Perempuan Paruh Baya dari Desa dan Giwang yang Tak Jadi Di bawa Pulang

Ilustrasi: faktualnews.co

Aku ingat persis tentang kejadian ini, kejadian yang terjadi saat aku masih duduk di bangku SD. Saat itu, Bapak merantau di daerah Pekanbaru, Riau. Jadi tidak heran, setiap kebutuhan, Mama adalah satu-satunya andalan kami. Mulai dari belajar makan untuk adik paling kecil, sampai pembelajaran dari sekolah pun, Mama adalah tempat kami mengadu.

Dan saat duduk di kelas 3 SD sekitar tahun 2000 sedangkan kakakku di kelas 4, sebagai anak perempuan, menggunakan giwang seperti sebuah keharusan. Selain karena permintaan Bapak dan kami berdua, menurut Mama, membuat lubang di telinga seorang perempuan akan lebih mudah dilakukan sejak kecil. Urusan giwang ini, seluruh keluarga telah sepakat untuk segera dibeli.

Untuk itu, setelah sepakat dengan tanggal yang ditentukan oleh Mama, kami berangkat ke kota. Pusat perbelanjaan tradisional yang oleh masyarakat setempat disebut “Pajak Horas”. Sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Pematang Siantar, Sumatera Utara sana.

Saat itu, Pajak Horas bisa dikatakan bukan tempat yang ramah untuk pengunjung yang “tak peduli dan tak hati-hati” dengan barang bawaan. Belum lagi, preman di sana sini berkeliaran tanpa ada yang bisa mengatasi. Itu dulu, sekitar tahun 2000an, saat aku masih duduk di bangku SD. Tidak tahu kalau sekarang.

Dulu penggunaan kartu ATM tak seramai sekarang. Biasanya Mama selalu lebih dahulu turun di salah satu bank yang kami terdaftar sebagai nasabahnya. Sekitar 1 KM dari Pajak Horas tersebut, mengambil uang di teller kemudian memasukkan uang tunai ke dalam tas. Lalu berjalan ke Pajak Horas untuk belanja segala hal yang dibutuhkannya.

Dengan kondisi jalanan yang tak bersahabat, tentu banyak risiko agar uang tersebut tetap aman hingga bisa dibawa pulang. Termasuk ditodong di tengah jalan.

Di bawah matahari yang mulai menukik naik, kami berempat berjalanan beriringan menuju Pajak Horas. Tempat kami untuk membeli giwang. Di sana ada toko emas langganan Mama yang juga masih keluarga. Mama dengan adik dalam gendongannya, dan aku bersama kakakku bergandengan mengikuti di belakang.

Pria Pengintai dan Sepasang Giwang yang Tertunda

Memegang uang tunai dalam jumlah yang banyak di tengah lokasi yang tak bersahabat bukan hal mudah. Dan Mama tau  persis tentang itu. Selalu saja ada pemikiran “jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan” baginya untuk berjaga-jaga. Termasuk urusan uang tunai ini. Sebagai anak, kami hanya melihat dan mengikuti apa saja yang Beliau lakukan.

Mengingat kembali ke masa itu, aku rasa sebuah PR yang cukup besar untuk Mama. Menggendong anak kecil, dengan dua anak kecil lainnya mengekor di belakang dan sedikit uang tunai pemberian Bapak untuk kami gunakan sebulan ke depan.

Masih menjaga adik dalam gendongannya, sesekali harus menengok ke belakang kalau-kalau kami berdua tertinggal dan dirinya kehilangan jejak, siaga pula terhadap tasnya yang dalam sekejap tentu mudah “disikat” oleh orang jahat mengingat tanggung jawab Mama saat itu cukup besar.

Betul saja, belum kami tiba di Pajak Horas, dua orang Pria berperawakan tinggi dan berbadan besar dari arah berlawanan mendekat. Sepintas tampak hanya berjalan biasa. Lagi-lagi kami hanya mengikuti langkah Mama, dalam sekejap, perjalanan yang harusnya lurus-lurus saja, Mama tiba-tiba membelokkan kaki ke sebuah bank meski kami sebenarnya bukanlah nasabah di sana.

