Menikmati Megahnya Kawasan GWK Sebelum diresmikan



Megahnya Patung Garuda Wisnu Kencana | Foto: Ana Butar butar
Sudah pada tau belum kalau Indonesia kini memiliki patung yang lebih tinggi dibandingkan patung Liberty di Amerika Serikat? Kalau belum, kenalan dulu yuk dengan Patung Garuda Wisnu Kencana.

Terletak di kabupaten Badung, Bali, Patung Garuda Wisnu Kencana berdiri megah setinggi 121m. Konstruksinya terbuat dari tembaga dan kuningan. Patung ini digagas oleh Bapak I Nyoman Nuarta dimana pembangunannya dimulai sejak 28 tahun yang lalu dan Beliau bersama tim tetap saja gigih untuk menyelesaikan. Hingga akhirnya diresmikan oleh Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo pada tanggal 22 September 2018 lalu.

Oleh Bapak Presiden, patung ini disebut sebagai mahakarya anak bangsa sekaligus sebagai bukti bahwa Indonesia tak hanya mewarisi karya-karya besar peradaban bangsa masa silam seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bahkan Bapak Joko Widodo menyatakan keyakinannya terkait ketahanan GWK hingga ratusan tahun lamanya sehingga akan tetap menjadi karya peradaban yang dibicarakan, yang menjadi kebanggaan, dan menjadi warisan kebudayaan bangsa Indonesia. (Sumber: Instagram @jokowi)

Jauh sebelum diresmikan, GWK telah menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Tidak salah memang, selain dapat menikmati betapa megahnya patung tersebut, GWK juga disebut-sebut sebagai rumah dari keindahan matahari terbit dan terbenam di Bali.

Tulisan GWK sebagai penyambut pengunjung | Foto: Ana Butar butar
Bagi wisatawan yang pertama kali datang ke tempat ini, GWK terbilang cukup mudah diakses. Hanya sekitar 15-20 menit dari bandara I Ngurah Rai, itu jika jalanan tidak macet tentunya. Jika perjalanan tidak mengandalkan tour and travel, pengunjung bisa memilih menggunakan aplikasi taksi online.

Biasanya pengemudi akan menawarkan diri untuk menjadi tour leader selama pengunjung berada di Bali dan tak lupa untuk memberikan kartu nama jika dikeesokan hari pengunjung barangkali berkenan dengan tawaran yang diberikan.

Untuk bisa menjelajah GWK, pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 80.000 untuk dewasa dan Rp 60.000 untuk anak-anak. Dua harga tiket ini berlaku untuk wisatawan domestik yaa, untuk mancanegara tentu berbeda pula.

Tiket masuk GWK yang menyerupai gelang | Foto: Ana Butar butar
Tiket berbentuk kertas bertuliskan Garuda Wisnu Kencana berwarna biru yang dapat digelangkan di pergelangan tangan. Jika sudah voila...! saatnya mengeksplorasi Garuda Wisnu Kencana.
Di pintu masuk, pengunjung wajib untuk mengenakan selendang untuk pengunjung putri dan sarung untuk pengunjung putra. Jika dibandingkan dengan Pura Uluwatu, mengunjungi GWK terbilang lebih menguntungkan.

Bermodal Rp 80.000, pengunjung sudah berhak untuk menikmati seluruh fasilitas yang terdapat di GWK. Tujuan utama tentu saja untuk menyaksikan langsung megahnya karya peradaban anak bangsa ini, namun ada banyak kejutan lain yang tersaji di kawasan GWK ini.

Dimulai dari tebing-tebing breksi kokoh yang dibentuk sedemikian rupa akan menyambut pengunjung ketika tiba pertama kali di kawasan GWK. Dilanjutkan ke Kura-kura Plaza yang menjadi awal perjalanan menjelajah GWK.

Oh iya, dalam mitologi “Kisah Pemutaran Mandara Giri” seekor kura-kura digambarkan sebagai pijakan yang paling penting untuk menjaga alam dari bencana. Patung kura-kura ini dipercaya dapat menjaga kekuatan bangunan dari bencana alam.

Usai menaiki anak tangga dari Kura-kura Plaza, pengunjung akan bertemu dengan Street Theater kemudian Wisnu Plaza, Garuda Plaza, Lotus Pond, serta Tirtha Agung di sana. Dimana masing-masing tempat ini memiliki keunikan sendiri.

Street Theater

Bersama penari di Street Theater | Foto: Ana Butar butar
Di sini, pengunjung dapat menikmati sajian kesenian mulai dari musik, tarian, sampai berkontribusi langsung di pertunjukan tersebut. Eits, pekerja seni Street Theater juga memiliki jadwal pertunjukan lho. Pastikan kamu cek terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk melanjutkan eksplore GWK atau menanti jadwal pertunjukan yang sudah dekat.

