Bromo, Tentang Pesonanya dan Candu

Bromo dan pesonanya | Foto: Ana Butar butar
Pada setujukan ya, bahwasanya kodrat jatuh hati adalah sulit melupakan. Apalagi jika terjadi pada pandangan pertama. Zing kalau istilah monster-monster dalam film Hotel Transylvania 3 yang dalam film tersebut dirasakan oleh Adam Sandler sebagai pengisi suara sang Dracula.

Zing yang hanya terjadi sekali 100 tahun ini jatuh pada makhluk yang tak datang dari alamnya, yakni Erica Van Helsing, cicit dari musuh bebuyutan kaum monster. Manusia sepenuhnya.

Eh, kok ini bawa-bawa film sih?

Iya begitu kalau pecinta film lagi cerita tentang perjalanan yang membuatnya merasakan hal yang sama dengan sesuatu hal yang berasal dari sebuah film yang telah ditonton. Hehehe.

Zing dalam film Hotel Transylvania ini memang terjadi pada Drac si Dracula, eh, tapi jangan salah, Erica di akhir film juga menyatakan hal yang sama, bahwa dirinya juga merasakan Zing tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk menerima Drac sebagai kekasih.

Tak jauh seperti Erica,  kupikir aku juga merasakan hal yang sama.  Sepenuhnya jatuh cinta di pandangan pertama.  Bedanya,  Erica jatuh cinta pada Dracula,  maka aku jatuh cinta pada Bromo.  Sekelumit keindahan alam yang diciptakan Tuhan pada saat diriNya senang.  Indah luar biasa.  Dan aku jatuh sedalam yang tak bisa kusampaikan.  Wailah,  gue lebay ya!

Walaupun kesannya memang berlebihan,  bagi mereka yang pertama kali melakukan perjalanan ke alam - maksudku gunung - seperti yang kulakukan, tentu akan sepakat dengan apa yang kusampaikan.

Perjalanan dalam Gelapnya Malang
Menuju Bromo itu ngga sesulit yang dibayangkan orang-orang yang belum pernah ke sana akhirnya parno untuk ke sana.

Kereta yang kutumpangi menuju Malang | Foto: Ana Butar butar
Bermodal tiket kereta api Matarmaja yang hanya Rp 105.000 (dan aku sendiri baru tau bahwa naik kereta keliling Jawa sebegini murahnya.  Hehehe)  Malang bisa ditempuh selama 17 jam.

Terbilang lumayan lama memang,  untuk itu,  kamu bisa menyiasati dengan memilih perjalanan di sore hari.  Jadi bisa sembari istirahat sepanjang jalan sebelum akhirnya tiba di Malang di pagi hari. Itung-itung,  lumayan juga untuk menghemat biaya penginapan satu malam.

Kalau biasanya pagi sekitaran jam 7 kamu hanya bertemu padatnya jalanan dan semuanya hawa yang sama sekali tak ramah,  maka selamat datang di Malang.  Selamat menikmati hawa sejuk yang tak akan kamu temukan di padatnya Ibukota.

Stasiunnya sendiri cukup strategis menurutku karena dekat dengan berbagai tempat wisata di Malang.  Salah satunya kampung 3D dan kampung warna warni Jodipan yang bahkan bisa ditempuh hanya bermodal jalan kaki selama 15-20 menit.

Baru tiba di stasiun Malang | Foto: Ana Butar butar
Jika kebetulan kamu pilih perjalanan pagi dan karena memang tibanya pagi hari,  kamu bisa menyeberang dari stasiun Malang.  Persis di sana ada semacam taman yang juga banyak sekali menjajakan makanan.  Bisa sekalian selonjoran dulu ngembaliin kondisi kaki yang mungkin sudah kebas selama perjalanan.

Jika perut sudah aman,  kaki sudah pulih kali,  silahkan deh,  mulai putarin itu Malang.

Ke Bromo nya kapan dong?

Untuk ke Bromonya sendiri,  dari jauh-jauh hari sih sudah bicarakan dengan temennya temen pacar yang kebetulan punya kenalan pemilik Jeep di sana. Kabarnya,  menuju Bromo harus menggunakan Jeep karena jalannya yang cukup garang untuk dilalui mobil keluarga.


