Plus Minus Santap Makanan di Fiesta Steak

Menu pesananku | Foto: Ana Butar butar
Pernah ngga sih, makan di sebuah rumah makan tanpa baca reviewnya terlebih dahulu?  Dan setelah makanan itu habis,  baru deh ceki ceki review yang bertebaran di Google tentang makanan itu. Kalau pernah,  maka kita sama.

Btw,  beberapa waktu lalu,  entah kenapa aku lagi kepinginnn banget makan yang namanya Fiesta steak.  Restoran yang memiliki cukup banyak cabang di Jakarta, dengan mengusung sajian berkonsep American Steak house Western dengan harga yang tak bisa dikatakan murah,  tapi juga ngga mahal-mahal amat.

Maka, jadilah sepulang kerja,  aku singgah di salah satu mall terbesar di Depok yang salah satu tenantnya adalah Fiesta demi menuntaskan rasa kepingin makan steak ini.

Tempatnya nyaman, tapi karena tidak ramai, jadi takut berlama lama sendirian | Foto: Ana Butar butar
Jika dibandingkan dengan luas tempat dan jumlah tempat duduk yang disediakan,  maka tempat itu bisa dikatakan sepi.  Hanya 3 bangku yang terisi,  termasuk yang kududuki.  Tempatnya nyaman,  bersih sebagaimana harusnya restoran.  Sayangnya karena tidak begitu ramai,  jadi ya ngga terlalu menarik untuk berlama-lama di sana.

1 bangku sepasang pria dan wanita.  Bangku lain sebuah keluarga lengkap dan 1 bangku lainnya adalah bangku yang kududuki.

Seperti biasa,  sebelum duduk manis,  maka aku, sebagai konsumen juga konsumen-konsumen lainnya mampir terlebih dahulu ke meja kasir sekaligus memesan menu yang kupilih.  Tenderloin steak adalah menu yang kupilih saat itu sebagai pangan utama,  dengan orange juice untuk minumannya.

Menu sudah diulang,  nominal sudah dibayarkan di depan. Sebelum duduk,  sebuah cup disajikan oleh petugas di atas nampan untuk kubawa ke tempat duduk.  Katanya,  itu adalah minuman pesenan ku.  Si orange juice.

Minuman yang KATANYA adalah Orange Juice | Foto: Ana Butar butar
Dengan dompet kuletakkan di atas nampan,  aku kembali menyandang tas dan membawa nampan itu tanpa melihatnya.  Agak aneh juga,  baru bayar,  tidak perlu hitungan menit,  minuman sudah tersaji.  Pikirku,  mereka cekatan sekali. Leh uga.

Tiba di bangku yang kupilih,  aku duduk lalu menyeruput orange juiceku.  Bermaksud melepas dahaga setelah badan diobrak abrik di dalam krl dari Jakarta menuju Bogor.  Sepertinya akan segar sekali.

Taadaaaa,  pernah minum nutrisari ngga?  Itu lho jajanan pas SD yang harganya Rp 500an trus dibungkus plastik?  Generasi 90an pasti tau dehhh! Nah itu,  rasanya mirip mirip itu. Orange juicenya kalah sama abang-abang pecel lele di pinggir jalan deh.  Kalau abang-abang tukang pecel lele di pinggir jalan masih ada bulir jeruknya, ini sama sekali ngga ada. Hahahaha.  Hilang sudah ekspektasi berlebih tentang nikmatnya makan malam itu.  Hiks. Eh salah.  Itu tentang minuman doang ding!

Oh ya,  kalau mungkin ke depannya kamu ada rencana untuk makan di tempat ini,  saranku pilih air mineral aja.  Ukurannya yang 240ml itu,  ya itu jauh lebih baik daripada pesen sesuatu dengan harapan tinggi namun yang datang malah jauh dari ekspektasi.  Ngga mau kan?  Hehe.

Setelah menunggu cukup lama,  maka dateng lah dia.  Si tenderloin steak sesuai pesenan. Nom nommm... Ready to eattt!

Review Tenderloin Fiesta Steak.

Asap masih mengepul dari wadah tenderloin yang tersaji di depanku.  Aroma daging yang begitu lezat mulai menguar menusuk nusuk hidung.

Di dalamnya terdapat sepotong daging sapi dengan ukuran yang bisa dikatakan cukup besar untuk perempuan berbadan kecil seperti aku ini.  Heheh.  Di sisinya terdapat bubur kentang.

Steak, potongan sayur serta bubur kentang dan sedikit saos | Foto: Ana Butar butar
Eh,  kok bubur kentang?

Iya,  jadi saat melakukan pemesanan, petugas memang sudah menyampaikan perihal hal ini kepadaku.  Demi menjunjung tinggi rasa penasaran,  kuiyakan juga untuk menikmati steak bersamaan dengan bubur kentang.

Aku ngga tau sih,  itu kentangnya diapain.  Tapi kalau dari yang aku makan, itu mirip kentang goreng diblender sampai super duper halus dan tidak tersisa sama sekali kriuknya. Rasanya tetep sama, kentang sebagaimana mestinya hanya beda tekstur saja kok.

Nah, kalau makan bubur kentang dengan sendok penuh,  itu bakalan eneg.  Jadi,  untuk menyiasatinya,  aku menggunakan printilan jagung dan potongan sayur lainnya yang direbus dan memang tersaji juga di wadah yang sama.  Sedikit bubur kentang,  potongan sayur rebus,  sepotong daging serta sedikit saos.

Perpaduan ini menurutku baik,  asin gurih dari daging berpadu dengan manisnya jagung dan kentang. Tidak ada rasa yang mendominasi, lebih ke melengkapi. So yummy. Yang ngga tepat itu minumnya doang.  Hehe.

Daging matang sempurna | Foto: Ana Butar butar
Daging yang tersaji di depanku empuk,  matang sempurna sesuai harapan.  Jadi worth it lah kalaupun diawal aku kudu nunggu lama buat ini.  Hehe.

Ludes tak bersisa | Foto: Ana Butar butar
Begitu keluar dari sana,  aku iseng cari review tentang Fiesta steak ini di Google,  ternyata memang tidak begitu baik.  Didominasi rating 3 dengan beragam opininya masing-masing sesuai pengalaman yang mereka rasakan saat makan di Fiesta Steak pilihannya masing-masing.

Gimana kamu?

Udah pernah makan steak ini belum?

Komentar

  1. sebenarnya makanan di Fiesta enak tapi kadang porsinya suka beda-beda tiap beli

    BalasHapus

Posting Komentar