Ikutan #10yearschallenge, Tentang Evaluasi dan Pembenahan Diri


Ilustrasi: Lifestyle - Kontan

Sejak 16 Jan 2019, hingga artikel ini diterbitkan, lini masa social media masih ramai dengan #10yearschallange. Tujuannya sederhana, sebuah pembanding antara tahun 2009 lalu dengan tahun 2019 saat ini yang sedang dijajaki.

Berawal dari unggahan seorang Meteorolog dari Oklahoma bernama Damon Lane di Facebook yang menyandingkan foto dirinya di masa lalu dan masa sekarang. Foto tersebut diambil dari foto profil pertama dan terkininya di Facebook dan mengunggahnya sebagai tantangan “How hard did age hit you”. Dalam keterangan unggahan, Lane mengajak orang-orang untuk melakukan hal yang sama dan melihat perbedaan apa yang telah terjadi selama ini hingga akhirnya viral dengan #10yearschallenge (Sumber: lifestyle.kompas.com).

Hal-hal yang dibandingkan dalam #10yearschallenge

Sebab sedari awal, tujuan Lane mengunggah foto perbandingan dirinya di masa lalu dan masa sekarang bertujuan sebagai pembanding.

Seiring dengan viralnya hastag tersebut, tak hanya transformasi pada wajah, ada ragam sudut pandang lain yang menjadi topik hangat oleh sesama netizen di setiap setiap unggahan siapapun peserta hastag tersebut yang dikenalnya.

Selain transformasi wajah yang signifikan, perubahan berat badan, perubahan selera berpakaian, perubahan karir, hingga perubahan dalam bidang keagamaan pun tak luput untuk dibandingkan Macam-macam. Yang pasti, hastag ini mengajak seluruh masyarakat untuk bernostalgia dengan masa lalunya masing-masing sehingga tak sedikit yang turut serta mengunggah foto-foto masa lalunya.

#10yearschallenge, Evaluasi dan Pembenahan Diri

Dalam berbagai unggahan yang telah lalu lalang di lini masa sosial media, ada banyak hal yang dapat dievaluasi. Bahkan saya sendiri saat mengunggah foto challenge tersebut, membawa diri saya ke tahun tersebut. Membandingkannya dengan diri saya yang sekarang.

Sepuluh tahun berlalu dan ada banyak hal yang telah saya lalui, suka dan duka. Namun di balik itu, poin penting dari hastag ini adalah apa yang telah bertransformasi selain wajah. Prestasi apa yang dapat saya banggakan dari 10 tahun berlalu ini. Bagaimana perkembangan saya dari sisi kesehatan. Bagaimana perkembangan karir memasuki tahun ke 5 bekerja ini. Sudah sejauh apa saya berhasil membahagiakan orang tua, sejauh apa iman saya bertumbuh, bagaimana perkembangan bersikap saya sehari-hari, bagaimana emosi saya berjalan saat menghadapi sebuah masalah?

Sederet pertanyaan ini hadir saat mengunggah foto tersebut. Sebagian telah terlaksana dengan baik meski belum bisa dikatakan sempurna. Sebagian lagi sungguh masih menjadi pekerjaan rumah. Bahkan hastag ini sempat menjadi beban ketika secara tidak sengaja, saya menemukan salah satu teman SMA kini telah menduduki posisi General Manager di PLN di wilayah Sumatera sana.

Bagaimana ini tidak menjadi PR? Mau tak mau, alam bawah sadar membuat perbandingan, mengatakan jika teman SMA saya tersebut kini benar-benar menjadi “seseorang” saat saya mas tetap berjalan di tempat.

Pikiran semacam ini sungguh berhasil mengintimidasi, membuat saya sempat bingung untuk melakukan sesuatu seolah posisi tersebut bisa dikejar hanya hitungan jam hanya untuk mensejajarkan diri saya dengan dia dan mulai malu pada diri sendiri.

Tak ingin sibuk terintimidasi pikiran sendiri, saya menenangkan diri. Menyebutkan banyak hal yang menurut saya adalah sebuah prestasi yang orang lain mungkin tidak akan pernah bisa lakukan. Salah satunya berkarya dalam tulisan ini. Saya menghibur diri dengan mengingat kembali tulisan-tulisan yang telah berhasil saya bukukan. Saya mengingat kembali betapa bahagianya orangtua saya saat tahun lalu kami bawa ke Pulau Dewata untuk sekedar berlibur. Saya mengajak diri saya tertawa saat mengingat betapa jauh perjalanan yang telah berhasil saya lalui yang mungkin dirinya tidak akan pernah bisa lakukan karena memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar. Saya mengajak diri saya untuk sungguh-sungguh mengevaluasi perjalanan sepuluh tahun ini dan berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Bisa saja jika saya harus tetap membandingkan diri dengan orang lain. Katakanlah yang sejajar, teman SMA saya yang lainnya. Tanpa bermaksud untuk melecehkan, beberapa dari mereka bahkan hingga kini ada yang masih bekerja serabutan. Dan jika harus membandingkan, sejatinya saya bisa katakan berada sedikit di atas mereka.

Sungguh, saya tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Ini hanya alasan yang saya cari untuk menenangkan diri terkait membandingkan diri sendiri dengan orang dan sebagai alasan lain bahwa saya tidak sedang tertinggal jauh dari siapapun. Karena sesungguhnya, saya sudah menang dibandingkan diri saya 10 tahun silam.

Bukan hal yang sepadan memang untuk dibanggakan, bagaimanapun menjadi seorang General Manager di BUMN ternama bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tapi tetap bisa. Buktinya dia bisa. Ya karena memang di sanalah keinginan hatinya.

Saya berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Namun tetap mengusung keberhasilan orang lain tersebut sebagai langkah baru untuk memperbaiki diri saya. Memberikan yang terbaik dari segala kemampuan ketika saya ingin berada di suatu tempat. Mengajak diri untuk berbenah mulai dari kepedulian terhadap penampilan, kesehatan dan kebugaran, iman, bahkan titian karir yang harus mulai dipikirkan matang-matang. Untuk kemudian dibandingkan lagi 10 tahun yang akan datang.

Semoga dengan evalusi dan pembenahan diri ini, ada perubahan baik lagi untuk bisa saya dan kita semua banggakan di masa depan. Lalu ketika seseorang bertanya tentang masa lalu yang telah kita lewati, tidak ada penyesalan yang tertinggal di sana karena sejatinya kita sungguh berjalan di jalur yang benar-benar kita inginkan.

Komentar