Jeep kami menuju Bromo | Foto: Ana Butar butar
Bayarnya Rp 350.000 per orang.  Kuota penumpang di jeep itu sendiri maksimal 7 orang termasuk supir.

Dari kota Malang,  seharusnya Bromo bisa ditempuh hanya kurang lebih 4 jam.  Berhubung di tengah perjalanan jeep kami ngadat, dan ngga bisa dibawa ngebut,  jadilah perjalanan mundur satu jam.

Jalannya jeep serasa jalannya odong-odong.  Udah berisik,  lamban pula!  Hahaha.

Mungkin karena supir merasa ngga enak,  sebisa mungkin perjalanan dibuat menyenangkan dengan mengajak penumpang ngobrol.  Ngobrolin apa aja deh,  yang penting penumpangnya ngga bete.

Tujuan utama perjalanan ke Malang ini adalah menatap indahnya matahari terbit di Bromo.  Kata orang,  Bromo memiliki pesona luar biasa di pagi hari.  Saat matahari mulai menampakkan diri dengan malu-malu hingga benar-benar bersinar dengan panas yang tidak mengigit.

Bromo dengan sedikit sentuan hangat sinar matahari | Foto: Efa Butar butar
Untuk mengejar matahari terbit ini,  mau ngga mau seluruh orang yang berniat ke sana harus berangkat tengah malam.  Harus.  Kalau engga,  ya mungkin tujuan utamanya bukan matahari terbit,  tapi pemandangan lain yang mungkin tak kalah menarik dari Bromo.

Satu hal yang perlu dicatat sebelum perjalanan dimulai. Hawa dingin Bromo sangat menusuk,  tak peduli sebanyak apapun lemak yang bersarang di tubuhmu,  sebaiknya tetap kenakan pakaian yang hangat untuk menghindari rasa dingin yang berlebihan.

Hawa malam kota Malang sebetulnya masih bisa dikatakan ramah.  Hanya saja,  di seperempat jalan,  entah apa itu nama tempatnya,  udara dingin mulai curi-curi masuk menembus jeep yang tertutup.

Aku yang pada saat itu hanya mengenakan jaket biasa dan jeans mulai panik karena tau diri dengan kondisi badan yang mudah sekali terserang rasa dingin.

Di seperempat jalan itulah badanku menemukan penyelamatnya. Orang-orang setempat memanfaatkan suhu di sana untuk menjual pakaian hangat mulai dari syal,  kupluk, sampai sarung tangan dengan nama Bromo tercantum di masing-masing produknya.

Hahh,  ngga perlu mikir 2 kali,  aku beli itu sarung tangan dan kupluk.  Kuping dan tanganku rasanya hampir meledak karena dingin yang berlebihan dan tubuh tidak bisa menanggungnya. Hangat!

Jaket tetap itu saja.  Ternyata ini menjadi masalah baru setelah tiba di Bromo. Dinginnya ya Tuhan, aku bahkan sampe takut tarik nafas.  Sampe perih di hidung!  Hahaha. Perih di hidungku bahkan sampai seminggu setelah di Jakarta baru pulih.

Hal-hal yang Sebaiknya Diketahui Saat Menuju Bromo

FYI, temen-temen, sebagai satu-satunya kendaraan andalan menuju dan kembali dari Bromo, maka tidak heran jika kamu akan melihat ada ratusan jeep yang berjejer di puncak. Sedikit informasi dari supir sekaligus guide kami, kurang lebih 700 jeep beroperasi tiap hari untuk mengantar jemput penumpangnya.

Jalanan yang tak begitu luas, parkiran yang seadanya, dengan jumlah kendaraan yang cukup tinggi membuat pergerakan di puncak Bromo itu sedikit sulit. Tak ubahnya seperti kota-kota besar dimana kendaraan harus mengantri lama agar bisa keluar dari jebakan kemacetan.

Banyaknya kendaraan dengan jenis yang sama, meski warnanya berbeda, maka pastikan untuk mengingat plat nomor kendaraan yang kamu tumpangi. Jika kebetulan kamu bukan tipe pengingat, JANGAN MALES FOTOIN PLATNYA.

