Staycation di Pop Hotel Tanjung Karang yang Berakhir Menyebalkan

Tulisan Pop nya sih bagus | Foto: Ana Butar butar
Ada saat dimana rutinitas membuat diri tak lagi bersemangat sehingga butuh sesuatu yang dapat membangkitkan kembali yang telah hilang.

Kalau aku, biasanya lebih memberi waktu pada diri sendiri untuk melakukan apapun yang diinginkan selama itu tidak menyimpang dari agama juga tidak menjatuhkan nama baik dan mengorbankan kesehatan. Oh, ngga. Itu bukanlah hal seru yang diinginkan oleh diriku.

Belanja, bernyanyi sepanjang hari hingga lelah sendiri, membaca novel, tidur, menonton film yang sudah lama ingin ditonton tapi belum memiliki waktu untuk itu. Atau terkadang, aku memanjakan diri dengan maskeran. Satu hal yang paling penting dari list ini, jauh dari gangguan manusia lain. Ya. Benar-benar hanya ingin sendiri.

Untuk mewujudkannya, staycation adalah salah satu cara yang ampuh untuk melakukan seluruh list di atas secara bersamaan. Termasuk point terpenting: tanpa gangguan apapun.

Karena kebetulan sedang di Bandar Lampung, hotel murah meriah sudah cukuplah untuk diri sendiri begitu pikirku saat itu hingga akhirnya memutuskan untuk memilih staycation di Pop Hotel Tanjung Karang lewat Traveloka untuk eksekusi me time singkat sebagaimana yang telah lama kuharapkan.
Dan atas dasar pertemanan, temanku ikut untuk menginap di sana. Kebetulan, sudah lama juga tak berjumpa.

Staycation Impian yang jadi berantakan. Pop Hotel, I Really Hate You! VERY MUCH!

Berketepatan dengan musibah yang terjadi di selat Sunda, 22 Desember 2018 lalu. Saat itu gelombang air diberitakan begitu tinggi.

Karena masih baru tiba, aku dan temanku sama sekali tidak tahu dengan berita ini. Tepat di depan Pop hotel, ada sebuah minimarket yang kami pilih untuk membeli sikat gigi karena memang tidak disediakan di sana. Kebayang ngga, benda sepenting ini juga ngga disediain! Haha.

Saat melakukan pembayaran, jalan raya terdengar riuh yang tak biasa. Motor lalu lalang yang rasanya kok yo terlalu ramai di malam hari. Pemandangan tak biasa lainnya adalah, mereka membawa tas yang ukurannya lumayan besar. Tak hanya itu, bahkan anak istripun turut di belakangnya. Persis seperti orang yang berangkat mudik.

Lagi-lagi, karena tak tahu berita, kami hanya diam saja, santai, sembari terus memperhatikan belanjaan yang sedang discan oleh kasir.

Begitu membuka pintu mau keluar, di bagian sisi kanan mini market, pinggir jalan telah terpagar manusia yang terus memandangi lalu lintas yang tak kalah ramai. Dari sana, perasaan aneh mulai hadir dan yakin ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Pertanyaan sederhana terlontar ke salah satu petugas hotel yang ikut juga jadi pager manusia di pinggir jalan. Menanyakan kalau-kalau mereka tahu apa yang sedang terjadi.

Jawaban dari petugas pun ringan saja tak berdosa "Bukan mba, lagi pawai doang"

Jikapun tujuan awal mengatakan hal tersebut agar tamu tidak perlu merasa khawatir, was was dan takut selama menginap, aku pikir petugas seharusnya WAJIB untuk mengatakan hal yang sebenarnya agar tamu juga memiliki persiapan untuk menyelamatkan diri jika hal paling buruk sewaktu waktu terjadi. Bagaimanapun, nyawa tidak akan bisa digantikan oleh apapun di dunia.

Atas jawaban tersebut, jadilah kami berdua naik ke kamar tanpa berpikir ada hal buruk yang akan terjadi. Baru sadar, kenapa saat itu bisa langsung percaya aja yaa? Hmmm... Emang sih, lugu sama bego beda beda tipis.

