Betul, Itu Tulisan Puteriku

Menjadi Narablog juga memberi banyak kesempatan untuk belajar banyak hal | Foto: Ana Butar butar

"Kalau kamu bukan anak Raja, juga bukan anak Ulama besar, maka menulislah." Imam Al-Ghazali.

Sedari kecil, aku suka menulis. Apaaa saja selama kegiatan itu membuatku menulis, aku akan menyukainya tak peduli seberapa banyak orang yang membenci kegiatan tersebut. Aku masih ingat betul saat duduk di bangku SMP, aku pernah dimusuhin oleh teman-teman satu kelas hanya karena tidak mengikuti kesepakatan kelas.

Sederhana saja sebetulnya, aku tidak ikut dalam kesepakatan tersebut. Semua orang di kelasku sepakat untuk tidak melaksanakan tugas Bahasa Indonesia karena dianggap terlalu menyulitkan, waktu pengerjaan yang sempit dan gurunya memang sedikit tidak bersahabat.

Bagaimana aku harus sepakat akan sesuatu yang tak kusukai? Aku memutuskan melaksanakan pekerjaan rumah tersebut dan menyerahkannya keesokan harinya di depan teman-teman yang menatap punggungku benci.

Kesukaan ini berlangsung hingga SMA. Sayang, saat itu aku masih berada di lingkungan desa yang belum begitu mendukung kesukaanku akan menulis. Hingga akhirnya pindah ke kota Lampung dan mulai mengasah segala hal yang berbaur dengan hobby ku ini.

Dulu, di desa, aku menghabiskan waktu untuk menonton FTV. Alur cerita kemudian kubongkar dan kurangkai kembali sesuai imajinasiku. Kutuliskan seluruhnya di atas sebuah catatan kosong yang sengaja kusisihkan dari catatan sekolah untuk menulis cerita yang mampir ke imajinasiku dan aku menyukainya.

Hasilnya? Ya sudah, terpendam saja di sana. Tak ada yang mengetahui sama sekali. Meski demikian, ada perasaan bebas, perasaan lega, tenang dan senang ketika sesuatu yang bersarang dalam benak bisa ditumpahkan dalam tulisan. Lagi-lagi, aku menyukainya.

Mungkin akupun tak ingin dan belum siap jika tulisanku dibaca orang lain saat itu. Aku belum siap menerima kemungkinan akan ditertawakan karena cerita yang kutulis tak sesuai dengan yang mereka inginkan. Itu dulu. Saat aku sama sekali tak percaya diri akan tulisanku.

Kuakui, Bandar Lampung benar-benar mengajakku bertransformasi dari gadis kampung yang nihil pengetahuan umum termasuk pengucapan Bahasa Indonesia yang benar-benar harus dipoles karena terus saja terbawa dialek Batak Toba menjadi seorang gadis yang mungkin belum bisa dikatakan sempurna, namun sedikit lebih berani di bidang yang sama. Yakni tulisan.

Menemukan “Rumah” Tulisan

Benar kata orang, ketika kau benar-benar menginginkan sesuatu dan melakukan apa saja untuknya sepenuh hati, maka semesta akan bergerak membawamu ke sana.

Dan titik itu datang, ketika aku dipertemukan dengan sesuatu yang kucari selama ini. “Rumah” untuk tulisan-tulisanku. Mengabadikannya tanpa khawatir tersiram air. Tanpa perlu takut akan terkoyak, tanpa waswas buku tersebut tertinggal lalu kulupakan. Rumah yang dikenal oleh semua orang dengan sebutan blog.

Perkenalan ini sungguh menghilangkan seluruh khawatir yang kurasa selama ini dan menyisakan tugas yang menantang. Namun, kenyataan bahwa seluruh tulisan kelak akan dibaca semua orang dengan sangat mudah tanpa mengenal waktu dan tempat selama mereka dilengkapi dengan koneksi internet juga terasa cukup mendebarkan.

Tanggung jawab yang cukup berat ini mengharuskanku menjadi perempuan pecinta tulisan yang tak sembarang mencinta, tapi juga nyata, benar dan tanpa dusta. Agar tak satu kalimatpun menyakiti hati pembaca. Ini penting demi membangun jati diri tulisan itu sendiri, kualitas tulisan, serta nama baikku juga mungkin keluarga dan orang-orang terdekat.

Betul, itu tulisan puteriku.”

