Menilik Kenyamanan Hidup yang Ditawarkan Kota Deltamas

Berfoto didepan Icon Deltamas | Foto: Ana Butar butar
Suka duka tinggal di desa

Baru-baru ini, saya kembali ke desa. Mengunjungi orang tua, sekaligus menghabiskan jatah cuti dari kantor.

Jauh dari keriuhan lalu lalang kendaraan dan polusi udara tentu saja menjadi perhatian penting terkait dengan kualitas hidup masyarakat di sana. Tak perlu AC karena cuaca memang terbilang sejuk meski di pagi dan malam udara dingin sedikit menusuk.

Kualitas udara yang memadai ini tak jauh dari peran pepohonan yang masih banyak ditemukan di sana. Didukung pula dengan banyaknya sawah yang semakin memaksimalkan keindahan, asri dan hijaunya wilayah setempat. Tak heran jika deskripsi keindahan di desa ini selalu menjadi alasan lain para perantau untuk pulang. Karena bagi mereka, melihat indahnya tatanan sengkedan tak melulu harus di Bali, namun bisa juga saat kembali ke sini.

Sayangnya, dari sekian banyak deskripsi tentang betapa saya suka berlama-lama di desa, tetap ada alasan untuk saya sesekali melangkahkan kaki ke kota, salah satunya adalah sinyal beberapa provider yang sama sekali tidak ada di desa.

Ini cukup menyulitkan, mengingat di era digital, koneksi pada jaringan provider dan internet juga merupakan kebutuhan. Meskipun cuti, ada beberapa tanggungjawab dari kantor yang tetap harus saya selesaikan, dan tanggungjawab ini berubah jadi rumit ketika harus diselesaikan secepat mungkin sementara jaringan provider yang saya gunakan tidak mendukung.

Belum lagi, kesukaan saya dalam menulis di blog menjadi alasan lain betapa jaringan internet benar-benar menjadi sebuah kebutuhan. Oh ya, hal lain yang dipersulit dengan tidak adanya jaringan internet ini adalah saat bertransaksi menggunakan mobile banking.

Sudah tidak ada ATM, M-banking pun tidak dapat digunakan. Jadi jika sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak untuk bertransaksi, saya harus ke kota dulu demi mencari ATM yang jaraknya kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Jika tidak punya motor, ya harus rela menunggu angkutan kota yang kadang datangnya 30 menit – 1 jam kemudian dari angkutan kota sebelumnya. Angkutan kota ini juga sangat terbatas, hanya ada sampai jam 17.00 WIB, jika terlewat angkot terakhir, ya sudah, siap-siap saja mikir bagaimana caranya untuk pulang.

Hal yang sama juga terjadi untuk urusan sekolah para pelajar. Pelajar di desa harus bersiap sekitar jam 6 pagi untuk segera berangkat ke sekolah yang terletak di kota. Pulangnya pun demikian. Dulu, saat saya masih pelajar dengan transportasi yang masih minim, tak jarang kami pulang di sore hari. Persis seperti pekerja di ibu kota. Berangkat pagi pulang sore.

Hidup di desa itu menyenangkan. Makanannya alami tanpa ada bahan-bahan tambahan pangan. Bahkan sesekali, masyarakat di sana bisa ke ladang terlebih dahulu untuk memetik sayur yang akan diolah di hari yang sama. Atau sekedar menangkap ikan emas di kolam ikan untuk disantap di malam hari.

Sayangnya, ragam kemudahan dalam mendapatkan makanan, keindahan, keasrian dan hijaunya desa tidak didukung dengan fasilitas  serta sarana dan prasarana untuk memudahkan kehidupan dari beragam aspek. Sekolah misalnya, jauh pula dari pusat perbelanjaan ditambah dengan terbatasnya angkutan yang bisa menuju desa. Belum lagi mata pencaharian yang memang berfokus di petani padi menjadi alasan banyaknya anak-anak muda memutuskan untuk menjadi perantau demi memperbaiki kehidupan keluarganya di desa.

Serunya Tinggal di Kota, Sayang, Banyak “Tapi” nya

Tinggal di kota seru, sih, sayang banyak "tapi" nya | Foto: Ana Butar butar
Berbeda dengan di desa, kota tentu memiliki banyak sekali keunggulan mulai dari kemudahan dalam melengkapi keperluan rumah tangga, maraknya perusahaan yang masih membutuhkan SDM, banyak pula pilihan hiburan untuk sekedar menghabiskan waktu atau bersenda gurau dengan keluarga dan kerabat yang tidak bisa ditemukan di desa.