Sekitar kurang lebih jam 21.00 WIB, kami tiba di kamar, cek  WhatsApp, dan masuklah serentetan pesan yang memberikan kabar bahwa gelombang air sedang tinggi. Bahkan beberapa teman yang tinggal di daerah perairan ada yang sudah mulai terkena dampak gelombang tinggi tersebut sehingga memutuskan minggat ke lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada umumnya kalau sudah seperti ini, ada saja oknum yang cari kesempatan untuk menyebarkan berita hoax demi kata “viral” tanpa peduli itu betul atau tidak. Tidak heran sebagian pesan yang masukpun sudah berisi informasi ada tsunami di daerah Lampung. Ah, Tuhan, jahat sekali memang!

Dan berdasarkan informasi yang kami terima, kami menarik kesimpulan bahwa pemandangan tak biasa di jalan raya tadi disebabkan oleh kondisi saat ini. Mereka adalah warga yang mencoba untuk menyelamatkan diri dari bahaya. Sialan, kami dikibulin!

Ngga pake mikir panjang lagi, kami berdua beresin semua barang yang sudah sempat dibongkar. Buru-buru ingin cepat keluar. Khawatir jika tsunami benar terjadi. Kamar kami di lantai 6 kalau ngga salah saat itu. Aku lupa. Kalau sampai lift sudah dimatikan, mau tidak mau kami harus lewat dari jalur evakuasi dan itu menyulitkan.
Pengalaman merasakan goncangan yang lumayan kencang saat tsunami di Aceh – aku tinggal di Pematangsiantar SumUt, dan goncangannya benar-benar terasa – pada dasarnya menghadirkan trauma bagiku. Ngga heran banget kalau kejadian ini malah bikin aku agak shock, panik, jujur merasa takut juga. Repot nih kalau dua orang perempuan dihadapkan dengan kondisi seperti ini tanpa back up laki-laki yang biasanya jauh lebih tenang untuk mengambil jalan keluar.
Bahkan saat beberes barangpun, beragam kondisi terburuk yang mungkin bisa terjadi aku coba rangkai di dalam otak sekaligus dengan solusi terbaik yang bisa kami lakukan untuk menghindari hal tersebut.
Kebetulan saya dari Depok menuju Lampung lewat darat, demi kenyamanan kaki sepanjang perjalanan, saya mengandalkan sneakers. Dan kebetulan emang bawa cuma sepasang yang lagi dipake itu tuh. Duh, catatan banget nih kalau mau trip, sesederhana apapun, kudu banget bawa sendal jepit atau minimal sepatu balet deh. Tibalah waktunya mau ngacir keluar kamar, nyari sendal dongggg di kamar ini!  Ngga kerjaan banget, Sis, make sepatu dalam kondisi darurat seperti ini. Makan waktu. Apa saja bisa terjadi dalam hitungan detik. Apa saja! Sungguh.

Adanya ini doang, sabun mandi kecil dan handuk. Sikat gigi milik gue | Foto: Ana Butar butar
Eh, Sis! Sendalnya engga adaaaaaa!
Ingin kuberkata kasaarrrr! Wkwkwkkw.

Dan aku lebih memilih untuk nyeker demi keselamatan diri daripada harus make sepatu dulu yang tentu akan makan waktu lebih lama. Nop! Nyawa gue lebih berharga dari kaki mulus men!

Puji Tuhan, masih diijinkan tiba di lobby dengan selamat. Orang-orang masih banyak yang berkumpul di sana termasuk di pinggir jalan raya itu.

Kami berdua konfirmasi ke receptionist. Untungnya receptionistnya “sehat” nih jawabannya. Jujur. “Ada gelombang air tinggi, Bu. Cuma belum membahayakan. Kalau memang nanti ada aba-aba evakuasi, kami akan sampaikan ke seluruh tamu.” Begitu kataya.

Nah, kan tenang kalau begini.