Belakangan kami tahu, gerak-gerik kedua pria tersebut mencurigakan. Melangkah lurus ke arah kami namun perlahan semakin mengerucut mengapit kami berempat. Tak ingin ambil risiko, mau tak mau, Mama ambil langkah ke Bank tersebut yang tentu lebih aman dengan adanya penjagaan beberapa petugas keamanan di sana.

Nasib baik masih berpihak pada kami. Petugas keamanan yang melihat Mama kerepotan mendekat, yang berarti kabar buruk bagi dua orang pria tersebut. Tak menunggu lama, entah apa yang mereka bicarakan, salah satu petugas keamanan berjalan ke luar bangunan dan mencegat angkutan kota atau angkot lalu menuntun aku dan kakak untuk naik terlebih dahulu dan mempersilahkan mama naik kemudian.

Hari itu, kami langsung pulang. Tak ada lagi giwang, tak ada kuping berlubang. Tak ada anting yang bisa kupamerkan kepada teman-teman yang sudah lebih dahulu menggunakannya. Namun hari itu, kami berempat selamat kembali ke rumah tanpa kekurangan apapun.

Trauma Menyimpan Uang Tunai dalam Jumlah yang Banyak

Menyimpan atau memegang uang tunai dalam jumlah yang banyak itu gampang-gampang susah. Gampang karena akan selalu tersedia kapanpun pemilik uang membutuhkannya untuk bertransaksi secara tunai. Namun akan menjadi sulit ketika uang tersebut malah mengundang niat jahat orang lain, jika hilang, atau terjadi sesuatu yang pada akhirnya merugikan sang empunya juga merusak uang tunai.

Ada banyak risiko yang perlu dihindari saat memegang uang tunai dalam jumlah yang besar. Termasuk kasus yang terjadi pada Mama di atas.

Ngerinya niat buruk orang jahat yang mungkin tega untuk melakukan apa saja kepada siapa saja untuk keinginannya adalah sesuatu yang ternyata memberi trauma besar pada Mama. Hingga saat ini, jika membutuhkan apapun, tak peduli sepenting apapun, Mama selalu lebih memilih bertransaksi tanpa tunai, kecuali untuk nominal kecil tentunya.

Kejadian yang hampir saja mencelakakan ketiga anaknya memberikan efek jera yang luar biasa pada metode transaksi Mama. Bahkan jika sewaktu-waktu kami iseng melihat isi dompetnya, hanya ada selembaran seratus ribu di sana dan beberapa pecahan puluhan ribu untuk kebutuhan sehari-harinya, termasuk saat bepergian sekalipun. Namun dalam dompet yang sama, percayalah, kartu ATM tak akan pernah tertinggal.

Transisi Cantik Mama dalam Bertrasaksi

Dulu mungkin kami tak begitu paham dengan perubahan isi dompet Mama. Namun kini, seiring dengan pertumbuhan dan bertambahnya ilmu pengetahuan, transisi Mama dalam bertransaksi bisa kami kategorikan cantik dan apik.

Mengikuti perkembangan program pemerintah dalam memaksimalkan Perlindungan Konsumen untuk #amanbertransaksi, disadari atau tidak, Mama sudah ikut berkontribusi dalam upaya tersebut. Berkontribusi pula dalam melindungi diri dan miliknya sendiri agar tak memancing pikiran jahat orang lain saat mengetahui adanya sejumlah uang tunai di dalam tas yang sedang dibawanya.

Cashless di pedesaan, awalnya saya pikir akan sulit bagi Mama. Namun ternyata, beberapa bank telah memberikan informasi sekaligus mengedukasi kelompok-kelompok masyarakat tentang penggunaan ATM hingga sekarang, meski di pelosok desa sana sekalipun, siapa saja bisa tarik tunai.

Meski telah mendapatkan edukasi, setiap kali ada perkembangan yang memudahkan dalam bertransaksi, kami selalu sampaikan pada Mama. Dan selebihnya, kami membiarkan Beliau memilih metode bertransaksi mana yang lebih nyaman untuk Beliau lakukan tentu bayar tunai kini jadi pengecualian karena apapun yang disampaikan padanya kini tentang pembayaran tunai akan ditolak olehnya.

Dan saat ini, kupastikan Mama dan Bapak sudah ikut berkontribusi dalam penggunaan cashless. Kamu yang tinggal di kota dengan segudang informasi yang mudah diperoleh, bagaimana?

Komentar