Saat kesenian berlangsung, biasanya penari mengajak pengunjung yang mau dan berani untuk ikut serta dalam pertunjukan mereka. Pengunjung yang bersedia akan diajak untuk menari bersama kemudian diberi tantangan melakukan sesuatu yang disiapkan oleh penari, seperti melewati sebuah batang kayu yang dipegang oleh dua orang penari secara horizontal dengan ketinggian tertentu.

Tenang saja, kalau kamu sudah kepalang berada di pentas, kamu masih bisa kok negosiasikan kembali ketinggian kayu jika menurutmu terlalu pendek dan penari akan dengan senang hati untuk mengikutinya.

Tak hanya sekedar pertunjukan seni semata, alat musik yang digunakan juga adalah alat musik tradisional Bali dan di akhir pertunjukan, akan ada pesan yang disampaikan oleh salah satu penari kepada seluruh pengunjung.

Usai acara, jangan lupa untuk abadikan foto tentu saja bersama dengan penari, di panggung, juga di alat musik tersebut.

Garuda Plaza

Lagi di sarang telurnya Burung Garuda nih. Induknya merhatiin banget kan? hiihihi | Foto: Ana Butar butar
Menurut mitos, burung Garuda memiliki wujud setengah pria dan setengahnya lagi adalah burung. Patung ini dibuat sedimikian rupa, sangat detail. Ukiran-ukiran yang pasti namun juga berseni turut serta menjadi magnet yang menarik perhatian pengunjung.

Didesaign dengan kepala menoleh ke bagian samping. Tak jauh dari patung tersebut terdapat sebuah tempat yang bagi anak millenial disebut sebagai lokasi yang instagramablekarena persis menyerupai sarang burung yang di dalamnya terdapat beberapa telur berwarna putih.

Tenang saja, sarang tersebut hanya wahana saja. Sengaja dibuat agar pengunjung dapat mengabadikan diirinya dengan angle yang tepat. Seolah-olah, pengunjung tersebutlah yang menjadi si anak burung Garuda yang meskipun berjarak beberapa meter dari induknya, mereka tetap dalam keadaan aman karena perhatian induknya tak pernah lepas barang sedetikpun.

Wisnu Plaza.

Seusai mengikuti ritual agama persis di samping Patung Wisnu | Foto: Ana Butar butar
Patung Wisnu ini tinggi sekali. Jika hanya datang dengan bermodalkan kamera smartphone saja, tentu ya boleh. Kamu bisa akali dengan mengabadikan fotomu dengan patung tersebut dengan kejauhan beberapa meter dari patung.

Selain menikmati megahnya patung tersebut, di Wisnu Plaza pengunjung juga bisa melihat langsung keindahan alam yang terhampar persis mengelilingi patung Wisnu. Di sana, pengunjung juga bisa meminta doa kepada pendeta setempat yang berada persis di sebelah kanan patung. Bukan karena harus mempercayai sih, kalau saya kemarin mengikuti ritual tersebut untuk menyempurnakan perjalanan ke Bali ini. Please ya, jangan bahas SARA. Itu benar-benar pilihan buat pengunjung. Meminta ritual boleh, tidak juga tidak apa-apa.

Lotus Pond dan Tirtha Agung

Kedua tempat ini dikelilingi oleh tebing breksi sehingga ketika pengunjung benar-benar menikmati tempat tersebut, dari kejauhan persis seperti tempat bersejarah yang membuatnya menjadi spot yang tidak dapat dilewati untuk berfoto-foto ria. Hehhe.

Jika Lotus Pond berhadapan langsung dengan Garuda Plaza, maka Tirtha Agung lebih ke tempat terbuka yang sering disulap menjadi tempat berlangsungnya berbagai acara baik itu skala nasional maupun international. Tempatnya memang luas sekali.

Kedua tempat ini saling terhubung jalanan mirip gang namun masih cukup untuk dilalui puluhan orang sekaligus. Dari jalanan tersebutlah Patung GWK tampak berdiri megah. Sayang, saat itu kami belum diijinkan mendekat ke sana. Mungkin karena masih dalam tahap revonasi atau ada alasan lain yang membuat pengunjung belum diperkenankan mendekat ke lokasi.

Indraloka Garden

Nah, kalau tempat ini lebih menyerupai taman gitu sih. Tempatnya asri dan cukup luas. Di sini, pengunjung dapat menikmati tarian kecak yang disuguhkan oleh penari-penari Bali. Sama dengan Street Theater, tarian ini juga memiliki jadwal pertunjukan yang biasanya dilangsungkan malam.


Dari keseluruhan fasilitas ini, seluruh pengunjung benar-benar bisa menikmati semuanya secara gratis. Hanya membutuhkan tiket di awal saja. Jika dibandingkan Uluwatu, GWK terbilang jauh lebih hemat. Jika di GWK hanya bermodal RP 80.000 sudah bisa menikmati seluruh fasilitas yang disajikan, maka di Uluwatu, pengunjung harus merogoh kocek lagi sebesar Rp 100.000 per orang untuk menyaksikan pertunjukan tarian kecak tersebut.

Komentar