Urusan pekerjaan, jika masyarakat yang tinggal di kota belum beruntung untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tetap, maka ada pilihan lain yang dapat digunakan untuk bertahan hidup, seperti mendaftarkan diri sebagai ojek online, atau berwirausaha di ragam ecommerce yang kian kemari kian seru untuk digeluti.

Meski dari sekian banyak keunggulan tinggal di kota ini, sama halnya dengan hidup di desa, tentu ada “tapi” nya juga. Sulitnya mendapatkan hunian tentu saja menjadi permasalahan utama bagi mereka yang memutuskan tinggal di kota.

Meski ada lahan kosong yang dapat ditargetkan untuk dibeli demi membangun rumah baru, saingan untuk memilikinya cukup berat, yakni mereka-mereka yang muncul ke pemilik lahan dengan membawa nama perusahaan tentu dengan nominal yang jauh lebih meyakinkan.

Jikapun memutuskan untuk hidup di kontrakan, tidak mudah juga untuk mencari rumah kontrak yang sesuai dengan ekspektasi. Termasuk itu urusan air, kebersihan lingkungan yang akan ditempati, mudah tidaknya akses untuk tinggal di rumah kontrak tersebut juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan.

Kota Deltamas, Perpaduan Hidup di Desa dan Di Kota dalam Lingkup yang Lebih Ramah

Hidup di desa itu luar biasa bahagianya, udaranya sejuk dan berkualitas, sayang, tidak banyak matapencaharian yang terlalu menjanjikan di sana. Karena ya itu, kurangnya informasi, pengetahuan dan prosedur tanam varietas lain yang tak begitu dikuasai.

Hidup di kotapun demikian menyenangkan. Ada banyak peluang kerja sebagai SDM di berbagai perusahaan yang membuka lowongan, banyaknya pilihan hiburan untuk menghabiskan waktu bersama kerabat dan keluarga, serta ada banyak cara untuk bertahan hidup. Tapi biaya hidup yang tak murah, sulitnya mencari hunian serta banyaknya polusi di sepanjang beraktivitas menjadi alasan yang perlu dipertimbangkan untuk menetap di sana.

Sebagai manusia normal, harapannya sederhana saja. Seadainya ada tempat yang memadukan dua keunggulan ini serta meminimalisir ketidaknyaman tinggal tentu sangat menyenangkan. Sampai akhirnya, 8 Desember 2018 lalu, saya dipertemukan dengan dua padanan keunggulan dari hidup di desa dan di kota yang dapat ditemukan hanya di satu lokasi saja, yakni kota Deltamas.

Menilik Kenyamanan Hidup yang ditawarkan kota Deltamas

Selain perpaduan hal positif tinggal di kota dan di desa yang dapat ditemui di kota Deltamas, ada beberapa hal lain yang membuat kota Deltamas adalah pilihan yang tepat untuk dijadikan tempat menetap:

  1. Hunian berkonsep alam
Pepohonan di sepanjang jalan Kota Deltamas | Foto: Ana Butar butar

Kota Deltamas merupakan kawasan terpadu modern berbasis industri kelas international, komersial dan hunian di Kabupaten Bekasi yang dikembangkan oleh PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT. Pembangunan Deltamas serta merupakan joint venture Sinar Mas Land dan Sojitz Corporation yang merupakan salah satu perusahaan ternama di Jepang.

Sinar Mas Land sebagai pengembang properti berupaya untuk mewujudkan kepedulian terhadap masalah pelestarian lingkungan melalui penerapan visi green di setiap proyeknya yang ditunjukkan melalui berbagai program, seperti pembangunan kawasan hijau Green Office Park, Sertifikasi Green Building, Mall tanpa dinding yang ramah lingkungan ‘The Breeze’ termasuk jalur-jalur pejalan kaki yang nyaman.

Hal yang sama dilakukan pula terhadap kota Deltamas ini. Sepanjang perjalanan, pohon trembesi melintang mirip gerbang bagi masyarakat yang lalu lalang di sana. Permainan rumput hijau di sepanjang jalan juga semakin memberikan kesan asri dan nyaman.

Meski dikenal pula sebagai kawasan industri, namun para penghuni tidak perlu ambil pusing karena kawasan industri tersebut merupakan kawasan non polluted yang menerapkan standar ramah lingkungan.

