawat, ada berapa banyak penumpang yang berpotensi tertular kemudian menularkannya ke orang lain? Di sinilah letak pentingnya vaksinasi sebelum travelling.

dr. Suzy Maria Sp.PD | Foto: Dokumen Pribadi

Menurut dr. Suzy Maria Sp.PD, influenza adalah salah satu virus yang begitu mudah menyebar dan dapat meningkat hingga 4x lipat pada ruangan tertutup. Itu sebabnya, di dalam pesawat, penumpang yang duduk bersebelahan atau duduk di depan atau belakang penderita flu, memiliki resiko tertular hingga 80%.

Mengapa Harus Vaksin?
Pada umumnya, penderita flu banyak yang menganggap remeh terhadap kesehatannya. Berpikiran bahwa kondisi tersebut adalah hal ringan dan cenderung abai. Banyak yang akhirnya mengonsumsi makanan pedas agar hidung meler dengan harapan lekas pulih dari flu.

Padahal, meski terkesan sepele, flu juga berpotensi membuat seseorang meninggal dalam kondisi yang berat. Dan 40% yang terinfeksi membutuhkan penanganan medis. Sedangkan flu ringan memiliki dampak yang cukup dratis selama travelling, salah satunya adalah ketidaknyamanan saat menjelajah lokasi wisata yang sudah lama diidam-idamkan.

Lalu kenapa harus vaksin sih?

Vaksin adalah cara yang paling baik untuk mencegah flu. Idealnya, vaksin dapat dilakukan dua minggu sebelum perjalanan dimulai dan rutin sekali setahun. Vaksin sendiri sudah dapat dilakukan pada seseorang yang:

  1. Berusia ≥ 50 tahun
  2. Memiliki penyakit kronik termasuk asma
  3. Wanita hamil
  4. Tinggal dengan resiko tinggi. 
Seseorang yang telah melakukan vaksin setidaknya telah mencegah dirinya dari terkena flu, tidak menularkan flu pada orang lain, membuat flu lebih terasa ringan jika terkena flu serta mencegah komplikasi seperti pneumonia.

Oh iya, Sanofi Pasteur Indonesia sendiri memberikan harga Rp 350.000 yang menurutku sangat terjangkau. Karena selain bentuk kepedulian pada diri sendiri, harga di atas juga akan memproteksi diri hingga 1 tahun ke depan dari berbagai virus influenza saat bepergian. 

Komentar