Setelah memastikan tidak akan ada hal membahayakan yang terjadi, kami naik kembali. Memutuskan untuk menghubungi beberapa kerabat yang tinggal di lokasi-lokasi pantai. Termasuk temanku yang bulan April mendatang akan jadi manten.

Dan berita baik lainnya adalah, puji Tuhan semuanya baik-baik saja. Kondisi masih terkontrol.

Perjalanan dari Depok ke Bandar Lampung via darat dan nyebrang laut yang biasanya hanya butuh waktu kurang lebih 10 jam, hari itu bahkan sampai 16 jam. Ngga heran, tanggal 22 Desember 2018 lalu bisa dikatakan puncak arus mudik untuk perayaan Natal dan tahun baru dengan keluarga tercinta.
Alhasil badan gerah banget. Pingin cepet-cepet mandi, eh dateng kabar seperti ini jadi parno juga yaa.

Kamar mandinya bagus sih, airnya nyala. Tapi merembes juga ke lantai kamar. Hahaha | Foto: Ana Butar butar
Ngga lucu banget lagi shampoan lantai malah goyang. Seram sih bayanginnya. Jadi dalam kondisi saat itu, perasaan was was banget. Yang ngga pernah singgah di benak secara tiba-tiba berdatangan. Mengantre untuk dipikirkan. Termasuk meminta maaf pada orang tua. If you know what i mean. Hahha.

Jadilah modal sikat gigi, cuci muka dan ganti baju, aku terlelap masih dalam kondisi waspada penuh. Eh, terlelap dalam kondisi waspada, gimana ya? Hahah. Kayak tidur-tidur ayam gitu deh. Biar cepet kabur kalau ada apa-apa. Padahal mah aku ini orangnya nempel dikit molor. Apalagi kalau udah cape banget.

Televisi kami biarkan menyala. Sengaja memilih salah satu stasiun televisi untuk tetap update berita.
Jam 3.30 subuh kebangun donggg. Denger berita lagi, bener ada tsunami terjadi di jam 2 an subuh di selat sunda. Kalau yang terjadi di jam 9 malem itu, mengikuti konfirmasi dari BMKG belum tsunami. Bahkan BMKG masih menyarankan warga yang sudah sempat “naik” ke lokasi tinggi kembali ke kediaman karena dipastikan tidak ada tsunami.

Lemes. Aku lemes banget langsung. Bener. Itu jendela kamar, karena langsung ngadep ke laut, sengaja kami buka lebar-lebar. Jadi kalau “kenapa-kenapa” bisa kelihatan dari kamar. Meskipun itu immposible banget sih karena kondisi yang gelap.

Tanggal 23 rencananya aku harus kembali ke Depok. Siap-siap untuk balik ke Sumatera Utara. Pulang kampung melepas rindu dengan orang tua. Dan jadwal terbangku tanggal 24 malam.

Rencana ini sudah kususun sedemikian rupa agar tak ada satupun yang terlewat. Sayang, kehendak Tuhan atas alam tidak bisa untuk kuhindari.

Berita ini sekaligus menjadi lampu merah bagiku untuk kembali ke Depok via laut. Engga, aku ngga seberani dan setangguh itu.

Di subuh itu, temanku menyarankan segera membeli tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta. Harus cepat. Mumpung masih ada. Keburu habis karena kondisi ini yang jelas membuat orang yang akan ke Jakarta via laut berpindah ke transportasi udara.

Benar lagi dong, masih milih-milih maskapai, saat direfresh eh yang dipilih udah habis duluan. Ealaahhh. Panik panik panikk.

Buru-buru pesan karena takut kehabisan lagi, kami turun mencari ATM untuk melakukan pembayaran. Eh, Siss, ngga ada juga. Hahahaha. Yang ada di Pop Hotel ini sebenarnya apa dah? Kesel bet gue!