Jadi ceritanya, usai menghabiskan waktu di Bromo, kami kembali ke lokasi parkir jeep kami dan jeep jeep lain menunggu. Supirnya kebetulan ngga ada sana. Mau ngga mau, kami menunggu sampai dia kembali.

Tak lama, supir itu dateng. Mukanya sedikit panik namun mencoba untuk tenang. Di sebelahnya ada seorang remaja  perempuan bule yang tampak hopeless. Terakhir kami tahu bahwa remaja tersebut tidak mengingat plat kendaraan. Apesnya lagi, tasnya dititipkan kepada temannya saat akan kembali ke jeep dan mereka terpisah di toilet. Tas itu sendiri berisi dompet dan Hp. Satu-satunya alat bantu untuk mencari tahu posisi satu dengan yang lain.

Mengingat warna kendaraan memang membantu, namun tidak banyak. Karena dari 700 unit kendaraan yang lalu lalang di sana, tentu akan menyulitkan mencari tahu kendaraan yang mana yang kita tumpangi.

Bromo dan Candu

Betul ada banyak hal yang perlu diperhatikan saat akan ke puncak Bromo, terutama menyangkut keselamatan. Meski perjalanan pertama ke Bromo sedikit menegangkan, mulai dari drama kedinginan, hidung perih, bule nyasar, sampai teman satu kendaraan kebetulan dapetnya menyebalkan, Bromo tetap memiliki pesona yang membuat pengunjung candu. Datang untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya.

Masyarakat di sana percaya, ketika seseorang menginjakkan kaki di Bromo saat musim panas datang, maka orang yang sama juga akan memutuskan datang kembali saat musim penghujan untuk menyaksikan keindahan yang berbeda di tempat yang sama.

So, Bromo. Sampai bertemu kembali di lain waktu. Terimakasih telah menjamu dengan begitu indah. Aku suka!

Komentar

  1. Bromo memang candu. Aku mau ke sana lagi juga. Ke sana 7 tahun lalu. Dan saat itu jeep sudah 400 rb buat aku sekeluarga berempat, tapi jeepnya bagus dan ga ngadat.
    Seneng sekarang makin rame yang ke Bromo..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru dan seneng Mba. Tapi pas turun bete. Macet saking banyaknya jeep di sana

      Hapus
  2. wah jadi inget masa muda dulu pernah ke bromo dan suka dengan udara serta pengalamannya disana.

    BalasHapus
  3. Informasinya lengkap sekali mba, saya jadi punya persiapan jika suatu saat akan memgunjungi bromo. Luar biasa indah ya pemandangannya. Sepertinya saya harus siap pakaian dingin lengkap, karena engga kuat dingin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita sama. Ngga kuat dingin. Catatan: Pokoknya pake yang tebal! Hihi

      Hapus
  4. Daku kalau baca artikel soal Bromo jadi kepingin juga ke sana, yah mupeng hehe. Cuma mau ke sana sih pernah kebayang mungkin dengan pasangan halal yak nantinya, aamiin, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnn Mba Fenni. Aminnn. Aku ngedoain setulus hati. Semoga didatangkan di waktu yang paling tepat. Sabar dan terus berdoa ya Mba ku sayang

      Hapus
  5. waktu itu ngos-ngosan bgt naik untuk melihat matahari terbitnya. hahha tapi senenga dan happy pas sdh liat apalagi sama teman2 tersayang kesana
    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh, jalan ke atasnya sih lumayan. Tapi worth it dengan yang kita dapat. Itu kenapa Bromo selalu bikin candu

      Hapus
  6. Padahal aku baru sekali ke Bromo, tapi membuatku sangat rindu buat bisa melihat sunrise. Maklum, tinggal di kota besar dengan gang sempit membuat susah buat liat sunrise. Tapi, harus tetap disyukuri, masih punya rumah untuk pulang, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Karena sejauh apapun kita pergi, tujuan akhir tetap akan pulang ya Mba. Dan memang perlu bersyukur karena ada banyak orang di luar sana yang sama sekali tidak punya kesempatan untuk tidur di rumah yang nyaman

      Hapus
  7. Wah, jafi inget waktu pertama kali ke Bromo tahun 2012. Sama, naik KA Matarmaja, waktu itu masih 51 ribu harga tiketnya. Ternyata masih ada ya kereta itu. Harganya cuma naik 2x lipat 😊.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih tergolong terjangkau sih ya. Modal 100rb bisa sampe Malang. Hehhe

