Tak Ada Lagi Membahayakan Diri Saat Mencari Rejeki


Nyamannya Commuter Line saat ini | Foto: Wikipedia

Berdasarkan data yang dihimpun dan tersaji di Katadata, pengguna Commuter Line Jabodetabek sejak tahun 2011 terus meningkat. Peningkatan paling drastis terjadi pada tahun 2014, dengan pertambahan mencapai 50jt penumpang dari tahun 2013 dengan jumlah total penumpang hanya berada di angka 158,5jt penumpang. Hingga 2018, jumlah penumpang Commuter Line berjumlah 320jt penumpang.

Jumlah pengguna KRL dari tahun ke tahun | Foto: Katadata

Mengenal Commuter Line
Commuter Line adalah layanan kereta rel listrik komuter yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia. Hingga saat ini, moda transportasi ini adalah salah satu pilihan yang paling tepat untuk bepergian di wilayah JaBoDeTaBek karena menawarkan fasilitas yang memberikan kenyamanan serta harga yang sangat terjangkau.

Hingga saat ini, Commuter Line melayani rute DKI Jakarta, Kota Depok. Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Lebak, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. 

Sejarah Commuter Line
KRL sendiri sebetulnya telah digaungkan sejak 1917, dan mulai beroperasi sejak 1925 di wilayah Jakarta. Tahun 1965, transportasi ini diberhentikan operasinya seiring dengan perintah dari Soekarno terhadap Gubernur Sudiro di tahun 1960 untuk menghapus Trem Listrik karena dianggap telah menjadi penyebab kemacetan. Akhir tahun 1960, seluruh Trem listrik berhenti beroperasi di Jakarta dan di tahun 1965 turut diberhentikan sebagai imbas dari perintah tersebut.

Hingga akhirnya pada tahun 1972, gaung kereta listrik hadir kembali dibawakan oleh harian Kompas yang memberitakan Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) memesan 10 set kereta listrik dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan Jakarta. Hal ini dilakukan sebagai salah satu solusi atas kemacetan yang sudah mulai terasa saat itu.

4 tahun kemudian dapat dikatakan sebagai titik regenerasi KRL Jabodetabek. Di tahun inilah KRL dari Jepang tiba di Jakarta lalu menggantikan lokomotif-lokomotif lama dari Belanda yang dianggap sudah tak layak.

Hingga akhirnya Mei tahun 2000, Pemerintah Jepang dan kota Tokyo menyumbangkan 72 unit KRL bekas. Seluruh KRL tersebut diresmikan pada 25 Agustus 2000 dan menjadi KRL yang memiliki pendingin ruangan (AC) pertama di Indonesia.

Menatap Kembali Kehidupan Pengguna KRL Sebelum Era KCJ
Hadirnya unit KRL dilengkapi dengan AC ternyata bukan jaminan keselamatan para pengguna.

Sebelum tahun 2008, tahun dimana KCJ hadir, bisa dikatakan bahwa kehidupan pengguna KRL cukup tersiksa dalam pemanfaatan transportasi umum ini.

Beberapa gambaran penggunaannya adalah:

Kondisi pemanfaatan KRL sebelum hadirnya KCJ | Foto: Kumparan


  1. Kapasitas penumpang yang berlebih 
  2. Penumpang tidak memikirkan keselamatan dengan bergelantung di pintu dan atap kereta sehingga ada saja penumpang yang jatuh dari kereta atau tersengat pantograf KRL karena duduk di atap kereta
  3. Gerbong pria dan wanita yang disamakan
  4. Ijin untuk berjualan di dalam gerbong
  5. Penumpang dapat membawa hewan
  6. Ketidaktertiban ini berlanjut juga hingga ke jalur kereta. Penumpang dapat berjalan di rel tanpa memikirkan keselamatan
Meski demikian minusnya penggunaan KRL, pengguna tetap memilih transportasi ini untuk bepergian ke kantor, berjualan, atau pekerjaan lain yang memang telah menjadi rutinitasnya. Keamanan diri tak lagi yang utama, keselamatan tak lagi diperdulikan.

Buruknya pemanfaatan transportasi ini kemudian dibenahi. Jumlah unit ditambah, tarif begitu terjangkau, stasiunpun turut dirombak untuk untuk kenyamanan dan keselamatan penumpang.

Hingga kini, beberapa perubahan penggunaan Commuter Line tampak bertolak belakang dari awal kemunculannya. Mari kita cek satu per satu sejauh apa perubahan Commuter Line hingga saat ini mulai dari kenyamanan di stasiun, di gerbong, serta kemudahan dalam memperoleh tiket:

I. Kenyamanan di stasiun
  1. Renovasi stasiun-stasiun, termasuk perbaikan fasilitas umum seperti toilet dan mushola bagi pengguna yang beragama Muslim
  2. Mudahnya akses informasi baik secara digital maupun bantuan langsung oleh petugas di masing-masing stasiun dan KRL
  3. Di beberapa stasiun telah tersedia ruang menyusui untuk Ibu menyusui
  4. Petugas keamanan yang siaga dalam menghadapi penumpang dalam kondisi tidak sehat
II. Kenyamanan di Gerbong
  1. Tersedia 2 gerbong pertama dan terakhir khusus untuk penumpang perempuan
  2. Adanya priorty seat 
  3. Ketersediaan AC
  4. Ketersediaan jendela darurat
  5. Ketersediaan tombol darurat untuk mendapatkan pertolongan petugas saat mendapatkan kesulitan di Commuter Line 
  6. Di beberapa kereta, tersedia music dan layar informasi
  7. Ketersediaan CCTV 
  8. Petugas kebersihan siap memastikan gerbong selalu dalam kondisi bersih dan harum
  9. Terbaru, disediakan pula PIN Ibu Hamil untuk mempermudah penumpang lain menandai penumpang tersebut dan berkenan memberikan tempat duduk prioritas
III. Kemudahan dalam Memperoleh Tiket
  1. Adanya Vending mechine sehingga pengguna tak perlu lagi mengantri di petugas berlama-lama
  2. Menghadirkan KMT (Kartu Multi Trip) sebagai pilihan lain bagi pengguna Commuter Line yang tak ingin mengantri lama-lama. Cukup isi saldo kartu dalam nominal yang besar atau disesuaikan dengan kebutuhan bulanan, sehingga penumpang hanya perlu mengantri satu kali dalam satu bulan saja. 

Komentar