Menurut receptionist ATM terdekat ada sekitar 500-700m ke arah Barat jalan. Jam 4 subuh, Sis. 2 anak gadis orang jalan di pinggir jalan besar demi tiket pulang. Aku penasaran deh, receptionistnya mikirin ngga ya keselamatan kami berdua? Eh ngga kali ya, yang penting mah tamunya udah bayar, pertanyaan tamu sudah terjawab. Masalah gimana di jalan mah bodo amir. Basa basi nawarin nganterin pun ngga ada. BEKLAHHH! KO TENGOK KE DEPAN YA, NGGA AKAN LAGI KUINJAKKAN KAKIKU DI HOTEL INI!

Ya sudahlah yaa, di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdua jalan di subuh-subuh itu berharap semua berjalan lancar sampai kembali nanti ke hotel lagi.

Puji Tuhan, harapan kami yang banyak mengutuk Pop Hotel sepanjang malam masih dikabulkannya dan itu berarti urusan kepulanganku ke Depok sudah beres. Lalu kami kembali tertidur mengantar lelah.

Eh begitu bangun udah hampir jam 8, mandi dan beres-beres sebentar, sekitar jam 9an kami turun mau sarapan ceritanya.

Ya Tuhan, kalau kata orang Batak ya, tinggal hois hois na! Serius! Itu tinggal nasi dan ayam kecap sisaan gitu dan ngga diisi-isi padahal aku udah sengaja pura-pura batuk dan nunjukin semacam muka bingung megangin piring tapi ngga tau apa yang mau diambil gitu di depan petugasnya. Ishhhhh!

Kesel si mas nya ngga peka, aku tanya kenapa ngga diisi lagi. Mas nya ngelengos pergi. Wkwkwkw. Apa ngga denger, apa ngga peduli, apa budeg, apa gimana? Ngga ngerti gue. Yang jelas, gue pingin cepat-cepat angkat kaki dari hotel itu.

Nasi dan ayam itu kami ambil, sedikit kerupuk, buah dan teh manis anget kami bawa ke meja. Ya ruangan makannya sih seru banget ya, colorful, asiklah buat pepotoan, tapi fasilitas dan kenyamanan ngga deh. Ini aja yang terakhir gue di sini.

Ini bukan ruang makan sih, tapi secara keseluruhan permainan warna yang digunakan Pop seperti ini sampai ke ruang makan | Foto: Ana Butar butar
Makan donggg. Ya Tuhaann, ayamnya dong ngga ada rasaaa! HAHAHAHAH. Mau ketawa sambil namparin orang aku tu rasanya. Aku ngga sentuh lagi makanannya, seruput teh, kami naik ke kamar. Ambil tas. Check out! Bye you hotel! Makasih udah berantakin impian staycation yang kudamba.

Langsung cek itu hotel groupnya siapa aja? Lalu blacklist. Jangan sekali-kali mengecewakan customer. Betul bahwa seseorang tidak bisa menyenangkan hati semua orang, tapi untuk urusan ini, ada management dan tim yang telah dibayar untuk memberikan fasilitas dan pelayanan yang terbaik. Lagi pula aku bayar, dan hasil yang kudapat sama sekali tidak bersahabat.

Lo mah kalau mau dapet fasilitas bagus ya cari yang harga mahal jugalah!

Eh, tunggu dulu, Ferguso! D’hotel di Halimun itu bintang 3, aku pesan bahkan ¾ nya cuma modal tixpoint dari Tiket.com. Lengkap semua. Semuanya! Jadi, bukan masalah harga sih sebenarnya, lebih ke fasilitas dan pelayanan.

Kok D'hotel? Kupikir 2 hotel ini sama sama bintang 3 dan harganya ngga jauh beda. Salah kalau aku harus membuat perbandingan dengan hotel berbintang 4 dan 5. Lah wong sesama hotel bintang 3 aja dia jelas ketinggalan jauh, gimana sama yang di atasnya?

Receh banget ya rasanya gara-gara sendal yang ngga ada jadi panjang cerita begini?

Tapi dari sini setidaknya Pop Hotel perlu belajar, hal “receh” itu tadi, dalam kondisi darurat, MASIHKAH BISAKAH HAL RECEH TERSEBUT DIANGGAP RECEH?