      Hapus
  8. Iya bener, di sana bisa dikatakan semua pakai Jeep. Kalau cuma mengingat warna tentunya akan sulit. Ah, jadi kangen ke Bromo lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harus hapal atau minimal fotoin platnya. Biar ngga bingung jeepnya yang mana. Soalnya banyak jeep dengan warna yang sama

      Hapus
  9. Udah 5 kali ke Bromo dan emang ngangenin banget, view disana itu lebih bisa bikin kita bahagiaaa secara alami ahaha, aku belum keturutan ke Bromo touring make motor kayaknya seruuw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Bromo pake motor matic, kasihan motornya mba. Kasihan yang ngendarain juga. Kurang tepat kendaraan ringkih lewatin jalurnya kata si abang supir mah.

      Hapus
  10. Murce banget tiketnya 100 ribuan aja dah sampai Malang, tapi ya gtu 17 jam ya hehe. Aku seringnya naik kereta api ekonomi yang 250an ke Sby, blm pernah sampai Malang, moga kapan2 bisa ke sana juga :D
    Mbak kalau jeep menuju bromonya itu asalnya dari kota trus menuju Bromo lalu antar kita balik lagi ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba 17 jam. Bangun tidur bangun tidur bangun lagi ngga sampe sampe. Hahahha.
      Yep, jeepnya anter dan jemput kita dari dan ke penginapan Mba

      Hapus
  11. naik ke Bromo mulai jam 1 malam dari hotel untuk lihat sunrise 3 tahun lalu, sambil gendong anak umur 1 tahun terseok di jalan setapak, but its worth enough pada saat liat sunrisenya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu hebat. Anaknya lebih hebat, ngga jadi penghalang buat mamanya tetep travelling. Hehhe

      Hapus
  12. Ada banget yaa...temen seperjalanan yang kurang menyenangkan, huhuu...bikin BT deeh...
    Btw,
    Pengin tahu kereta api Matarmaja ini dari stasiun manakah?
    Harganya sangat terjangkau sekali yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu, kami berangkatnya dari Pasar Senen Mba. Sekarang juga berangkatnya masih dari sana kok

      Hapus
  13. Sepakaaattttt. Aku pun jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat sunrise di bromo. Dan karena aku harus sholat shubuh di penanjakan, udara dinginnya makin menyiksa karena terkena air wudhu. Bbbrrrrr berasa pegang air es.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya yaa. Dingin banget euy di sana. Hidungku lho, perih sampe seminggu setelah balik ke Jakarta. Hahahha

      Hapus
  14. Aku udah lamaaaaaa banget nggak ke Bromo. Pengen deh suatu saat ke Bromo bawa anak kayaknya seru banget

    BalasHapus
  15. Selalu iri sama sama teman-teman yang main ke Bromo, karena aku belum kesana lagi. Terakhir main ke Bromo jaman masih kuliah, itu sudah lama sekali. Sekarang wisata Indonesia semakin bagus dan banyak diminati termasuk Bromo ini ya mbak.

    BalasHapus
  16. Jafi malu, aku yg surabaya nggak seberapa jauh dari bromo malah nggak pernah ke bromo

    BalasHapus
  17. dan karena tulisan ini, aku baru inget belum nulis sama sekali pengalaman ke Gunung Bromo 2 tahun yang lalu.. hahah basi gak sih kalo ditulisnya sekarang?

    BalasHapus
  18. Belum pernah ke bromo. Baru nyampe malang dan surabaya doang aku jalan-jalannya. Semoga nanti bisa ke bromo juga lihat sunrise-nya

    BalasHapus
  19. Bagus banget ya Bromo ini. Terima kasih untuk tips-nya untuk mengingat dan memfoto kendaraan waktu ke Bromo. Ternyata sebanyak itu jeep-nya sampai rentan bikin tersesat. Semoga suatu saat bisa main-main ke Bromo juga :)

    BalasHapus
  20. Aku selalu rindu dengan bromo udah 3 kali aq kesana ,pgnnya ke 4 kali bersama keluarga besar tapi blm terlaksana sampai skg

    BalasHapus

Posting Komentar