Selain itu, pembuangan air juga berjalan lancar, normal sehingga tidak menimbulkan bau tak sedap sebagaimana yang tampak pada dokumentasi di bawah ini

Pembuangan air berjalan lancar dan terlihat bersih sehingga tidak menimbulkan bau yang tak sedap | Foto: Ana Butar butar
See? Hunian yang tetap mempertahankan konsep alam dalam kehidupan penghuninya namun berada di tengah-tengah kota dan memiliki ragam fasilitas sebagaimana yang tertera pada poin 2 ini yang keseluruhannya bertujuan untuk memberikan kenyamanan pada seluruh penghuni.
  1. Fasilitas yang Lengkap
Kantor Pemerintahan Kabupaten Bekasi terletak di Kota Deltamas | Foto: Ana Butar butar
Sebagai kota mandiri dan menjadi pusat aktivitas di timur Jakarta dengan area seluas 3200 Ha, kota Deltamas berkomitmen untuk menghadirkan fasilitas serta sarana dan prasarana terbaik untuk seluruh penghuni kota Deltamas.

Adapun kelengkapan yang dimaksud, meliputi: hotel dan serviced apartment, kampus ITSB, Sekolah Pangudi Luhur, Korean Education Complex, SMK Ananda Mitra Industri Jakarta Japanese School Cikarang, Deltamas Sport Center serta dekat pula dengan Pusat Pemerintahan Kabupaten Bekasi. Menyusul hadir Aeon Mall, Rumah sakit Mitra Industri dan berbagai fasilitas lainnya.

Kelengkapan fasilitas ini tentu memudahkan mobilitas dan memaksimalkan kualitas hidup seluruh penghuni. Selain itu, dengan akan hadirnya Aeon Mall yang diperkirakan seluas 20Ha ini, akan sangat memudahkan penghuni untuk melengkapi segala kebutuhan rumah tangga.
  1. Surganya Mata Pencaharian
Pabrik Mitsubishi Motors di Kawasan GIIC Kota Deltamas | Foto: Ana Butar butar
Sebagai kota yang merupakan pusat aktivitas di Timur Jakarta, Kota Deltamas memiliki sebuah kawasan yang disebut kawasan GIIC (Greenland International Industrial Center). Di GIIC ini, ada banyak pelanggan industri otomotif ternama yang telah beroperasi di sana. Sebut saja Suzuki, Mitsubishi, termasuk SAIC GM WULING.

Psst tentang industri otomotif ini, Desa Pasiranji kecamatan Cikarang Pusat adalah saksi bisu pertama kalinya Mitsubishi Xpander diproduksi, lho!

Lalu, kabar baik lainnya adalah Wuling menjadikan basis eksportnya luar negeri, kondisi ini tentu sangat membantu peningkatan devisa negara.

Hal lain yang paling menarik di kawasan industri ini, masih berbicara tentang seputar otomotif yang merupakan 70% industri yang memenuhi kawasan Deltamas, adalah pembangunan Astra Honda Motor yang sepintas tampak seperti penjara namun sebenarnya adalah fast track atau sirkuit yang disiapkan oleh Astra Motor untuk test produk baru. Sirkuit ini sendiri luasnya mencapai 138Ha.

Hanya seputaran otomotif saja, sudah ada begitu banyak peluang untuk seluruh penghuni mendapatkan pekerjaan. Belum lagi industri lain seperti Bosch, Yoshino, Hitachi, dan perusahaan-perusahaan lain yang luasnya juga tak kalah dari industri otomotif di atas.
  1. Investasi dan Yield yang Hadir Secara Bersamaan
Serah terima doorprize dengan pembeli yang memborong 6 unit hunian di Kota Deltamas | Foto: Ana Butar butar
Baru-baru ini kota yang terletak di Jalan Tol Jakarta-Cikampek Km 37 keluar Cikarang Pusat ini meluncurkan residencial yang ditujukan untuk karyawan di kota Deltamas, yakni rumah tapak dengan harga mulai dari Rp 425jt. Selain hunian tersebut, terdapat pula Naraya Park, Woodchester At Woodspring, The Green Central Business District dan yang terbaru Diamante Business Gallery at Kota Deltamas.

Memiliki hunian di kawasan industri, tentu saja menjadi investasi yang menarik. Selain harganya yang pasti akan terus melambung naik, penghuni juga bisa mendapatkan yield (Keuntungan yang dihitung dari nilai sewa per tahun dibandingkan dengan harga properti) di saat yang bersamaan.

Berdasarkan informasi, ada sekitar 3000 karyawan di sekitar kawasan yang tidak bisa beli rumah dan memilih untuk menyewa. Alasan ini tentu saja sudah cukup untuk meyakinkan pemilik rumah bahwa rumah yang dibelinya tidak akan pernah terabaikan.

Sarana dan prasarana serta ragam fasilitas yang membaur di kota yang memiliki icon lambang delta (huruf d) ini menjadi nilai jual yang sangat tinggi bagi siapa saja yang ingin menikmati kualitas hidup yang baik, berinvestasi sekaligus meniti karir yang mumpuni.

Komentar