Komentar

  1. musibah memang nggak ada yang tau pasti kapan datangnya ya mbak. Meski harus melewati beberapa kejadian yang nggak diinginkan dan diluar dugaan, syukurlah masih bisa pulang dengan selamat ya mbak.. jadi pelajaran buat kita semua juga.

    BalasHapus
  2. Waduh kayanya banyak ga enaknya ya mba pengalamannya. Semoga jadi pelajaran buat POP Hotel buat memperbaiki diri

    BalasHapus
  3. Aku suka check in hotel pakai tiket.com Mba, jadi ingat waktu ke Bali. Pesan tiket pesawat, kamar hotel dan sewa mobil pun dari tiket.com . Lengkap ga repot dan hemat

    BalasHapus
  4. Belum pernah nginep di POP hotel manapun saya mbak, duh mudah2an pengalaman seperti ini tidak terjadi lagi dan tidak dirasakan oleh orang lain ya mbak. Jadikan pelajaran juga nih.

    BalasHapus
  5. Kebayang paniknya kaya gimana mbak, ditambah dapat pelayanan kaya gitu.
    Aku bacanya aja ikutan kesel sama pelayanan hotelnya apalagi ngalamin sendiri. Noted nih buat aku, jangan sampe nginep di sini.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah untung tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ya mba, sehingga tetap bisa melanjutkan liburan :D

    BalasHapus
  7. Huhu ikutan kesel juga bacanya. Padahal sekilas kalau dilihat dari foto-foto, hotel ini nyaman karena interiornya yang colorful. Tapi ternyata pelayanannya ga memuaskan banget ya. Dan soal sarapan, waah aku sih pasti gondok banget tuh. Soalnya aku kalau staycation itu suka ngincer sarapannya haha.

    BalasHapus
  8. Ya ampun aku baca ini kok jadi lebih picky kalau milih hotel mbak. Keren tapi ternyata serem banget bangunannya. Btw aku juga di Pematang Siantar lho mbak ana :)

    BalasHapus
  9. Wahh aku juga pernah zonk pilih hotel pas liburan..
    Rasanya emang menyebalkan ya mbakk..

    Emang lain kali harus teliti lg klo milih

    BalasHapus
  10. Kalau fasilitas dan layanan hotel udah nggak bikin hati sreg, memang bikin nggak nyaman buat nginep lebih lama sih

    BalasHapus
  11. berarti harus pilih hotel yang nyaman ya ... agar kita bisa staycation untuk menikmati hidup

    BalasHapus
  12. Wew, seru juga baca curhatan ini, antara miris sama ngakak. Monmaap ya, soalnya kebayang stressnya kayak apa, tapi kalau diceritakan ulang kok lucu. Padahal Pop hotel adalah budget hotel yang lumayan udah punya nama ya

    BalasHapus
  13. sejujurnya belum pernah nginep di POP Hotel manapun hehehe... ada niat buat semedi ngeblog disana tapi kok ragu liat gambar kamarnya yg sempit

    BalasHapus
  14. Syukurlah diberi keselamatan
    Kalau budget hotel sepertinya fasilitas memang terbatas ya
    Tapi untuk kepedulian pada tamu harusnya yang utama
    Oh ya, pengalaman aja, di hotel luar negeri toiletries hotel (bahkan yang bintang 5 ) biasa juga enggak lengkap. Sabun, shampo yang pasti ada , yang lain menyesuaikan budayanya

    BalasHapus
  15. kalau ada informasi begitu, saya jg bakal panik sepanik2nya kak. Gak peduli belum tinggi gelombangnya kek, pokoknya balik pulang ajah dah. Mamaaaaaaa...

    BalasHapus
  16. Pengalaman.
    Semoga Pop Hotel ke depannya lebih baik lagi.
    Uda di review di google belum, kak..? Biasanya mereka lebih cepet response nya kalau lewat media review gitu..

    BalasHapus
  17. Wah, pengalaman yang tak terlupakan, pengalaman komplit, mudah-mudahan tak terulang lagi...

    BalasHapus

Posting Komentar