Tahun 2013 tepatnya aku mengenal Blog ramean atau yang sering dikenal dengan istilah media warga, dan di tahun yang sama pulalah aku mengabdikan diri dan berkecimpung di dalamnya. Mengijinkan semua kerabat dan orang-orang terdekat menyebutku sebagai seorang Blogger, yang entah kenapa jauh terasa lebih menyenangkan dan bisa dibanggakan dibandingkan seorang staff kantoran.

Bukan rahasia lagi, seorang Blogger sering kecipratan rejeki yang datangnya mirip durian runtuh. Tidak ada satu orangpun yang tahu kapan akan jatuh, namun saat jatuh, meski diluar terasa berduri karena harus dikejar deadline isinya tetap tebal, harum, manis, legit dan sangat lezat.

Hal paling sederhana, dari 2013 hingga saat ini, ada banyak sekali acara dari perusahaan-perusahaan yang ingin mengenalkan produk terbaru mereka lewat Blogger. Dengan harapan, melalui tulisannya Blogger akan menjadi jembatan bagi target pasar untuk mengenal lebih jelas dan lebih menarik seperti apa produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Bagaimanapun, Blogger memiliki cara penyampaian yang jauh lebih ringan dan bahasa yang bersahabat sehingga lebih mudah dan enak dipahami oleh pembaca dibandingkan dengan spesifikasi produk yang dijelaskan oleh perusahaan dengan bahasa formal dan terkesan berat untuk dipahami.

Dari puluhan acara ini, kaos adalah benda yang paling sering menjadi goodie bag bagi para Blogger yang telah berkenan hadir di acara. Maka tak heran, ada banyak sekali kaos dari berbagai perusahaan yang menjadi koleksi di lemari pakaian.


Sebagian untuk kugunakan sendiri hingga aku lupa kapan terakhir membeli kaos untuk dikenakan di saat di rumah. Sebagian kuberikan pada keluarga, sebagian lagi kuberikan pada mereka yang lebih membutuhkan.

Menjadi seorang Narablog memberikan kesempatan bagiku bisa berada di tempat ini | Foto: Ana Butar-butar
Itu hal yang paling sederhana dari menjadi seorang Blogger. Sederet manfaat lain dari menjadi seorang Blogger adalah mendapatkan benda-benda lain, hadiah uang jutaan Rupiah, jalan-jalan gratis, mungkin kamu tidak percaya tapi dari menjadi seorang Narablog ini aku bahkan berkesempatan untuk duduk di cockpit meski itu hanya kursi latihan semata, memiliki buku sendiri sampai bertemu orang-orang penting seperti artis hingga menteri tak luput pula dari bagian rejeki dari Blogger itu sendiri. Termasuk aku yang kerap menikmati kejutan-kejutan ini.

Bersama dengan Bapak Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama Indonesia | Foto: Ana Butar butar

Dapat dipastikan, Blogger yang intens berkegiatan dengan komunitas-komunitas dan peduli pada kualitas kontennya tentu memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan ragam kejutan di atas. Bahkan mungkin apa yang telah aku dapatkan belum seberapa jika dibandingkan dengan Blogger lain yang jauh lebih berprestasi.

Namun, selain pelampiasan hobby, ada dua hal penting yang sangat kubanggakan dari menjadi seorang Blogger, yakni gaji bulanan yang kadang sama sekali tidak tersentuh sehingga akhirnya bisa aku berikan pada orang tua untuk mereka gunakan di desa sana. Hal lain tentu saja adalah munculnya perasaan bangga dan percaya diri bagi orang tua ketika teman-temannya melihat anaknya berfoto bersama dengan menteri, dengan artis dan diikuti pula sebuah artikel manis yang bertengger di sana yang di bagian atasnya tertulis nama puterinya.

Orang tua mana yang tak bangga ketika ada pertanyaan yang terlempar dari mulut temannya saat di arisanan “Si Ana sekarang jadi penulis ya? Ada tulisan pake namanya di sini.” Lalu dengan tetap rendah hati menjawab bahagia “Betul, itu tulisan Puteriku.”

Kebanggaan orang tua ini pulalah yang menjadi alasan utama bagiku untuk benar-benar membangun blog pribadi. Rumah yang pemiliknya adalah namaku sendiri. Yang kelak akan kudesign dengan ragam prestasi. Semoga 2019 ramah menyambutku untuk merealisasikan itu. Doakan.


Komentar